Skip to content

Beriringan tapi Tidak Setujuan

Ada kalanya sebagai manusia kita salah mengartikan segala pertanda dari semesta. Kadang yang “Iya” justru jauh dari definisi “Iya” yang sebenarnya.

“Aku menemuinya,” ucap Luwi.

Aku sengaja tidak menggubris perkataan laki-laki dihadapanku ini, bukan karena aku tidak peduli. Sama sekali tidak. Aku peduli, tapi Luwi memang butuh waktu untuk mencerna apa yang terjadi kepadanya, termasuk satu yang ini.

“Kamu tidak mendengarku, Pe?”
Aku mendengarmu, Luw. Bahkan ketika kamu diam pun, aku tetap mendengar suara hatimu.

“Tidak bisakah tutup laptopmu sebentar dan dengarkan aku, Pe?”

Aku berhenti berpura-pura mengetik pada keyboard laptop yang sejatinya hanya kalimat-kalimat sampah yang aku ciptakan. Bukan apa-apa, aku tahu bagaimana perasaan Luwi sekarang. Dia merasa terjebak dalam toxic relationship yang menyiksa batinnya. Maksudku, kamu tahu kan, istilah tentang ‘jangan pernah menasehati orang yang sedang jatuh cinta karena itu percuma. kamu hanya akan buang-buang waktu.’

“Pe, aku pikir dia akan menjelaskan sesuatu. Ya, minimal tentang kenapa dia menghilang atau tentang mengapa dia memutuskan hubungan kami secara tiba-tiba.”

Aku mengembuskan napas secara kasar, maksudku kenapa gadis itu harus menjelaskan apa yang tidak ingin dia jelaskan? Oke baiklah, ini masalah ego masing-masing. Kamu boleh percaya atau tidak, setiap orang punya pilihan dan tidak semua pilihan harus dijelaskan. Kamu tak perlu melihat wujud angin jika melihat daun bergerak bisa membuatmu yakin akan kehadirannya kan?

“Pe, apa kamu berubah jadi tembok sekarang?”

“Percuma aku jelaskan, Luw. Kamu hanya akan menyangkal.”

“Aku tak akan menyangkal, Pe. Aku hanya bertanya-tanya. Bukan setahun atau dua tahun aku bersamanya. Aku dan dia berjalan beriringan, tapi kenapa saat aku yakin kami akan sampai ke tujuan, justru baru sadar bahwa langkahnya keliru?”

Aku benar-benar sedang malas berdebat. Kamu tahu kan, Luwi tak akan mau mengalah dan mendengar suaraku.

“Apa salahku, Pe?”

Luwi menatapku, dia terluka lagi. Hanya karena satu pertemuan, segala bentuk jenis luka yang kemarin kering, kini basah lagi. Mata sendunya mulai berair, bibirnya bergetar. Betapa lemahnya laki-laki menyebalkan ini. Betapa rapuhnya hati laki-laki yang kuat ini.

“Luwi, seseorang punya seribu alasan untuk pergi, tapi hanya butuh satu alasan untuk tetap tinggal. Kalau dia tak lagi punya alasan, lantas untuk apa dia tinggal?
ini bukan perkara siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi siapa yang mau tetap bertahan. Paham maksudku?”

Luwi terdiam. Mungkin sedang beradu dengan pikirannya sendiri. Proses pendewasaan terkadang memang sesulit ini.

“Tak apa, Luw. Kamu boleh bersedih seberapa pun kamu ingin, tapi kuharap setelah ini, kamu harus bangkit.”

Semesta, kadang memang sebercanda ini. Ketika kita sudah yakin “Iya” dia jawabannya ternyata tidak. Nyatanya konsep “Iya” dari perspektif manusia, masih jauh dari kata “Iya” milik Tuhan.

Published inFiksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *