Perkembangan Definisi Terorisme

Istilah Terorisme, merupakan istilah populer yang meggambarkan aksi kejahatan oleh kalangan ekstrimis yang mulai mencuat setelah serangan 9/11, secara umum definisi terorisme mengacu kepada hal negatif, dimana terorisme ditandai dengan bentuk kejahatan murni berupa pembunuhan dan ancaman yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Kata Terorisme berasal dari Bahasa Perancis le terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah. Selanjutnya kata Terorisme dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian kata Terorisme sejak awal dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah maupun kegiatan yang anti pemerintah.[1]

Definisi Terorisme

Dalam penjelasan yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002, dapat dijelaskan bahwa, terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban serta merupakan salah satu ancaman serius terhadap kedaulatan setiap negara, karena terorisme sudah merupakan kejahatan yang bersifat internasional yang menimbulkan bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat sehingga perlu dilakukan pemberantasan secara berencana dan berkesinambungan sehingga hak asasi orang banyak dapat dilindungi dan dijunjung tinggi[2]. Pemaknaan tersebut tentunya mengkonotasikan terorisme sebagai suatu istilah yang negative.

Dalam Perkembangannya terdapat perubahan makna dari istilah terorisme, khususnya pasca dan sebelum era revolusi perancis. Terorisme pada awalnya merupakan suatu hal yang berkonotasi positif, istilah dari terorisme sendiri pertama kali dipopulerkan pada masa revolusi Perancis. Pada masa revolusi perancis istilah dari terorisme merujuk kepada perjuangan revolusioner yang bertujuan untuk mencapai kebajikan dan demokrasi.

“Terror is nothing but justice, prompt, severe and inflexible; it is therefore an emanation of virtue ” – Maximilien Robespierre[3]

revolusi-prancis-crop

                        revolusi prancis

Maximilien Robespierre, Pemimpin revolusioner prancis mengungkapkan bahwa, selama revolusi  kebajikan harus bersekutu dengan teror agar revolusi dapat terlaksana. Hal ini lah yang selanjutnya membuat istilah dari terorisme berkonotasi sebagai suatu kata yang berkonotasi positif, karena terror merupakan sebuah upaya untuk melakukan sebuah kebajika, khususnya untuk menggulingkan pemerintahan jahat yang sedang berkuasa.

Dalam perkembangan selanjutnya istilah dari terorisme berubah menjadi suatu hal yang berkonotasi negative karena dituding telah menyalahgunakan power untuk melakukan kekerasan terhadap rakyat dan pihak oposisi sehingga menimbulkan kematian, pengasingan, dan penjara secara paksa dalam skala besar. Hal ini dapat dilihat dari aksi “terror” yang dilakukan oleh Nazi atau Fasis. Pada tahun 1980an terorisme dianggap sebagai sebuah tidakan anti barat yang dilakukan oleh pemerintah asing pemberontak seperti rezim di Iran, Irak, Libya, dan Suriah untuk menentang intervensi yang dilakukan oleh Amerika.

Pada tahun 1990an penggunaan istilah terorisme menjadi kabur dengan munculnya dua istilah baru, yaitu narco-terorisme dan gray area phenomenon. Narco-terorisme didefinisikan sebagai penggunaan perdagangan narkoba untuk memajukan tujuan pemerintah tertentu dan organisasi teroris, sedangkan gray area phenomenon merujuk kepada aksi teror yang mengancam stabilitas negara bangsa oleh aktor-aktor non-negara dan proses non-pemerintah dan organisasi. Dalam perkembangan selanjutnya istilah terorisme menjadi suatu istilah yang diperbincangkan dan dianggap sebagai suatu hal yang sangat menakutkan, hal ini tidak lain disebabkan oleh rangkaian terorisme yang berawal dari peristiwa teror 9/11, hal ini menjadi suatu hal yang menakutkan karena teror ditujukan kepada golongan warga sipil secara misterius untuk menimbulkan ancaman dan ketakutan bagi suatu golongan atau pemerintah dengan adanya tujuan tertentu. Terorisme internasional yang mengemuka saat ini selanjutnya mempunyai beberapa ciri yang disepakati sebagai unsur dari definisi yang telah disepakati, diantaranya:[4]

  • Terorisme internasional adalah penggunaan kekerasan atau yang luar dengan tujuan tertentu secara sistematik, tindakan perorangan atau kampanye kekerasan yang dirancang terutama untuk menteror atau menciptakan ketakutan.
  • Terorisme internasional menggunakan atau melakukan ancaman kekerasan tanpa pandang bulu atau selektif baik terhadap musuh atau sekutu dalam mencapai tujuan-tujuan politik.
  • Terorisme internasional menyangkut pola simbolik atau seleksi representatif yang konsisten dari obyek atau korbannya.
  • Terorisme internasional dengan sengaja bertujuan menciptakan dampak psikologis atau fisik terhadap kelompok masyarakat atau korban tertentu dalam rangka mengubah sikap dan perilaku politik sesuai dengan maksud serta tujuan teroris.
  • Terorisme internasional termotivasi secara politik maupun meyakini kebenaran yang melatarbelakangi dan dapat terus melakukan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan.

 

 

[1] Muhammad Mustofa, Memahami Terorisme: Suatu Perspektif Kriminologi, Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI, vol 2 no III (Desember 2002): 30

[2] Penjelasan Atas Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 http://www.setneg.go.id//components/com_perundangan/docviewer.php?id=1548&filename=PP_Pengganti_UU_No_1_th_2002_penjelasan.pdf diakses 19 September 2014

[3] Bruce Hoffman, Inside terrorism, Columbia University Press, New York, 2006, hlm 3.

[4] Mulyana W. Kusumah, Terorisme Dalam Perspektif Politik Dan Hukum, Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 2 No. III ,Desember 2002, hlm 22 – 29. http://journal.ui.ac.id/index.php/jki/article/viewFile/1225/1130

Leave a Reply

%d bloggers like this: