Skip to content

Mengenal kata Pergi

Sudah menjadi hukum alam, bila ada pertemuan pasti ada perpisahan.
tapi sialnya, meski sudah disiapkan dan disusun rapi pada note kehidupan serta dicentang pada tiap progresnya. Aku tetap terluka.

Seminggu ini, aku dan Luwi sering menghabiskan waktu bersama. Sebagai sahabat, dia menjemputku ke kantor. Kami menghabiskan waktu dengan mampir ke kedai kopi langganan kami, hanya untuk sekadar meneguk latte dan mengisi setengah malam dengan bincangan hangat yang receh serta tentu saja, tidak penting.

Senja kali ini berbeda. Dia tidak hadir. Aku juga tidak menunggunya. Katanya, dia sedang sibuk berkemas.

Aku putuskan memesan ojek online usai menyelesaikan tugas kantor untuk bisa menghampiri laki-laki itu. ya, sekadar hadir saja, barang kali sudah cukup. Dia bukan lagi anak berusia 10 tahun yang butuh bantuan mengemas barang kan?

***

Aku melangkahkan kaki ke sebuah rumah bercat putih dengan nuansa yang teduh, sebab si empu kediaman ini memang gemar menanam. Aku sendiri bisa jamin, siapa pun yang datang ke sini akan betah berlama-lama hanya dengan duduk di bangku ditemani secangkir teh hangat dan buku.

“Permisi,” ucapku sembari mengetuk pintu.

Tak payah menunggu lama, seorang perempuan paruh baya berambut hitam dengan beberapa helai yang mulai memutih dalam gelungan rapi itu datang menghampiriku. Beliau Ibu Ida, ibunda Luwi.

“Pe, lama tidak berjumpa, Nak,” ucapnya dengan suara berat dan senyum yang manis.
“Iya, Biyang,” sahutku sembari memeluknya. Oh iya, aku sering memanggil perempuan keturunan Bali ini dengan sebutan Biyang yang berarti ibu.
“Luwi di dalam kamar. Dari tadi pagi, ribut sekali. Masuklah, Nak. temui dia.”

Aku tersenyum tipis dan mengangguk.

Bug, gluduk gluduk gluduk

Aku tersenyum mendengar suara itu. Suara khas yang akan didengar siapa pun kalau si Luwi mengerjakan sesuatu.
“Iya, kurang keras, Lu!” ucapku pada Luwi yang telah rapi dengan setelan casual dan koper besarnya.

Luwi memandangku sekilas.
“Kenapa kau ada di sini? sudah ku bilang jangan datang!”

Aku tertawa kecut, laki-laki dihadapanku sedang menghardik.
Dia memang berpesan, semalam. Supaya aku tidak mengantar kepindahannya, senja ini. Hei! bukan aku namanya kalau menurut pada Luwi.

Aku berlari ke arah Luwi, memeluk tangannya sebentar, lalu mengais jaket tebal yang tersampir di pundaknya.
“Kau tidak akan bisa tanpa aku,” ucapku sambil menunjukkan deretan gigi putih milikku.

Luwi hanya mengambil napas panjang.
“Ayo … pergi!” seru laki-laki jenjang itu.
Aku mengangguk. Langkah kakiku mulai menjauhi ruang privasi miliknya, tempat biasa yang dijadikan sebagai kotak rahasia besarnya.

“Kau harus sering mengabari aku dan biyang, kau juga tidak boleh sering ngopi sendirian sebab kau akan lupa waktu. Ingat itu!” ucapku ngedumel sepanjang lorong kamar menuju ruang tengah.

“Eing?” Aku berhenti setelah kusadari tidak ada suara langkah kaki yang membersamaiku.
Aku berbalik arah, ternyata Luwi masih tertinggal di belakang.

Aku mengembuskan napas panjang, “Bisa-bisanya, aku bicara sendiri.”
Ku lihat, Luwi memandang kamarnya. Meski tidak ada tatapan nanar seperti di film-film, tapi aku tahu, perpisahan kali ini sangat berat bagi dia.

Aku berlari ke arah Luwi, ku rangkul pundaknya. Lantas ku usap pelan-pelan.
“Ayo … kamu tidak mau ketinggalan penerbangan kan?”

Luwi tersenyum, kali ini berbeda. Dia senyum seperti anak baik-baik, maksudku lebih kalem. Tidak sebringas biasanya.

“Biyang, kami berangkat,” ucapku dengan nada ceria.
Biyang memelukku. Aku tahu, ini bukan pelukan untukku. Ini seperti alegori akan sebuah ketidakrelaan yang tertuang dalam wujud pelukan.

“Aku tidak akan pergi, Biyang. Luwi yang akan pergi,” ucapku sambil mengelus punggung Biyang.

Biyang memandangku, lalu tersenyum. Pelukannya beralih ke anak laki-lakinya yang hendak pergi jauh.
Sebuah tangisan kecil yang nyaris tidak terdengar itu mengalun sunyi ditelingaku. Membuat mataku panas dan berair. Tangisan dari laki-laki yang kerap kali bertingkah konyol dan menyebalkan.
Ya, Luwi tidak bisa membendung kesedihannya. Laki-laki itu menangis dalam pelukan Biyang.

***

Aku dan Luwi sampai di tampat ini. Tempat yang akhirnya membuatku berkenalan dengan perpisahan. Bagiku dan Luwi, ini adalah perpisahan terlama yang akan kami jalani.

Aku masih ingat, tadi malam dia mengancamku agar tidak usah mengantar kepergiannya. Namun, di sinilah aku sekarang. Di sebuah ruang luas tapi sesak dan lekat dengan perpisahan.

Sejak awal, aku sudah mempersiapkan ini, Lu. Aku tahu, hari ini akan tiba. Jadi, tidak usah khawatir. Aku akan mengantarmu dengan senyumanku.

“Aku masuk ya,” ucap Luwi tanpa menatapku.
Aku tersenyum menatapnya, meski dia terus mengalihkan pandangan sejak keluar dari mobil tadi.

Tidak seperti biasanya, Luwi tidak menjabat tanganku. Dia hanya berjalan lurus tanpa mau melihatku sedikit pun.

Aku menaikkan kedua alisku, melihat punggung yang mulai menjauh itu dengan heran. “Bisa-bisanya dia tidak melihatku.”

Aku berlari, sudah seperti di film-film romantis yang biasa ditonton orang. Bedanya, aku berlari dengan perasaan kesal dan jengkel.
Ku lemparkan pukulan telak di kepala Luwi.
“Bisa-bisanya kau tidak berpamitan dengan benar!”

Luwi menghadapkan tubuhnya kepadaku, kulihat matanya berair.

“Apa pukulanku terlalu keras, Lu?”
Jujur saja, aku menyesal. Bagaimana kalau ternyata Luwi gagar otak dan tidak jadi berangkat?

Luwi menggeleng, dia tidak bisa lagi menahan apa yang bergemuruh di dadanya.
Sekarang, kedua lengannya sukses memelukku.

Aku terdiam, tidak membalas pelukannya. Namun, lama kelamaan. Dadaku mendadak sesak, seperti bom yang tiba-tiba menyelinap lalu memenuhi ruang yang ada di dalam sana.

Tangis Luwi, mendadak pecah.
Dia terisak.

Mataku ikut memanas, tanganku mulai menggapai punggungnya. mengusap pada pemilik nama Luwi yang kini tak berdaya memelukku.

“Kita hanya berjarak, Lu. Bukan berarti tak akan bertemu lagi,” ucapku dengan suara parau.

Luwi melepaskan pelukannya. Dia membuat simpul khayal di lengan kananku. seolah mengikatnya dengan kuat. Lantas ia rekatkan di tangan kirinya.

Tidak ada kata apa pun yang terucap selain, “Aku pamit.”
Lalu anggukan dan senyuman tipis menjadi jawabanku.

Tanganku melambai ke arah Luwi, melepas apa yang harusnya direlakan.
“Jangan lupa kembali, Luwi.”

Meski sebuah perpisahan telah dikemas dengan bingkai paling indah sekali pun, tetap akan menghadirkan luka.

Published inFiksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *