Laporan Hasil Observasi Profesi Kependidikan (Magang I)

[andriarto.blog.uns.ac.id]-Laporan-Hasil-Observasi-Magang-1
Laporan Hasil Observasi Profesi Kependidikan (Magang 1)
Bismillah…

Setelah sekian lama mengesampingkan Blog ini karena deretan tugas yang setiap hari mengantri untuk diselesaikan, akhirnya hari ini diberi kesempatan untuk update postingan lagi. Alhamdulillah.. 🙂

Sebenarnya, niat nulis postingan kali ini dikarenakan berkobarnya lagi semangat nulis setelah mengikuti Acara Sharing Sareng Blogger UNS yang menghadirkan Developer Blog UNS kemarin. Pulang dari acara tersebut, semangat nulis berkobar lagi, tapi sayang tidak segera bisa dilampiaskan pada laptop kesayangan karena harus ngalah sama tugas kuliah 🙁

 

Oke mungkin cukup sesi curhatnya, langusng ke pokok pembahasan. Jadi kali ini saya akan bagikan Contoh Laporan Hasil Observasi pada Mata Kuliah Profesi Kependidikan semester 2 kemarin (tepatnya satu tahun lalu 😀 ).

Magang kependidikan 1 merupakan kegiatan akademik semester 2 mahasiswa S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) yang pelaksanaannya terintegrasi dengan mata kuliah profesi kependidikan berupa kegiatan observasi/wawancara ke sekolah dan guru model untuk memahami kultur sekolah dan empat kompetensi guru, meliputi: kompetensi kepribadian, profesional, sosial dan pedagogik dalam rangka menumbuhkan minat menjadi guru dan sekaligus pembentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai calon guru.

Dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan minat mahasiswa untuk menjadi guru dan mampu menjalankan tugas profesional seorang guru agar nantinya dapat melahirkan para generasi berpendidikan. Nah, setelah melakukan Observasi (Magang 1) nantinya setiap mahasiswa diminta memberikan hasilnya dalam bentuk laporan. Laporannya seperti apa? Ya ini juga mau saya tuliskan 😀 Cermati dan pahami uraian di bawah 🙂

 

 


Anda bisa langsung mengunduh dokumen laporannya dalam format .docx pada link

Laporan Hasil Observasi Profesi Kependidikan (Magang I) ini

 

 

INDIKATOR  PENGAMATAN

Di bawah ini merupakan sebuah instrumen / indikator untuk mengamati Guru Model dalam kegiatan Observasi . Aspek-Aspek yang diamati tersebut adalah :

1. Guru bersikap dan berperilaku sesuai norma yang berlaku.
2. Guru berperilaku yang dapat diteladani peserta didik.
3. Guru menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif, dan berwibawa.
4. Guru menunjukkan tanggung jawab dan etos kerja yang tinggi.
5. Guru bangga dan percaya diri sebagai seorang pendidk.
6. Suka duka menjadi seorang guru.
7. Guru berperilaku jujur, tegas, dan manusiawi.
8. Guru menjalin hubungan baik dengan sejawat, peserta didik, dan orangtua.
9. Guru mampu beradaptasi dengan lingkungan masyarakat.
10. Guru ada usaha meningkatkan kualitas pembelajaran.
11. Guru mengomunikasikan hasil inovasi pembelajaran pada komunitas profesi.

 

HASIL PENGAMATAN

A. Lingkungan Sekolah

1. Profil Sekolah

[andriarto.blog.uns.ac.id]-foto-smpn16surakarta
Gerbang SMP Negeri 16 Surakarta
NAMA SEKOLAH        :  SMP NEGERI 16 SURAKARTA

NPSN                               :  20328097

ALAMAT SEKOLAH    :  Jl. KOLONEL SUTARTO NO.188  JEBRES SURAKARTA

KODE POS                     :  57126

E-Mail                              :  smp16ska@yahoo.co.id

No. Tlp                             :   ( 0271 ) 636960

 

 

2. Profil Guru Model

[andriarto.blog.uns.ac.id]-foto-bpk-shodiq-guru-model
Guru Model – Bapak Shodiq
Data Pribadi    :
Nama  : Shodiq Purnomo, S.Pd
Tempat, Tanggal Lahir : Karanganyar, 17 Juli 1983
Domisili : Dusun Gondang Tempe, RT/RW 02/08 Kel. Karangbangun, Kec. Matesih. Kab. Karanganyar.
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Status : Menikah, 2 putra
Tinggi/Berat Badan : 165cm / 70 kg
Telp. / HP : 082326747070
E-Mail : aldino1707@gmail.com

Riwayat Pendidikan    :
SD : SDN Karangbangun
SMP : SMPN Gemolong
SMA : MTA Surakarta
Perguruan Tinggi : Universitas Sebelas Maret Surakarta (Penkepor’01)
Pengalaman        :
Bermula pada kemampuan yang dimiliki di bidang olahraga, beliau pernah menjadi pemain PERSIS JUNIOR pada ajang Piala Soeratin selama 3 tahun, kemudian di PERSIKAS selama 1 tahun pada Divisi 3. Beliau juga pernah menjadi pelatih sepak bola.
Karir menjadi seorang guru dimulai pada tahun 2005, beliau mengajar di SMP Negeri Gemolong. Dan juga merangkap mengajar di MTA Gemolong, Sragen pada tahun 2009. Pertama kali bertugas sebagai PNS pada tahun 2008 di SMP Negeri 13 Surakarta (setelah sebelumnya lolos tes CPNS pada tahun 2008). Selanjutnya pada tahun 2013 pindah tugas ke SMP Negeri 16 Surakarta hingga sekarang.

 

B. Penilaian Guru Model berdasarkan Indikator Pengamatan

1. Sikap dan Perilaku yang Sesuai Norma

Dalam proses pembelajaran, Pak Shodiq selalu menjaga sikap, baik kepada peserta didik maupun masyarakat sekolah yang lain. Sikap beliau saat mengajar sudah sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungan sekitar. Walaupun dalam kegiatan observasi kali ini kami hanya mengamati beberapa aspek norma (sosial, kesusilaan, kesopanan,dsb) karena keterbatasan waktu dan ruang lingkup untuk mengamati aspek norma yang lebih dalam mengenai pribadi beliau, namun secara umum sikap dan perilaku beliau sudah baik dan sesuai dengan norma yang berlaku. Misalnya ketika beliau mengajar mengenakan seragam lapangan yang rapi dan tidak neko-neko. Contoh lain adalah ketika beliau menyampaikan materi menggunakan bahasa yang komunikatif dan tidak kasar.

2. Perilaku yang Dapat Diteladani Peserta Didik

Saat mengajar, beliau selalu menampilkan sikap yang baik. Beliau tidak pilih kasih terhadap perlakuan baik yang diberikan kepada setiap peserta didik, sehingga peserta didik merasa nyaman dalam proses pembelajaran. Perilaku beliau juga menjadi teladan bagi para peserta didik, misalnya beliau selalu datang ke lapangan tepat waktu bahkan sebelum siswa berkumpul. Beliau juga selalu berpakaian rapi dan sopan sehingga siswa meneladani cara berpakaian beliau.

3. Pribadi yang Dewasa, Arif, dan Berwibawa

Selama proses pembelajaran, Pak Shodiq selalu menampilkan perilaku yang mencerminkan pribadi yang arif dan bijaksana. Terbukti ketika ada salah satu siswa yang tidak membawa seragam olahraga, beliau tetap menyampaikan materi secara adil (termasuk ke siswa yang tidak membawa seragam olahraga tadi), meskipun siswa tersebut diberi konsekuensi untuk selalu dan tetap memperhatikan semua penjelasan yang disampaikan beliau meski dari pinggir/luar lapangan. Namun untuk aspek kedewasaan dan kewibawaaan kami mendapati sebuah kebingungan. Berdasarkan pengamatan kami, beliau adalah pribadi yang (maaf) kurang berwibawa dan kurang dewasa. Hal tersebut terlihat dari bahasa tubuh yang beliau tampilkan kepada peserta didik saat mengajar. Namun di sisi lain kami juga mempertimbangankan mengenai posisi beliau sebagai pengajar di SMP. Seperti kita ketahui bersama bahwa jenjang pendidikan antara SD dan SMP itu masih menggunakan metode  bermain (25%  s/d  50% ). Jadi peran guru sebagai orang tua dan sekaligus teman bermain adalah masih kental.

Jadi menurut kami, sikap beliau yang mungkin kurang berwibawa dan kurang dewasa tersebut adalah sebagai usaha beliau untuk lebih mendekatkan diri kepada peserta didik agar proses pembelajaran lebih bermakna dan berlangsung lancar.

4. Tanggung Jawab dan Etos Kerja yang Tinggi

Terlihat dari suara dan perkataan beliau saat menyampaikan materi, beliau sangat bersemangat di setiap proses pembelajaran yang dilakukan. Hal itu didukung oleh respon para peserta didik yang membuat beliau semakin semangat menyampaiakn detail materi. Semangat dan dukungan dari para peserta didik tersebut yang menciptakan etos kerja yang tinggi pada diri beliau. Di samping itu juga semangat dari peserta didik di setiap pembelajaran membuat beliau semakin terpacu untuk meningkatkan tanggung jawab terhadap materi maupun keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan. Untuk itu lah beliau selalu mengingatkan kepada para siswa agar selalu semangat dalam proses pembelajaran agar beliau juga bisa semakin meningkatkan kualitas pembelajaran.

5. Kebanggaan dan Rasa Percaya Diri sebagai Pendidik

Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara kami kepada beliau, terlihat jelas dari setiap kalimat yang beliau ucapkan menunjukkan kebanggan yang luar biasa beliau terhadap profesinya sebagai pendidik (guru). Beliau juga sempat bercerita mengenai latar belakang beliau hingga membuat kebanggan tersebut begitu kental terlihat. Salah satunya adalah mengenai proses perjuangan beliau saat di bangku perkuliahan, tekanan dan dorongan yang beliau rasakan di bangku perkuliahan melahirkan perasaan kagum yang luar biasa terhadap perjuangan beliau sendiri. Hal itu otomatis memunculkan rasa percaya diri beliau yang terlihat jelas selama proses pembelajaran.

6. Suka dan Duka menjadi Seorang Pendidik

Informasi mengenai aspek yang satu ini kami dapatkan melalui metode wawancara. Beliau sangat antusias ketika menjawab dan menjelaskan mengenai suka dan duka selama menjadi seorang pendidik (guru). Beliau memulai cerita dengan menjelaskan mengenai rasa suka menjadi seorang guru. Menurut beliau, sukanya menjadi seorang guru adalah :

  • Kehidupan sebagai seorang guru begitu dinamis. Manusia adalah benda/makhluk hidup, jadi segala interaksi maupun peristiwa yang beliau alami selalu silih berganti (dinamis). Hal itu lah yang membuat beliau menikmati profesi sebagai guru. Berbeda jika kita bekerja di kantoran yang selalu berinteraksi dengan benda mati (kertas, komputer, dsb) yang terkesan statis dan monoton, meskipun ada saatnya juga berinteraksi dengan manusia, namun menurut beliau tetap membosankan.
  • Masih ada kaitannya dengan poin pertama tadi, menurut beliau kesenangan selanjutnya adalah mengenai peserta didik yang unik. Peserta didik selalu memiliki latar belakang yang berbeda-beda dan unik. Hal itu lah yang membuat beliau semakin tertantang dan menikmati setiap proses interaksi yang terjadi ketika proses pembelajaran.
  • Satu lagi yang membuat beliau merasa begitu enjoy menjalani profesi sebagai guru, yaitu menurut beliau profesi guru adalah profesi yang “memberi”, baik itu memberi ilmu pengetahuan kepada peserta didik maupun memberi/sharing wawasan dan pengalaman kepada rekan seprofesi. Beliau percaya bahwa siapa yang memberi pasti akan menerima. Jadi beliau berharap dengan selalu menikmati proses sebagai guru yang notabene juga selalu memberi, beliau juga menerima berkah dari profesi guru tersebut.
    Meskipun banyak suka yang dirasakan beliau ketika menjadi seorang guru, namun beliau juga merasakan duka ketika menjalani profesi sebagai guru, diantaranya adalah :
  • Saat-saat dimana beliau melihat/mengetahui bahwa siswa didikannya tidak berhasil, nakal dan tidak mau menuruti beliau. Saat seperti itulah beliau merasa sedih dan muncul rasa penyesalan terhadap diri beliau ketika sebelum-sebelumnya gagal atau kurang maksimal dalam proses pembelajaran.
  • Kurangnya atau tidak tersedianya beberapa fasilitas penunjang untuk memaksimalkan proses pembelajaran, seperti alat-alat, lahan, dan bahkan internet yang menurut beliau menghambat proses pengumpulan referensi dan sumber inovasi pembelajaran.

7. Perilaku Jujur, Tegas, dan Manusiawi

Sebenarnya untuk poin ini masih ada kaitannya dengan poin nomor 3. Pada poin tersebut sudah kami sampikan bahwa selama proses pembelajaran, mungkin beliau terlihat kurang berwibawa (dengan beberapa alasan yang sudah kami uraikan), sehingga terlihat kurang tegas dalam setiap pembelajaran. Semua kembali lagi kepada persepsi kita masing-masing terhadap penilaian untuk beliau, yang pasti meskipun kurang begitu tegas dalam pembelajaran, tidak mengurangi rasa hormat para peserta didik terhadap beliau yang ditandai dengan tetap fokusnya siswa terhadap perkataan beliau dan antusias dalam mendengarkan penjelasan beliau.

8. Hubungan Baik dengan Sejawat, Peserta Didik, dan Orangtua

Masih sedikit menyinggung mengenai poin nomor 3, bahwa dalam proses pembelajaran beliau terlihat kurang berwibawa dan tegas. Namun demikian semua itu beliau korbankan untuk mencapai satu tujuan, yaitu lebih mendekatkan diri dan mengakrabkan diri kepada para peserta didik. Untuk hal ini beliau sangat menguasai keadaan siswa, beliau terlihat begitu akrab dan dekat dengan setiap siswa. Tak jarang beliau juga mengajak siswa mengobrol dan bercanda di tengah-tengah  proses pembelajaran. Ternyata sikap friendly beliau tidak hanya kepada para siswa, namun juga kepada rekan seprofesi yang ada di lingkunga sekolah. Saat proses pembelajaran, beliau sering menyapa setiap guru lain yang hanya sekedar lewat ataupun saling bertegur sapa. Hal tersebut menciptakan suasana yang harmonis antar subjek yang ada di lingkungan sekolah tersebut.

9. Adaptasi dengan Lingkungan Masyarakat

Untuk masalah adaptasi, beliau mengatakan bahwa semua hal pasti membutuhkan adaptasi. Sama seperti beliau ketika awal mengenal lingkungan SMP N 16 Surakarta. Dan pada kesempatan itu beliau sempat membagikan tips agar bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Tips tersebut sudah beliau terapkan hingga sekarang dan berhasil , menurut beliau, sebuah adaptasi tidak bisa lepas dari faktor-faktor lingkungan terkait, entah itu berupa benda hidup, benda mati ataupun yang lainnya. Kesemuanya perlu diperhatikan dan dipahami jika kita ingin berhasil dalam beradaptasi. Salah satu caranya adalah dengan mempersiapkan dengan matang semua aspek (baik aspek yang menyangkut diri sendiri, lingkungan, orang lain, ataupun benda-benda mati). Sebuah adaptasi membutuhkan kesiapan dari dalam diri kita masing-masing, jadi yang ada di dalam diri kita harus benar-benar siap dulu untuk beradaptasi, baru kemudian kita bisa menyiapkan materi yang berkaitan dengan adaptasi itu sendiri. Yang tak kalah pentingnya adalah ketika kita sudah melakanakan dua tahap tersebut, yang terkahir adalah mengkomunikasikan semua yang kita rasakan dan alami kepada semua subjek yang terlibat dalam proses adaptasi tersebut, tujuannya adalah agar proses adaptasi yang kita lalui cepat mendapat feedback dari subjek-subjek lain yang juga terlibat dari proses adaptasi tersebut.

10. Usaha Peningkatan Kualitas Pembelajaran

Kualitas pembelajaran merupakan masalah klasik dari setiap subjek pendidik. Bahkan hampir di setiap sektor pendidikan menjumpai permasalahan mengenai kualitas pembelajaran. Namun yang terpenting adalah seberapa besar seorang pendidik mengambil peran dalam peningkatan kualitas pembelajaran tersebut. Untuk kasus di SMP N 16 Surakarta sendiri Pak Shodiq menyampaikan bahwa di sekolah tersebut masih dijumpai metode-metode pengajaran yang masih klasik dan kurang efektif. Misalnya adalah guru terlalu bergantung kepada alat-alat atau fasilitas yang sudah tersedia di sekolah tersebut tanpa ada keinginan untuk menambah atau mungkin memodifikasi metode tersebut. Beliau sendiri menyampaikan jika selama ini alat-alat penunjang pembelajaran olahraga di sekolah tersebut masih kurang, jadi beliau selalu mengasah inovasi mengenai modifikasi alat-alat pembelajaran agar proses pembelajaran semakin aktif, menarik dan menyenangkan. Contohnya adalah membuat cakram dari selang melingkar dan di tutup selotip, membuat lembing dari paralon, dsb. Semuanya beliau lakukan demi meningkatkan kualitas dari proses maupun metode pembelajaran di SMP N 16 Surakarta.

11. Komunikasi Mengani Hasil Inovasi Pembelajaran

Seperti yang telah disinggung pada poin sebelumnya, bahwa beliau selalu berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah tersebut dengan cara memodifikasi dan membuat alat-alat penunjang pembelajaran. Namun dibalik usaha beliau tersebut pasti ada sosok yang ikut serta membantu dalam kelancaran usaha tersebut. Dalam hal ini adalah rekan seprofesi beliau, bahkan para mahasiswa magang dari luar. Beliau selalu mengkomunikasikan (atau lebih tepatnya mendiskusikan) mengenai rencana dan ide beliau untuk memodifikasi alat-alat pembelajaran kepada rekan guru dan terkadang juga kepada mahasiswa magang yang sesekali magang di sekolah tersebut. Semua ide dan inovasi yang beliau rencanakan selalu meminta saran dan pendapat dari rekan seprofesi beliau. Terkadang beliau juga mendapatkan inspirasi untuk memodifikasi alat dari guru mata pelajaran lain. Kata beliau, yang terpenting adalah kemauan kita untuk sharing dan rajin berkonsultasi kepada rekan seprofesi agar tercipta peningkatan kualitas pembelajaran.

PENUTUP

SIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan kami di SMP Negeri 16 Surakarta yang kami uraikan di atas, dapat kami simpulkan bahwa kegiatan observasi yang kami lakukan di SMP Negeri 16 Surakarta berjalan lancar dan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Meskipun di beberapa kunjungan kami tidak bisa lengkap berempat, namun tugas masing-masing dari kami telah terlaksana dengan baik. Hal tersebut sejalan dengan selesainya penyusunan laporan ini dengan baik dan tepat waktu, sehingga memudahkan kami dalam mepresentasikannya nanti.

Mengenai hasil observasi guru model yang kami amati berdasarkan indikator pengamatan, beliau merupakan sosok pendidik (guru) yang berkompeten. Meskipun di beberapa aspek beliau menunjukkan sedikit kekurangan , namun tujuan beliau tetap  demi kemajuan pendidikan. Beliau mampu menjalankan tugas profesional guru dengan beberapa keterampilan yang beliau miliki serta mampu selalu berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran penjasorkes pada khususnya dan pendidikan indonesia pada umumnya.

 

SARAN

Sejalan dengan simpulan di atas, maka dapat dirumuskan saran – saran sebagai berikut :

  1. Bagi semua penulis yang akan melakukan kegiatan observasi selanjutnya, cobalah lakukan observasi lebih mendalam dan mendetail guna memperoleh informasi yang lebih akurat. Usahakan tetap menggunakan metode pengamatan dan wawancara.
  2. Bagi guru model,selalu tingkatkan kualitas metode pembelajaran.Semoga laporan ini bisa menjadi bahan referensi untuk meningkatkan kualitas mengajar.
  3. Bagi semua masyarakat pendidikan , khususnya para orang tua, diharapkan dapat berperan aktif memantau kondisi anaknya untuk membantu peran guru.

 

LAMPIRAN

[andriarto.blog.uns.ac.id]-lampiran-foto2-observasi-magang-1
Pemanasan dipimpin oleh salah satu siswa
[andriarto.blog.uns.ac.id]-lampiran-foto-observasi-magang-1
Mahasiswa observer bersama guru model dan beberapa siswa
 

 

 

 

 

 

 

 

SELESAI…

Oke, mungkin sampai disitu uraian mengenai Laporan Hasil Observasi Profesi Kependidikan (Magang 1). Jika kurang rapi dan jelas, Anda bisa langsung mengunduh file lengkapnya dalam format .docx pada link :

Laporan Hasil Observasi Profesi Kependidikan (Magang I) ini

Terimakasih atas waktu dan perhatiannya telah membaca postingan saya kali ini (yang lumayan agak absurd 😀 ). Semoga bisa Anda manfaatkan atau sekadar sebagai sumber referensi dalam penyusunan laporan. Mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan maupun pemahaman. Semoga bermanfaat , syukron 🙂

6 Comments

  1. Liberto Amin

    Ahahah emg tantangan sendiri yahh jadi guru kluu muridnya bedabeda gitu dan unik sifatnya, tapi kluu agan ngajar ane jatohnya bukan unik.. *cenderung ke aneh sih ahahaha 😀

    Reply
  2. Anonymous

    Wah…saya bisa belajar sama ahlinya nih biar semangat nulisnya on terus 🙂
    Ada byk kisah disekitar kita, nmn kadang wkt utk menuangkannya itu yg mesti dicari hihihi.

    Reply
    • Irfan Andriarto

      Dan yang pasti ahlinya bukan saya 😀
      Memang selalu waktu yang menjadi kendala kak, saya masih moody kalau soal posting di blog haha

      Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya ya, lain waktu cantumin nama saja gpp biar saya bisa berkunjung balik hehe

      Reply

Tuliskan pendapat Anda...