Skip to content

Pilih(an)

“Bahkan ketika tidak memilih sebuah pilihan pun adalah pilihan.”

“Angin pantai dan langit senja, mana yang akan kau pilih untuk bisa menemanimu, Pe?”
“Aku tidak harus memilih keduanya, Lu. Sebab bagiku ada angin di pantai atau tidak, melihat senja atau tidak, semua perkara waktu. Tuhan bisa saja menyembunyikan senja dan angin sekaligus.”

Luwi kembali mengembuskan napas panjang tanpa menanggalkan pandangannya dari dua bocah yang sedang berlarian di atas dek kapal.
“Aku selalu mendapatkan jawaban terbaik versimu, Pe.”

Aroma asin ini, Angin yang bersaut ini, dan pemandangan ini, barangkali tidak akan bisa aku dapatkan, jika beberapa hari lalu tidak merengek pada Luwi untuk dibawa kabur ke ujung dunia.
Sempat dia mengelak dengan alasan, “Kamu akan membuat orang-orang penganut teori bumi bulat, marah besar!”
“Kenapa? apa salahku?”
“Sebab jika bumi bulat, tidak akan memiliki ujung!”

Meskipun dia sempat mengelak, aku tahu. Pada akhirnya, dia akan membawaku pergi. Jangan pernah berpikir bahwa ada apa-apa di antara aku dan Luwi. Sudah ku bilang kemarin, aku dan dia berteman. Tidak lebih, meski hanya se-mili.

Hening …
Kami diam …

Cukup dengan seperti ini. Diam tanpa kata, tapi berada di sampingnya, aku tenang. Aku tidak tahu, ada apa pada diri Luwi. Dia bisa menyebalkan dan menenangkan dalam satu waktu. Sering aku ingin bertanya, “Apa kamu belajar sihir, Lu?” Namun, tentu saja, itu semua hanya berhenti di kepala. Aku lebih suka bertanya-tanya pada diriku sendiri tanpa tahu jawaban yang sebenarnya. Aku terlalu takut, jika “Itu” adalah kebenaran yang akhirnya membuat kami jauh.

Aku diam …
Membiarkan anak rambutku menari-nari tersapu angin. “Nanti kalau mereka capek, pasti berhenti sendiri.”

“Jadi gimana?” tanya Luwi memecah keheningan di antara kami.
Dahiku mengkerut, menatapnya dengan penuh pertanyaan, “Apanya?”
“Pilihanmu.”

Aku kembali diam …
Kamu tahu? ketika pertanyaan itu muncul dari mulut Luwi, rasanya jantungku tertikam oleh beruang kutub, Tombak-tombak dari para pemburu datang mengincarku, juga granat dari para tentara yang siap mereka luncurkan seakan sengaja menanti gilirannya.
“Aku tidak ingin memilih apa pun, Lu. Tidak bisakah demikian saja?”

Luwi menghela napas (lagi)
Matanya beralih kepadaku sepersekian detik, lalu menghadap ke depan lagi.
“Kamu tahu, Pe. Bahkan ketika kamu tidak memilih sebuah pilihan, itu berarti, kamu telah memilih. Sekarang … Aku hanya akan memintamu untuk menjalani pilihanmu, apa pun itu.”

Aku menoleh pada mata sayu laki-laki di sampingku.
“Dipikir atau tidak, semuanya akan terjadi. Kamu hanya perlu belajar untuk menerima apa yang sudah jadi pilihanmu,” lanjutnya.

Luwi selalu punya jawaban dari apa yang bergejolak di kepalaku, tanpa aku bercerita, tanpa aku meminta saran. Ya, dia Luwi. Luwiku

Published inFiksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *