Oceania, antara potensi dan tantangan

wilayah oceania

wilayah oceania

Selain memiliki ancaman pada isu rural poverty, negara-negara di Oceania juga memiliki ancaman pada isu lingkungan. Posisi Negara-negara kepulauan Oceania yang terletak di tengah-tengah Samudera Pasifik dengan kondisi daratannya yang sempit, membuat negara-negara di Oceania harus menghadapi ketakutan atas potensi bencana alam, dimana oceania merupakan wilayah yang paling rentan terhadap isu-isu kelautan atas terutama dengan kaitannya atas isu perubahan iklim. Hal ini merupakan suatu hal yang wajar karena posisi negara oceania yang kecil dan terpisah-pisah membuat wilayah mereka rentan dengan adanya erosi atau abrasi pada Samudera Pasifik, dimana kemungkinan negara-negara tersebut untuk tenggelam sangatlah besar. Terdapat suatu gambaran nyata dimana garis pantai Fiji telah surut sekitar 15 cm (6 inci) per tahun selama 90 tahun terakhir, sementara Samoa telah kehilangan sekitar setengah meter (1,5 kaki) per tahun dalam rentang waktu yang sama. Adanya pemanasan suhu air laut telah merusak ekosistem terumbu karang di Australia dan Oceania, dan juga meningkatkan pencairan gletser di Selandia Baru dan Papua Nugini. Isu perpindahan penduduk juga menjadi isu yang sangat menonjol dari oceania, dimana sebagai dampak dari kondisi negara yang miskin, migrasi penduduk oceania ke negara-negara maju berimplikasi pada timbulnya masalah refugees di negara lain

Kondisi negara-negara yang masih diselimuti dengan masalah rural poverty dan pendidikan yang kurang layak berimplikasi pada kondisi negara kepulauan di wilayah oseania yang juga tidak jarang mengalami ketidakstabilan politik. Salah satunya adalah papua nugini, dimana potensi konflik sipil dan gerakan-gerakan separatisme masih merupakan acaman yang cukup menjadi perhatian disana. Hal yang sama pun juga terjadi pada Kepulauan Solomon. Tak hanya kedua negara tersebut, Fiji pun juga mengalami instabilitas politik lokal. Dimana pada tahun 1987 dan 2000, Fiji mengalami kudeta dalam pemerintahan dalam negerinya sendiri. Berbanding terbalik dengan isu keamanan regional yang terancam, isu kebudayaan sama sekali tak menjadi masalah di Oseania. Hal ini dikarenakan setiap negara atau sub-region ditinggali suku asli masing-masing sehingga tidak terjadi pemaksaan dalam asimilasi etnis bangsa. Keadaan tersebut dapat dibuktikan dengan terpakainya sekitar 2000 bahasa berbeda di benua Oseania.

Terlepas dari adanya ancaman-ancaman tersebut oseania merupakan sebuah kawasan yang memiliki keindahan pantai yang sangat luar biasa diminati oleh para turis mancanegara. Letak dari Negara-negara oseania yang jauh pun tentunya tidak menyurutkan niat dari para turis untuk berkunjung menikmati tujuan-tujuan wisata yang ada, dimana hal ini banyak dimanfaatkan dengan dibangunnya resor-resor mewah yang didirikan oleh para investor disana. Dilain hal sumberdaya yang ada pun merupakan suatu potensi besar bagi kesejahteraan Negara-negara oseania, sumber daya alam yang berasal dari kekayaan bahari serta hasil-hasil tambang dan juga hasil vulkanik bumi merupakan sebuah potensi besar bagi Negara oseania dalam menumbuhkan perekonomin kedepannya. Yang sangat dibutuhkan oleh Negara-negara oseania saat ini adalah awareness mereka untuk mngembangkan potensi yang ada, dimana dalam upaya tersebut tentunya juga harus ada perubahan pada pemikiran masyarakat disana untuk bergerak sejalan dengan arus modernisasi yang ada. Adanya perubahan tersebut tentunya harus ditunjang dengan adanya pengetahuan dalam perkembangan di berbagai aspek kehidupan terutama dalam bidang pendidikan.

[1] Oceania: The “Primitive Paradise” diakses pada 23/11/14  http://madib.blog.unair.ac.id/etnografi-bangsa-bangsa/oceania-the-%E2%80%9Cprimitive-paradise%E2%80%9D/

[2] http://education.nationalgeographic.com/education/encyclopedia/oceania-human-geography/?ar_a=1

Leave a Reply

%d bloggers like this: