Dimana masyarakat dan mengapa disengaja? – sebuah tinjauan musyawarah masyarakat mencangkup dalam penelitian kesehatan masyarakat dan kebijakan kesehatan

Dimana masyarakat dan mengapa disengaja? – sebuah tinjauan musyawarah masyarakat mencangkup dalam penelitian kesehatan masyarakat dan kebijakan kesehatan

Degeling C, Carter SM, Rychetnik L. 2015

 

Abstrak

Metode musyawarah meningkatan ketertarikan peneliti kesehatan masyarakat dan para pembuat kebijakan. Kami secara sistematis mencari literatur yang ditinjau oleh sesame ilmuan untuk mengidentifikasi penelitian kesehatan masyarakat dan kebijakan kesehatan yang melibatkan metode musyawarah dan melaporkan bagaimana metode musyawarah telah digunakan. Kami menerapkan sebuah taksonomi yang dikembangkan dengan mengacu pada kebijakan kesehatan dan ilmu pengetahuan dan literatur kajian tekhnologi untuk membedakan bagaimana metode musyawarah bekerjasama dengan masyarakat yang berbeda: warga (orang-orang biasa yang asing dengan isu-isu), konsumen (mereka yang memiliki pengalaman pribadi yang relevan misalnya pada penyakit) dan advokat (mereka yang memiliki keahlian teknis atau kepentingan partisan). Kami mencari empat database untuk studi empiris yang diterbitkan dalam bahasa Inggris tahun 1996-2013. Ini identifikasi 78 artikel melaporkan 62 peristiwa yang berbeda dari Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Australasia, Eropa, Israel, Asia dan Afrika. Sepuluh jenis teknik wawancara yang berbeda telah digunakan untuk mewakili dan mengambarkan kepentingan dan pilihan dari berbagai jenis publik. Warga biasanya diarahkan untuk mempertimbangkan kepentingan masyarakat dan diperlakukan sebagai sumber daya untuk meningkatkan legitimasi demokratis. Warga dipilih pada metodologi penelitian (mereka fokus pada pemahaman teknik). Konsumen diarahkan untuk fokus pada keistimewaan perorangan; dengan demikian bukan sebagai sumber keputusan kebijakan, tetapi pengetahuan tentang apa dipengaruhi oleh masalah yang akan diterima. Advokat-yang paling sering digunakan sebagai saksi ahli pada panel- kadang-kadang terlibat untuk bermusyawarah dengan konsumen atau warga. Hal ini hampir selalu terjadi dalam proyek-proyek langsung terkait dengan proses kebijakan. Hal ini menandakan para pembuat kebijakan kesehatan mungkin menilai metode musyawarah sebagai cara memahami perselisihan antara perspektif. Namun secara keseluruhan, ‘jenis’ dari pendapat sering tidak eksplisit, dan peran mereka tidak ditentukan. Ulasan ini memberikan wawasan baru ke dalam heterogenitas dan meningkatnya popularitas metode musyawarah, dan menunjukkan kebutuhan untuk kejelasan yang lebih besar mengenai konstitusi publik  maupun kegunaan relatif dari teknik musyawarah yang berbeda.

 

Kata kunci

Metode musyawarah, kesehatan masyarakat, kebijakan kesehatan, partisipasi masyarakat, pembuatan kebijakan

 

 

Pengantar

Dekade terakhir telah melihat konvergensi oleh para peneliti kesehatan dan kesehatan masyarakat pada metode musyawarah demokrasi sebagai sarana untuk membawa pendapat seseorang dan nilai-nilai ke dalam proses kebijakan kesehatan (Abelson dkk., 2003; Street dkk., 2014). Metode musyawarah menawarkan janji para pembuat kebijakan pada  transparansi yang besar dan akuntabilitas publik. Kebijakan dibentuk melalui partisipasi masyarakat dalam proses musyawarah dapat dianggap lebih sah, dibenarkan, dan, karena itu, layak daripada kebijakan yang dibuat melalui model tata kelola hirarkis lebih tradisional (Davies dkk., 2006; Solomon & Abelson, 2012). Yang membedakan metode musyawarah dari bentuk-bentuk lain dari keterlibatan publik adalah proses dialog dua arah antara perwakilan masyarakat dan musyawarah sponsor (peneliti, pemerintah atau instansi lainnya). Berbagai metode musyawarah yang tersedia untuk melibatkan masyarakat dalam proses formal pertukaran informasi dan pembuat pemahaman (Gambar 1).

 

Gambar 1. Jenis forum musyawarah

  • Dialog Choicework- Terstruktur dan mendukung metode munyawarah di mana hingga 40 individu yang dipilih secara acak mengambil satu hari untuk mengatasi suatu masalah kebijakan, setelah membaca bahan kasus yang dikembangkan untuk menggambarkan beberapa pendekatan alternatif kebijakan dan tujuannya. Sebelum dan sesudah survei pendahuluan yang digunakan untuk mengetahui pendapat informasi tentang masalah – yang dipandang sebagai hal yang lebih stabil dan valid dari jajak pendapat publik secara tradisional.
  • Panel warga atau komunitas – terdiri dari 12-24 individu direkrut secara acak untuk bertemu selama 2-3 hari untuk menghasilkan keputusan. Panel Komunitas / warga menerima informasi, mendengar bukti, memeriksa silang saksi, dan kemudian memusyawarahkan masalah di tangan.
  • Panel Warga – mirip dengan panel komunitas tetapi diselenggarakan dengan waktu jangka panjang untuk bertemu secara teratur untuk mempertimbangkan isu-isu yang berbeda atau dimensi yang berbeda dari masalah yang sama.
  • Polling musyawarah – memasukan metode musyawarah ke pemungutan suara tradisional. Secara lebih luas, beragam kelompok orang diberi informasi dan kesempatan untuk mendiskusikan topik dan kemudian mengambil suara. Seperti jajak pendapat tradisional, hasil yang dihasilkan dari sebuah musyawarah jajak pendapat adalah mengumpulkan pendapat individu (lebih baik dari mufakat), tapi pendapat dibentuk oleh musyawarah kelompok yang unggul.
  • Pertemuan musyawarah partisipasi masyarakat– Metode musyawarah umum biasanya terdiri dari sesi pleno dan kelompok keci [biasanya lebih dari satu hari pertemuan], di mana informasi faktual standar pada masalah di tangan telah disediakan oleh peserta [warga, pengguna jasa, ahli atau campurannya]. Pertemuan ini sering didahului dengan tinjauan sistematis, fokus grup, atau penetapan biaya pelatihan, untuk menghasilkan bukti dan mengembangkan dan memperbaiki pertanyaan untuk musyawarah. Hasil musyawarah diakses oleh pemungutan suara formal, pemeringkatan pada pelatihan atau survei sebelum dan sesudah acara.
  • Konferensi konsensus – anggota masyarakat yang dipilih berdasarkan kriteria sosio-demografis dari lotre relawan yang telah membuat permohonan tertulis dalam menanggapi pengumuman. Para peserta menetapkan agenda untuk forum masyarakat di mana para ahli memberikan kesaksian dan mempertanyakan. Menempatkan panel kemudian menyelesaikan menulis laporan untuk mensintesis temuan utama dan merumuskan rekomendasi.
  • Pemetaan musyawarah – menggunakan kombinasi panel warga, wawancara dengan spesialis dan lokakarya bersama (warga dan ahli) untuk mengidentifikasi kemungkinan program yang diambil. Panel warga bertemu pada sejumlah kesempatan untuk menyepakati kriteria untuk meberikan nilai dan skor pada pilihan yang berbeda. Para ahli juga menilai pilihan, tetapi dalam wawancara individu menggunakan multi-kriteria teknik pemetaan. Warga dan ahli kemudian bertukar pandangan dalam lokakarya bersama, yang fokus pada isu-isu yang diangkat dalam panel warga sebelumnya. Setelah lokakarya bersama, panel warga dan ahli meninjau kembali kriteria dan mengevaluasi kembali pilihan.
  • Pertemuan dewan kota / forum isu- acara satu hari yang melibatkan antara 500 hingga 5.000 orang yang memusyawarahkan masalah tertentu. Prosedur seleksi peserta bervariasi, tetapi sebagian besar bertujuan untuk memasukkan sampel yang mewakili warga. Cara kerjanya melalui moderasi diskusi kelompok kecil setiap meja campuran peserta secara demografi 10-12 orang. Umpan balik dari diskusi di meja ini akan dikumpulkan oleh penyelenggara untuk sebagai bentuk landasan untuk diskusi berikutnya pada tema yang dimunculkan dan diambil suaranya di putuskan untuk mengembangkan rekomendasi.
  • Lokakarya pengambilan keputusan terstruktur – acara dua hari di mana kelompok menentukan dan memperjelas konteks keputusan masalah, kemudian menjelaskan keputusan dengan jelas secara objektif, kemudian sebagai kelompok menimbang konsekuensi potensial dan pengorbanan untuk membuat keputusan. Telah diusulkan bahwa agar proses dapat dianggap kuat dan handal harus bermusyaawarah (minimal):

 

  1. Ada peserta dengan informasi faktual yang seimbang;
  2. Memastikan bahwa cukup beragam dengan potensi bertentangan, minoritas dan perspektif marginal juga dianggap; dan
  • Menciptakan peluang untuk diskusi bebas dan terbuka dan berdebatan dalam dan di antara warga dan peneliti atau pelaku kebijakan, atau keduanya, untuk menantang dan menguji pendapat lawan (Blacksher et al., 2012).

 

Sebagai prinsip demokrasi, forum musyawarah melibatkan potong lintang populasi; semua warga memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi sehingga tidak ada kelompok-kelompok sosial secara sistematis dikecualikan(Dryzek, 2000). Dalam prakteknya kondisi ini sulit untuk dipenuhi karena alasan biaya, skala dan efisiensi.

 

Metode musyawarah tidak sesuai untuk semua pertanyaan kebijakan kesehatan. Hal itu paling cocok untuk menyelesaikan masalah kebijakan yang kompleks di mana nilai-nilai masyarakat menjadi pokok penting – baik karena jumlah orang yang terkena atau dampak yang mendalam pada individu. Metode musyawarah sangat berguna untuk pertanyaan kebijakan tentang: (i) situasi yang melibatkan konflik yang jelas dan sangat penting bagi etnis (keadilan, kebaikan, dan menghormati otonomi misalnya) – sehingga keputusan yang memerlukan penciptaan tidak dapat dihindari untuk individu atau populasi tidak beruntung atau bahkan diperlakukan tidak adil; dan / atau (ii) yang disebut ‘masalah hybrid’. Ini adalah masalah di mana aspek teknis dan normatif pertanyaan yang mendalam terjalin, termasuk ketika ada ketidakpastian teknis yang signifikan atau konflik normatif(Lehoux et al, 2009.; Rychetnik et al., 2013).

 

Dalam review terbaru mereka metode yang digunakan yaitu “panel warga”, street dan rekan (2014),menemukan bahwa teknik musyawarah ini telah diterapkan pada masalah kesehatan secara luas dan masalah kebijakan kesehatan. Studi mereka menyarankan peneliti mengadaptasi metode ‘panel’ untuk mencoba untuk memenuhi kebutuhan pembuat kebijakan, tetapi karena ketegangan antara tujuan penelitian dan cita-cita musyawarah, keberhasilan mereka menjadi terbatas. Mencari kelebihan penggunaan panel warga, ulasan lain menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam peristiwa musyawarah adalah meningkatkan fitur yang menonjol pada penelitian dalam aturan prioritas kesehatan(Mitton et al., 2009), dan, pada tingkat lebih rendah, penilaian teknologi kesehatan [HTA] (Gagnon et al., 2011). Mitton(2009) dan Gagnon ini (2011) kelompok menemukan bahwa meskipun perspektif masyarakat ditambahkan dimensi terpenting untuk berjalannya kebijakan, dan pemerintah muncul untuk mengetahui keunggulan konsultasi masyarakat paralel sering ada keselarasan yang buruk antara hasil musyawarah penelitian dan kebijakan yang sebenarnya.

 

Kurangnya keselarasan antara proses musyawarah dan hasil kebijakan hanya salah satu dari beberapa kritik umum penggunaan metode musyawarah (Habel, 2007;. Abelson et al, 2007; Marres, 2011; Rowe & Frewer, 2004). Kekhawatiran juga sering mengungkapkan tentang:

  • Keterwakilan (yaitu kelompok-kelompok kecil orang mungkin tidak mewakili pandangan dan kepentingan publik yang lebih luas); (Ii) keaslian (peserta mungkin kurang keahlian yang cukup untuk memahami, mengartikulasikan, dan membentuk penilaian bermakna pada isu-isu yang relevan); dan (iv) kredibilitas demokrasi (proses dapat digunakan hanya untuk sebelum memutuskan hasil kebijakan yang sah)(Abelson et al, 2012.; Irwin et al., 2013). Dan, lebih luas, Arnstein(1969) berpendapat bahwa teknik yang berbeda untuk partisipasi publik harus dibedakan sesuai dengan sejauh mana peserta diberdayakan dalam proses.

 

Keluhan ini berputar di sekitar dan menjadi pusat perhatian: siapa, tepatnya, ‘masyarakat’ terlibat dalam proses musyawarah. Abelson dan rekan(2013), dalam studi pemetaan mereka baru-baru ini, melaporkan kebingungan peran yang ditugaskan dan diduduki oleh masyarakat di forum musyawarah. Banyak penulis setuju bahwa, meskipun menemukan hak ‘masyarakat’ dan mekanisme yang tepat untuk ‘partisipasi’ dalam proses pengambilan keputusan adalah pusat untuk keberhasilan metode musyawarah, ini berada dalam latihan politik mereka(Irwin, 2006; Martin, 2008b).

 

Dengan masalah utama pemikiran ini, kami meninjau penggunaan metode musyawarah dalam kesehatan masyarakat dan penelitian kebijakan kesehatan 1996-2013. Metode kami konsisten dengan cakupan prinsip-prinsip studi. Cakupan metode penelitian beraneka ragam, tetapi fitur utama mereka adalah fokus pada deskripsi sistematis dan transparan area penelitian, daripada penilaian kualitas penelitian (Arksey & O’Malley, 2005). Cakupan metode memungkinkan temuan dari desain studi yang berbeda untuk disintesis dan kemudian ditafsirkan kembali secara analitik untuk menjawab pertanyaan di luar ruang lingkup penelitian asli(Daudt et al., 2013; Levac et al., 2010). Dalam penelitian ini tujuan kami adalah untuk survei jangka panjang, jangkauan dan sifat kegiatan penelitian dengan menggunakan metode musyawarah dalam kesehatan masyarakat dan kebijakan kesehatan, dan mencirikan bagaimana musyawarah masyarakat sedang dibentuk dan terletak dalam proses kebijakan yang lebih luas.

 

Dalam melakukan hal kita telah ditarik pada studi terbaru yang juga telah meninjau penelitian musyawarah, meskipun dengan fokus yang berbeda. Misalnya, Abelson dan rekan(2013) mengeksplorasi bagaimana metode musyawarah yang digunakan: tujuan mereka adalah untuk mengidentifikasi fitur-fitur umum dari studi musyawarah, dan untuk mengevaluasi seberapa baik proses ini memenuhi standar saat ini dan definisi musyawarah. Street dan rekan(2014) mengulas dan mengevaluasi bagaimana metode panel warga diadaptasi dan diterapkan dalam penelitian kesehatan, dengan fokus pada detail dari metode. Mitton dan rekan (2009) mensurvei niat dan metode latihan keterlibatan publik dalam pengaturan prioritas kesehatan. Dan Gagnon (2011) fokus grup pada sejauh mana kesabaran dan keterlibatan publik dalam penilaian teknologi kesehatan. Kami melengkapi dan memperluas pekerjaan ini dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

 

  1. Apa jenis masalah kebijakan dan pertanyaan sedang ditangani melalui metode musyawarah?
  2. Teknik musyawarah yang mana yang digunakan (termasuk dan selain panel warga)?
  3. Untuk tujuan apa yang penyandang dana dan peneliti melakukan penelitian ini?
  4. Jenis ‘kebijakan’ mana yang sedang dibentuk dalam kesehatan masyarakat dan penelitian kebijakan kesehatan yang menggunakan proses musyawarah.

 

Untuk menjawab empat pertanyaan penelitian, kita menarik pada beasiswa ilmu social kritis (Braun & Schultz, 2010; Evans & Pembajak, 2007; Merasa & Fochler, 2010),dan diskusi baru-baru ini dalam literatur kebijakan kesehatan (Barnes et al., 2007; Litva et al, 2009.; Martin, 2012),untuk memeriksa bagaimana subyek partisipasi yang dikonseptualisasikan sebagai ‘masyarakat’ dalam musyawarah pada penelitian kesehatan masyarakat dan kebijakan kesehatan. Telah diusulkan bahwa konsepsi warga dalam penelitian kebijakan kesehatan adalah ontologis dangkal(Lehoux et al., 2012). Wacana dan praktik yang berhubungan dengan kesehatan merupakan berbagai jenis masyarakat, termasuk “pengguna jasa” dari kesehatan primer, “perawatan di rumah” skema manfaat sosial, “pembayar pajak” dari reformis kesehatan, “warga” skema kesehatan universal, atau kelompok pemerhati khusus (Martin, 2008a). Mereka yang bisa menjadi ‘publik’ dan berapa banyak sebenarnya mengatakan masyarakat memiliki bingkai hasil dari proses musyawarah adalah dua masalah yang paling mendasar tentang keabsahan metode musyawarah(Martin, 2012). Bagaimana seorang peneliti merekrut peserta dan memfasilitasi musyawarahi-sengaja atau tidak-menciptakan masyarakat dengan mewujudkan ideologi kelembagaan tertentu, asumsi, peran dan prioritas (Barnes et al., 2007). Mengkonseptualisasi kunci bersama bagaimana publik memposisikan diri di forum musyawarah, penelitian partisipatif dan bentuk-bentuk latihan keterlibatan masyarakat, kita meneliti bagaimana ‘masyarakat’ didefinisikan, dibentuk dan diberi peran tertentu dalam penggunaan teknik musyawarah dalam penelitian kesehatan masyarakat dan kebijakan kesehatan, dan dengan demikian bagaimana posisi berbicara tertentu dan peran yang dibuat tersedia untuk mereka sementara yang lain diambil alih.

 

Metode

Strategi penelitian

Penelitian dilakukan pada Juni 2014 di Medline®, Web of Science®, Current Contents

Connect ® dan Scopus® database untuk referensi yang berisi kebijakan “kesehatan masyarakat” atau “kebijakan kesehatan” dan satu atau lebih dari kata-kata berikut dalam judul, abstrak atau bidang kata kunci: “musyawarah *” ATAU “panel” ATAU “forum masalah” ATAU “sekumpulan warga *” ATAU ‘partisipasi masyarakat’. Ruang lingkup terbatas pada studi empiris [tidak ulasan, editorial, surat, makalah konferensi], ditulis dalam bahasa Inggris, yang diterbitkan dalam jurnal peer-review antara 1996-2013. Kata kunci pencarian awal  8.608 artikel; 2855 duplikat telah dihapus meninggalkan sampel 5753 artikel (Untuk string pencarian dan melihat proses seleksi – online supp file 1). Judul dan abstrak disaring untuk relevansi dan duplikat lanjut dihapus meninggalkan sampel dari 682 artikel untuk analisis yang lebih rinci.

 

Kriteria inklusi dan eksklusi

682 studi ini kemudian dikenakan kriteria inklusi / eksklusi yang lebih rinci. Kami memasukan studi empiris yang secara langsung melibatkan anggota masyarakat dalam proses musyawarah untuk menginformasikan atau mengatasi masalah relevansi terhadap kesehatan publik atau kebijakan kesehatan. Kami mengecualikan studi tentang bio-perbankan dan etika penelitian. Kami juga dikecualikan artikel review, komentar tentang peristiwa sebelumn musyawarah(seperti percobaan Oregon), studi yang menggambarkan berdirinya pengaturan tata kelola (seperti NICE atau penganggaran partisipatif), makalah difokuskan hanya pada pengalaman peserta, dan studi yang tidak secara langsung melibatkan anggota masyarakat, atau tidak mencari untuk menghasilkan kesimpulan kebijakan yang relevan. Jika ada ketidakpastian mengenai relevansi dari makalah tertentu ketiga penulis  membahas kesesuaian untuk dimasukkan sampai konsensus tercapai.

 

Kami hanya memasukkan studi di mana peserta menghasilkan satu set diskrit hasil musyawarah dan mereka akan mengakui sebagai milik mereka – seperti pemungutan suara (misalnya melalui pemungutan suara, musyawarah mufakat atau survei polling) atau satu set rekomendasi. Kami mengecualikan studi jika temuan induktif yang dihasilkan oleh tim peneliti daripada yang dihasilkan dan disahkan oleh peserta selama musyawarah. Studi tentang alokasi sumber daya dan penentuan prioritas untuk penelitian, daripada etika proses penelitian, telah dimasukkan. Kami hanya memasukkan studi yang memberikan peserta waktu untuk mempertimbangkan dan musyawarah mendalam hal-hal yang disajikan kepada mereka. Sebagai contoh, kita dikecualikan studi di mana waktu yang diizinkan untuk musyawarah hanya 1 jam(Baum et al, 2009.; Henderson et al., 2013) Kami juga mengecualikan artikel yang artikel berisi informasi yang cukup untuk menginformasikan analisis kami (Button & Mattson, 1999; Scutchfield et al., 2005). Daftar referensi dari semua artikel telah dicari dan diarsipkan untuk memastikan kami tidak hilang makalah yang relevan. Sebanyak 78 artikel melaporkan 62 peristiwa musyawarah unik dimasukkan dalam review akhir. Persetujuan etika tidak diperlukan karena tidak ada subyek manusia.

 

Ekstraksi data

Semua artikel ditinjau dan informasi yang dilaporkan dirangkum menggunakan bentuk ekstraksi data standar (Online file Supp 1). Kategori didirikan baik induktif melalui analisis dari artikel dan deduktif dari tinjauan sebelumnya metode musyawarah dan kritis literatur ilmu sosial. Bentuk itu perhalus: semua penulis independen lintas-kode sampel percontohan (n = 5) dari makalah untuk mengkonfirmasi dan memperluas draf awal dari kategori coding. Penulis utama kemudian mempersiapkan ringkasan sampel lebih lanjut dari 5 makalah, yang ditinjau dan dibahas oleh semua penulis untuk memastikan kejenuhan dan kehandalan dari skema coding.

 

Final ekstraksi data dari setiap artikel dalam cakupan sampel dilakukan dan ditabulasi oleh penulis utama, dan kemudian ulasan kritis oleh penulis kedua dan ketiga. Kategori memasukan jenis masyarakat yang dibentuk oleh para peneliti, tujuan dari acara musyawarah dan sifat dari pertanyaan yang diajukan kepada peserta (Online file Supp 1). Semua penulis bertemu secara teratur selama jangka waktu sekitar 10 bulan untuk membahas ruang lingkup studi kategorisasi dan temuan. Dalam kasus perselisihan pendapat, artikel dinilai ulang secara independen dan konsensus melalui diskusi kelompok.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *