Skip to content

Film Drama

“Kau harus tahu, Pe. Bahwa sebagian masalah terasa sirna hanya karena kamu di sini.”

Sumber gambar: Koleksi pribadi

Sekarang hujan. Enaknya, kalau hujan begini ya di teras rumah, ditemani secangkir teh melati hangat yang aromanya menenangkan dan gorengan panas yang terasa gurih ketika dikunyah, eits … jangan lupa pelengkapnya, yakni obrolan ringan yang dapat menghangatkan suasana atau hanyut dalam rangkaian kalimat penulis novel yang berada di pangkuan. Alih-alih demikian, justru si menyebalkan pemilik nama imut yang lebih cocok untuk nama kucing itu, justru memaksaku keluar rumah, menerabas hujan, membelah dinginnya malam, hanya untuk sekadar menunggunya. Iya … MENUNGGUNYA

Lima belas menit yang lalu, saat aku berkutat dengan duniaku-buku- dia menelponku. Kamu tahu? dia hanya bicara singkat dengan nada khasnya yang super duper menyebalkan. “10 menit lagi ketemu di tempat biasa. GAK PAKE PROTES!”

Ya … di sinilah aku berada sekarang, di sebuah ruangan besar dengan banyak orang. Mereka saling tertawa dan bersenda gurau dalam satu lingkaran meja dengan banyak makanan di tengahnya, sesekali mereka ber-swa foto untuk mengabadikan momen. Hm, dalam hatiku berdesir, “Enak kali ya punya banyak teman.” Ada pula yang berdua, seperti sepasang laki-laki dan perempuan di sebelah kananku, mereka tampak senyum malu-malu. Bisa ku ibaratkan ada banyak kupu-kupu yang mengitari mereka.

Aku?

Jangan tanya posisiku di mana, sebab itu jelas. Aku di meja paling pojok dan tidak sendirian. Aku bersama sebuah novel bergenre science fiction dengan tebal sekitar 500 halaman dan segelas lemon tea.

“Pe! seorang wanita berumur 22 tahun dengan tinggi 160 cm dan berat 51 kg, serta kutu buku yang tidak punya teman selain Luwi. Saya telah datang!”
Aku menutup Novelku, lantas menatapnya dengan kasar sampai kaca mataku turun, “Ye… Aku punya tauk!”
“Tentu saja, karakter dalam setiap novel yang kamu baca adalah temanmu.”

Aku mendengus kesal, lalu membenarkan letak kaca mataku.
Tangan Luwi dengan tangkas membuat tameng pada kepalanya.
“Eh tumben, tanganmu gak touring ke kepalaku.”
“Kali ini aku benar-benar serius. Isi tengkorak kepalamu itu bermasalah!”
“Kalau karakter novel itu hidup. Aku jamin, mereka gak akan mau temenan sama makhluk pemarah kayak kamu.”
Aku lebih memillih untuk tidak menanggapinya kali ini. Kamu tahu, Luwi ini bawel. Dia bisa bicara 10 menit tanpa berhenti dengan sekali tarikan napas. Mengerikan.

“Ayo ikut.”
Aku menyernyitkan dahi tidak mengerti, “Kemana?”
Alih-alih menjawab, dia langsung membalikkan badan. Mau tidak mau, aku dengan cepat mengekor di belakangnya.

Luwi mengajakku turun satu lantai. Dia membawaku ke bioskop.
“Ngapain?”
“Nonton kucing,” jawabnya datar.
Hei, dia pikir aku bodoh? mana ada kucing masuk bioskop? atau barangkali ada film kucing?

Dia membawaku masuk ke ruangan bioskop yang hampir penuh dengan orang-orang. Kami duduk di kursi dengan nomor 15 dan 16 C. Aku sejenak terdiam, makhluk seperti apa Luwi sebenarnya?

“Film kucing?” tanyaku yang masih bingung.
Tidakkah ini aneh? kamu dibawa ke bioskop, bahkan kamu sudah duduk di dalamnya tapi, tidak tahu film apa yang hendak kamu saksikan.

“Kamu masih percaya kita akan nonton kucing?”
“Tadi kamu bilang kucing.”
“Pe! diam dan lihatlah!”

Ini bukan kebiasaan Luwi. Dia aneh, benar-benar aneh. Aku menatapnya dengan tatapan tidak biasa.
“Apa liat-liat?” tanya Luwi.
“Besok periksa ya? Isi kepalamu benar-benar rusak, Lu.”
“Diam kau kucing oren!”

Film diputar …
Semua orang diam …

Hampir sejam film itu berlangsung, beberapa orang terdengar sesegukan. Memang aku akui, film ini memang menyentuh sekali. Namun, aku mendengar suara aneh. Ini bukan suara segukan. Aku menengok ke kiri, kulihat seorang perempuan yang fokus dengan popcornnya. Ke atas dan ke bawah, mereka menangis dan akhirnya, aku menoleh ke arah kanan dan aku mendapat jawabannya.

LUWI TERTIDUR …
DIA BENAR BENAR TERTIDUR …
DAN DIA MENDENGKUR …

Kamu bisa tebak, bagaimana endingnya? aku menutup wajah Luwi dengan novelku. Berharap suara dengkurannya berkurang hingga film itu berakhir.

Satu hal lagi yang menyebalkan, ketika Luwi bangun. Tepat saat film itu selesai diputar. Dia menguap kencang sekali lalu menengok ke arahku, “Selamat pagi, My Sunshine.”
Aku tidak bisa lagi menahan tanganku, dan ya, pukulanku tepat mendarat di kepalanya, “Sunshine palamu!”

Pada akhirnya memang dia menjelaskan bahwa dia tak perlu aku bertanya tentang masalahnya sebesar apa? Aku berada di sampingnya, itu lebih dari cukup. Biar aku ingatkan, jangan berpikir aku dan Luwi ada apa-apa. Kami sahabat, tidak lebih meski se-mili pun.

Published inFiksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *