Skip to content

Bu(ku)

Sumber: Instagram @dustyatticrarebooks

Jangan buru-buru menulis cerita di buku baru
jika cerita di buku lama belum usai
ini bukan sekadar menulis kata -tamat-
Namun juga menyelesaikan segala konflik batin si tokoh utama …

“Dia mengajakku bertemu,” kata Luwi membuka pembicaraan.

Dia tampak lebih kacau dari sebelumnya. Ini tentang seorang gadis yang pernah mengisi ruang di hati Luwi kurang lebih 3 tahun, lantas hilang ditelan jarak setahun lalu. Kini, dia kembali. Saat Luwi belum benar-benar mampu sembuhkan lukanya.

“Temui kalau kamu ingin menemuinya, Luw.”
Aku tahu, Luwi sedang bimbang sekarang. Di satu sisi dia ingin bertemu untuk membunuh rindu, tapi di sisi lain, dia juga tak mau membuka luka lama. Gadis itu seharusnya sudah lama tertinggal di belakang. Namun, luka yang tak tampak, bukan berarti tidak ada, kan?

Luwi mengembuskan napas dengan kasar. Tangan kanannya mengacak rambut, pertanda ia benar-benar kalut.

Tung ting … suara notifikasi ponsel Luwi.

“Luna,” kataku.

Dia berbeda dari gadis yang kita bicarakan sebelumnya.
Baik, aku akan menceritakan tentang siapa itu Luna. Dia perempuan berambut panjang dengan tinggi 157 cm, 3 cm lebih rendah dariku. Dia manis, lugu, dan tidak berkacamata. Dia termasuk orang yang malu-malu kucing mendekati Luwi. Maksudku, kamu tahu kan, lagak perempuan yang mendekati laki-laki, tapi jaga image? selalu mencari alasan untuk sekadar chatting? Ya, seperti itulah Luna.

“Tidak kamu buka, Luw?” tanyaku.

Luwi hanya diam. Memang dahsyat si perempuan masa lalu Luwi itu. Sejak pertama kali aku berteman dengan laki-laki ini, kira-kira 10 tahun lalu, hanya gadis itu yang bisa membuat dia seperti ini.

Jangan tanya siapa sebenarnya gadis itu, Luwi bisa ngamuk. Kita sebut saja gadis itu Cat.

“Luw, gak mau buka hati buat Luna?”

Luwi menengok ke arahku, tatapan matanya tajam. Mirip dengan Singa yang hendak menerkam mangsanya. Jujur saja, kalau sudah begini, aku merasa takut. Salah sedikit, pasti sudah diterkam, dicabik-cabik, dihempaskan. Tidak! tidak seburuk itu, mungkin aku hanya akan ditinggal pulang dan harus berjalan kaki sejauh 6 km untuk mencapai rumah. Itu kejam.

“Oke, baik. Aku akan diam.”

Luwi memainkan ujung cangkir kopi americano yang dipesannya 20 menit lalu, yang sampai sekarang, tidak diminum. Dia hanya menyentuh, memandang, lalu diam. Lima menit kemudian dia ulangi lagi.

“Pe …”
Aku menengok, menghentikan aktivitas membacaku, lantas diam menatapnya.

“Kamu penulis, aku juga penulis, Pe.”

Aku menyernyitkan dahi, sejak kapan orang yang doyan gambar kubus ini penulis?

“Aku penulis bagi cerita hidupku sendiri. Aku tidak akan menulis buku baru, jika buku lamaku belum selesai.”

“Tapi … tapi kalian sudah selesai setahun lalu. Apa belum cukup?”

“Ini bukan perkara menulis kata tamat, Pe. Penulis memang bebas membuat ending pada setiap ceritanya, tapi tidak bijak bagiku menulis kata tamat, sedangkan tokoh utama dalam ceritaku masih terluka, masih belum sembuh, masih merasakan sakit. Aku akan menulis cerita di buku baru, jika semuanya telah benar-benar selesai. Paling tidak, si tokoh utama mampu berdamai dengan dirinya sendiri.”

Published inFiksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *