Pohon Jati
Pohon Jati

Jati

Langit masih gelap. Matahari masih belum naik dari peraduannya. Meski begitu, selarik cahayanya telah menggurat lembayung di ufuk timur. Udara masih cukup dingin. Kabut tipis membungkus udara, aneh memang, padahal kota ini jauh dari hutan-hutan lebat. Sesekali kendaraan melintas, ditumpangi para pedagang pasar atau lapak lepas di pinggir jalan yang bangun kesiangan.

Aku mengayuh sepedaku dalam kecepatan semi-konstan. Lambat dan bergoyang. Seolah butuh usaha ekstra untukku hanya untuk satu kayuhan. Tidak sepenuhnya salah memang, tapi apa yang menjadi karsaku hanyalah menikmati setiap kayuh dan setiap meter setapak aspal yang kulalui. Jalan ini memang bukan lanskap keren seperti Malioboro, namun dunia selalu punya cara menampilkan keindahannya.

Sepedaku memelesat melalui tikungan di ujung jalan, badanku mengimbangi dengan sedikit condong ke kanan. Tepat di kanan jalan, terhampar sebuah pemakaman kecil nan sederhana. Luasnya kurang lebih lima puluh meter persegi. Tempat itu penuh sesak dengan bangunan-bangunan berlumut yang menaungi liang lahat. Konon daerah ini cukup angker. Tidak banyak orang yang punya cukup nyali untuk lewat sini ketika siang telah tenggelam. Ketika rembulan bersembunyi di  balik awan-awan, jalan ini menampakkan dirinya sebagai sosok yang misterius. Tanpa menambah kecepatan, aku membiarkan pemakaman itu tetap di tempatnya.

Sudah dekat rupanya. Sepagi ini aku suka pergi ke tempat tersebut. Ya, tidak masalah meskipun harus melewati jalan angker. Harga yang dibayar cukup setimpal. Bersabarlah sebentar, kita akan memulai kisah ini begitu aku tiba di sana.

Sekitar satu menit kemudian, aku tiba di sana. Kulabuhkan sepedaku setelah menyeberang ke sisi kanan jalan. Melalui hamparan kecil rerumputan dan menambatkannya di bibir bukit. Ya inilah tempatnya.

Aku tinggal di sebuah kota metropolitan. Pemerintah kota juga sedang gencar melakukan pembangunan. Baru-baru ini mereka sedang membangun jalan layang baru untuk mengatasi kemacetan. Meski luasnya tidak seberapa, kota ini sedang berusaha membesarkan dirinya. Kota ini berada tepat di jantung pulau. Dan seolah menghayati letak geografisnya, kota ini menjelma menjadi spirit dari pulau paling padat di negeri ini. Ya, kau pasti bisa menebaknya. Presiden kita bahkan membesarkan dirinya dimulai dari sini, sebelum beliau akhirnya merantau di ibukota sana. Menjadi kacung negara. Harusnya begitu.

Nah, kotaku ini tidak punya banyak lanskap alam. Bangunan lebih subur di sini daripada tumbuhan. Jangan tanya apakah ada sawah di sini, bisa jadi cuma hitungan jari. Namun, ada satu potongan kecil alam yang masih tersisa di dusun tempatku tinggal. Ketika SD, aku sering pulang lewat sini. Bahkan dulu, aku pernah melakukan jelajah di ‘hutan’ kecil itu bersama guru dan teman-temanku. Ah, aku malah memberitahumu tempat apa ini. Yeah, seperti yang kukatakan, aku mengajakmu main ke salah satu atau mungkin malah satu-satunya hutan yang ada di metropolitan ini.

Rerumput meninggi seiring semakin dalam aku masuk ke sana. Bau petrikor dan daun basah menyengat hidungku yang mulai amnesia akan bebauan. Kakiku yang hanya beralas sandal seharga tiga lembar uang sepuluh ribuan mulai dibasahi embun dan licak tanah. Sementara kedua tapak kakiku menerabas hampar rumput, kedua tanganku kini mulai menyalami satu-persatu pohon jati yang mengadang. Seiring mengalirnya waktu, benakku turut hanyut ke dalam pusaran kenangan yang mengalir kian deras.

“Hei, apa itu?” tanya Hanif kecil. Ia teman SD-ku, salah satu pemuka di kelas kami. Selain karena kecerdasannya, ia juga punya garis wajah yang menyerukan kesan bijak dan arif. Cocok sekali dengan perangai pemimpin yang mulai tumbuh dalam dirinya.

Kami berlima menengok apa yang kiranya sedang ditunjuk jemari itu.

“Kau tunjuk bagian mana sih?” tanya Ihsan bingung.

“Itu lo, di bawah pohon.” Hanif menyelorohkan telunjuknya semakin ke depan, bayangannya ia bisa membuat mata kami melakukan zoom-in seperti teropong dengan gerakannya itu.

“Oh iya, ada cerukan.” kata Adit kemudian. Berdua dengan Hanif, keduanya berjalan mendekat ke sana.

“Mana sih?” Ihsan masih belum melihat cerukan apa yang sebenarnya tadi ditunjuk Hanif.

Hafizh kemudian mendekat ke sisi Ihsan. “Kau lihat pohon jati yang batangnya tebal berwarna kecoklatan itu?”

“Iya, aku melihatnya.”

“Nah, lihat deh di bawahnya.”

Cerukan itu tidak besar memang. Sebagian mulutnya tertutup belukar yang meminjam akar-akar pohon jati tadi sebagai tempat makan. Namun, bila kau punya mata yang cukup awas, dirimu bisa dengan mudah menemukan ‘sesuatu’ dalam cerukan itu.

Kakiku tergelincir ketika menginjak sepatah ranting. Mengembalikan benakku ke sisi realitas. Beruntung refleks tubuhku cukup bagus dan akhirnya mampu mengambil momentum sebelum tubuhku berdebam mengantam tanah. Aku kembali berdiri sambil meringis menahan sakit. Rupanya putri malu menikam jempolku dengan durinya. Ah, inilah yang membuatku benci jelajah alam.

Sejurus kemudian, aku tiba di mulut cerukan yang pernah ditunjuk Hanif sekitar satu dekade lalu itu. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja, bau menyengat yang dulunya dengan mudah ditangkap dua lubang hidungku, kini hanya tercium samar. Meskipun samar, bau itu cukup untuk menyentakku kembali ke malam itu.

“HANIF!”

“HANIF! KAMU DI MANA?”

“HANIF!?”

Malam itu, tempat yang paling diabaikan penduduk setempat tiba-tiba mengalami lonjakan jumlah kunjungan yang tidak disangka-sangka. Senter-senter menyorot menembus kegelapan. Gerah mengungkung udara tanpa sebab. Sementara itu, langit cerah dihiasi gemintang yang menyala terang. Tidak tampak sedikitpun kesan suram di sana. Alih-alih cerah justru seolah mengejek para pencari itu.

Hanif menghilang, yah, kau bisa menebaknya. Semua bermula ketika kami berlima akhirnya nekad menyelidiki cerukan apa itu sebenarnya selepas pulang sekolah pukul 4 sore. Yang mengejutkan, cerukan itu tidak dalam. Luasnya tidak lebih dari ketika dua kepala anak umur 8 tahun melongok ke dalam.

Namun, begitu kau melongokkan kepalamu ke dalamnya, keajaiban terjadi.

Hanif yang mencobanya pertama kali. Ia berjongkok dan memasukakkan bola tengkoraknya ke dalam. Begitu pangkal lehernya lenyap dari permukaan. Lenyap pula sekujur tubuh anak itu dari pandangan.

Kami berempat terkesiap tentu saja. Paduan rasa takut, jerih, takjub, dan heran bercampur dan menciptakan gejolak hebat dalam dada kami.

“Apa cuma aku yang melihatnya?” tanya Ihsan dengan wajah setengah takut.

“Tidak, aku juga melihatnya kok.” jawab Hafizh.

“Astaga.” Adit menelan ludah.

Anehnya, hanya aku yang tidak melihatnya.

Hanif, anak itu.

Ia tidak pernah menghilang.

Hanya saja, cahaya menipu seisi semesta dan menyembunyikannya di balik bayang-bayang.

“Mereka tidak akan pernah menemukanku, Arif.”

“Kenapa?” tanyaku tidak mengerti. Mataku menatap nanar orang-orang dewasa yang justru bolak-balik di sekitar orang yang sedang mereka cari. Hei, orang yang kalian cari ada di depanku!

“Seberapa sering kau melihat hidungmu, Arif?”

Aku menatap Hanif tidak mengerti. Apa maksudnya?

Anak lelaki itu justru tersenyum. “Begitulah, kelak, kau mungkin akan memahaminya. Pertanyaanku tadi hanya perumpamaan semesta. Esok lusa kau akan mendengar kalimat ini: dunia hanya tipu daya yang melenakan. Dan memang begitulah cara kerja semesta.”

“Kau lihat orang-orang itu?” Hanif mengedik pada orang-orang dewasa yang mencari kian dalam ke tengah hutan. “Orang yang mereka cari justru tadi berada tepat di hadapan mereka, namun semesta justru membuatnya seperti hidung yang tak tampak oleh mata. Dekat, namun tak terlihat. Padahal memang sedekat itu, seperti bayangan yang tak akan pernah lepas dari cahaya. Begitulah kebenaran hidup.”

Saat itu aku memang tidak paham sama sekali. Ayolah, umurku saja belum genap sembilan tahun. Memikirkan konsep perkalian dan luas bangun data sudah membuat kepala pusing bukan kepalang. Mana paham aku kalimat bijak tentang kearifan hidup semacam itu?

Begitu aku duduk di bangku SMA, aku mulai paham satu-persatu bagian dalam kalimat itu.

Hidung di depan mata memang tidak akan tampak dalam pandangan, karena kebanyakan dari kita tumbuh besar tanpa merasa perlu sering-sering melihat hidung. Pandangan kita selalu haus akan sesuatu yang lebih jauh dari sejengkal tangan. Padahal, untuk melihat semesta secara utuh kita hanya perlu bercermin pada diri kita sendiri. Padahal, untuk mengenal apa itu Tuhan sebenarnya, kita hanya perlu mengenal siapa kita.

Bersyukur atas setiap kelebihan yang ada pada diri kita. Ikhlas dan mengakui dengan tulus segala kekurangan kita. Memeluk erat semua kesedihan. Menjalani hidup dengan penuh rasa syukur atas setiap larik napas yang kita hirup. Menjalani hidup dengan penuh rasa syukur atas setiap jengkal tanah yang kita pijak. Menjalani hidup dengan penuh rasa syukur atas setiap potong detik yang berlalu. Dan yang paling penting, Menjalani hidup dengan penuh rasa syukur atas setiap senti bagian dari diri kita.

Dengan begitu, kita bisa memandang bayangan dengan tatapan yang sama ketika kita memandang cahaya.

“Hai, Hanif. Lama tidak berjumpa.”

About the author

Aksal Syah Falah

Organisator cupu yang suka ngoding dan nulis

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *