The Real “Guru Penjas” [2/2]

UPDATE! Semua artikel, materi, file download dan konten terbaru blog ini kami upgrade ke situs GuruPenjas.com. Segera cek untuk mendapatkan update materi terbaru!

GuruPenjas.com | GuruPenjas.com | GuruPenjas.com

Guru Penjas Profesional (The Real Guru Penjas)
Guru Penjas Profesional (The Real Guru Penjas)

Bismillah..
Mungkin langsung saja, tulisan kali ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul The Real Guru Penjas [1/2], yang telah saya uraikan sedikit mengenai guru penjas. Dan pada tulisan kali ini akan saya fokuskan pada kriteria dan beberapa langkah agar dapat menjadi guru penjas sejati (The Real Guru Penjas).

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya bahwa guru dalam proses pembelajaran pada suatu lembaga pendidikan berfungsi sebagai mediator dalam penyampaian materi-materi yang diajarkan kepada peserta didik, untuk kemudian ditindaklanjuti oleh peserta didik dalam kehidupan nyata, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Dalam proses pembelajaran ini, untuk menjadi guru yang profesional, selain yang sudah saya singgung di tulisan sebelumnya mengenai prinsip-prinsipnya, hendaknya guru juga memiliki dua kecakapan diri, yaitu capability dan loyality, artinya guru itu harus memiliki kemampuan dalam bidang ilmu yang diajarkannya, memiliki kemampuan teoritik tentang mengajar yang baik, dari mulai perencanaan, implementasi sampai evaluasi dan memiliki loyalitas keguruan, yakni loyal kepada tugas-tugas keguruan yang tidak semata-mata di dalam kelas, tapi sebelum dan sesudah kelas. Pekerjaan guru merupakan profesi atau jabatan yang memerlukan keahlian khusus.

Seperti yang telah saya singgung pada tulisan sebelumnya bahwa resiko masalah yang dihadapi Guru Pendidikan Jasmani mengenai profesionalisme lebih tinggi daripada guru mata pelajaran lain. Hal itu bisa terjadi karena tugas Guru Penjas jauh lebih kompleks dibandingkan guru mata pelajaran lain. Tugas profesi guru penjas meliputi: mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan kepada anak didik. Sementara tugas sosial guru penjas tidak hanya terbatas pada masyarakat saja, akan tetapi lebih jauh guru penjas adalah orang yang diharapkan mampu mencerdaskan bangsa dan mempersiapkan manusia-manusia yang cerdas, terampil dan beradab yang akan membangun masa depan bangsa dan negara. Semakin akurat para guru penjas melaksanakan fungsinya, semakin terjamin tercipta dan terbinanya sumber daya manusia yang andal dalam melakukan pembangunan bangsa.

Seperti itulah guru profesional yang sesuai dengan makna kata ‘profesi’ yang melekat pada guru penjas sebenarnya. Untuk lebih memahami masalah pergeseran makna kata ‘profesi’ yang akhir-akhir ini sering terjadi di kalangan Guru Pendidikan Jasmani, berikut saya tuliskan sedikit ilustrasi mengenai masalah yang sering dijumpai oleh guru penjas. Ilustrasi ini berdasarkan fakta yang benar-benar terjadi dan sering saya jumpai di sekolah-sekolah dasar/menengah.

“ Suatu ketika satu minggu menjelang kompetisi atletik, seorang Guru Pendidikan Jasmani diminta untuk memilih salah satu siswa di salah satu sekolah dasar untuk menjadi peserta lomba lari, saat itu guru tersebut dihadapkan hanya ada dua pilihan kandidat, yaitu :

1.    Seorang siswa yang mempunyai bakat dalam hal berlari (kecepatan dan daya tahan) namun anak itu terkenal nakal di kelasnya. Dan apabila guru penjas tersebut mampu membawa siswa tersebut memenangkan lomba lari, maka guru penjas tersebut mendapatkan bonus Rp 15 juta.
2.    Seorang siswa yang tidak mempunyai bakat dalam hal berlari ataupun olahraga lainnya, anak itu terkenal pendiam dan suka menyendiri. Dan apabila guru penjas tersebut mampu membawa siswa tersebut memenangkan lomba lari, maka guru penjas tersebut mendapatkan bonus Rp 6 juta. “

Dari ilustrasi di atas, kebanyakan guru penjas akan memilih kandidat pertama. Itu sudah terbukti dari fakta di lapangan yang terjadi di sekolah-sekolah karena dilihat dari waktu kompetisi dan bonus yang mengikutinya. Namun pernahkan kita berfikir, bahwa berdasarkan filosofi dasar pendidikan jasmani bahwa pendidikan jasmani adalah proses pendidikan tentang dan melalui aktivitas jasmani, permainan atau olahraga yang terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan. Jadi objek utamnya di sini adalah tujuan pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU Sisdiknas), bukan kemenangan dan finansial yang dijadikan orientasi guru penjas dalam memilih dan mendidik siswanya. Guru penjas juga harus memahami, bahwa gerak sebagai kebutuhan anak. Gerak adalah rangsangan utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Lewat gerak, anak belajar.

Jadi sebagai guru penjas yang profesional dan memahami filsafat pendidikan jasmani, harusnya guru tersebut memilih kandidat kedua, karena anak tersebut terkenal pendiam sehingga sangat membutuhkan peran pendidikan jasmani untuk membangun karakternya. Gerak juga adalah alat ekspresi, jadi lewat gerak anak dapat mengekspresikan segala yang ada pada hati dan pikirannya, dengan guru penjas tersebut memilih kandidat kedua, anak yang pendiam tersebut dengan sedikit polesan pendidikan jasmani maka akan mampu mengekspresikan kegundahan yang selama ini dipendamnya, anak juga akan menemukan hal baru yang akan membuatnya lebih memahami betapa pentingnya bergerak, dan hal itu otomatis akan menumbuhkan karakter ulet dalam diri anak. Itulah yang dimaksud mencerdaskan dan mengembangkan manusia seutuhnya.

Jadi apabila guru penjas telah memahami filsafat penjas secara komprehensif, maka tidak akan terjadi masalah-masalah yang menyangkut keprofesionalan profesi guru. Tidak akan ada lagi senjata “well paid” yang menjadikan mind set guru penjas menyimpang dari prinsip-prinsip profesionalisme profesi. Ketika seorang guru telah terdidik dan terlatih dengan baik, tentu ada penghargaan yang baik pula dalam bentuk materi. Namun bukan berarti penghargaan materi tersebut menjadi orientasi utama guru penjas dalam melaksanakan tugasnya. Usaha preventif agar mind set guru penjas tidak terkontaminasi dengan imbalan materil adalah dengan mengoptimalkan istilah ‘imbalan’ / ‘well paid’ tersebut. Imbalan tidak melulu dengan uang/materi, imbalan yang paling tepat menurut saya adalah imbalan non-materil, yaitu berupa pujian atau publikasi mengenai profesionalisme guru tersebut di depan publik, dapat juga berupa promosi atau hal-hal yang pada intinya membuat guru penjas tersebut bangga atas profesionalisme yang dilakukannya dan harapannya mampu mempertahankan dan meningkatkan sikap professional sebagai profesi guru penjas. Usaha tersebut bukan berarti melupakan imbalan materil yang memang berhak diterima oleh guru penjas tersebut.

Sampai detik ini harapan dan tekad mewujudkan guru penjas sejati masih berkobar di hati saya. Bantuan dan support dari rekan sesama mahasiswa olahraga maupun mahasiswa pada umumnya selalu saya butuhkan. Untuk rekan calon guru penjas di luar sana, mari kita tunjukkan pada dunia bahwa kita mampu menjadi The Real Guru Penjas !

Terimakasih atas waktu dan perhatian Anda membaca tulisan saya kali ini. Semoga bisa membawa manfaat bagi calon guru pada umumnya dan guru penjas khususnya. Syukron 🙂

26 Comments

  1. Muhammad Adrian

    Sebenarnya dari dulu saya percaya kalau guru penjas memang menjadi kunci utama dalam pengembangan kepribadian peserta didik, namun sering fakta di lapangan selalu berkata lain. Guru penjas merokok, santai-santai, malas-malasan, ahh jadi bikin ilfeel 🙁
    Tapi semoga dengan tulisan ini banyak guru penjas (tepatnya calon guru penjas) tergugah hatinya untuk merubah pola hidup mereka untuk benar-benar menjadi Guru Penjas Sejati. 🙂
    Terimakasih,Mas.
    Salam dari FPOK UPI Bandung 🙂

    Reply
    • Afifaty Chika

      Artikel yang menggugah guru penjas maupun calon guru penjas agar dapat menjadi guru yang lebih baik lagi.
      Terima kasih artikelnya. Sanggat membantu

      Reply
    • Irfan Andriarto

      🙂
      Memang ironis sebenernya fakta di luar sana, saya juga sering menjumpai guru penjas yang istilahnya “gak penjas banget” 😀
      Mungkin memang masanya kita yang jadi Agen Perubahan 🙂
      Semangat !
      Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya,Mas 🙂

      Reply
  2. Nanda Rahma A.

    Apakah guru penjas bisa merangkap pekerjaan menjadi atlit, kak? Karena selama ini saya hanya mendengar “Itu guru penjas dulu mantan atlit, lho..” dan tidak pernah mendengar “Eh! Guru penjas itu juga punya profesi jadi atlit”. Apakah di Indonesia ada seseorang yang selain menjadi atlit, juga bersedia untuk mengajarkan ilmunya ke orang lain? Terima kasih sebelumnya 🙂

    Reply
    • Irfan Andriarto

      Jadi begini kak, kalau pertanyaannya ‘bisa atau tidak” jawabannya pasti BISA. 🙂
      Masalahnya, bidang ke-atlet-an itu pada dasarnya bukan wilayah kami (Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi / Guru Penjas), bidang ke-atlet-an itu wilayahnya Pendidikan Kepelatihan yang fokus menangani atlet.
      Jadi kalau kakak pernah denger “Itu guru penjas dulu mantan atlit, lho..” WAJAR
      Karena saat seleksi masuk Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan dulu, kami (mayoritas) adalah atlet di cabang olahraga masing-masing. Jadi apabila ada seorang Guru Penjas yang bilang adalah mantan atlet ya memang benar 🙂
      Tetapi,kalau kakak gak pernah denger “Eh! Guru penjas itu juga punya profesi jadi atlit” itu juga WAJAR 🙂
      Karena Guru Penjas memang ditujukan untuk membagikan ilmunya di wilayah pendidikan (jadi guru),bukan jadi atlet.
      Jadi kalau kakak pengen denger lulusan POK yang nyambi jadi atlet coba tengok di bangku/wilayah PARA PELATIH. Mereka pasti selain melatih juga nyambi jadi atlet. 🙂 Karena memang menangani bidang ke-atlet-an 🙂
      Sementara segitu dulu kak penjelasannya,kalau masih ada yang dibingungkan bisa tulis di kolom komentar lagi kok 🙂
      Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya:)

      Reply
    • Irfan Andriarto

      Nah, itu dia makanya,Mas.
      Sebenernya ,tulisan ini hanya sarana saya dalam instrospeksi diri agar kelak saya ingat apa tujuan awal saya terjun ke dunia penjas.
      Guru penjas saya pun dari SD-SMA juga “kurang nendang“. Maka dari itulah saya ingin memenggal paradigma negatif yang sudah terlanjur mengakar di masyarakat.
      Semoga semangat saya dan rekan-rekan calon guru penjas lain diridhoi-Nya 🙂
      Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya,Mas 🙂

      Reply
  3. Rizal Nurhidayat

    Maaf kak, ada yang mengganjal di pikiran saya dari uraian diatas. Bahwa ‘sebaiknya’ guru penjas memilih kandidat kedua yang notabenya ‘tidak mempunyai bakat’ dalam hal berlari ataupun olahraga lainnya. Sedangkan kandidat yang pertama ‘memiliki bakat’ dalam hal berlari.

    Yang mengganjal adalah, kenapa ‘sebaiknya’ memilih kandidat kedua untuk peserta lomba ‘atletik’? Bukannya setiap peserta lomba menginginkan kemenangan dan pastilah peserta tersebut memiliki bakat, kenapa kandidat pertama yang memiliki bakat malah seakan ‘dikesampingkan’? Saya tidak membahas soal bonus, yang saya bahas adalah bakat.

    Kalau untuk pembelajaran intensif memang ‘sebaiknya’ kandidat kedua, karena lebih membutuhkan olahraga…

    Mungkin itu saja, mohon ditanggapi… Maaf jika saya salah.. 🙂

    Reply
    • Irfan Andriarto

      🙂
      Jadi begini kak, di tulisan ini saya fokuskan pada pembahasan Filsafat Pendidikan Jasmani, untuk uraian mengenai filsafat penjas mungkin lain waktu akan saya post, tapi sederhananya bisa kakak baca di komentar saya yang ini > http://andriarto.blog.uns.ac.id/the-real-guru-penjas-profesional-sejati-2/#comment-721

      Nah jadi kalau dari yang kakak utarakan tersebut memang benar,sebuah kompetisi memang mencari sebuah kemenangan. Dan sangat sayang sekali apabila ada bakat yang disia-siakan,(seperti itu mungkin maksud kakak 🙂 ). Namun,kembali lagi pada pokok bahasan tulisan saya ini mengenai Filsafat Penjas 🙂
      Jadi intinya,kalau orientasi menjadikan siswa seorang juara dalam kompetisi itu adalah tugas seorang pelatih,sedangkan tugas guru (penjas) adalah menjadikan siswa menjadi manusia seutuhnya 🙂 . Tetapi kelak saya akan berusaha menjadi seorang guru yang bisa sekaligus menjadi seorang pelatih tanpa menyekat-nyekatkan wilayah guru dan pelatih 🙂 Mohon maaf sebelumnya karena pada tulisan ini saya baru fokus membahas filsafat penjas ,kak 🙂
      Mungkin sementara itu dulu kak yang bisa saya jelaskan, mohon maaf apabila banyak kesalahan dan kekurangan 🙂
      Terimakasih atas kunjungan dan komentar (masukan) nya 🙂

      Reply
      • Rizal Nurhidayat

        Berarti dapat disimpulkan bahwa untuk mengikuti sebuah perlombaan olahraga sebaiknya memilih yang lebih ‘berbakat’, namun untuk siswa yang kurang bergerak dan berolahraga guru (penjas) wajib memberikan pembelajaran lebih intensif agar siswa tersebut tetap aktif bergerak dan tetap sehat, benar begitu? Maaf jika saya kurang tepat, maklum bidang saya bukan disini… 😀

        Reply
  4. Bos Informasi

    Tidak semua Guru Penjas akan memberikan dedikasi seperti uraian diatas. Contohnya aja ditempat saya sekolah SMP dulu. Guru penjasnya gemuk sekali. Apa yang mau diajarkan kepada murit kalau begitu caranya. Dia hanya duduk dikursi, jongkok sudah tidak bisa. Halah kurang maknyos pokoknya. Jadi ya kesimpulan ane tidak semua guru bukan hanya penjas tapi juga yang lain sama saja. Keliatan bagus karena jabatannya namun dedikasinya lemah. Memang terkadang ada guru yang baik. Kalau dipilih ya 1 diantara 100 guru. Gimana sob?

    Reply
    • Irfan Andriarto

      🙂
      Mohon maaf sebelumnya, saya masih belum paham dengan pertanyaan Anda “Gimana sob” maksudnya apa? Karena yang Anda tuliskan di komentar Anda sudah ter-cover di tulisan saya di atas, jadi saya bingung pertanyaan Anda maksudnya apa? 🙂
      Saya yakin Anda belum membaca tulisan saya sepenuhnya 🙂
      Bisa Anda baca bagian pertama di tautan ini > http://andriarto.blog.uns.ac.id/the-real-guru-penjas-profesional-sejati/

      Jadi agar tidak setengah-setengah nangkep nya 🙂
      Setelah Anda baca tulisan saya sepenuhnya pasti Anda paham kok maksud saya 🙂
      Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya 🙂

      Reply
  5. Laturangga

    menurut ane menjadi guru penjas memang susah – susah gampang gan. susahnya itu ketika harus menyuruh murid yang sedang bermalas – malasan untuk bergerak. hehehe

    Reply
  6. Fahmi Hikam

    Terima Kasih.. Mas
    Kalo Boleh saya izin save artikel ini. Karena artikel ini sangat bermanfaat untuk saya sebagai calon guru penjas..
    Salam dari Jurusan PJKR ( STKIP PASUNDAN Bandung)
    Hatur Nuhun 🙏

    Reply

Tuliskan pendapat Anda...