Kajian Pustaka : Definisi Stress

KAJIAN PUSTAKA

  1. STRES

A.1. Definisi Stres

Ada beberapa pendapat para ahli tentang definisi stres, diantaranya adalah Cannon (1932) menawarkan sebuah konsep homeostatis, sebuah kecenderungan untuk mempertahankan sebuah lingkungan internal yang stabil. Homeostatis bukanlah sebuah pikiran, ini adalah sesuatu kondisi yang dinamis yang menyeimbangkan antara kebutuhan dan kepuasan. Ia juga menggali tentang mekanisme dari penyikapan terhadap kondisi darurat yang terjadi, yaitu sebuah flight response. Respon tersebut melibatkan sebuah interaksi komplek antara gangguan sistem kecemasan dan sekresi hormonal dari kelenjar adrenal. Cannon memaknai istilah stres sebagai sebuah kecenderungan untuk menolak pengaruh-pengaruh yang berasal dari lingkungan eksternal.

Menurut Rice (1999) menyampaikan bahwasannya istilah stres setidaknya memiliki tiga makna, hal ini sesuai dari sumbe-sumber keilmuan kontemporer. Makna pertama, stres adalah semua even atau stimulus yang berasal dari lingkungan yang menyebabkan seseorang merasa tertekan atau terganggu. Dalam pengertian ini, stres adalah sesuatu yang sifatnya eksternal dari diri individu.

Makna kedua, stres dimaknai sebagai respon subjektif. Dalam kondisi ini, stres adalah kondisi mental internal individu yang merasa tertekan dan terganggu. Sehingga, stres adalah sesuatu yang bersifat interpretative, emosi, pertahanan dan proses penanganan yang terjadi di dalam diri seseorang.

Menarik juga membaca tentang kata-kata cinta untuk pasangan.

Makna ketiga, stres adalah sebuah reaksi fisik tubuh yang menuntut sebuah gangguan natural tubuh terhadap level aktifitas yang lebih tinggi. Fungsi dari reaksi-reaksi fisik tersebut memungkinkan untuk mendukung adanya usaha psikologis dan perilaku dalam dalam menghadapi stres. Kondisi stres yang kronis dapat dapat mengakibatkan kondisi negative seperti, keletihan, penyakit, dan kematian.

Menurut Wijono (2006), stres adalah reaksi alami tubuh untuk mempertahankan diri dari tekanan secara psikis. Tubuh manusia dirancang agar bisa merasakan dan merespon gangguan psikis ini. Tujuannya agar manusia tetap waspada dan siap menghindari bahaya. Kondisi ini jika berlangsung lama akan menimbulkan kecemasan, takut dan tegang.

Definisi yang hampir sama disampaikan oleh Taylor (2006) mendiskripsikan stres sebagai pengalaman emosional negatif disertai perubahan reaksi biokimiawi, fisiologis, kognitif, dan perilaku yang bertujuan untuk mengubah atau menyesuaikan diri terhadap situasi yang menyebabkan stres yang disebut sebagai stressor.

            Hal senada juga dijelaskan oleh Lazarus dan Folkman (1984) mendefinisikan stres sebagai segala peristiwa atau kejadian baik berupa tuntutan-tuntutan lingkungan maupun tuntutan-tuntutan internal (fisiologis dan psikologis) yang menuntut, membebani, atau melebihi kapasitas sumberdaya adaptif individu. Lebih lanjut dijelaskan bahwa stres akan tergantung secara penuh pada persepsi individu terhadap situasi yang berpotensi mengancam. Stres dapat juga didefinisikan sebagai keseluruhan proses yang meliputi stimulasi, kejadian, peristiwa dan respon, interpretasi individu yang menyebabkan timbulnya ketegangan yang di luar kemampuan individu untuk mengatasinya (Rice, 1999).

Selye (dalam Greenberg 2004) mendefinisikan stres sebagai respon tubuh yang tidak spesifik terhadap setiap kebutuhan yang terganggu. Atkinson (2000)  mengungkapkan stres mengacu pada peristiwa yang dirasakan membahayakan kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang situasi ini disebut sebagai penyebab stres dan reaksi individu terhadap situasi stres ini di sebut sebagai respon stres. Stres adalah suatu keadaan tertekan, baik, secara fisik maupun psikologis (Chaplin, 1999).

Secara garis besar ada tiga pandangan mengenai stres, yaitu : stres merupakan stimulus, stres merupakan respon, dan stres merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan (Smet, 1994). Menurut Kuntjojo (2009) stres sebagai hubungan antara individu dengan stresor. Ada tiga hubungan antara stres dengan stresor

  1. Stres Sebagai Stimulus

Menurut konsepsi ini stres merupakan stimulus yang ada dalam lingkungan (environment). Individu mengalami stres bila dirinya menjadi bagian dari lingkungan tersebut. Dalam konsep ini stres merupakan variable bebas sedangkan individu merupakan variabel terikat. Secara visual konsepsi ini dapat digambarkan sebagai berikut. Stres sebagai stimulus dapat dicontohkan : lingkungan sekitar yang penuh persaingan, misalnya di terminal dan stasiun kereta api menjelang lebaran. Mereka yang ada di lingkungan tersebut, baik itu calon penumpang, awak bus atau kereta api, para petugas, dst., sulit untuk menghindar dari situasi yang menegangkan (stressor) tersebut. Hal serupa juga dapat diamati pada lingkungan di mana terjadi bencana alam atau musibah lainnya, misalnya banjir, gunung meletus, dan ledakan bom di tengah keramaian.

  1. Stres Sebagai Respon

Konsepsi kedua mengenai stres menyatakan bahwa stres merupakan respon atau reaksi individu terhadap stresor. Dalam konteks ini stres merupakan variable tergantung (dependen variable) sedangkan stresor merupakan variable bebas atau independent variable.

Berdasarkan pandangan dari Sutherland dan Cooper (dalam Bart Smet 1994) menyajikan konsepsi stres sebagai respon sebagai berikut. Pengertian stres yang mengacu pada konsepsi stres merupakan respon diantaranya dikemukakan oleh E.P. Gintings. Menurut Gintings (1999), stres ialah reaksi tubuh manusia kepada setiap tuntutan yang dialami oleh seseorang dalam hal sebagai berikut.

  • Keletihan dan kelelahan akibat kehidupan.
  • Suatu keadaan yang dinyatakan oleh suatu sindroma khusus dari peristiwa biologis.
  • Mobilisasi pembelaan tubuh yang memungkinkan adaptasi terhadap peristiwa kekerasan atau ancaman.
  • Tergangguangan mekanisme keseimbangan dalam diri seseorang yaitu keseimbangan dalam dan keseimbangan luar yang bersifat fisik, sosial, mental, dan spiritual oleh karena perubahan mendadak yang sifatnya tidak menyenangkan maupun menyenangkan.
  • Mengecilnya potensi seseorang karena adanya luka-luka perasaan, beban berat, dan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam diri seseorang.

Respon individu terhadap stresor memiliki dua konponen, yaitu : komponen psikologis, misalnya terkejut, cemas, malu, panik, nerveus, dst. dan komponen fisiologis, misalnya denyut nadi menjadi lebih cepat, perut mual, mulut kering, dan banyak keluar keringat. Respon-repons psikologis dan fisiologis terhadap stresor disebut strain atau ketegangan.

  1. Stres Sebagai Interaksi antara Individu dengan Lingkungan

Menurut pandangan ketiga, stres sebagai suatu proses yang meliputi stresor dan strain dengan menambahkan dimensi hubungan antara individu dengan lingkungan. Interaksi antara manusia dan lingkungan yang saling mempengaruhi disebut sebagai hubungan transaksional. Di dalam proses hubungan ini termasuk juga proses penyesuaian. (Bart Smet, 1994). Dalam konteks stres sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan, stres tidak dipandang sebagai stimulus maupun sebagai respon saja, tetapi juga suatu proses di mana individu juga merupakan pengantara (agent) yang aktif, yang dapat mempengaruhi stresor melalui strategi perilaku kognitif dan emosional.

Menurut Smet (1994), reaksi terhadap stres bervariasi antara orang satu dengan yang lain dan dari waktu ke waktu pada orang yang sama, karena pengaruh variabel-varibel sebagai berikut.

  1. Kondisi individu, seperti : umur, tahap perkembangan, jenis kelamin, temperamen, inteligensi, tingkat pendidikan, kondisi fisik, dst.
  2. Karakteristik kepribadian, seperti : introvert atau ekstrovert, stabilitas emosi secara umum, ketabahan, locus of control, dst.
  3. Variabel sosial-kognitif, seperti ; dukungan sosial yang dirasakan, jaringan sosial, dst.
  4. Hubungan dengan lingkungan sosial, dukungan sosial yang diterima, integrasi dalam jaringan sosial, dst.
  5. Strategi coping.

Konsep stres sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan dapat digambarkan sebagai berikut. Bagan 13 menggambarkan reaksi individu terhadap stresor yang sama, ternyata bisa berbeda, dan bagan 14 menggambarkan reaksi beberapa individu terhadap stresor yang sama, ternyata juga bisa berbeda-beda.

  1. Stres Sebagai Hubungan antara Individu dengan Stresor

Stres bukan hanya dapat terjadi karena faktor-faktor yang ada di lingkungan. Bahwa stresor juga bisa berupa faktor-faktor yang ada dalam diriindividu, misalnya penyakit jasmani yang dideritanya, konflik internal, dst. Oleh sebab itu lebih tepat bila stres dipandang sebagai hubungan antara individu dengan stresor, baik stresor internal maupun eksternal.

Konsep tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Maramis (2008), mengenai sumber stres. Menurut Maramis, stres dapat terjadi karena frustrasi, konflik, tekanan, dan krisis.

  1. Frustrasi merupakan terganngunya keseimbangan psikis karena tujuan gagal dicapai.
  2. konflik adalah terganggunya keseimbangan karena individu bingung menghadapi beberapa kebutuhan atau tujuan yang harus dipilih salah satu.
  3. Tekanan merupakan sesuatu yang mendesak untuk dilakukan oleh individu. Tekanan bisa datang dari diri sendiri, misalnya keinginan yang sangat kuat untuk meraih sesuatu. Tekanan juga bisa datang dari lingkungan.
  4. Krisis merupakan situasi yang terjadi secara tiba-tiba dan yang dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan.

 

Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas, beberapa ahli menyampaikan definisi stres melalui pendekatan fisiologis dan psikologis. Hal tersebut dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan dari masing-masing ahli, sehingga dapat dipahami bahwa stres adalah respon fisiologis dan psikologis individu terhadap kondisi lingkungan yang menyebabkan rasa takut, cemas, resah, membebani melebihi kemampuan diri, dimana respon itu dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya kemampuan diri individu sendiri (kemampuan dalam memaknai sebuah masalah, kemampuan mengontrol diri, kepercayaan diri, perasaan-perasaan positif atau negatif dan lain-lain), serta dipengaruhi oleh peristiwa di lingkungan tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *