Skip to content

Sepasang Mocacino

Sumber gambar: koleksi pribadi

Kopi kok manis?

Di sini masih sepi, dingin, dan pesananku belum datang. Meskipun begitu, alunan musik jaz yang di putar si pengelola kedai kopi mampu menghangatkan suasana. Jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 19.30. Itu tandanya dia sudah terlambat 30 menit. Aku lebih memilih diam dan larut dalam novel yang kubaca daripada mengumpat karena kebiasaan ngaretnya. Ya, ini adalah kebiasaan buruk yang bisa aku terima, jangan tanya kenapa, sebab aku sendiri juga tidak tahu.

“Pe … Maaf. Tadi kucing tetanggaku bertelur, dia menyuruhku untuk memasak telurnya,” katanya datang dengan wajah kalut dan rambut yang berantakan.

Mataku tidak sedikit pun bergeming dari novel. Aku tahu, pria di depan ku ini akan punya banyak alasan tidak masuk akal. “Sejak kapan, kucing bertelur, anak muda?”

“Sejak Olympus jatuh ke tanganku.”

Aku mendengus kesal, lalu menatapnya. Alih-alih diam, tanganku dengan cepat menyambar kepalanya.

Plakkk

“Periksalah ke dokter, barangkali tengkorakmu ada yang retak,” kataku usai melakukan aksi.

“Kasarnya perempuanku.”

“Duduk dan diamlah, anak muda!”

Aku kembali membuka novel yang sempat tertutup, lalu membacanya kembali. Bukan karena aku tidak menghargai yang sekarang berada di depanku. Tidak begitu. Aku tahu sebentar lagi, dia akan membuka ponselnya lantas mengecek apakah ada pesan penting. Setelah selesai dengan urusannya, dia akan meletakkan ponsel dengan posisi layar menghadap ke langit-langit. Itu adalah isyarat, bahwa dia sudah siap berbincang dengan lawan bicaranya.

Biar aku kenalkan, namanya Luwi. Lebih terdengar seperti nama kucing daripada nama seorang laki-laki yang seumuran denganku. Laki-laki yang memiliki nama imut ini adalah sahabatku. Iya, Sahabat. Tidak lebih, tidak kurang se-mili pun. Perawakannya tinggi, putih, hidungnya mancung, rambutnya pendek dan lurus. Jangan pernah bilang dia ganteng, kerena menurutku, tidak sama sekali. Dia menyebalkan. Jangan tanya juga, kenapa aku mau berteman dengannya, aku tidak tahu.

“Sepasang mocacino, Kak?” tanya pelayan kedai.
Aku mengangguk, “Terima kasih.”

“Lagi-lagi mesenin mocacino!” gerutu Luwi.
“Siapa yang suruh dateng telat?”
“Apa tidak bosan minum mocacino? Kita hampir tiap pekan ke sini dan kamu selalu memesan menu yang sama. Itu pelayan kedai sampai eneg nganterin pesanan yang sama tiap minggu.”
“Minum dan diamlah. Lain kali, kamu harus datang lebih awal, biar bisa pesan menu yang lain.”

Ini adalah minggu ketiga Luwi menggerutu karena yang aku pesan selalu mocacino. Bahkan dia sempat mengumpat minggu lalu, “KOPI KOK MANIS.”
Sengaja aku biarkan dia menggerutu, bahkan jika minggu-minggu berikutnya, aku yang datang lebih awal, akan tetap memesan menu yang sama.

Setiap orang harus belajar menjadi lebih baik Luwi, agar bisa mengubah sesuatu. Tidak harus di mulai dari hal-hal yang berat, meskipun sedikit, tapi berpengaruh akan lebih bermakna.

Published inFiksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *