Teori Stratifikasi Sosial dan Kesenjangan Sosial Masyarakat

Pengertian Teori Stratifikasi Sosial dan Kesenjangan Sosial

Stratifikasi diambil dari bahasa latin Stratum yang berarti lapisan atau tingkatan. Menurut Pitirim A. Sorokin Stratifikasi sosial adalah sistem pembedaan individu atau kelompok dalam masyarakat berdasarkan tingkatan yang menempatkannya pada kelas-kelas sosial secara hierarki (Maunah, 2015). Berdasrakan pengertian tersebut berarti ada sebuah konsep pengelompokan social secara bertingkat meliputi kelas tinggi, sedang, hingga rendah. Hal ini selaras dengan pendapat Bernard yang menyebutkan Stratifikasi sosial adalah suatu sistem di mana orang-orang di dalam suatu masyarakat dikategorikan atau diurutkan secara hirarkis mulai dari yang paling tinggi sampai kepada yang paling rendah atau sebaliknya dari yang paling rendah sampai kepada yang paling tinggi (Bernard, 2016).

Sehingga dapat di ambil kesimpulan bahwa stratifikasi sosil adalah pembedaan atau pengelompokkan suatu kelompok social secara bertingkat (hierarkis) yang didasari pada adanya suatu simbol-simbol tertentu yang dianggap berharga dan bernilai, baik secara social, ekonomi, politik, hukum, budaya, maupun lainnya (Muhammad, 2018).

Kelas Sosial

Kelas sosial ini muncul karena adanya kedudukan yang memberikan ketidaksamaan kesempatan dalam mengakses atau memiliki sesuatu di masyarakat. Sehingga kesempatan hidup (life-chaces) dan pengaruh yang dimiliki setiap individu tidak sama. Maka dapat diartikan pula bahwa barangsiapa memiliki sesuatu yang berharga atau fasilitas hidup yang lebih baik dan pengaruh sosial yang lebih besar dianggap sebagai masyarakat dalam lapisan yang lebih tinggi. Hal ini memunculkan ukuran atau dasar untuk menggolongkan kelompok masyarakat ke dalam suatu lapisan melalui:

  1. Ukuran kekayaan : ukuran kekayaan dilihat dari jumlah penghasilan, luas lahan yang dimiliki, bentuk rumah yang dihuni, cara berpakaian, barang yang digunakan atau dibeli dll. Jika seseorang memiliki kekayaan paling banyak maka akan termasuk ke dalam lapisan sosial teratas dan sebaliknya jika seseorang tidak memikiki kekayaan akan tergolong dalam lapisan rendah.
  2. Ukuran kekuasaan : salah satunya seperti seorang politikus walaupun tidak sangat kaya sering dianggap sebagai lapisan atas karena akses dan kontrolnya terhadap birokrasi.
  3. Ukuran ilmu-pengetahuan : dalam hal ilmu pengetahuan biasanya dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Akan tetapi ukuran tersebut kadang mengakibatkan hal negatif yaitu yang dijadikan ukuran bukan mutu ilmu pengetahuanya tetapi gelar kesarjanaannya. Sehingga memacu individu untuk melakukan segala macam usaha untuk mendapatkan gelar walaupun dengan cara yang tidak halal.

Tidak terbatas dari kuran-ukuran tersebut untuk menjadi dasar dalam stratifikasi sosial, karena masih banyak ukuran-ukuran lain yang dapat digunakan. Dimana di dalam masyarakat tradisional di Indonesia terdapat golongan pembuka tanah yang menjadi lapisan tertinggi kemudian diikuti pemilik tanah yang bukan keturunan pembuka tanah dan sikep atau kuli kiceng (Nasdian, 2015, hal. 191-193).

Mobilitas Sosial

Mobilitas sosil merupakan pergerakan atau perpindahan dari satu status ke status yang lain, baik itu berubah menjadi lebih baik (naik) ataupun berubah menjadi lebih rendah (turun) yang biasa disebut dengan mobilitas vertikal. Selain itu, juga ada mobilitas horizontal yang mana tidak terjadi perpindahan status tetapi hanya terjadi sebuah perpindahan aktivitas atau tempat saja. Sehingga mobilitas sosial ini tidak menambah atai mengurangi tingkatan status sosial.

Dalam mobilitas sosial vertikal sendiri dibagi menjadu dua, yaitu :

  • Sosial Climbing

Sosial climbing merupakan mobilitas sosial yang tejadi karena kenaikan tingkatan atau derajat seseorang.

  • Sosial Sinking

Sedangkan sosial sinking merupakan mobilitas sosial yang terjadi karena penurunan tingkatan atau derajat seseorang (Depita, 2019).

Teori-teori tentang Stratifikasi Sosial

  • Teori Fungsionalisme Struktural

Teori ini dikemukakan oleh Kingsley Davis dan Wilbert Moore. Mereka berpendapat bahwa beberapa jenis stratifikasi sosial merupakan satu keharusan sosial demi mempertahankan stabilitas atau equilibrium. Menurut mereka posisi-posisi pekerjaan dalam masyarakat itu berbeda-beda, pekerjaan yang lebih penting membutuhkan bakat dan kemampuan yang khusus yang dapat diperoleh berdasarkan kerja keras dan proses pendidikan yang panjang. Pekerjaan-pekerjaan itu umumnya cukup berat dan memberikan pressure dan tanggung-jawab yang tidak sedikit. Agar orang-orang tertarik untuk mengambil pekerjaan-pekerjaan seperti itu, maka masyarakat memberikan reward (penghargaan) yang cukup tinggi seperti dalam hal penghasilan, prestise sosial, kekuasaan, dan kenyamanan hidup. Contohnya dokter yang mempunyai tanggung-jawab yang lebih besar daripada perawat jelas memperoleh reward yang lebih besar dalam bentuk penghasilan, prestise sosial, kekuasaan, dan kenyamanan hidup ketimbang yang diterima oleh seorang perawat.

  • Teori Konflik

Teori ini dikemukakan oleh Karl Marx. Menurut teori ini, kelas-kelas sosial terbentuk di dalam masyarakat dikarenakan adanya kepemilikan alat-alat produksi oleh sekelompok orang tertentu (kaum kapitalis). Dalam masyarakat feodal di Eropa kaum bangsawan dan kaum Gereja memiliki tanah (alat-alat produsksi) sedangkan para petani hanya bisa menyewakan tenaganya kepada kedua kelompok itu. Hal ini sama juga dalam masyarakat industry dimana Kaum kapitalis dan burjuis memiliki alat-alat produksi sedangkan kaum buruh hanya bisa menjual tenaga mereka. Menurut Marx, perbedaan pembagian kekuasaan dan kekayaan itu menyebabkan kedua kelompok ini terlibat di dalam konflik sosial. Keadaan ini bisa diakhiri jika kaum pekerja mengorganisir dirinya dan membentuk satu kekuatan yang bisa melawan kaum pemilik modal.

  • Teori Sintesis dari Gebhard dan Jean Lenski (Pendekatan sosio-kultural)

Teori Lenski ini dikatakan merupakan jalan tengah untuk menjelaskan fenomena stratifikasi sosial. Dalam masyarakat primitif seperti masyarakat berburu atau pengumpul hasil hutan, mereka tidak pernah menghasilkan atau mengumpulkan bahan makanan lebih dari yang dibutuhkan. Karena itu tidak terjadi akumulasi kekayaan dan tidak terjadi kelebihan harta kekayaan. Karena itu stratifikasi sosial pada masyarakat pemburu dan pengumpul hasil hutan hampir tidak ada. Sebaliknya di dalam masyarakat industri, orang bisa menghasilkan barang-barang yang lebih banyak dari pada yang dibutuhkan. Oleh karena itu orang bisa menghimpun kekayaan sebanyak-banyaknya sementara yang lain tidak bisa melakukan hal yang sama. Dengan demikian terjadilah distribusi kekayaan yang tidak seimbang. Akibatnya timbul konflik sosial yang umumnya hampir tidak terjadi pada masyarakat primitif. Namun demikian proses di dalam industri itu sendiri akan menyebabkan konflik itu berkurang. Soalnya, kegiatan produksi di dalam industri membutuhkan spesialisasi yang tinggi di mana dari setiap pekerja dibutuhkan pendidikan dan latihan yang cukup tinggi. Kemudian dengan kemajuan tehnologi, maka banyak pekerjaan yang dilakukan secara manual (buruh kasar pada masa lampau) digantikan oleh white collar job (pekerjaan yang tidak mengandalkan tenaga melainkan pikiran). Dengan demikian sebagian besar dari populasi berpeluang untuk memperoleh lebih banyak penghasilan. Akibatnya, ketimpangan sosial semakin berkurang (Bernard, 2016).

Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial adalah suatu keadaan ketidak seimbangan sosial yang ada di masyarakat yang menjadikan suatu perbedaan yang sangat mencolok. Menurut Robert Chambers Kesenjangan Sosial adalah seluruh gejala yang muncul dalam lapisan masyarakat karena adanya bentuk perbedaan dalam hal keuangan dan yang lainnya diantara masyarakat yang menempati suatu daerah tertentu (Wisman, 2020). Kesenjangan masyarakat ini terjadi jika terdapat perbedaan kemampuan dalam mengakses sumber daya ekonomi yang ada di masyarakat. Menurut Profesor Manohar Pawar kesenjangan social terjadi karena tingginya pertumbuhan ekonomi tidak dibarengi dengan distribusi pendapatan yang merata (Farizqa, 2021). 

Faktor Penyebab Kesenjangan Sosial:

  • Kondisi Demografis

Kondisi Demografis seperti jumlah penduduk, komposisi, dan persebaran penduduk setiap daerah berbeda, hal ini menyebabkan tingkat perekonomian dan kesejahteraan penduduknya juga berbeda. Perbedaan inilah yang akhirnya menyebabkan terjadinya suatu kesenjangan sosial antara daerah.

  • Kondisi Pendidikan

Pendidikan merupakan social evaluator dimana pendidikan ini merupakan kunci utama pembangunan, khususnya pembangunan SDM. Dengan SDM yang baik maka suatu daerah dapat memajukan daerahnya sehingga tidak mengalami kesenjangan.

  • Kondisi Ekonomi

Kondisi ekonomi ini dipengaruhi oleh jumlah SDA yang dimiliki, apabila SDA ini dikelola dengan baik dan merata untuk kepentingan masyarakat dan derah maka tidak aka nada kesenjangan social.

  • Kemiskinan

Kemiskinan merupakan penyebab utama terjadinya kesenjangan social ekonomi dimasyarakat. Masyarakat miskin cenderung tidak mampu dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari seperti makan, pendidikan, dan kesehtan hal inilah yang menyebabkan kesenjangan social antara si kaya dan si miskin.

  • Kurangnya lapangan kerja

Kurangnya lapangan kerja menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran dan pengangguran ini dapat menyebabkan kemiskinan masyarakat.

  • Stratifikasi Sosial

Dengan adanya perbedaan status dalam masyaraat ini menyebabkan terjadinya kesenjangan social, hal ini dikarenakan dengan adanya status maka terjadi pula perbedaan hak dan wewenang setiap orang dalam mengakses sumber daya ekonomi (Wahyu, 2016).

  • Ciri-ciri, Sifat dan Bentuk Stratifikasi Sosial

Ciri-ciri Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial memiliki beberapa ciri-ciri, yaitu:

  1. . Dalam stratifikasi sosial tentunya untuk membedakan sekelompok orang dengan kelompok lainnya dibedakan melalui beberapa kategori seperti, kekayaan, pendidikan, kekuasaan, ataupun keturunan. Contoh sederhananya dapat kita lihat dari pengelompokan kelas penumpang dalam pesawat, kapal laut, maupun kereta api. Hal ini sama dengan pengelompokan orang berdasaekan keturunan, yaitu seseorang tergolong sebagai kerutunan asli atau seorang pendatang.
  2. Stratifikasi sosial bersifat universal tapi juga bervariasi antara satu masyarakat dengan masyarakat lainya. Stratifikasi sosial pada berburu dan mengumpulkan hasil hutan tentunya lebih sederhana dibandingkan dengan masyarakat industri sekarang ini. Dimana pada masyarakat berburu dan mengumpulkan hasil hutan tidak memiliki perbedaan yang sangat mencolok antara kelompok satu dengan yang lainya. Sedangkan pada masyarakat industri terlihat perbedaan yang kaya dan miskin, berpendidikan dan tidak berpendidikan, bekerja dan tidak bekerja.
  3. Stratifikasi diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Hal ini diartikan bahwa anak-anak akan meneruma posisi sosial dari orangtuanya dan kemudian posisi sosial tersebut akan diwariskan kembali kepada anak-anaknya lagi ascribed status (status yang diwariskan). Namun posisi tersebut dapat berubah menjadu achieved status, melalui mobilitas sosial. Dalam mobilitas sosial dapat bergrak dari lapisan bawah ke atas dan sebaliknya.
  4. Stratifikasi sosial didukung oleh pola-pola kepercayaan tertentu. Dalam hal ini stratifikasi tidaklah bisa bertahan tanpa adanya dukungan kepercayaan bahwa stratidikasi sosial adalah adil. Dimana pola-pola sosial yang telah ada dalam masyarakat cenderung diterima sebagai suatu yang benar dan wajar. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa sistem stratifikasi sosial tidak pernah ditantang. Hingga orang-orang yang kurang beruntung berjuang untuk memperbaiki keadaanya dan orang-orang yang sudah beruntung berusaha untuk mempertahankan statusnya (Bernard, 2016).

Sifat Sistem Stratifikasi Sosial

  • Stratifikasi Terbuka

Sistem stratifikasi terbuka merupakan sistem status yang belaku pada achived-status, dimana kedudukan seseorang dapat diperoleh atas usaha sendiri melalui berbagai cara. Stratifikasi terbuka ini pada umumnya terjadi di dalam masyarakat demokrasi dan memiliki kemudahan dalam melakukan mobilitas. Dalam hal ini masyarakat memiliki kesempatan untuk naik ke lapisan atas dengan usahasnya sendiri dan bagi mereka yang kurang beruntung dapat turun ke lapisan yang lebih rendah (Hermeyliawati, 2016).

  • Stratifikasi Tertutup

Sistem stratifikasi tertutup merupakan sistem status yang berlaku pada ascribed-status, dimana kedudukan seseorang di dalam suatu masyarakat diperoleh karena kelahiran. Salah satu contohnya adalah sistem kasta yang sebagian menerapkan merupakan masyarakat feodal atau dasar stratifikasinya tergantung pada perbedaan rasial. Dalam hal ini mobilitas vertikal sangatlah sulit terjadi karena sifat sistem stratifikasi yang tertutup (Nasdian, 2015, hal. 190-191). Jadi masyarakat tidak memungkinkan untuk pindah dari satu lapisan sosial ke lapisan sosial yang lain, baik itu bergerak ke atas (sosial climbing) maupun ke bawah (sosial sinking).

Bentuk Stratifikasi Sosial

Sistem kasta merupakan sistem stratifikasi sosial yang didasarkan pada keturunan atau sesuatu yang diwariskan. Dimana kemungkinan untuk melakukan mobilitas sangatlah kecil dan setiap masyarakat telah menyadari anak keanggotaanya dalam kasta tertentu. Contohnya seperti sistem kasta di dalam orang-orang Hindu daerah pedalaman India dan sistem apartheid di Afrika Selatan masa lampau.

Dalam sistem ini, perkawinan bersifat endogami yaitu prinsip perkawinan yang mengharuskan orang untuk mencari jodoh di dalam lingkungan kelas sosialnya sendiri. Dengan demikian, apabila wanita dari kasta tinggi menikah dengan laki-laki dari kasta yang lebih rendah maka ia harus turun mengikuti kasta suaminya. Sistem kasta ini juga sangat didukung oleh kepercayaan yang menganggap bahwa apabila kita melaksanakan ketetapan tersebut maka akan mendapatkan pahala dalam kehidupan yang akan datang tetapi jika kita melanggarnya maka akan mendapatkan hukuman. Hal ini juga berlaku dalam sistem apartheid di Afrika Selatan dahulu, dimana perkawinan antara orang kulit putih dan kulit hitam jarang sekali terjadi.

Sistem kelas merupakan sistem stratifikasi sosial yang berdasarkan atas perncapaian atau prestasi seseorang, dimana hal tersebut menjadi sebuah pertimbangan yang sangat penting dalam pengelompokan individu dalam kelompok tertentu. Di dalam sistem kelas ini, untuk membedakan satu kelompok dengan kelompok lainnya tidak terpaku terlalu ketat dan kaku seperti dalam sistem kasta. Hal ini dikarenakan adanya mobilitas sosial yang cukup tinggi dalam masyarakat industri. Mobilitas sosial yang terjadi dalam masyarakat industry sendiri disebabkan oleh beberapa hal, yaitu :

Dampak Stratifikasi Sosial

Dampak negatif :

  • Kesenjangan sosial.

Dengan adanya perbedaan status dalam masyaraat dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan social, hal ini dikarenakan dengan adanya status maka terjadi pula perbedaan hak dan wewenang setiap orang dalam mengakses sumber daya ekonomi. Kesenjangan akan terlihat pada masyarakat kelas atas, kelas sedang, dan kelas bawah dalam hal perekonomian, pendidikan, kesehatan, dll. Masyarakat kelas atas akan mudah dalam mengakses sumber daya ekonomi yang ada namun hal itu berbanding terbalik dengan masyarakat kelas bawah yang hanya memiliki sedikit hak untuk mengakses sumber daya ekonomi yang ada.

  • Konflik social antar kelas.

Perbedaan kelas secara hierarki dan juga perbedaan hak yang diberikan antar kelas yang ada pada masyarakat, lama-kelamaan akan menimbulkan suatu kecemburuan atau rasa iri pada masyarakat kelas bawah kepada kelas atas. Dengan adanya rasa kecemburuan ini dapat menyebabkan konflik antar kelas social dalam masayarakat ini.

  • Perbedaan gaya hidup.

Perbedaan gaya hidup akan terlihat jelas, dimana golongan kelas atas akan memiliki gaya hidup yang mewah, golongan kelas sedang dengan gaya hidupnya yang sederhana, sedangkan kelas bawah dengan gaya hidupnya yang serba kekurangan. Hal ini dapat dilihat dari cara berpakaian mereka, model rumah, makanan, pendidikan, dll.

  • Munculnya Eksklusivitas

Cara pandang yang menganggap diri sendiri sebagai pribadi yang terbaik dan memandang remeh orang lain. Biasanya muncul pada kelas atas.

  • Munculnya Etnosentrisme

Dimana mereka yang berada pada tingkat stratifikasi atas akan menganggap bahwa golongan mereka adalah golongan yang terbaik dan paling unggul dari golongan lain yang tingkat stratifikasinya berada dibawah mereka, sehingga mereka akan menganggap remeh golongan lain juga.

Dampak Positif :

  • Adanya kemaunan dari setiap diri individu untuk berjuang dan bersaing untuk berpindah kasta atau kelas sehingga mendorong semangat mereka untuk berprestasi dan bekerja.
  • Meningkatnya pemerataan pembangungan daerah-daerah yang bertujuan untuk mengatasii kesenjangan social antar daerah.
  • Setiap orang telah memiliki peranan sendiri sehingga sudah sadar akan hak dan kewajibannya sehingga tidak terjadi percampuran peranan social dan terciptanya ketertiban social (Budiyono, 2009).

Contoh Stratifikasi Sosial dalam Masyarakat Indoensia

Bidang Pendidikan

Pendidikan merupakan sebuah usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak sebagai proses pendewasaan. Dengan pendidikan ini seseorang dapat mencari nafkah dan memiliki keterampilan yang dibutuhkan dalam masyarakat. Pada dasarnya melalui pendidikan inilah manusia dapat mencapai tingkat tertinggi dalam status sosial (Suhaeny, 2020).

Di dalam dunia pendidikan stratifikasi sosial tidak berdasarkan pada kekayaan maupun keturunan yang dimiliki. Misalnya dalam perguruan tinggi S1 berada pada kelas sosial rendah, S2 berada pada kelas sosial menengah, dan S3 ada pada kelas sosial atas. Contoh lainnya misalnya dalam susunan organisasi BEM, Presiden dan Wakil Presiden BEM berada dalam kelas atas, Sekretaris dan Bendahara berada dikelas Menengah, dan Menteri perdepartemen berada pada kelas bawah. Sedangkan dalam masyarakat dilihat dari segi pendidikan, orang-orang yang lulusan SD-SMP berada pada kelas bawah, SMA sederajat kelas menengah, dan lulusan Sarjana pada kelas atas.

Kemudian perbedaan kualitas pendidikan juga terlihat jelas di dalam masyarakat pedesaan dan perkotaan. Dimana kualitas sekolah formal dalam masyarakat pedesaan lebih rendah dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini menjadikan arus urbanisasi semakin kuat karena orang tua yang menginginkan pendidikan yang terbaik bagi anaknya rela membayar mahal untuk masa depan mereka.

Stratifikasi sosial dalam dunia pendidikan di Indonesia terlihat dari anak-anak keluarga kaya lebih banyak menikmati fasilitas pendidikan sangat baik. Mereka mendapatkan banyak pengetahuan melalui les privat, bimbel, aneka buku, internet dan sebagainya. Sedangkan anak-anak keluarga miskin hanya bisa belajar dalam sekolah yang memiliki fasilitas umum dan sistem pembelajaran seadanya. Maka dapat dikatakan pendidikan formal juga menjadi penyumbang penyebab dari munculnya stratifikasi sosial dan mempertanjam kesenjangan. Misalnya dapat dilihat dari biaya sekola yang cukup mahal dan diikuti dengan kemerosotan ekonomi masyarakat, semakin menambah pengangguran, ketidakadilan, keresahan sosial, dan memunculkan bebagai konflik (Suhaeny, 2020).