Skip to content

Kupikir Sudah Selesai

Sumber gambar : koleksi pribadi

Aku diam lagi setelah tidak sengaja mendapati whatsapp story-mu pagi ini. Ku pikir semuanya sudah kembali seperti sedia kala, di saat semua masih biasa saja. Ku pikir hatiku sudah “gak papa”. Nyatanya tidak …

tes
tes
tes

Tiga bulir air mata itu jatuh tanpa aba-aba terlebih dahulu, tanpa permisi dan tanpa meminta izin. Mereka dengan seenaknya menghujani pipi dan menenggelamkan senyumanku.

Kupikir semua sudah berakhir, segala cerita menyedihkan itu. Kupikir sudah sembuh semua lukaku. Nyatanya tidak! Kamu yang paling tahu bahwa aku manusia terbaper yang pernah ada, hanya denganmu. Tidak yang lain.

Bagaimana aku merasa terhianati oleh sepi, hanya dengan melihat sebuah meja dan dua bangku kosong di sebuah tempat makan yang biasa kita gunakan untuk membunuh waktu? Bagaimana mungkin, aku bisa merasa terhujani ribuan ranjau hanya dengan melihat sebuah gedung, tempat kita biasa mendirikan kenangan? Bagaimana bisa, aku merasa diperangi dunia, hanya dengan melihat deretan angka, simbol, dan huruf yang tertancap di layar monitor?

Harus aku akui, bahwa aku rindu. Aku rindu rasanya insomnia karena menghabiskan malam dengan berbincang denganmu. Aku rindu dengan segala kisah petualanganmu seharian. Aku rindu dengan guyonan recehmu. Aku rindu bagaimana kedua matamu menatapku. Aku rindu dengan segala rencana masa depanmu yang telah tersusun dengan rapi. Aku rindu bagaimana kamu selalu meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Ya, pada akhirnya, aku yang kalah di sini.

Kupikir, aku tidak akan kehilanganmu.Kupikir, aku akan terus bersamamu. Kupikir kita tidak akan sehancur ini sekarang.

“DOR!!!!” Luwi mengagetkanku.
” … “
“Kenapa?” tanyanya sambil menatap mataku yang sembab.
“Tidak semua hal harus kamu ketahui, Luwi.”

Ya, tidak ada yang pernah tahu, sedalam ini aku kepadamu. Termasuk, Luwi.

Published inFiksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *