Skip to content

Tampaknya Semesta sedang Bercanda

“Ketika dekat adalah jarak terjauh yang tidak bisa dijangkau. Terkadang semesta memang sebercanda itu”

Pukul 01.25 dini hari, tepat saat aku menulis ini semua. Sekali lagi, aku akan mengingatkan bahwa aku adalah “Pe” dan aku perempuan. Orang-orang berpikir bahwa aku adalah pribadi yang terbuka dan tidak memiliki masalah apa pun. Faktanya, iya memang demikian, tapi tidak sepenuhnya begitu. Kamu tahu, di sini aku akan memposisikan kamu sebagai kamu. Iya, kamu.

Aku ingatkan sebagai ancang-ancang bila kamu lupa. Aku menyukai hujan. Bagiku tetesannya mampu membawa beban yang ada di kepalaku luruh dan mengalir ke tanah, menyatu dengan mikroorganisme lainnya. Namun, tidak hari itu. Kamu sungguh hebat, mampu membuatku yang mengaku “mencintai” hujan ini, jadi membencinya.

Tepat hari itu, kamu mengajarkan bahwa bahagia adalah tentang diri sendiri bukan orang lain. Bahkan orang terdekat sekali pun. Memang ku akui, aku merasa bahwa semesta sedang tidak adil bagaimana bisa aku harus menerima kalimat, “Kadang, segala sesuatu cuma perlu di-ga papa-in.” Padahal jelas sekali aku terluka kala itu. Di mana letak keadilannya? tapi baiklah, pada akhirnya emang “Gak papa” .

Kamu bilang, aku ini sering bercanda, sampai kamu tidak bisa membedakan, kapan aku ketika “bercanda” dan kapan aku ketika “serius”. Apa kamu ingat, kalau kamu juga sering bilang, aku ini abu-abu yang terlalu abu-abu? Sempat aku berpikir, apa maksud dari “Abu-abu yang ter-lalu abu-abu?” Sampai akhirnya aku tahu, bahwa abu-abu yang kamu maksud adalah ketidakpahaman kamu perihal “aku” dan kamu tidak mencoba untuk “mengomunikasikannya” atau “enggan” ah aku tidak tahu bedanya.

Sempat ku pikir bahwa kita “DEKAT” hingga pikiran itu mengantarkanku pada sebuah definisi dari kata “DEKAT” ku. Ternyata masih terlalu jauh untuk menjangkaumu. Kadang, semesta bisa juga sebercanda ini, ya? Waktu aku udah Pede banget, kalau kamu adalah “Kamuku”. Saat itu pula semesta berasa lagi ngejek “Hellow! Anda siapa?” Kamu tahu? ingin sekali aku membungkam si semesta yang songong itu dengan kalimat seru, “Jelas aku ini pemilik hatimu!” tapi aku terlanjur ciut, semesta lebih dulu menghantamku dengan tatapan mengerikan, bahkan dengan tegas dia mengatakan, “Udah lah, berhenti dan menyerah, itu sudah keputusan terbaik.”

Semua sudah berlalu, tidak akan ada bab lanjutan tentang prosa kehidupan antara “Aku” “Kamu” dan “Semesta yang suka bercanda” ini. Semua pembaca memang berharap bahwa cerita yang dibacanya akan berakhir dengan bahagia, tetapi penulis juga punya cara bagaimana mengakhiri sebuah cerita yang sama. Kamu harus tenang, pembaca tidak akan protes jika mereka adalah “Manusia” dan “Tuhan” sebagai penulisnya.

Meja Kamar
Sabtu, 20 Juni 2020 pukul 02:15 Dini hari.

Published inFiksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *