P

Jejak Langkah Lili

Photo by Sam Marx on Unsplash

Senja merekah pada langit di wajah barat. Semburat lembayung menyorot lembut bagai saputan kuas di kanvas. Ia menanam kesan mencolok, namun tetap menyisakan toleransi yang lebih dari cukup untuk mata memandang. Mengagumi keindahan.

Gadis kecil itu duduk bertongkat lutut di bawahnya. Ia hanya membisu dan membiarkan semilir angin bernyanyi riuh. Gemeretak bambu yang dicumbu bayu mengalir di udara. Terdengar angker karena beragam bumbu yang dicampur penduduk setempat. Biasanya ia lari bersembunyi ke dalam rumah, namun, entah kenapa, benaknya sekarang lebih takut pada sebuah masalah alih-alih mistis.

Suara ibu masih terekam jelas di memori jernihnya. “Kamu tidak perlu khawatir, Nduk. Ibu pasti bisa bayar SPP kamu.” Senyum tulus perempuan itu membungkam protes yang hendak keluar dari bibir mungil si gadis kecil.

Angin kembali berembus. Kali ini, dingin ikut serta dalam pengembaraan itu. Sosok bersuhu rendah tanpa wujud itu menusuk tulang-tulang ringkih si gadis.

Siluet gelap muncul dari balik rumpun bambu yang bergoyang. Tubuhnya yang ramping mendekat cepat dengan langkah pendek. Residu sunset menerangi wajah lelahnya yang mencoba terlihat tangguh di hadapan putrinya.

“Lo, Lili? Kenapa kamu belum masuk? Di luar dingin, nanti masuk angin,” kata wanita itu cemas. Tangannya membelai poni pendek gadis yang belum genap sembilan tahun umurnya.

“Lili tunggu ibu pulang,” jawab Lili dengan isak tertahan.

Perempuan paruh baya itu tersenyum lembut. Ia membelai wajah mungil Lili dan mengusap-usap pipinya yang gemuk. “Ibu kan pasti pulang, tidak usah ditunggu segala. Kamu di dalam saja, baca buku atau belajar.”

“Lili enggak mau belajar,” kata gadis itu dengan bibir menjulur. “Lili enggak usah sekolah.”

Ibu terkejut mendengar kalimat itu. Ada sendu pada binar matanya, namun bibirnya tetap menggurat senyum. “Kenapa Lili tidak mau sekolah? Katanya mau bikin ibu bangga.”

“Sekolah mahal,” ucap Lili merajuk. “Lili enggak mau lihat ibu susah karena harus bayar SPP. Lili kerja saja.”

Sudut bibir ibu naik beberapa derajat dan garis senyumnya melebar. “Ibu senang kamu punya tekad untuk bantu ibu, Lili. Tapi, kamu harus sekolah, Nduk. Kalau kamu tidak sekolah, kamu tidak bisa kasih ibu banyak hadiah.”

“Tapi …. ”

“Kalau sekolah mahal, Lili harus mengubahnya dong biar sekolah jadi gratis.” Perempuan itu tersenyum lebar.

Secercah binar berkilau di mata Lili. “Memangnya Lili bisa, Bu? Bagaimana caranya?”

“Bisa dong,” ujar Ibu memberi semangat. “Caranya, kamu harus terus sekolah dan jadi orang hebat. Nanti kalau sudah jadi orang hebat, kamu bisa jadi menteri pendidikan dan Lili bisa buat sekolah jadi gratis, tidak perlu bayar.”

Gadis itu menatap ibunya dengan wajah terpana. Kata-kata sederhana dari perempuan itu entah kenapa bisa menyuntikkan harapan ke dalam relung benaknya. “Bagaimana caranya jadi orang hebat, Bu?”

“Gampang kok.” Ibu duduk di samping Lili. Jemarinya membelai anak rambut putri semata wayangnya itu. “Lili cuma harus menulis atau menggambar saja.”

“Itu saja?” tanya gadis itu tidak percaya.

“Iya, tapi tulisan atau gambar Lili harus bisa membuat orang lain bahagia.”

“Memangnya bisa, Bu? Cuma dengan menulis dan menggambar Lili bisa membuat orang lain bahagia?”

“Bisa. Lili pasti bisa kok.”

“Esok lusa, kamu akan tumbuh menjadi bunga yang indah, Lili,” bisik Ibu di ujung hayatnya, sebelum lisannya mengucap kalimat indah yang membawanya memeluk surga.

***

Alarm ponsel membangunkanku dari mimpi masa lalu. Dengan mata setengah mengantuk, aku bangkit dari kasur dan meraba-raba mencari benda tipis multifungsi itu. Ketika ujung telunjukku menyapanya, aku mengusap layarnya ke atas dan membungkam bunyi nada lembut itu.

Lagi-lagi mimpi yang sama.

Batinku mendesah selepas meramu doa. Sepuluh tahun melesat begitu cepat. Bibirku pun melukis senyum kecut. Begitu banyak hal yang telah terjadi. Namun, terlalu sedikit juga yang kucapai.

Maaf, tidak banyak yang bisa kubanggakan padamu, Bu. Aku melalui fase hidupku begitu saja tanpa mampu meraih banyak hal. Diriku belum bisa menjadi orang hebat bagimu, Ibu.

Aku sudah mencoba banyak hal tentu saja. Kata-katamu saat itu tak pernah bosan kuingat. Seringkali menjadi lecutan bagiku yang adakalanya terbuai. Walau begitu, manusia hanya bisa berikhtiar dan Allah yang menentukan. Kita hanya perlu belajar menyelami makna di balik tiap keputusan-Nya, kan? Aku paham kok, Ibu.

Mataku mencari jam yang sebenarnya tidak perlu dicari. Dia masih di sana. Konsisten bersama jarum yang terus berputar. Sebentar lagi subuh, aku harus bergegas. Sisa waktu kuhabiskan untuk bermunajat kepada khalik. Tak kuasa diriku menahan rebas di sujud-sujud terakhir. Untaian doa kupinta pada-Nya sebagai wujud kepasrahanku.

Hari ini pengumuman ujian mandiri masuk universitas. Jalur terakhir yang tersisa untukku. Beberapa alternatif sebelumnya belum memberiku kesempatan. Aku berharap kali ini namaku muncul di daftar mahasiswa baru itu.

Masih ada banyak waktu sebelum hasil ujian itu diumumkan. Aku tidak perlu repot-repot datang ke kampus untuk melihat pengumumannya. Teknologi sekarang benar-benar membantu banyak pihak dalam mengembangkan sistem mereka. Aku hanya perlu membuka dasbor laman pendaftaran melalui ponselku dan di sana aku bisa melihat status lolos atau tidaknya diriku.

“Hari ini pengumumannya kan, Lili?” tanya Bu Rahma, tetangga yang sering membantuku. Kulihat ia sedang menggendong putrinya, Salsa, yang masih pulas.

“Iya, Bu,” jawabku sambil melempar senyum kecil.

“Ayo sini main, sarapan. Jangan sungkan lo,” katanya menawarkan.

“Maaf, Bu, tapi saya harus buru-buru sekarang.” Aku menolak sopan.

“Kamu kerja paruh waktu lagi?”

“Iya, zuhur nanti pulang.”

“Oh, hati-hati, ya.”

“Iya, Bu.”

Di masa senggangku selepas lulus SMA, aku bekerja paruh waktu di banyak tempat. Dulu ketika masih sekolah, aku juga melakukan hal serupa walaupun dengan intensitas waktu yang tidak banyak. Biasanya hanya di akhir pekan dan masa liburan saja.

Hari ini aku mendapat tawaran bekerja di kantor cabang perusahaan jasa pengiriman barang. Tugasku hanyalah melakukan packing barang dan pemeriksaan barang yang masuk dan keluar.

Waktu melompat begitu saja tanpa kusadari. Aku terlalu menikmati aktivitasku rupanya. Barangkali aku sudah tumbuh dewasa sampai merasakan sensasi zenosyne. Astaga, gawat dong kalau begitu.

Azan zuhur menggema di langit. Suaranya menggetarkan jiwa yang telah mengecap lezatnya iman. Sekali lagi, aku merajut doa panjang dalam sujudku. Pintaku hanyalah petunjuk dari Allah tentang ke mana kaki kecilku ini harus melangkah.

Aku juga memohon kelapangan hati dalam menerima tiap goresan takdir-Nya yang Maha Seru. Laiknya novel indah, takdir bekerja seperti itu. Kita hanya perlu menikmatinya.

Mataku beradu pandang dengan jam digital di layar ponsel.

Sudah saatnya, ya.

Astaga, aku deg-degan.

Tanganku lincah mengetik alamat situs web pendaftaran. Jemariku cekatan mengisi kolom PIN dan kata sandi. Setelah itu, aku menahan diri untuk tidak gegabah menekan tombol ‘Masuk’.

Aku menarik napas panjang, kemudian kuhembuskan. Kupikir dengan begitu jantung akan sedikit kalem, rupanya malah tambah parah. Sekali lagi aku melakukannya sambil berzikir.

“Bismillah,” bisikku sambil menekan tombol ‘Masuk’.

Di sana, pengumuman itu tertera. Hanya perlu dua detik untuk tahu apakah aku lolos atau tidak. Namun, 6 menit 48 detik kuhabiskan dalam keheningan. Bukan, mataku tak lagi memandang layar, tapi memandang jauh melintasi ruang dan waktu.

“Esok lusa, kamu akan tumbuh menjadi bunga yang indah, Lili,” bisik Ibu yang membuatku tersenyum.

Aku memandang sekali lagi layar ponselku. Namun, mata rebasku membuat pandanganku panas. Padahal aku sudah mencoba tersenyum.

Ibu, inilah karyaku. Inilah buah usahaku. Tidak begitu hebat memang, tapi, dengan ini aku tahu ke mana aku harus melangkah sekarang. Setiap jejak langkahku adalah karyaku. Kini aku paham hal itu, Bu. Aku tahu apa artinya menulis dan menggambar.

Terima kasih, Ibu. Aku akan menjadi bunga yang indah.

About the author

Aksal Syah Falah

Organisator cupu yang suka ngoding dan nulis

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *