Skip to content

Tenda

Membunuh malam dengan kisah-kisah yang telah lewat,
“Aku baru sadar, jika aku sekonyol itu.”

Masih di puncak gunung, aku dan Luwi menghabiskan waktu.
Sekarang pukul 19:00, Luwi masih sibuk dengan kompor yang tidak mau menyala.
Sesekali aku hanya terkekeh mendengar dia mengumpat. Untuk takaran laki-laki yang tidak pernah mengeluh selama perjalanan tadi, dia tampak lucu sekarang.

“Njir … ! kenapa si Bambank!” umpat Luwi pada kompor.

Sementara Luwi sedang sibuk dengan si “Bambank”, Aku sibuk menatap dan menikmati panorama indah yang disuguhkan oleh sang Pencipta. Bukan aku tidak peduli pada Luwi, tapi dia sudah memperingatkanku untuk tidak dekat-dekat dengan kompor. Jadi, ya … biarkan saja dia.

Aku yakin, kamu akan merasakan hal yang sama jika sekarang berada di antara aku dan belasan pendaki lainnya. Perasaan damai dan tenang, ditemani rentetan gemerlap lampu dari lereng gunung dan bintang yang menyebar di langit, seakan mereka saling beradu unjuk diri, siapa yang paling memesona dengan sinarnya.

“Arrh … Bodo amat!” ucap Luwi putus asa.
“Kenapa?” tanyaku menengok ke arah Luwi.

“Kompor sialan ini ga mau nyala, aku lapaaaarr!!!!”
Aku berjalan mendekati Luwi, memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

sumber gambar : blibli.com

Aku memperhatikan kompor gas portable milik Luwi. Dengan gaya sok tahuku ini, kulihat, kuputar, kubolak-balik, lalu kuletakkan kembali ke tanah. Jujur saja, aku sendiri tidak mengerti cara menggunakan kompor ini. Lihat saja baru kali ini, gimana mau memperbaiki. hm …

“Tunggu sebentar, aku ambilkan roti di tasku,” ucapku selepas meletakkan kompor.
“Kenapa ga bilang kalau bawa roti?” celetuk Luwi.
“Lah, orang ga tanya.”

Jemariku membuka tas ransel, mengambil sebuah roti yang bersarang di sana.
“Luwi, ini minuman apa?” tanyaku tatkala melihat tabung berwarna biru berada di dalam tas mirip sebuah botol tapi bahannya aluminium atau besi atau entahlah aku tidak paham, yang kuingat Luwi meletakkan benda ini di tasku.

“Lah bego!” umpat Luwi.
Aku menyernyitkan dahi kemudian memukul pundaknya.

“Aku yang bego. Maksudku, pantas saja kompornya gak mau nyala, orang gasnya belum dipasang,” jelas Luwi.


-Lah ternyata yang kupikir botol minum itu, tabung gas?-


“Iya, dasar bego!” ucapku sambil menoyor kepalanya. Jujur saja, bukan Luwi yang bodoh di sini. Aku memang paling pintar kalau soal menyalahkan.

“Mana sini gasnya, biar kupasang,” ucap Luwi.

Tidak sampai lima menit, kompor itu sudah menyala.
Luwi mulai membuat masakan. Bukan masakan yang ribet, hanya sekadar menggoreng nugget yang kami beli dari toko swalayan tadi.

Luwi memberitahuku, meskipun kami naik gunung, tetap harus memerhatikan makanan yang akan kami konsumsi. Tidak sekadar makanan instan yang biasa, melainkan harus memiliki gizi yang baik juga. Ada beberapa makanan yang bisa jadi pilihan sebagai perbekalan berpetualang di gunung misalnya nugget, sosis, tempura, beberapa jenis makanan tersebut mengandung vitamin B12, protein dan zat besi yang cukup tinggi, jadi baik untuk dikonsumsi saat melakukan pendakian. Selain itu, ada pula roti gandum yang memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi sehingga bisa juga jadi sumber energi bagi pendaki. Ada pula oatmeal, madu, coklat, gula merah, sarden, dan umbi-umbian.

“Nih buat kamu,” ucap Luwi menyodorkan segelas coklat panas.
“Loh, bukannya tadi masak nugget?”
“Udah selesai, Sulastri! Tuh lihat, sepiring penuh.”

Luwi mematikan kompor, lantas membawa masuk sepiring nugget dan coklat panasnya. ditemani cahaya lampu Led kami mulai berbincang hangat.

“Gimana rasanya muncak?” tanya Luwi membuka pembicaraan padaku.
“Seru … tapi harusnya aku olahraga dulu. Paling tidak, sebagai latihan fisiknya.”
“Memang harusnya seperti itu. Kupikir kamu tidak selemah ini, Pe. jadi langsung aku ajak saja.”
“Dasar menyebalkan.”

Udara malam ini benar-benar dingin, menurut prediksi yang ada di jam tangan milik Luwi. Suhu sekarang kurang lebih 5 derajat celsius. Aku memilih untuk bersembunyi di dalam sleeping bag dengan bahan dacron.

“Kamu di gunung mbok menikmati udara di luar sana loh, Pe.”
“Gak, dingin!”

Luwi duduk di ambang pintu tenda, matanya menatap arah luar. Entah apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu. Aku tidak mau tahu, tapi kalau dia membaginya, aku akan siap mendengarkan.

“Pe … kamu ingat tidak? waktu kita kecil, kita pernah berjanji untuk naik gunung bersama?”
Aku terdiam sambil mengingat-ingat momen itu. Sekerjap, gambaran sepasang anak perempuan dan laki-laki tampak lucu dan lugu, membuat perapian di belakang rumah. Saling berjanji untuk naik gunung bersama.

“Iya, aku ingat,” jawabku.
“Siapa sangka, bisa jadi kenyataan gini.”

Aku tersenyum, inilah awal dari cerita aku dan Luwi. Dari malam ini, aku yang biasanya banyak diam, mulai membuka suara. Gunung selalu punya cara untuk membuat semesta bercerita.

Hari ini di tenda merah ini akan ku kenang, sebagai hari tenang.

Published inFiksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *