BISINOSIS PADA INDUSTRI TEKSTIL

BISINOSIS PADA INDUSTRI TEKSTIL

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Bisinosis adalah penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan yang paling dikenal dan spesifik di sektor tekstil. Gejala klasik Bisinosis terdiri dari demam, malaise, sesak dada dan dyspnea. Gejala pada tahap awal penyakit ini terjadi pada Senin, setelah liburan akhir pekan. Sebelumnya itu disebut “Senin Fever” tapi pada tahun 1956 itu digambarkan sebagai tahap 1 Bisinosis oleh Schilling, dan sebagai B1 dalam revisi Bisinosis tahap oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Institut Nasional AS untuk Keselamatan dan Kesehatan (NIOSH) (Mukremin E R,dkk,2014)

Sebuah penelitian di Irak menunjukkan prevalensi bisinosis terbesar terjadi pada kelompok umur 51-65 tahun yaitu 49,3% dan pada kelompok dengan durasi kerja > 30 tahun yaitu 49,2%(Mulyati SS dkk,2015). Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1980 menunjukkan bahwa hampir sepertiga (28,4%) kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit paru. Pada survei berikutnya di tahun 1986 angka ini ternyata meningkat menjadi 30,5%, sehingga berdasarkan survei kesehatan rumah tangga nasional terbaru ini menyatakan bahwa satu di antara tiga kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit paru (Saputra RA dkk,2016). Diperkirakan bahwa lebih dari 80.000 orang di Amerika Serikat meninggal setiap tahunnya karena penyakit paru yang menahun. Lebih dari 5 juta menderita gangguan fungsi paru dan lebih dari 20 juta mempunyai gejala paru-paru (Yuliawati R,2015).

Penegakan diagnosis perlu dilakukan anamnesis yang teliti meliputi riwayat pekerjaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pekerja, karena penyakit baru timbul setelah paparan yang cukup lama. Pada lingkungan kerja yang kurang memenuhi syarat kesehatan dan melebihi toleransi manusia akan menimbulkan ketidaknyamanan pada pekerja           dalam  melakukan aktifitasnya terutama pemaparan terhadap debu, dengan begitu akan timbul beberapa keluhan yang dirasakan oleh pekerja (Prasetya S,2012). Pajanan debu di lingkungan kerja dapat menimbulkan berbagai penyakit paru kerja yang mengakibatkan gangguan fungsi paru dan kecacatan. Meskipun angka kejadian- nya tampaknya lebih kecil dibandingkan dengan penyakit-penyakit utama penyebab cacat yang lain, terdapat bukti bahwa penyakit ini mengenai cukup banyak orang, khususnya di Negara- negara yang sedang giat mengembangkan industry (Saputra RA dkk,2016).

Faktor pencemar berupa debu kapas akan mempengaruhi derajat kesehatan tenaga kerja. Pada lingkungan industri tekstil seringkali dijumpai penyakit bisinosis. Penyakit ini adalah penyakit yang disebabkan oleh penimbunan kapas pada paru. Beberapa peneliti telah melaporkan adanya efek dari debu kapas/tekstil terhadap gangguan fungsi paru. Oleh karena akibat yang diutimbulkan oleh pentyakit bisinosis maka dalam makalah ini akan dipaparkan pengendalian penyakit bisinosis beserta pembahasan penyakit bisinosis.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa saja jenis-jenis bisinosis?
  3. Bagaimana paparan yang menyebabkan bisinosis?
  4. Apa saja dampak bisinosis?
  5. Bagaimana pengendalian bisinosis menurut hirarki of control?

 

  1. Tujuan
  2. Untuk mengetahui jenis-jenis bisinosis.
  3. Untuk mengetahui paparan yang menyebabkan bisinosis.
  4. Untuk mengetahui dampak bisinosis.
  5. Untuk mengentahui pengendalian penyakit bisinosis.

 

 

 

 

 

BAB II

BISINOSIS

 

Suma’mur P.K. (2014) mendefinisikan bisinosis (byssinosis) sebagai penyakit paru akibat kerja yang penyebabnya penghirupan debu kapas, vlas, henep, atau sisal. Bisinosis juga didefinisikan sebagai penyakit paru akibat kerja dengan karakterisasi penyakit saluran udara akut atau kronis yang dijumpai pada pekerja pengolahan kapas, rami halus, dan rami (Jeyaratnam dan Koh, 2010).

 

  1. Jenis-jenis Penyakit Bisinosis

Klasifikasi Schilling mengklasifikasikan bisinosis berdasarkan sebarapa jauh penyakit bisinosis telah berkembang sebagai berikut (Suma’mur P.K, 2014).

  Tingkat Gejala
a. Tingkat 0 Tidak ada gejala
b. Tingkat ½ Kadang-kadang berat di dada (chest tightness) dan pendek nafas (shortness of breath) pada hari Senin atau rangsangan pada alat-alat pernafasan pada hari-hari Senin (hari pertama bekerja sesudah tidak

bekerja 2 hari).

c. Tingkat 1 Berat di dada atau pendek nafas pada hari-

hari Senin hampir pada setiap minggu.

d. Tingkat 2 Berat di dada atau pendek nafas pada hari- hari Senin dan hari-hari lainnya pada setiap

minggu.

e. Tingkat 3 Bisinosis dengan cacat paru.

 

Tingkat penyakit bisinosis di atas, dapat pula dinyatakan dalam penurunan fungsi paru ventilasi ekspirasi paksa 1 detik (FEV 1,0) sebagai berikut

 

Tingkat Perubahan akut (persentase penurunan FEV 1,0 sebelum

shift)

Nilai FEV 1,0 sebagai

persentase terhadap prediksi

F0 < 5% 80%
5 – <10% 80%
F1 10% atau lebih 80%
F2 10% atau lebih 60% – 70%
F3 10% atau lebih 60% atau kurang

(Sumber: Suma’mur P.K, 2014)

Penjelasan:

  1. Perubahan akut: Persentase penurunan FEV 1,0 sebelum shift dan sesudah bekerja pada hari pertama minggu kerja
  2. Nilai FEV 1,0: Nilai sesudah tidak bekerja (tidak terpapar 2 atau lebih hari kerja); dalam hal mungkin digunakan nilai diukur setelah digunakan obat bronkhodilator
  3. F0: Tidak menunjukkan efek akut; tidak ada kelainan kronis ventilasi fungsi paru
  4. F1: Efek akut
  5. F2:Kerusakan ringan hingga sedang menetap kapasitas ventilasi paru
  6. F3: Kerusakan sedang hingga berat menetap kapasitas ventilasi paru

 

  1. Paparan yang Mengakibatkan Bisinosis

Gejala bisinosis mungkin muncul dalam kecepatan beberapa jam setelah paparan dan berkurang ketika pekerja meninggalkan lingkungan pabrik (Farooque dkk., 2008). Namun, masa inkubasi dari bisinosis itu sendiri adalah 5 tahun (Djatmiko, 2016). Dan berdasarkan studi epidemiologi, paparan harian lebih dari 20 tahun menyebabkan gangguan fungsi paru permanen yang tipe atau jenisnya berhubungan dengan PPOK (West, 2010). Sebab, paparan terhadap debu kapas, vlas, henep, atau sisal yang terus menerus selama bertahun-tahun menyebabkan iritasi saluran pernapasan bagian atas dan bronkus, kemudian setelah paparan berlanjut maka terjadi penyakit paru obstruktif kronis (Suma’mur P.K, 2014).

 

  1. Dampak Bisinosis

Menurut penelitian yang dilakukan oleh ER, Mukremin, et al dalam International journal of occupational medicine and environmental health, 2016 menyebutkan bahwa pada tahap awal Bisinosis (B1) gejala sesak dada, demam dan malaise hanya terlihat pada 1 hari kerja (Senin) dan menghilang di hari-hari berikutnya. Pada tahap ke-2 penyakit, yang didefinisikan sebagai B2, gejala memperluas untuk hari-hari lain dalam seminggu dan kemajuan terlepas dari kerja. Dengan perkembangan penyakit, perubahan permanen seperti bronkitis kronis dan emfisema berkembang dalam pekerja memproduksi pembatasan kapasitas usaha mereka dan penurunan kualitas hidup disebabkan kegagalan pernafasan. gejala iritasi sistem pernapasan, dan parameter uji fungsi paru juga dinilai dalam klasifikasi WHO. Penyakit yang berhubungan dengan bronkitis kronis dan gejala iritasi lokal (hidung, mata), terlihat lebih sering pada orang yang menghirup debu dari tanaman tekstil keras seperti rami dan sisal dari tanaman tekstil lembut seperti kapas dan rami. Menghirup hasil debu rami di bronkitis kronis, batuk dan mengi sedangkan frekuensi Bisinosis cukup rendah. Di samping itu,Etiopatogenesis dari Bisinosis dan penyakit sistem pernapasan lain yang disebabkan oleh debu tanaman organik timbul terutama dari endotoksin dari dinding sel bakteri gram negatif.

 

  1. Pengendalian Bisinosis (Hirarki of control)

Menurut penelitian yang dilakukan oleh S Prasetya, 2012 yang termuat dalam journal.unair.ac.id upaya untuk pengendalian debu yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Pengendalian Secara Mekanik (Engineering / mechanical controls).

Pengendalian secara mekanik atau teknik yang ada pada proses zenbo bagian spinning antara lain :

  1. Isolasi Proses
    1. Mekanisasi dan Otomatisasi, mesin- mesin atau alat-alat canggih yang digunakan pada proses pencampuran material kapas untuk pembuatan gumpalan- gumpalan kapas (blowing machine) yaitu spesifikasi untuk pencampuaran material dari kapas alami (cotton) dan mesin untuk pencampuran material kapas sintetis (polyester/ tetoron). Serta membersihkan kotoran sisa biji kapas serta serat-serat kecil (carding machine) pada proses ini mesin yang .
    2. Pada proses pencampuran material kapas (zenbo) dilakukan pemisahan-pemisahan ruang untuk setiap Pada proses pencampuaran material kapas dengan proses pembuatan sambungan potongan-potongan kapas (SLIVER) berada pada ruangan yang terpisah.
  2. Dust collector

Pada proses pencampuran material kapas (zenbo) bagian pemintalan (spinning) upaya pengendalian debu kapas juga dilakukan dengan penggunaan dust collector dengan menggunakan alat penghisap yang dipasang di atas mesin-mesin yang ditujukan untuk mengendalikan kadar debu kapas. Pemanfaatan  dust collector juga sebagai ventilasi, yaitu suatu proses pembaharuan udara disuatu ruang kerja. Digunakan dua buah dust collector yang difungsikan sebagai pengendalian debu kapas diruangan yang mempunyai tujuan untuk mengendalikan kadar debu dan sebagai ventilasi ruangan, yaitu mengeluarkan dan mengalirkan udara kedalam suatu ruangan dengan menggunakan alat mekanis berupa fan.

Gambar Dust Collector dapat dilihat pada gambar berikut:

  1. Pengendalian Secara Administratif (Administrative Controls) pada proses pencampuran material kapas (zenbo) bagian pemintalan (spinning)
    1. Pelatihan dan Pendidikan Pekerja pada proses pencampuran kapas (zenbo) bagian pemintalan (spinning) setiap 6 bulan sekali perlunya pelatihan dan pendidikan tentang bagaimana cara pemakain alat pelindung diri  dan bahaya paparan debu kapas dari Disnaker. Pelatihan dan pendidikan selain bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan karyawan, juga untuk menimbulkan rasa ikut bertanggung jawab terhadap keberhasilan program kesehatan dan keselamatan kerja di perusahaan.
    2. Pemeliharaan Ketata Rumah Tanggaan Perusahaan Yang Baik (Good Housekeeping)

Pada proses pemintalan (spinning) perlu ada pemeliharaan ketata rumah tanggaan dengan cara meningkatkan kebersihan dilingkungan kerja meliputi pembersihan lantai tempat kerja dengan sapu dan membersihkan mesin-mesin yang berdebu dengan cara disemprot dengan angin yang dicampur sedikit air, namun masih ada dinding-dinding yang sudah sangat kotor dan masih banyak kotoran- kotoran yang berserakan.

  • Fasilitas Saniter

Pada proses pencampuran kapas (zenbo) bagian pemintalan (spinning) perlu fasilitas saniternya meliputi, dua buah kamar kecil, dua buah ruang ganti pakaian, dan tempat untuk cuci tangan dan muka.

  1. Pemeriksaan Kesehatan tenaga kerja

Perlu pemeriksaan kesehatan kepada pekerja, yaitu :

  • Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja
  • Pemeriksaan kesehatan berkala
  • Pemeriksaan kesehatan khusus
    1. Rotasi Kerja

Pada proses pencampuran kapas (zenbo) bagian pemintalan (spinning) perlu dilakukan rotasi kerja dengan memindahkan tenaga kerja dari satu bagian ke bagian lain, misalnya dari bagian blowing (weaving) ke bagian ring frame (spinning).r

  1. Alat Pelindung Diri (APD)

Perlunya jenis alat pelindung diri dipakai pada pekerja di bagian proses pencampuran material kapas (zenbo) bagian pemintalan (spinning) adalah respirator atau masker kain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan
  2. Jenis-jenis bisinosis dibagi dalam dibagi menjadi empat tingkat dimulai dari tingkat 0 tidak ada gejala, tingkat 1 gejala muncul pada hari senin, tingkat 2 gejala muncul pada setiap minggunya hingga tingkat 3 yaitu dengan komplikasi cacat paru. i
  3. Paparan yang menyebabkan gejala bisinosis muncul pada paparan dalam beberapa jam dan berkurang saat meninggalkan lingkungan kerja. Inkubasi penyakit bisinosis ini selama 5 tahun. Dan paparaan selama 20 tahun lebih menyebabkan gangguan fungsi paru permanen.
  4. Dampak bisinosis dilihat melalui beberpa tahap yaitu tahap awal menyababkan sesak nafas dada, demam dan malaise pada hari senin. Tahap kedua menyebabkan bronkitis kronik dan emfisema.bag
  5. Pengendalian bisinosis menurut hirarki of control yaitu pengendalian secara mekanik dengan isolasi proses yaitu mekanisasi dan otomatisasi mesin atau alat industri dan pemisahan ruang setiap prosesnya serta diberikan dust collector. Pengendalian secara administratif dilakukan pelatihan dan pendidikan kepada pekerja, pemeliharaan ketata rumah tanggaan, pemberian fasilitas saniter, pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dan rotasi kerja. Pengendalian secara APD yaitu pemberian masker kain atau respirator.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Djatmiko, R. D. 2016. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja, Yogyakarta, Deepubish

 

Er, Mukremin., Emri, S. A., Demir, A. U., Thorne, P. S., Karakoca, Y., Bilir, N., & Baris, I. Y. 2016. Byssinosis And COPD Rates Among Factory Workers Manufacturing Hemp And Jute. International Journal Of Occupational Medicine And Environmental Health, 29(1), 55.

 

Farooque, M. I., Khan, B., Aziz, F., Moosa, M., Raheel, M., Kumar, S. Dan Mansuri, F. A. 2008. Byssinosis: As Seen In Cotton Spinning Mill Workers Of Karachi. JOURNAL-PAKISTAN MEDICAL ASSOCIATION, 58, 95.

 

Jeyaratnam, J. Dan Koh, D. 2010. Buku Ajar Praktik Kedokteran Kerja, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

 

Mulyati, S. S., Setiani, O., & Raharjo, M. 2016. Analisis Risiko Paparan Debu Kapas Terhadap Kejadian Bisinosis Di Industri Tekstil PT. Grandtex Bandung. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 14(2), 57-64.

 

Prasetya, S. 2013. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Pernapasan Pada Tenaga Kerja Bagian Pemintalan Di Pt. Lotus Indah Textile (Doctoral Dissertation, Universitas Airlangga).

 

Prasetyo, R. P. A. A. 2016. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Bisinosis Pada Pekerja Bagian Produksi PT. Argo Pantes Tbk Tangerang Tahun 2016 (Bachelor’s Thesis, FKIK UIN Jakarta).

 

Saputra, R. A., Suwondo, A., & Jayanti, S. 2016. Hubugan Paparan Debu Kapas Dan Karakteristik Individu Dengan Gejala Penyakit Bisinosis Pada Pekerja Spinning 1 PT. X Kabupaten Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (E-Journal), 4(4), 738-746.Suma’mur P.K 2014. Higiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja (HIPERKES),Jakarta, Sagung Seto.

.

West, J. B. 2010. Patofisiologi Paru Esensial Edisi 6, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

 

Yuliawati, R. 2017. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Gangguan Fungsi Paru Pada Pekerja Pembuat Kasur (Studi Kasus Di Desa Banjarkerta Karanganyar Purbalingga). Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(2), 154-158.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *