Kajian Pustaka: Penyebab dan Gejala Stres

A.3. Penyebab dan Gejala Stres

            Penyebab stres disebut juga stresor. Stresor adalah faktor-faktor dalam kehidupan manusia yang mengakibatkan terjadinya respon stres. Stresor dapat berasal dari berbagai sumber, baik dari kondisi fisik, psikologis, maupun sosial dan juga muncul pada situasi kerja, di rumah, dalam kehidupan sosial, dan lingkungan luar lainnya. Istilah stresor diperkenalkan pertama kali oleh Selye (dalam Rice, 1992). Menurut Lazarus & Folkman (1984) stresor dapat berwujud atau berbentuk fisik (seperti polusi udara) dan dapat juga berkaitan dengan lingkungan sosial (seperti interaksi sosial). Pikiran dan perasaan individu sendiri yang dianggap sebagai suatu ancaman baik yang nyata maupun imajinasi dapat juga menjadi stresor. Bebepa ahli memiliki pendekatan yang berbeda dalam memahami penyebab stres.  Berikut ini pendapat beberapa ahli tentang penyebab stres.

Taylor (1991) merinci beberapa karakteristik kejadian yang berpotensi sebagai stresor antara lain :

  1. Kejadian negatif lebih cenderung menimbulkan stres daripada kejadian

positif.

  1. Kejadian yang tidak terkontrol dan tidak terprediksi lebih membuat stres daripada kejadian yang terkontrol dan terprediksi.
  2. Kejadian “ambigu” seringkali dipandang lebih mengakibatkan stres daripada kejadian yang jelas.
  3. Manusia yang tugasnya melebihi kapasitas (overload) lebih mudah mengalami stres dari pada orang yang memiliki tugas lebih sedikit.

Menurut Lazarus & Cohen (1977), ada tiga tipe kejadian yang dapat menyebabkan stres yaitu:

  1. Cataclysmic events(kejadian-kejadian penting atau perubahan besar) merupakan stresor yang besar sekali dan mempunyai beberapa karakteristik. Umumnya terjadi secara tiba-tiba dan memberikan sedikit atau bahkan tidak ada peringatan ketika kejadian itu akan datang. Seperti bencana alam, perang dan banjir.
  2. Personal stressor (tekanan pesonal) sejenis dengancataclysmic events, tetapi dampaknya hanya mengenai satu orang tertentu atau beberapa orang dalam jumlah terbatas dan boleh jadi tidak diharapkan. Misalnya sakit, kematian orang yang dicintai, atau kehilangan pekerjaan.
  3. Daily hassles (kerepotan sehari-hari) yaitu merupakan stressor dalam bentuk problem yang terjadi setiap hari dan berulang-ulang, serta tidak terlalu memerlukan daya penyesuaian diri yang terlalu besar. Seperti ketidakpuasan kerja, atau masalah-masalah lingkungan.

Ditambahkan Gibson (dalam Rachmaningrum, 1999) umur adalah salah satu faktor penting yang menjadi penyebab stres, semakin bertambah umur seseorang, semakin mudah mengalami stres. Hal ini antara lain disebabkan oleh faktor fisiologis yang telah mengalami kemunduran dalam berbagai kemampuan seperti kemampuan visual, berpikir, mengingat dan mendengar. Selanjutnya masih ada beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat stres, yaitu kondisi fisik, ada tidaknya dukungan sosial, harga diri, gaya hidup dan juga tipe kepribadian tertentu.

Berdasar pada penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa secara umum penyebab atau faktor yang mempengaruhi stres pada individu adalah faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri individu, berupa peristiwa atau kejadian yang dihadapi. Sedangkan, faktor internal adalah faktor yang berasal dari diri individu sendiri, berupa kepercayaan diri, harga diri, optimis, tingkat resiliensi, penilaian terhadap masalah. Penyebab stres terdiri dari dua aspek secara umum yaitu faktor eksternal dan faktor internal, hal ini akan mempengaruhi tentang bagaimana menangani stres. Jadi, berdasar teori di atas dapat disimpulkan bahwa intervensi untuk menurunkan stres dapat melalui dua faktor tersebut. Pada penelitian ini peneliti akan memberikan intervensi pada faktor internal yang mempengaruhi stres. Yaitu dengan membangun spiritualitas dalam diri individu.

Adapun gejala stres menurut Hardjana (1994), mengemukakan bahwa terdapat kriteria-kriteria gejala stres antara lain:

  1. Gejala fisik

Adalah gejala yang ditunjukkan berupa respon fisik seperti, sakit kepala, pusing, pening, tidur tidak teratur, bangun terlalu awal, sakit punggung bagian bawah, diare, sulit buang air besar, sembelit, gatal-gatal pada kulit, keringat berlebih, tekanan darah tinggi, bertambah banyak melakukan kekeliruan dalam bekerja dan hidup.

  1. Gejala emosional

Adalah gejala yang berhubungan dengan emosi individu, diantaranya gelisah, cemas, depresi, mudah menangis, suasana hati berubah-ubah dengan cepat, mudah marah, gugup, harga diri menurun, merasa tidak aman, mudah menyerang orang lain dengan sikap bermusuhan, kehilangan sumber daya mental (burn out).

  1. Gejala kognitif

Adalah gejala yang berhubungan dengan fungi kognitif, seperti: sulit berkonsentrasi dan memusatkan pikiran, sulit mengambil keputusan, mudah terlupa, pikiran kacau, daya ingat menurun, melamun secara berlebihan, pikiran dipenuhi oleh satu pikiran saja, kehilangan rasa humor yang sehat, prestai dan mutu kerja menurun.

  1. Gejala interpersonal

Kehilangan kepercayaan terhadap orang lain, mudah mempermasalahkan orang lain, mudah membatalkan janji atau tidak memenuhi perjanjian, cenderung mencari-cari kesalahan orang lain, mengambil sikap terlalu membentengi dan mempertahankan diri.

Menurut Everlly & Giardano (dalam Munandar, 2001), mengemukakan beberapa gejala stres. Menurut mereka stres akan mempunyai dampak pada suasana hati, otot kerangka, dan organ-organ dalam badan, gejala-gejala stres tersebut dijelaskan lebih detail sebagai berikut:

  1. Gejala-gejala suasana hati, yaitu menjadi overexcited (terlalu bersemangat), cemas, merasa tidak pasti, sulit tidur pada malam hari, menjadi sangat tidak enak dan gelisah, menjadi gugup.
  2. Gejala-gejala otot kerangka, yaitu jari-jari dan tangan gemetar, tidak dapat duduk diam atau berdiri di tempat, mengembangkan gerakan tidak sengaja, kepala mulai sakit, merasa otot menjadi tegang atau kaku, menggagap jika bicara.
  3. Gejala-gejala organ-organ dalam badan, yaitu perut terganggu, merasa jantung berdebar, menghasilkan banyak keringat, merasa kapala ringan atau akan pingsan, mengalami kedinginan, wajah menjadi panas, mulut menjadi kering, mendengar bunyi berdering dalam kuping.

Berdasarkan pada kajian pustaka di atas, secara umum gejala stres dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek fisik dan psikis. Oleh karena itu, pada penelitian ini gejala stres dari subjek penelitian akan diukur dari dua aspek tersebut. Gejala stres dari kedua aspek tersebut akan saling terkait dan saling mempengaruhi. Sehingga penting memperhatikan gejala stres dari kedua aspek tersebut.

Stres mengasuh anak-anak bisa baca artikel mainan anak perempuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *