Skip to content

Libur(an)

Coba berhenti sejenak dari rutinitas melelahkanmu
sesekali tubuhmu perlu dimanjakan juga.

M e n e p i

“Oi …” teriak Luwi.
“Hm …” gumamku tanpa mengalihkan pandangan dari buku.
“Kalau ada orang datang itu, bukunya ditutup dulu, liat orangnya.”
“Kalau datang itu salam, bukan teriak.”

Luwi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil nyengir, mirip kuda. tentu saja, dia lebih tampan.
Luwi menarik kursi agar dia bisa duduk di depanku. Jemari laki laki itu, mengetuk-ketuk meja yang ada di depannya.

“Kita udah lama gak mantai … muncak yuk?”
“Ha? apa? gimana gimana?”

Luwi terkekeh, “Iya, kita udah lama gak mantai, jadi ayo kita muncak!”
“Kamu mau ngajak mantai di puncak? gak waras kamu. Ayok periksa ke dokter.”
“Oke baiklah. Kamu ingin ke pantai atau puncak?”
“Aku lebih suka di sini, baca buku.”

Luwi mengembuskan napas secara kasar. Sebagai laki-laki yang doyan berpetualang, tentunya aku sangat membosankan sekaligus menyebalkan.

“Sesekali kamu perlu keluar dari zona nyaman, Pe. Buku-Laptop-Buku-Laptop, dunia ini tidak terbatas buku dan laptop.”

Aku memang suka pantai, tapi beberapa waktu lalu baru dari pantai. Kalau mau ke gunung takut hipotermia, nanti mati gimana?

“Mikir apa sih, Pe?” Luwi mulai gusar karena aku terlalu lama memilih jawaban. Luwi memang tidak sabaran. Ini bukan hanya perkara iya dan tidak, tapi resiko yang akan diambil nanti.

“Takut hipotermia,” ucapku pelan, nyaris berbisik.

Bisa ditebak, tawa Luwi pecah memenuhi ruangan.
Melihat tawanya yang menyebalkan, aku pun melotot padanya.

“Aku tidak akan mengajakmu ke Everest. Besok kita berangkat!”


Begitulah kira-kira cara Luwi mengajakku muncak minggu lalu.

Dan …

Di sinilah aku berada sekarang, terjebak kurang lebih dua jam di pos empat pada sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi. Seharusnya, kami sudah sampai di puncak dari setengah jam yang lalu. Tapi apa mau dikata? sebagai kaum-kaum lemah yang “Iya Iya” aja diajak muncak tanpa persiapan apa pun akhirnya harus mengalami cidera. Aku sudah sebelas kali mengalami kram dan kau bisa bayangkan bagaimana rasa sakitnya? belum lagi hujan yang turun membuat medan jadi licin, alhasil karena kurang berhati-hati, kakiku pun terkilir.

Aku beruntung, Luwi kali ini tidak sebawel biasanya. Dia begitu sabar merawat kakiku, dari yang kram sampai terkilir seperti sekarang. Dia tidak mengeluh sedikit pun. Bahkan disela keringat, dan kecemasannya, Luwi masih bisa bercerita tentang indahnya pemandangan di puncak. Ia mendadak menjadi motivator yang memberikan semangat sampai di atas sana.

Aku memerhatikan tangannya mengurut kakiku yang terkilir, sebagai orang yang pernah berkecimpung di dunia rescuer ini bukan hal yang sulit.
“Kalau tidak kuat, aku tidak akan memaksamu, Pe.”

“Masih kurang berapa pos lagi?”

“Tidak ada, puncak tinggal di depan mata.”

“Kenapa gak bilang dari tadi?”
“Kakimu sebengkak ini mana mungkin aku memaksamu lagi, Pe.”

Semangatku mendadak memuncah. Dengan sedikit paksaan, aku pun berdiri.
Aku tidak mungkin mengecewakan Luwi kali ini. Dia yang dari awal menyiapkan semua perbekalan kami, dari tenda, logistik, tas, survival kit, dan lain-lain. Bahkan aku hanya membawa tas ransel berukuran 20 L yang berisi logistik dan pakaian gantiku, sisa barang dibawa Luwi. Iya, dia memakai tas dengan ukuran 90 L.

Aku berjalan dengan bantuan tongkat yang dibawa Luwi, juga sokongan dari lengannya. Luwi benar, dia tidak bercanda kali ini. Meski jalannya lebih terjal akhirnya kami sampai di puncak. Kamu tahu, bagaimana perasaanku?

Rasanya campur aduk, tidak karuan. Aku si kutu buku ini, yang lemah ini, yang suka rebahan ini, dengan segala kekuatan yang kumiliki dan atas izin dari Tuhan, akhirnya bisa mencapai puncak. Sepele tapi sangat menyenangkan.

Luwi segera mendirikan tenda untuk kami berdua. Tidak bisa ku bayangkan, aku bisa melihat dataran yang ada dibawah sana dengan mataku sendiri.

“Lu … terima kasih,” ucapku pada Luwi.

Published inFiksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *