HUBUNGAN KADAR TSP DI LINGKUNGAN DENGAN KADAR PB DAN NO DALAM DARAH SERTA KEJADIAN HIPERTENSI DI KABUPATEN SUKOHARJO

HUBUNGAN KADAR TSP DI LINGKUNGAN DENGAN KADAR PB DAN NO DALAM DARAH SERTA KEJADIAN HIPERTENSI DI KABUPATEN SUKOHARJO

  1. Latar Belakang Masalah

Kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu Kabupaten di lingkungan Karesidenan Surakarta, letaknya berbatasan langsung dengan 6 kabupaten atau kota, Kabupaten Sukoharjo terdiri dari 12 kecamatan dan 167 desa atau kalurahan (DKK Sukoharjo,2017). Pembangunan industri di segala bidang di wilayah Kabupaten Sukoharjo yang cukup pesat berdampak semakin besarnya jumlah lapangan pekerjaan dan kesempatan kerja juga pencemaran udara. Pencemaran udara disebabkan oleh aktivitas industri, dan peningkatan jumlah kendaraan bermotor, dimana industri yang menemisikan gas buang ke udara tanpa pengelolaan yang baik dan memenuhi baku mutu yang dipersyaratkanmenyebabkan peningkatan polusi udara yang signifikan yang juga berdampak pada masalah kesehatan (SLHD,2015).

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahaat atau tenang (Kemenkes RI, 2013). Menurut World Health Organization (2015) penderita hipertensi meningkat dari 594 juta di tahun 1975 menjadi 1,13 milyar di tahun 2015 dengan peningkatan yang signifikan pada Negara dengan pendapatan rendah dan menengah. Indonesia termasuk negara berkembang, dimana angka hipertensi cukup tinggi sejumlah 65.048.110 jiwa mengalami hipertensi (Kemenkes,2013). Jawa tengah masuk kedalam sepuluh besar peringkat tertinggi mengalami hipertensi dengan presentase 26,4% penduduk mengalami hipertensi (Riskesdas,2013). Hipertensi masuk kedalam penyakit tidak menular tertinggi yang berada di kabupaten sukoharjo dengan 20.707 kasus ditemukan pada tahun 2017 (DKK Sukoharjo,2017).

Adapun faktor yang berperan dalam terjadinya hipertensi yaitu faktor genetik, umur, jenis kelamin, ras, asupan tinggi natrium/garam, obesitas, inaktivitas, merokok, alkohol dan logam berat. Logam berat yang berbahaya dan sering mencemari lingkungan adalah merkuri (Hg), plumbum (Pb), arsenik (As), cadmium (Cd), khromium (Cr) dan nikel (Ni). Pb merupakan salah satu logam berat yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan jika terhirup ke dalam system pernapasan. Polutan Pb dipancarkan oleh kendaraan bermotor. Sekitar 25%-50% Pb tinggal di udara setelah dipancarkan. Karena itu peningkatan jumlah kendaraan bermotor akan meningkatkan pencemaran Pb di udara

Timbal merupakan salah satu logam berat yang sangat berbahaya karena dapat meracuni lingkungan dan mempunyai dampak kesehatan (Palar,2008). Dampak timbal terhadap kesehatan adalah kerusakan ginjal, hipertensi, anemia, kerusakan saraf pusat, perubahan tingkah laku, gangguan fertilitas, keguguran janin, menurunkan IQ anak serta menghambat pembentukan hemoglobin (Kurniawan,2008). Timbal bisa masuk kedalam lingkungan dan tubuh manusia dari  berbagai macam sumber seperti bensin, daur ulang atau pembuangan baterai mobil, mainan,cat, pipa, tanah, beberapa jenis kosmetik, dan obat tradisional dan berbagai sumber lainnya (DHOCNY,2007). Kandungan timbal dalam darah lebih dari 50 ug/dl bias menyebabkan rusaknya ginjal dan anemia. Konsentrasi timbal 100 microgram per deciliter dalam darah dapat menyebabkan penyakit serius , koma, sawan atau kematian ( Indra,2005).

Kandungan timbal yang terdapat di bensin merupakan faktor pencemaran udara yang bersamaaan dengan padatnya kendaraan bermotor dapat meningkatkan konsentrasi TSP pada lingkungan. Dalam Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 8 Tahun 2001 telah menetapkan Nilai ambang batas baku mutu TSP udara ambien waktu 24 jam adalah 230 μg/Nm3. Menurut laporan SLHD Kabupaten Sukoharjo tahun 2015 tujuh dari sepuluh pengambilan sampling di area padat penduduk dan kendaraan bermotor memiliki konsentrasi TSP melebihi nilai baku mutu, hal itu sebanding dengan terus meningkatnya angka kejadian hipertensi dari tahun sebelumnya sebesar 53.874 jiwa mengalami hipertensi primer (SLHD,2015).

Faktor lain hipertensi adalah defisiensi vasodilator seperti nitrit oksida (NO)( Danuyanti, I. G. A. N., Kristinawati, E., & Resnhaleksmana, E., 2018). NO merupakan molekul pembawa sinyal yang tersebar luas dan berperan penting dalam setiap sel dan fungsi organ dalam tubuh (Schrijvers et all., 2004). Penurunan kadar NO dapat meningkatkan tekanan darah karena kadar NO yang rendah menyebakan respon sel endotel pembuluh darah terhadap asetilkolin abnormal atau terjadi peningkatan resistensi pembuluh vaskuler (Panza, 1997).

Nitrogen oksida, dikenal sebagai faktor relaksasi yang berasal dari endotelium (EDRF), yang dibiosintesis secar endogen dari L-arginin, oksigen dan NADPH oleh berbagai enzim nitrogen oksida sintase (NOS). Reduksi nitrat anorganik mungkin juga berfungsi untuk membuat nitrogen oksida. Endotelium (lapisan dalam) pembuluh darah menggunakan oksida nitrat untuk sinyal otot polos sekitarnya untuk relaksasi, sehingga mengakibatkan vasodilatasi dan meningkatkan aliran darah.

Nitrogen oksida (NO) memberikan kontribusi untuk homeostasis pembuluh dengan menghambat kontraksi otot polos pembuluh darah dan pertumbuhan, agregasi platelet, dan adesi leukosit pada endotel. Manusia dengan aterosklerosis, diabetes, atau hipertensi sering menunjukkan gangguan jalur NO. Asupan garam yang tinggi menunjukkan untuk melemahkan produksi NO pada pasien dengan hipertensi esensial, meskipun bioavailabilitas tetap tidak teratur. Menurunnya tingkat NO yang dihembuskan telah dikaitkan dengan paparan polusi udara pada pesepeda dan perokok, tapi, secara umum, peningkatan kadar NO yang dihembuskan berhubungan dengan paparan polusi udara. Hemoglobin adalah contoh yang menonjol dari protein heme yang dapat dimodifikasi oleh NO melalui kedua jalur: NO dapat menempel langsung pada heme dalam reaksi nitrosilasi, dan mandiri membentuk S-nitrosotiol melalui S-nitrosasi dari gugus tiol.

The Global Dimensions of Lead Poisoning memperkirakan dampak polusi udara sudah tinggi di hampir seluruh belahan dunia, di Bangkok tingginya kadar timbal di udara menyebabkan terjadinya 200.000 – 500.000 kasus hipertensi dan menyebabkan 400 kematian setiap tahun atau 0,08% – 0,2%. Polisi lalu lintas, penjaga pintu tol, penjaja asongan maupun sopir angkutan kota atau sopir taksi merupakan orang yang berpotensi terkena hipertensi akibat terpapar Pb. Namun, penelitian tentang tinggi rendahnya kadar Pb dalam darah sebagai salah satu indikator biologis adanya paparan Pb, yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah tinggi (hipertensi) belum banyak dilakukan (Pasorong, M. B., Kushadiwijaya, H., Ng, N., & Pribadi, V. ,2007).

Menurut peraturan pemerintah nomor 41 tahun 1999 yang berisikan jenis parameter udara pada baku mutu udara ambien yang berisikan antara lain : Sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (NO2), Oksidan (O3), Hidro karbon (HC), PM 10, PM 2,5, TSP (debu), Dustfall (debu jatuh),Pb (Timah Hitam). Untuk senyawa timbal setelah meninggalkan ruang bakar akan membentuk padatan partikel, sebagian besar berdiameter kurang dari 2μ, Baku mutu udara ambien yang diatur oleh peraturan di atas mensyaratkan pengukuran partikel berukuran 10μm dan 2,5 μm, sedangkan baku mutu untuk timah hitam adalah : 2 μg/m3 untuk pengukuran 24 jam dan 1 μg/m³ untuk pengukuran 1 tahun (Kurniawan, W. 2008).

Penelitian mengenai Hubungan Kadar TSP Di Lingkungan Dengan Kadar Pb Dan NO Dalam Darah Serta Kejadian Hipertensi pernah diteliti oleh peneliti lain dalam penelitian yang berbeda. Igan D (2014) dalam jurnal kesehatan prima mengemukakan adanya hubungan yang kuat antara Hubungan Kadar Nitrit Oksida (NO) Dalam Darah Terhadap Resiko Kejadian Diabetes Militus Tipe 2 Dengan Hipertensi Di RSUP NTB dengan nilai p value <0.0001. Peneliti lain Wardani I ( 2018)  dalam penelitiannya mengemukakan tidak ada hubungan antara kadar Pb dengan kejadian hipertensi. Sedangkan Woro R dalam buletin kesehatan vol.30 (2002) mengemukakan bahwa penderita hipertensi lebih besar pada orang yang memiliki kadar Pb tinggi daripada Pb kadar rendah. Dan Pasoronng M B ( 2007) dalam berita kesehatan masyarakat mengemukakan dalam penelitiannya terdapat hubungan antara kadar Pb dalam darah dengan insidensi hipertensi.

Berdasarkan kondisi diatas, peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Kadar TSP Di Lingkungan Dengan Kadar Pb Dan NO Dalam Darah Serta Kejadian Hipertensi di Kabupaten Sukoharjo                             ”.

 

  1. Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan kadar TSP di lingkungan dengan kadar Pb dan NO dalam darah serta kejadian hipertensi di Kabupaten Sukoharjo?

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Danuyanti, I. G. A. N., Kristinawati, E., & Resnhaleksmana, E. 2018. Hubungan Kadar Nitrit Oksida (NO) Dalam Darah Terhadap Resiko Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan Hipertensi di RSUP NTB. Jurnal Kesehatan Prima, 8(1), 1207-1215.

 

Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo. 2017. Tabel Profil Kesehatan Tahun 2017.Sukoharjo

 

Dinas Lingkungan Hidup Sukoharjo.2015. Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Sukoharjo. Sukoharjo

 

DHOCNY (Department of Health Otsego County, New York). 2007. Lead Poisoning Prevention: What is Lead?. Department of  Health Otsego County. New York

 

Ludwig, H., Van Belle, S., Barrett-Lee, P., Birgegård, G., Bokemeyer, C., Gascon, P., … & Schneider, M. 2004. The European Cancer Anaemia Survey (ECAS): a large, multinational, prospective survey defining the prevalence, incidence, and treatment of anaemia in cancer patients. European journal of cancer, 40(15), 2293-2306.

 

Guetta, V., Quyyumi, A. A., Prasad, A., Panza, J. A., Waclawiw, M., & Cannon III, R. O. 1997. The role of nitric oxide in coronary vascular effects of estrogen in postmenopausal women. Circulation, 96(9), 2795-2801.

 

Indra C. 2005. Darah Tukang Becak Mesin di Kota Pematang Siantar dan Beberapa faktor yang Berhubungan. Jurnal Unimus,138

 

Kurniawan, W. 2008. Hubungan Kadar Pb dalam Darah dengan Profil Darah pada Mekanik Kendaraan Bermotor di Kota Pontianak (Doctoral dissertation, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro).

 

Palar, H. 2004. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat, Edisi ke-2, Rineka Cipta, Jakarta

_______2008. Heavy metal contamination and toxicology. Rineka Cipta, Jakarta

 

RI, Kementrian Kesehatan.2014. “Infodatin Hipertensi.” Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.

Nitrogen Oksida: Fungsi Biologis & Aplikasi Medis. https://wawasanilmukimia.wordpress.com/2014/03/06/nitrogen-oksida-fungsi-biologis aplikasi-medis/ (diakses pada 4/11/2018)

 

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *