Skip to content

Terbunuhnya Gerorge Floyd Menambah Daftar Panjang Diskriminatif Warga Kulit Hitam Di Amerika

Jagad maya kembali diguncangkan oleh sebuah video viral yang berasal dari Amerika Serikat. Seorang laki-laki bernama Gerorge Floyd yang merupakan warga kulit hitam Afrika-Amerika tewas ditangan seorang polisi bernama Derek Chauvin pada Senin (25/5).

         Kejadian yang dialami oleh Gerorge Floyd bukan tanpa alasan, peristiwa ini diawali dari seorang penjaga toko yang menelpon 911. Dia melaporkan bahwa ada seorang pembeli yang membayar rokok menggunakan uang palsu. Tidak lama setelah si penjaga toko menghubungi 911, empat polisi datang ke lokasi kejadian.

         Satu dari empat polisi tersebut bernama Derek Chauvin mencekik leher Gerorge Floyd menggunakan dengkul hingga dia pun tewas di lokasi kejadian. Sebelum meninggal, Gerorge Floyd diketahui sudah mengatakan bahwa dirinya tidak bisa bernapas. Namun sayangnya, perkataan itu tidak mampu menghentikan perbuatan sang polisi. Berdasarkan dari rekaman video yang beredar, ada satu yang membuat natizen makin geram. Bagaimana mungkin ketiga polisi yang berada dilokasi kejadian hanya berdiri dan melihat saja, tidak berusaha untuk menolong atau setidaknya bergerak.

         Peristiwa tewasnya Gerorge Floyd memunculkan banyak pertentangan dan kemarahan di kalangan natizen. Hal ini dianggap sebagai tindakan dsikriminasi terhadap warga kulit hitam yang tinggal di Negara “Paman Sam” tersebut. Buntut dari kejadian itu, Setidaknya ada 30 negara bagian di Amerika serikat yang melakukan unjuk rasa.

Peristiwa yang dialami oleh Gerorge Floyd tentunya menambah daftar panjang sejarah kelam bagi warga kulit hitam Afrika-Amerika setelah Eric Gramer, Sandra Annete Bland, Walter Lamar Scot dan beberapa orang lainnya.

Diskriminasi yang terjadi di Amerika Serikat ini, sebenarnya tidak terjadi begitu saja. Pada sebuah laman Youtobe warga Indonesia bernama Gita Savitri Devi yang mengundang seorang wanita bernama Hellease yang merupakan seorang warga Amerika serikat keturunan Afrika Barat. Dia menjelaskan bahwa dulunya, terjadi perbudakan pada orang-orang Afrika yang dibawa ke Amerika untuk membangun perekonomian. Perbudakan ini berdampak pada pencabutan hak suara dan diskriminasi yang dialami oleh pada orang-orang Afrika.

Perbudakan yang terjadi kurang lebih selama 400 tahun ini, akhirnya berakhir saat muncul amandemen ke 14 tentang penghapusan perbudakan di undang-undang. Meskipun begitu, ternyata ada Amandemen 13 mencantumkan tidak ada perbudakan kecuali jika melakukan kejahatan. Lantas bagaimana seharusnya pemerintah Amerika Serikat menanggapi kejadian rasisme yang terjadi? Ebba Kalondo yang merupakan juru bicara dari African Union ikut berpendapat bahwa Amerika Serikat harus menghapuskan diskriminasi ras juga etnis tertentu.

Published inFiksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *