Skip to content

Lepas Tanpa Aba-aba


Apakah yang terjadi memang tak bisa diperbaiki?

Aku diam memerhatikan laju air danau yang bergerak diterpa angin. Pada siang hari yang terik ini, kepalaku sedang dipenuhi memori yang berserakan tentang kamu. Iya, kamu. Sebuah film lawas tentang kita kembali berputar begitu saja. Tanpa aba-aba mereka datang menembus pertahanan ingatanku. Kurang lebih satu tahun lalu. Ketika kamu hendak pergi. Tidak lama, hanya kurun waktu satu setengah bulan. Bagai itik kehilangan induknya, aku sesegukkan menahan kepergianmu.

“Konyol.”

Aku tersenyum miris tatkala mengingat tanganmu mengusap kapalaku dan berkata, “Semua akan baik-baik saja. Aku akan selalu berkabar. Doakan aku.”

Kalimatmu waktu itu bagai gerimis yang turun setelah kemarau panjang. Maksudku, amat menyejukkan. Jujur saja, waktu itu kamu sudah benar-benar memegang kendali atas hatiku.

Dan ya, kamu memang tidak ingkar janji. Tidak ada hari tanpa kabarmu. Kamu adalah insomnia paling menyenangkan yang pernah aku alami. Namun, ya … beginilah kita sekarang.

Sungguh aku rindu berbagi tawa
kini kita tidak lagi menyapa
biarlah hanya dari kejauhan
-April, Fiersa Besari-

Meskipun awalnya berat melepasmu, tapi sejujurnya aku sudah bisa berdamai dengan jalan takdir yang diberikan Tuhan ini. Tidak masalah, bukankah proses pendewasaan memang tidak mudah? Satu pesanku, suatu saat nanti kalau mau pergi bilang ya, biar siap-siap dulu, siapa tahu, aku mau memberikanmu bekal.

Jika kita bertemu lagi, ingin sekali aku bertanya, “Apa tidak bisa diperbaiki? ini hanya sekadar kurang komunikasi.”
Tapi…
Kadang kala seperti ini saja sudah lebih dari cukup. Menjalani hidup masing-masing tanpa mengusik kisah lama yang telah berlalu.

“Nih,” ucap Luwi menyodorkan secangkir es teh manis.
Thank’s.”

“Mikir apa?”
“Kenapa kucing rumahku suka ngeong ya?”
“Ya kalau ‘Ma minta diut’ itu kamu.”

Aku tersenyum melirik Luwi, “Enak aja.”
“Tapi iya kan?”

Aku diam karena benar yang dikatakan Luwi. “Kamu merindukannya?”
Celetuk Luwi membuatku berhenti bernapas. Pandanganku beralih kepadanya. “Dari mana dia tahu,” kataku dalam hati.

“Apa sih!”
“Pe, Aku tahu. Kamu jatuh cinta padanya kan?”
“Nya siapa yang kamu maksud?”
“Si anak gedung sebelah itu.”

Aku terkekeh lantas menggelang, “Ada-ada saja kamu ini.”

“Aku mengenalmu bukan hitungan jam, Pe. Aku paham dari caramu memandangnya. Ya, meskipun aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku bisa merasakan perasaan itu.”

“Sok tahu!”

“Sadar tidak sadar, perasaanmu itu terbaca, Pe. Apa kalian bertengkar? Aku sudah tidak pernah melihat si anak gedung sebelah itu menemuimu.”

“Ngomong apa si?”

“Jika memang dia pergi, kamu tidak perlu khawatir. Aku tetap di sini.”

“Bawel!”

Aku bangkit dari tepi danau membawa segelas es tehku, meninggalkan Luwi sendiri.

Sedekat apapun sebuah persahabatan, tetap akan lebih menarik jika ada ruang privasi di mana hanya kita yang tahu.

“Maaf aku tidak bisa membagimu tentang hal yang satu ini, Luw.”

Published inFiksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *