Skip to content

Terbiasa Tanpa

Sudah seminggu kau pergi, tapi aroma tubuhmu masih lekat pada kursi yang biasa kau duduki. Ku pikir, kursi ini bertingkah berlebihan. Ia dengan sengaja menyimpan aromamu untuk sekadar memancing rindu yang terkurung dalam egoku supaya menyeruak ke seluruh penjuru ruangan lalu menyeruka “Ya! aku memang rindu”.

Klik klik klik

Suara mouse terhenti ketika layar pada komputer tua milik kantor yang aku gunakan muncul kata shut down dan padam secara perlahan-lahan. Tinggal aku yang belum keluar dari ruangan 10×15 meter di gedung yang terdiri dari 5 lantai ini, bukan karena pekerjaanku yang menumpuk, tapi memang karena aku yang sedang gabut. Em … maksudku sedang ingin produktif.

Jujur saja, aku belum pernah merasa sesepi ini. Padahal sebelum kepergian Luwi, aku termasuk spesies manusia yang senang menyendiri. Aku sering menciptakan dunia-dunia khayal dalam pikiranku, menyelam bersama warna-warna dan alur cerita yang tergambar di dalamnya.

Aku mengambil napas panjang sembari melangkahkan kaki ke luar gedung.
“Baru pulang, Pe?” tanya Pak Udin, satpam kantorku.
“Hehe, iya, Pak,” jawabku sambil menyibak anak rambut yang mengganggu penglihatanku karena tertiup angin.
“Hati-hati di jalan,” pesan beliau yang kini mengaduk secangkir kopi di atas meja.
Aku tersenyum sambil mengangguk kepadanya

Aku menatap sepeda motor yang ada di depanku, mengambil helm, lalu mengalihkan pandangan ke jalanan besar yang berjarak kurang lebih 10 meter dari tempat aku berdiri.

Sial

Bayangan Luwi dengan kendaraannya kembali muncul. Senyuman bengis dan tingkah konyolnya sekilas, tampak lagi.

Dengan cepat aku menggeleng, berharap semua fatamorgana ini segera hilang dari pikiranku.
“Gila! ini benar-benar sudah gila!” umpatku sembari menyalakan mesin motor dan berlalu dari parkiran.

Aku ini kenapa?
Apakah ini firasat? atau yang lain?

Ish, laki-laki menyebalkan itu memang tidak pernah mengabariku sejak terakhir kali kami bertemu. Padahal, apa susahnya berkirim pesan? ini bukan lagi zamannya pakai surat yang perlu waktu berhari-hari.

Oh mungkin, bukan Luwi yang menyebalkan. Ini aku yang memang terlalu gengsi untuk berkirim pesan kepadanya. Hei aku ini kenapa?

“Aku butuh ngopi!” kataku separuh berteriak membelah keramaian jalan raya ini.

***

Aku mematikan mesin motor ketika sudah sampai di tempat tongkrongan langgananku. tempat aku dan Luwi biasa menghabiskan separuh malam.

Kali ini aku memesan secangkir kopi hitam khas Toraja dan makanan kecil sebagai pendampingnya. Kau tahu aku duduk di mana?
Ya, mungkin tebakkanmu benar. Aku duduk di tempat biasa, di mana aku dan Luwi sering bertandang.

Aroma Luwi serasa menyeruak, bahkan gerak-geriknya yang sering menggangguku masih saja terasa. hmm … rasanya baru kemarin dia di sini.

Ku gapai ponsel yang ada di dalam tas coklat yang ku letakkan di atas mejaku. Ku lihat widget whatsapp yang ada di sana. Berharap ada pesan masuk dari Luwi.

“Aku ini kenapa?” pikirku lagi ketika sadar, apa yang kutunggu akan sia-sia.
“Sadarlah Pe, kalian itu bersahabat!”

Yaa, kau tau apa yang selanjutnya terjadi kan?
Ponselku kembali masuk ke dalam kantungnya. Aku tidak lagi memedulikan apa yang tertera di layar kotak itu.

Berulang kali aku mengambil napas dalam-dalam dan meyakinkan diri, “Ini hanya perihal tanpa. Bukan hal yang sulit. Ingat! bahwa aku dan Luwi pernah asing. Ini bukan hal yang sulit.”

Tung tuing …
Sebuah pesan masuk ke ponselku.

Aku tergegat, segera mengambil ponsel itu dan cekatan membaca sebuah pesan masuk yang ada di sana.
-Pe, pulang jam berapa, Nak?-

Kira-kira begitu isi pesan singkat yang aku terima dari mama.
Aku tersenyum kecut lalu menggeleng.
“Apa yang aku tunggu? Jangan konyol, Pe!” umpatku pada diriku sendiri, usai membalas pesan mama.

Musik indie yang diputar oleh cafe ini seperti kenangan-kenanganku dan Luwi yang kembali berputar di pikiranku. Beberapa hal hanya butuh terbiasa. Tak apa, ini hanya awal. nanti juga terbiasa. Tak apa sekarang tak bisa, nanti juga terbiasa tanpa.

-Bila kau butuh telinga tuk mendengar, bahu tuk bersandar, raga tuk berlindung …-

Kali ini ringtone ponselku yang berbunyi. “Pasti mama memintaku untuk segera pulang.”
Aku kembali meraih ponsel di dalam tasku. Jantungku tiba-tiba saja berdetak lebih cepat, tidak seperti biasanya, senyumku merekah tatkala nama Luwi terpampang nyata di layar kotak yang kini ku genggam.

“WEY …KENAPA LAMA SEKALI NGANGKAT TELPONNYA!!!” umpat Luwi sembari berteriak dari ujung sambungan sana, membuatku terkekeh sekaligus terharu dengan suara khas miliknya. Iya, dia Luwi. Menelponku.


Published inFiksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *