Skip to content

Bulan: Juni 2021

Adab Ketika Makan Menurut Islam

Islam merupakan agama yang mengatur segala sisi kehidupan, mulai dari hal yang kecil hingga hal yang besar. Di antara perkara yang diatur di dalam syari‟at Islam ialah mengenai adab. Sangat banyak hadis yang menjelaskan mengenai masalah adab. Hal ini menunjukkan bahwa agama Islam juga memperhatikan masalah tersebut. Adab sangat penting. Oleh karena itu seorang suami wajib untuk mengajarkan kepada keluarganya tentang adab serta ilmu agama.

Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar mereka selalu memakan makanan yang halal yang telah Allah rizkikan kepada mereka. Hal ini sebagaimana terkandung dalam QS. Al-Ma‟idah ayat 88. Salah satu cara bersyukur terhadap nikmat makanan yang telah Allah berikan kepada kita ialah dengan memperhatikan dan melaksanakan adab-adab ketika menyantap makanana. Di antara adab ketika makan ialah sebagai berikut:

1. Duduk Saat Makan
Di dalam Islam sangat dianjurkan untuk duduk ketika menyantap hidangan makanan. Duduk yang terbaik saat makan ialah sebagaimana duduk saat duduk di antara dua sujud dalam shalat.

2. Menghindari Makanan yang Masih Panas
Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Janganlah memakan makananhingga telah hilang asapnya.” (HR. Baihaqi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa‟ul Ghalil: 1978)

3. Tidak Meniup Makanan dengan Nafas
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Qatadah, dari ayahnyaِْ, bahwa Nabi melarang bernafas di dalam wadah (makanan).

4. Makan Bersama
Makan bersama merupakan termasuk hal yang dianjurkan oleh Rasulullah. Salah satu yang mendatangkan keberkahan adalah makanbersama. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan, namun tidak pernah merasa kenyang.” Rasulullah bersabda, ”Mungkin kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, ”Ya.”

5. Membaca Basmalah dan Berdoa
Seorang muslim hendaknya sadar bahwa seluruh makanan berasal dari rizqi Allah. Oleh karena itu hendaknya membaca basmalah terlebih dahulu sebelum memulai makan.

6. Makan dan Minum dengan Tangan Kanan
Wajib bagi setiap muslim untuk makan dan minum dengan tangan kanannya.

7. Memulai Makan dari Pingggir Piring
Karena memulai makan dari pinggir dapat mendatangkan keberkahan pada makanan.

8. Membersihkan Jari
Apabila seseorang telah selesai makan, maka hendaknya ia membersihkan jari-jemarinya dengan mulutnya terlebih dahulu sebelum ia mencuci tangannya tersebut.

9. Berdoa Setelah Selesai Makan
Setelah selesai makan disunnahkan untuk membaca doa

Itulah tadi adab ketika menyantap makanan. Hal-hal kecil seperti di atas dapat mendatangkan keberkahan. Semoga bermanfaat.

Adab Bertamu Dalam Islam

Bertamu (datang berkunjung) merupakan hal yang baik apabila dilakukan dengan niat yang baik pula. Kebiasaan saling mengunjungi antar seorang muslim dengan muslim yang lainnya merupakan sarana untuk menguatkan ukhuwah Islamiyyah dan sebagai ajang silaturahmi antar sesama muslim. Dan bila seseorang muslim yang ikhlas di dalam mengunjungi saudaranya karena Allah, maka hal ini akan mendatangkan kebaikan.

Agar kunjungan tersebut sesuai dengan Sunnahd an membawa berkah, maka ada beberapa adab yang perlu diperhatikan bagi seorang muslim ketika akan bertamu ke rumah saudaranya sesama muslim, antara lain :

1. Sebaiknya Tidak Bertamu Pada Waktu-Waktu Aurat
Allah menyebutkan ada tiga waktu aurat yang hendaknya seorang muslim menghindari bertamu pada ketiga waktu tersebut. Namun hal ini masih dapat ditolerir untuk urusan yang mendesak. Tiga waktu aurat tersebut adalah;sebelum Shalat Shubuh, pada waktu istirahat siang, dan sesudah Shalat Isya‟.

2. Disunnahkan Untuk Mengucapkan Salam
Mengucapkan salam kepada sesama muslim secara tidak langsung juga mendoakan keselamatan dan keberkahan kepada muslim tersebut.

3. Hendaknya Tamu yang Meminta Izin Berdiri di Sebelah Kanan atau Kiri Pintu
Hal ini dimaksudkan untuk menjaga pandangan agar tidak melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat dan untuk menjaga dari sesuatu yang pemilik rumah tidak menyukai orang lain melihatnya.

4. Meminta Izin Tidak Lebih dari Tiga Kali
Seorang tamu yang meminta izin untuk masuk menemui tuan rumah maksimal adalah sebanyak tiga kali. Jika ia tidak mendapatkan izin atau tidak ada jawaban dari tuanrumah, maka tamu tersebut sebaiknya kembali pulang.

5. Hendaknya Berjabat Tangan Ketika Bertemu Dengan Tuan Rumah
Berjabat tangan sangatlah positif karena dengan berjabat tangan dapat menggugurkan dosa-dosa.

6. Mendoakan Tuan Rumah Setelah Selesai Makan
Apabila dalam bertamu tersebut tuan rumah memberikan jamuan makan kepada para tamunya, maka dianjurkan kepada para tamu untuk mendoakan tuan rumah setelah mereka selesai menikmati hidangan makanan.

7. Segera Pulang Setelah Selesai Menikmati Hidangan Makan

8. Meminta Izin Ketika Hendak Pulang
Seorang tamu yang masuk dengan izin, maka hendaknya pulangnyapun dengan izin.

Demikian tadi sedikit adab ketika bertamu. Semoga bermanfaat.

Adab Dalam Berdoa

Menurut KBBI, doa adalah permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan. Doa termasuk dalam ibadah. Sebagaimana diriwayatkan dari Nu‟man bin Basyir ia berkata, aku mendengar Nabi berkata, “Doa adalah ibadah.” Oleh karena doa merupakan termasuk ibadah, maka ada beberapa adab yang perlu kita perhatikan dalam berdoa, diantaranya ialah:

1. Ketika Berdoa Dianjurkan Untuk Menghadap Ke Kiblat
Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab, ia berkata;
“Pada waktu hari perang Badar Rasulullah melihat ke arah orang-orang musyrik yang berjumlah seribu orang. Sementara sahabatnya berjumlah 319 orang. Kemudian Nabiyullah amenghadap ke arah Kiblat, lalu membentangkan tangannya dan mulai berdoa (kepada)Rabb-nya. (Beliau mengatakan), “Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”

2. Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
Dianjuran untuk mengangkat tangan pada saat memanjatkan doa-doa.

3. Mengawali Doa Dengan Pujian Kepada Allah dan Shalawat Untuk Nabi
Hendaknya apabila kita memanjatkan doa, kita awali doa tersebut dengan pujian dan shalawat kepada Rasulullah.
”Rasulullah nmendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya, tetapi tidak memuji Allah qdan tidak bershalawat kepadaNabi a. Maka beliau bersabda, ”(Orang) ini telah tergesa-gesa.” Lalu beliau memanggil orang tersebut dan bersabda kepadanya ataukepadayang lainnya, ”Apabilaseorang diantara kalian berdoa, hendaklah ia memulai dengan memuliakan Rabb-nya rdan memuji kepada-Nya. Lalu bershalawat untuk Nabia, kemudian berdoalah sekehendaknya.”

4. Dianjuran Berdoa dengan Suara Lirih

5. Berharap Doanya Akan Dikabulkan

6. Berdoa Pada Waktuyang Mustajab
Diantara waktu yang mustajab untuk berdoa adalah:
a. Sepertiga malam terakhir
b. Ketika sujud c. Antara adzan dan iqamah
d. Ketika (berbuka)puasadan ketika bepergian
e. Ketika turun hujan

Berdoa memiliki nilai ibadah. Karenanya apabila kita memanjatkan doa, otomatis akan mendapat pahala. Doa juga merupakan bukti ketundukan seorang hamda kepada Rabb-nya.

Surat Al Lahab dan Kisahnya

Sudah tahukah engkau kisah tentang Surat Al Lahab? Makna apa yang dapat kita petik dari kisah yang ada dalam surat ini? Mari kita pelajari bersama.

Surat Al Lahab merupakan surat urutan ke-111 di dalam Al-Qur’an. Surat ini terdiri dari 5 ayat dan termasuk golongan surat makkiyyah sebab turun di kota Mekkah. Nama surat ini diambil dari kata Al Lahab pada ayat ketiga yang berarti gejolak api.

Dalam surat ini mengkisahkan bahwa Abu Lahab dan isterinya tidak suka dan menentang Rasulullah SAW. Keduanya akan celaka dan mendapat balasan yang pedih. Seluruh kekayaan Abu Lahab tidak akan berguna untuk keselamatannya dan pula segala usaha-usahanya.

Abu Lahab merupakan keturunan dari suku Quraisy yang memusuhi serta menentang dakwah Rasulullah SAW dalam menyiarkan agama Islam di Makah kala itu. Abu Lahab selalu menghasud pengikut Nabi Muahammad SAW dan seluruh penduduk Mekah agar tidak ikut ajaran Nabi. Ia berusaha semaksimal mungkin dalam menghalangi dakwah nabi.

Istri Abu Lahab juga sama seperti suaminya yakni menghalang-halangi Islam dengan menyebarkan duri-duri di tempat yang akan dilewati Nabi.

Dalam Surat Al Lahab ini terdapat beberapa hikmah yang dapat kita ambil darinya, diantaranya:

1. Surat ini dapat menjadi salah satu bukti dari tanda-tanda kekuasaan Allah.

Ketika Allah menurunkan surat ini, Abu Lahab dan istrinya masih hidup, sementara keduanya telah divonis sebagai orang yang akan disiksa didalam api neraka, yang berarti mereka berdua tidak akan mendapat hidayah. Dan apa yang dikabarkan Allah pasti terjadi.

2. Harta benda tidak ada guna sedikitpun (untuk melindungi) seseorang dari azab Allah ketika ia melakukan perbuatan yang dilarang Allah.
3. Mengganggu orang beriman tidak diperbolehkan.
4. Walaupun ada hubungan saudara tidak bermanfaat sedikitpun hubungan kekerabatan dalam pengadilan akhirat dimana Abu Lahab adalah pamannya Nabi namun ia masuk neraka.

Mudah-mudahan dengan kita mengetahui kandungan surat Al-Lahab ini akan menambah rasa tunduk kita kepada Allah dan menjadi pendorong bagi kita untuk melaksanakan ibadah dengan lebih giat.

Kurangi Mengeluh

Mengeluh atau berkeluh kesah memang sudah menjadi kodrat manusia. Hal-hal yang jadi keluhan orang bisa bermacam macam, semisal tertimpa kesusahan, mendapat sesuatu yang tidak sesuai kenyataan, mendapati kesulitan atau ujian, hidup yang tidak kunjung berubah walau sudah berdoa dan macam macam yang menjadi sebab.

Dalam perkara iman, mengeluh adalah celah untuk menguji ketawakalan kita kepada Allah. Seseorang yang mengeluh mulai kehilangan kepercayaan terhadap apa apa yang digariskan Allah kepadanya. Dia berharap segala sesuatunya adalah sesuai yang menjadi keinginannya lupa kalau sesuatu itu sudah menjadi kekuasaaan dan kehendak Allah. Harusnya dirinya yakin sesuatu yang belum diperoleh itu adalah pilihan Allah yang terbaik karena ada yang mudharat didalamnya, karena kalau memang sudah seizin Allah pasti sesuatunya di mudahkan olehNya.

Kala tertimpa ujian, tidaklah perlu mengeluh karena semua ujian sudah sesuai takaran dimana Allah tidak pernah melebihkan sesuatu yang tidak menjadi kuasanya. Ujian yang datang bisa jadi merupakan ujud kasih sayang Allah agar iman tetap di hati seorang muslim dan ujian adalah cara Allah untuk menaikkan derajat seseorang. Dalam hal ini harus diingat “lebih baik kehilangan sesuatu karena Allah daripada hilangnya Allah karena sesuatu”.

Tetapnya iman harus terpatri didada untuk terus diusahakan dalam setiap hembusan napas, kita tidak tau karena iman itu memang mudah turun naik kadang hilang kadang muncul dan kala menghembuskan nafas terakhir semua muslim berharap bahwa iman masih melekat didada, itulah yang diidam idamkan meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah.

Kala mengeluh dihadapkan pada keadaan susah atau tidak seberuntung orang lain tetapkan pada diri untuk melihat kebawah janganlah melihat keatas. Lihatlah masih banyak orang lain yang tidak seberuntung kita. Kala melihat itu pasti diri kita mudah bersyukur dan apa yang menimpa kita tidaklah seberapa. Pribadi yang bersyukur harus ditanamkan karena biar bagaimanapun nikmat Allah yang diberikan jauh lebih banyak dari kesulitan yang ditimpakan.

Kala seseorang mengeluh juga mudah ditumpahkan kepada orang lain, padahal orang lain juga mempunyai masalah yang sama dan belum tentu dapat menjadikannya solusi dengan menceritakan apa apa yang menjadi keluhannya. Dalam hal ini tidak diperbolehkan seseorang mengeluh kecuali hanya bkepada Allah. Lebih baik kita mengadukan keluh kesah kita dengan meminta dan merengek kepada Allah dan itu adalah bentuk doa hamba dan sudah pasti bernilai pahala.

Bagaimana jalan keluar dari mengeluh, yang jelas dalam Al Quran hanya ada 2 yakni berlakulah sabar dan tunaikan shalat bukan yang lain. Sabar diperlukan seseorang setelah segala ikhtiar yang dilakukan belum sepenuhnya membuahkan hasil dan inshallah kerja keras seseorang inshaallah akan membuahkan hasil yang baik. Shalat juga harus dilakukan dengan khusyuk sehingga seseorang itu mengerti hakekat dirinya sebagai hamba dan Allah sebagai pencipta dirinya yang sudah menetapkan segala sesuatu yang terbaik bagi hambanya yang bertakwa.

Selanjutnya sebagai pribadi yang tidak mudah mengeluh tiada lain harus terus dengan latihan berulang ulang sehingga menjadi sikap dan karakter kita sendiri. Biasakan sejak mulai bangun di pagi hari untuk tidak mengeluh atau bersedih agar dapat menyongsong kehidupan menjadi lebih mudah

Dalam kitab Nashaihul ibad dijelaskan 3 hal yang pantang dilakukan seorang muslim di pagi hari sesuai sabda Nabi Saw :

Siapa yang dipagi harinya mengeluh akan kesulitan hidup maka dia sama dengan mengeluhkan Tuhannya
Siapa yang pada pagi harinya bersedih karena urusan dunia maka dia pagi hari itu telah membenci atas apa yang menjadi ketetapan Tuhannya
Siapa yang merendahkan diri pada orang kaya karena kagum kepada kekayaannya, sungguh telah hilang dua pertiga dari agamanya (ketaatannya)

Semoga kita semua dapat menghilangkan kebiasaan mengeluh dan nenjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur.

Baca juga:
Surah Al Lahab dan Kisah Dibaliknya

Kisah Abu Dujana, Sahabat Nabi yang Ahli Wara’

Ini ada kisah wara dari sahabat Nabi Saw yang telah membuat Nabi Saw menitikkan airmatanya.

Pada zaman Nabi Saw, terdapat seorang sahabat nabi Saw bernama Abu Dujana yang sangat taat ibadah. Dia selalu menjalankan ibadah dengan baik diantaranya shalat shubuh berjamaah. Satu hal yang aneh setiap usai shalat shubuh bersama Nabi, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa oleh Nabi Muhammad ketika selesai salat. Suatu Ketika, Nabi mencoba meminta klarifikasi pada Abu Dujanah ketika bertemu dengannya.

“Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi Muhammad kepada Abu Dujanah.

Abu Dujanah pun menjawab, “Anu Rasulullah, saya punya satu alasan. “Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” Lanjut Nabi Muhammad SAW.

“Begini,” kata Abu Dujanah sambil memulai menceritakan alasannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.”

“Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anak-anakku sering kelaparan, kurang makan. Saya takut saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, Saya bergegas segera pulang sebelum anak-anak terbangun dari tidurnya dan memakannya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya.

Satu saat, kami pernah agak terlambat pulang. saya menemukan anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuannya. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya yang ia pungut di bawah tanah tepat di rumah kami.”

Mengetahui itu, Abu Dujanah pun memasukan jari-jari tangannya ke mulut anaknya itu. dia keluarkan apa pun yang ada di mulut anaknya. Abu Dujanah mengatakan pada anaknya, “Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.” Anakku lalu menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan.

Dia katakan kembali kepada anaknya itu, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak.”

Pandangan mata Nabi Muhammad pun sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya mulai berderai begitu deras.

Nabi Muhammad SAW pun kemudian mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah dalam cerita yang ia sampaikan. Kemudian diketahui bahwa pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki munafik.

Tanpa basa-basi, Nabi memanggil pemilik pohon kurma tersebut untuk bertemunya. Setelah bertemu dengan pemilik pohon Nabi Muhammad lalu mengatakan, “Bisakah jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu?

Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Begitu tawar Nabi Muhammad SAW.

Pria yang dikenal sebagai orang munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.”

Lalu tiba-tiba Abu Bakar As-Shiddiq RA datang. Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya).”

Si munafik berkata kegirangan, “Oke, ya sudah, aku jual.”

Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar menyerahkan pohon kurma yang sudah dibelinya dari laki-laki munafik itu kepada Abu Dujanah.

Nabi Muhammad kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”

Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah.

Setelah Pohon kurmanya di beli oleh Abu Bakar, Si laki-laki munafik inipun pulang dan berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi.

“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu (Abu Dujanah) sedikit pun.”

Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Si munafik itupun keheranan. Kisah ini dari kitab I’anatuth Thâlibîn (Beirut, Lebanon, cet I, 1997, juz 3, halaman 293) karya Abu Bakar bin Muhammad Syathâ ad Dimyatîy (w. 1302 H).

https://muslim.okezone.com/read/2019/06/18/614/2067748/kisah-sahabat-nabi-abu-dujanah-dengan-pohon-kurma

3 Tangisan Yang Istimewa

Menangis merupakan hal yang wajar sebagai perwujudan dari kesedihan. Setelah seseorang menangis terasa ringan beban di hati bila dapat ditumpahkan. Apabila kita menjumpai seseorang yang berada dalam keadaan seperti ini, berilah waktu baginya untuk menangis.

Dalam sudut pandang agama, menangis juga dapat meningkatkan derajat manusia. Ada 3 macam sebab menangis yang tinggi nilainya di mata Allah bila dilakukan sebagaimana disampaikan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib Ra.

Ali bin Abi Talib berkata: Tangisan itu ada 3 macam :

  1. Tangisan karena takut akan azab Allah
  2. Tangisan karena takut murka Allah
  3. Tangisan karena takut akan terputusnya rahmat Allah.

Dalam uraiannya Ali bin Abi Talib menjelaskan bahwa menangis pada sebab pertama adalah akan menghapus dosa-dosa dan faedahnya akan membuahkan keselamatan dari siksa. Selanjutnya menangis karena sebab yang kedua adalah akan mensucikan aib-aib kita dan faedahnya akan membuahkan kenikmatan yang kekal dan derajat yang tinggi.

Sementara menangis karena sebab yang ketiga adalah akan mendekatkan diri pada ridha Allah dan faedahnya akan membuahkan balasan yang baik berupa ridha Nya, kenikmatan untuk dapat melihatNya, dikunjungi para malaikat, serta ditambahkan karunia dan kebaikan.

Dalam hal ini telitilah tangis kita lebih banyak di picu karena hal selain Allah atau sebab karena Allah seperti di ungkapkan oleh Ali bi Abi Talib Ra itu?

Semoga kita termasuk menjadi hamba yang menangis dikarenakan sebab-sebab di atas.

6 Fadhilah Mengerjakan Shalat Dhuha

Shalat Dhuha merupakan shalat sunnah yang memiliki keistimewaan. Shalat ini disunahkan bagi kita untuk mengerjakannya. Waktu dhuha yakni sejak terbitnya matahari hingga menjelang datangnya waktu shalat fardhu dzuhur.

Shalat Dhuha memilikiki beberapa fadhilah yang dapat kita petik. Beberapa diantaranya adalah :

1. Dosanya terampuni.

Orang yang shalat dhuha akan memperoleh ampunan dosa oleh Allah SWT seperti hadist:

“Barang siapa yang selalu mengerjakan shalat Dhuha niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi)

2. Dimasukkan ke dalam golongan orang yang bertaubat

Barang siapa yang mengerjakan shalat Dhuha, maka ia termasuk sebagai orang yang bertobat kepada Allah SWT :

“Tidaklah seseorang selalu mengerjakan shalat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang bertaubat.”(HR Hakim)

3. Tercatat sebagai orang yang taat

Orang yang menunaikan shalat Dhuha akan dicatat sebagai ahli ibadah yang taat kepada Allah.

“Barang siapa yang shalat Dhuha:

  • Dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai.
  • Empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah.
  • Enam rakaat maka dia diselamatkan di hari itu.
  • Delapan rakaat maka Allah menuliskan dia sebagai orang yang taat.
  • Dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan sebuah rumah di syurga untuknya.“ (HR At-Thabrani)

4. Masuk syurga melalui pintu khusus

Siapa yang dapat istiqomah menunaikan shalat Dhuha, kelak ia akan masuk syurga lewat pintu khusus, yaitu pintu dhuha yang telah disediakan Allah.

“Sesungguhnya di dalam syurga terdapat sebuah pintu bernama Dhuha. Apabila kiamat telah tiba maka akan ada suara yang berseru: “Dimanakah orang orang yang semasa hidup didunia selalu mengerjakan shalat Dhuha? Ini adalah pintu buat kalian. Masuklah dengan rahmat Allah Subhana Wata’ala.” (HR At-Thabrani)

5. Rezeki terjamin

Allah SWT akan mencukupkan rezekinya:

Wahai anak Adam. Janganlah engkau merasa lemah dari empat rakaat dalam mengawali harimu, niscaya Aku (Allah) akan mencukupimu di akhir harimu” (HR Abu Darda)

6. Dicatat sebagai orang yang telah bersedekah

Orang yang menunaikan shalat Dhuha akan dicatat Allah bahwa  ia telah mengeluarkan sedekah,

“Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk tiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat shalat Dhuha.” (HR Muslim)

Itulah tadi beberapa manfaat dan keutamaan mengerjakan Shalat Dhuha. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang bersyukur.