Tips Investasi Saham Syariah untuk Pemula

Sobat, meskipun masih muda, mungkin ada yang sudah memiliki kelebihan penghasilan. Selain disimpan dalam bentuk tabungan, kelebihan penghasilan juga bisa dikembangkan dalam bentuk investasi. Salah satunya investasi saham. Nah, untuk pemula bagaimana kah tipsnya?

Sebelumnya, FYI, saham syariah merupakan surat berharga bukti penyertaan modal atas suatu perusahaan dengan sistem bagi hasil, karena itu tidak bertentangan dengan syariah Islam. Saham tersebut juga harus dikeluarkan oeh perusahaan yang bergerak di bidang usaha yang halal.

Meskipun nilai keuntungan yang akan diperoleh nasabah bersifat fluktuatif atau naik-turun mengikuti performa perusahaannya, namun pembagian porsi dari untung yang akan didapat ataupun risiko yang akan ditanggung oleh investor dan emiten (misalnya 60% untuk investor dan 40% untuk emiten) telah disepakati di awal melalui janji akad. Kondisi tersebut memang berbeda dengan saham konvensional yang menerapkan sistem bunga tetap sehingga dapat memberikan nilai keuntungan yang lebih stabil bagi investor karena tak terpengaruh oleh performa emiten.

Dari tampilan fisik, tak ada perbedaan antara jenis saham syariah dan konvensional. Namun, saham dapat dikategorikan halal jika diterbitkan oleh emiten yang bergerak di bidang usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah, misalnya bukan perusahaan minuman keras atau rokok. Karena itu, dari sekitar 400 jenis saham yang beredar di Bursa Efek Jakarta, hanya sekitar 270 saham yang dinyatakan tidak bertentangan degan syariah Islam berdasarkan hasil seleksi Bapepam. Daftar nama emiten yang tergolong syariah tercantum di Daftar Efek Syariah atau DES. Investor syariah hanya diperbolehkan menaruh dananya pada perusahaan yang terdaftar dalam DES. Dengan begitu, pilihan saham yang tersedia bagi para investor syariah memang lebih terbatas.

Berikut beberapa tips berinvestasi saham yang sesuai syariah untuk pemula.

1. Memahami seluk beluk seputar saham

Sebelum memutuskan menanamkan investasi, sebaiknya kenali dulu seluk-beluk seputar saham. Jadi, sudah punya pegangan saham apa yang akan dibeli dan bagaimana mengawasinya. Tahap membantu proses belajar ini, bisa lebih dulu berinvestasi reksa dana syariah. Lewat investasi reksa dana syariah, kita bisa bertanya-tanya tentang dunia investasi, khususnya saham, kepada manajer investasi.

Baca Juga: Mengenal Kripto dan Legalitasnya

2. Memastikan uang yang akan diinvestasikan

Saat akan menginvestasikan uang untuk saham, harus dipastikan bahwa uang yang akan digunakan adalah uang untuk investasi, bukan yang lain. Jangan sampai uang yang dipakai untuk berinvestasi malah mengganggu cash flow yang lain, karena malah bisa menjerumuskan.

3. Menyiapkan uang yang akan diinvestasikan

Modal awal untuk investasi di saham syariah tidak terlalu besar. Banyak saham syariah yang punya nilai minimal 5-10 juta saja. Tips bagi yang hanya punya sedikit uang, investor bisa membuat kelompok. Misalnya berempat atau berlima, masing-masing iuran 5 juta rupiah, maka terkumpul 20 juta rupiah, dan uang itulah yang digunakan untuk investasi. Jadi, selain bisa sharing resiko, investor juga bisa masuk ke perusahaan efek yang persyaratan minimal uang di atas 20 juta. Setelah siap, bisa melakukan pembukaan rekening efek nasabah, seperti kita membuka rekening tabungan di bank, dengan menyertakan tanda identitas/KTP dan bukti setoran deposit awal.

4. Jangan rakus atau serakah

Saat investor sudah masuk ke pasar saham syariah, jangan rakus atau serakah dalam memainkan strategi investasi. Misalnya, kalau investor sudah patok mau untung 10%, saat sudah naik, maka investor lepas saja. Karena kadang yang terjadi, saat investor mau melepas, lalu mendengar rumor sebentar lagi akan naik harganya, jadi ditahan-tahan. Kalau investor rakus seperti itu, bisa membahayakan diri karena bisa rugi sama sekali. Intinya harus bisa konsisten, kalau sejak awal memutuskan hendak mengambil margin 10%, maka harus konsisten dengan angka tersebut. Kalau pun ternyata nanti harga naik lagi, maka ia bisa membelinya lagi. Pertahankan tujuan, jangan emosional dan serakah, ambil keuntungan yang cukup dan pertumbuhan yang signifikan.

5. Fokus pada saham dari perusahaan berfundamental baik

Ini salah satu kiat penting, yaitu fokus pada saham-saham dari perusahaan dengan fundamental yang kuat serta menunjukkan konsistensi kinerja yang cemerlang dari waktu ke waktu. Fakta menunjukkan, seiring berjalannya waktu dan pergeseran siklus ekonomi, perusahaan-perusahaan dengan fundamental yang kuat akan membukukan kinerja yang menarik, baik dalam hal dividen yang diberikan, maupun imbal hasil berupa capital gain yang akan meningkat. Cirinya perusahaan ini dikenal publik, punya usaha yang jelas, produknya laku di pasaran, tidak banyak utang, manajemen transparan dan sebagainya.

Baca Juga: Dasar dan Prinsip Asuransi Takaful

6. Lakukan diversifikasi

Belilah beberapa jenis saham untuk membagi risiko. Memiliki banyak saham memiliki risiko kerugian lebih kecil dari pada membeli hanya satu jenis saham. Jika satu saham berkinerja turun, kemungkinan saham lain bisa naik. Don’t put all your eggs in one basket.

7. Fokus pada jangka panjang

Pasar saham sangat berisiko dalam jangka pendek karena fluktuatif. Namun, akan lebih aman dalam jangka panjang. Semakin lama investasi, semakin besar tingkat keuntungan. Berdasarkan sejarah pasar saham, terbukti bahwa jika kita investasi berupa saham dalam jangka panjang, maka peluang meraih return sebesar 12,9% ada didepan mata.

8. Lakukan analisis dan review portofolio secara berkala

Bisa setiap 3 bulan sekali, 6 bulan sekali, atau setahun sekali. Jika ada saham yang kurang bagus kinerjanya, misalnya produknya gagal di pasaran, merugi, dan sebagainya bisa diganti dengan saham lain yang lebih baik.

Selamat mencoba berinvestasi, sob.