Activity

  • Claudia Mulyawan posted an update 4 months, 2 weeks ago

    Menjaga Toleransi Keberagaman dalam Pemilihan Gubernur Jawa Tengah pada Rangkaian Pilkada Serentak 2018

    1. Pendahuluan
    Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) serentak merupakan sebuah pesta demokrasi demokrasi daerah yang diadakan di beberapa daerah secara serentak di Indonesia. Pilkada serentak merupakan pesta demokrasi akbar, karena pada pilkada serentak masyarakat di beberapa daerah dapat memilih pemimpin yang berkualitas. Tentunya di dalam setiap pemilihan kepala daerah, masyarakat berharap bahwa kepala daerah yang memenangkan pemilihan tersebut dapat memimpin daerah menuju kepada pembangunan yang lebih baik.
    Pilkada serentak ini pertama kali diadakan pada tanggal 9 Desember 2015, dimana pilkada serentak ini diadakan di beberapa kabupaten, kota, dan provinsi. Salah satu kota yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) pada tanggal tersebut adalah Kota Surakarta dimana pada pemilihan tersebut dimenangkan oleh calon petahana yaitu Walikota F.X Hadi Rudyatmo.
    Masalah yang menyangkut dengan keberagaman dalam pilkada serentak pertama kali muncul di dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2017, dimana Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta masuk di dalam rangkaian Pilkada Serentak Tahun 2017 pada tanggal 15 Februari 2017. Masalah ini pertama kali muncul dimana Gubernur DKI Jakarta sebelumnya yaitu Basuki Tjahaja Purnama dianggap melakukan penistaan agama dengan menghimbau masyarakat untuk jangan “dibohongi” dengan salah satu ayat yang ada di dalam kitab suci Al – Qur’an.
    Masyarakat yang tidak terima dengan himbauan beliau lalu melakukan beberapa kali demonstrasi dan juga kampanye – kampanye di sosial media untuk ‘tidak mendukung penista agama di dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017’. Sedangkan, pendukung dari calon petahana sendiri juga melontarkan balasan terhadap kampanye tersebut. Maka dari itu, pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur menjadi ‘panas’ dengan adanya hal tersebut.
    Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di Provinsi DKI Jakarta juga diperparah dengan pendukung dari pasangan yang bertarung dalam pemilihan tersebut, dimana salah satu pendukung dari pasangan calon yang mengikuti pemilihan tersebut mulai membawa isu yang berkaitan dengan SARA (Suku, Ras, dan Agama) yang dilontarkan kepada pendukung pasangan calon yang lainnya yang mayoritas dilakukan di sosial media. Akhirnya isu tersebut menyebabkan perpecahan di antara masyarakat yang berasal dari etnis dan golongan tertentu, dan masih berlanjut sampai sekarang mengingat kedua kubu masih terus bertarung di dalam mendukung pasangan calon di dalam Pemilihan Presiden Tahun 2019.
    Pada Tahun 2018, Pemilihan Kepala Daerah serentak Tahun 2018 akan diadakan pada tanggal 27 Juni 2018. Pemilihan ini juga akan diikuti oleh beberapa Kabupaten, Kota, dan Provinsi di Indonesia. Salah satu provinsi yang mengikuti Pilkada Serentak pada tahun 2018 adalah Provinsi Jawa Tengah. Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi besar di Pulau Jawa. Tentunya Provinsi ini juga memiliki keberagaman etnis dan suku bangsa yang ada di dalamnya.
    Selama masa kampaye Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah pada tahun 2018, sangat jarang ditemukan isu – isu SARA yang berpotensi untuk menimbulkan perpecahan di dalam masyarakat Jawa Tengah. Pendukung masing – maing pasangan calon juga tidak melontarkan isu – isu SARA yang dapat berpotensi untuk memecah golongan masyarakat Provinsi Jawa Tengah yang mempunyai pandangan politik yang berbeda.

    2. Pembahasan
    Pada pilkada Jawa Tengah, salah satu faktor yang tidak dapat dipungkiri di dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Jawa Tengah adalah perbedaan etnis dan agama dari pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang mengikuti pemilihan. Sedangkan untuk di Provinsi DKI Jakarta sendiri, ada salah satu pasangan calon yang berasal dari etnis dan agama minoritas sehingga isu tersebut menjadi salah satu isu yang selalu dibawa di dalam kampanye hitam yang dilakukan oleh salah satu pasangan calon. Padahal di dalam melakukan proses kampanye, isu SARA merupakan isu sensitive yang tidak etis untuk dibawa di dalam berkampanye.
    Faktor kedua yang menjadi salah satu pelaksaan kampanye serentak yang tidak menimbulkan perpecahan di tengah – tengah masyarakat Jawa Tengah adalah belajar dari pengalaman. Masyarakat Jawa Tengah tentunya mengikuti perkembangan politik yang terjadi di Indonesia, khususnya yang terjadi selama pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta. Pelaksanaan Pilkada Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu Pilkada yang mendapatkan perhatian publik yang besar di seluruh Indonesia karena status Provinsi DKI Jakarta yang menjadi ibukota negara sekaligus juga pusat pemerintahan dan ekonomi di Indonesia.
    Masyarakat Jawa Tengah menyadari bahwa kampanye yang dilakukan dengan membawa isu SARA malah justru membawa dampak negatif pada masyarakat, yaitu perpecahan antara golongan – golongan masyarakat yang mempunyai perbedaan pandangan politik dan juga etnis. Ini juga menjadi pertimbangan oleh masyarakat Jawa Tengah di dalam melakukan kampanye terhadap salah satu pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur demi menciptakan suasana yang kondusif menjelang pelaksanaan Pilkada Serentak Tahun 2018.
    Di dalam pelaksaan Pilkada Serentak 2018, yang salah satunya Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Jawa Tengah, kita dapat mempelajari bahwa pentingnya menjaga kerukunan antar warga pada penyelengaraan pesta demokrasi adalah hal yang penting di dalam berdemokrasi yang sehat di dalam masyarakat. Demokrasi yang sehat merupakan hal yang dapat berpengaruh di dalam kehidupan masyarakat, bahkan sampai pelaksanaan pilkada serentak berakhir dan pemenang dari pemilihan kepala daerah di beberapa provinsi telah ditentukan.
    Menjaga kerukunan antar masyarakat juga merupakan salah satu upaya penghayatan nilai – nilai Pancasila yang terkandung pada sila ketiga yaitu sila ‘Persatuan Indonesia’. Indonesia merupakan negara demokrasi yang terdiri dari berbagai macam suku, budaya, dan agama yang bermacam – macam. Hal tersebut seharusnya tidak boleh dilupakan oleh masyarakat Indonesia di dalam melakukan partisipasi politik.
    Menjaga kerukunan di dalam pelaksanaan partisipasi politik dan pesta demokrasi juga menjadi salah satu media kampanye bagi masyarakat umum. Bagi masyarakat yang tidak ikut menjadi salah satu simpatisan pasangan calon yang bertarung di dalam pemilihan, isu – isu yang menyinggung SARA akan menyebabkan kepercayaan masyarakat kepada salah satu calon atau bahkan penyelengaraan pemilihan itu sendiri akan turun, sehingga masyarakat akan lebih memilih untuk tidak berpartisipasi sama sekali di dalam Pilkada serentak. Jika di dalam suatu pesta demokrasi tetap menjaga kerukunan, maka kepercayaan masyarakat tidak akan berkurang dan mungkin masih ingin berpartisipasi dalam kegiatan Pilkada serentak.
    Hal yang paling penting yang harus dimiliki oleh masyarakat di dalam menjaga kerukunan adalah tumbuhnya toleransi di antara masyarakat. Tumbuhnya toleransi di antara masyarakat sangatlah penting karena di dalam kehidupan sosial, masyarakat dihadapkan dengan orang – orang yang berasal dari latar belakang yang bermacam – macam. Sikap toleran merupakan salah satu hal yang wajib ditumbuhkan di tengah – tengah lingkungan masyarakat sejak awal.
    Menjaga toleransi merupakan salah satu hal yang juga harus diingat oleh para simpatisan politik dan juga calon – calon kepala daerah yang akan bertarung di dalam Pilkada serentak tahun 2018. Mereka harus memahami bahwa masyarakat yang akan memilih mereka tentunya berasal dari latar belakang yang berbeda – beda dan bukan hanya dari golongan tertentu saja. Mereka juga harus dapat memahami bahwa keberagaman yang ada di tengah – tengah masyarakat juga membantu daerah yang akan dipimpinnya menjadi lebih dinamis dan juga majemuk. Sehingga, hal tersebut juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan oleh setiap calon dan simpatisan politik.
    Calon – calon kepala daerah yang bertarung dan para pendukung pasangan calon juga harus dapat merangkul setiap lapisan masyarakat dari berbagai golongan yang ada di daerah pemilihannya. Merangkul setiap golongan masyarakat menjadi hal yang paling penting dilakukan untuk menggalang pendukung dan suara dari masyarakat. Para calon sebaiknya juga terjun langsung ke masyarakat di berbagai komunitas dan golongan masyarakat dan mendengar aspirasi dari berbagai golongan masyarakat untuk mengetahui permasalahan apa yang terjadi di berbagai lingkungan di tengah – tengah masyarakat, bukan hanya terjun ke lingkungan masyarakat ekonomi menengah ke bawah saja.
    Merangkul masyarakat dari setiap golongan merupakan salah satu cara yang mungkin cukup efektif di dalam melakukan kampanye. Merangkul setiap golongan di dalam masyarakat menjadi salah satu cara yang dapat menarik simpati dari masyarakat umum dan juga dapat memberikan presepsi yang baik mengenai pasangan calon tersebut. Hal ini juga menjadi salah satu hal yang wajib diperhatikan oleh pasangan calon dan pendukungnya di dalam melakukan aktifitas kampanye politik pada pemilihan pilkada serentak.
    Satu lagi yang menjadi hal yang paling penting adalah pasangan calon kepala daerah yang seharusnya memperingatkan para pendukungnya untuk menciptakan suasana kampanye yang kondusif, sehat, dan tetap menjaga kerukunan di tengah – tengah masyarakat yang beragam. Pasangan calon kepala daerah sebagai calon yang didukung harus memberikan arahan kepada pendukungnya sebelum melakukan kampanye, terutama arahan kepada pendukungnya untuk tetap menjaga kerukunan dan toleransi keberagaman untuk menciptakan suasana pesta demokrasi yang berjalan lancar dan kondusif. Ini menjadi kewajiban untuk setip pasangan calon yang akan bertarung di dalam Pilkada serentak, khususnya di dalam Pilkada Provinsi Jawa Tengah tahun 2018.
    3. Kesimpulan
    Pilkada serentak merupakan salah satu pesta demokrasi akbar di Indonesia karena pilkada serentak dilaksanakan di beberapa kabupaten, kota, dan provinsi yang ada di Indonesia. Salah satu rangkaian pada pilkada serentak kali ini adalah Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2018.
    Menjaga kerukunan di tengah – tengah masyarakat merupakan hal yang sangat penting di dalam pelaksanaan pilkada serentak untuk menciptakan suasana yang kondusif. Selain itu juga, menjaga kerukunan di tengah – tengah masyarakat juga menjadi salah satu hal yang penting di dalam menciptakan iklim demokrasi yang sehat dan menghindari perpecahan di tengah – tengah masyarakat.
    Hal yang paling penting di dalam menjaga kerukunan di tengah – tengah masyarakat adalah membangun toleransi keberagaman di tengah – tengah masyarakat. Membangun toleransi beragam di tengah masyarakat merupakan salah satu hal yang harus menjadi perhatian setiap pihak, khususnya pasangan calon yang bertarung pada pilkada serentak dan juga para simpatisan calon, untuk menciptakan suasana yang kondusif yang akan berpengaruh pada persepsi masyarakat untuk berpartisipasi di dalam perhelatan pilkada serentak tahun 2018.
    Ke depannya, semoga perhelatan pilkada serentak pada tanggal 27 Juni 2018, khususnya di Provinsi Jawa Tengah, dapat berjalan dengan kondusif dan tanpa ada perpecahan yang berkepanjangan antar golongan masyarakat.

    Kata kunci : Pilkada, Kerukunan, Toleransi