Skip to content

Kategori: Ibadah

7 Hikmah Ibadah Puasa Ramadhan Yang Luar Biasa

Manusia telah diciptakan Allah Swt untuk beribadah kepada-Nya, sedangkan tujuan utama dari ibadah sendiri adalah menyucikan diri. Dengan berpuasa, maka manusia akan memperoleh keistimewaan bulan Ramadhan. Selain sebagai salah satu bentuk ibadah penting yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw adalah puasa, juga menjadi sarana dalam proses penyucian diri manusia khususnya umat Islam, baik lahir maupun batin. Sesuai dalam Quran surat Al-A’laa ayat 14; “Sungguh, berbahagialah orang yang mensucikan diri.”

Hikmah puasa di bulan suci Ramadhan adalah membunuh atau menghilangkan hasrat diri dari nafsu keserakahan yang pastinya ada dalam diri manusia. Oleh karena itu, dengan adanya ibadah puasa Ramadhan maka akan secara alamiah timbul kesucian hati, pengolahan jiwa dan raga, kebersihan organ-organ tubuh, kepedulian terhadap sesamanya yang kesusahan dan kelaparan, rasa syukur atas segala rahmat dan nikmat yang telah diberikan, serta sedekah untuk kaum fakir miskin dan anak-anak yatim.

Selain itu, ibadah puasa juga dapat meningkatkan permohonan dan juga doa dari manusia yang benar-benar terlahir dari kesadaran dan juga kerendahan hati, penyesalan diri, dan selalu berupaya dengan gigih untuk mencari perlindungan kepada Allah swt. Hal tersebut dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad Saw, yang artinya; “Puasa merupakan perlindungan dari bencana dunia dan selubung dari bencana akhirat”.

7 Hikmah Ibadah Puasa Ramadhan Yang Luar Biasa

Para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah Swt untuk mensucikan umat manusia dari segala kekotoran dirinya dan mengembalikan mereka pada fitrahnya yang suci. Artinya, Nabi dan Rasul yang menjadi panutan umatnya harus menuntun untuk bisa menyucikan diri berdasarkan syariat Islam. Begitu juga Syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw dengan semua bentuk ibadah dan ritualnya mengajarkan kita untuk melakukan pensucian diri yang tidak mengenal batas dan waktu.

Ketika manusia mulai berpuasa, niatkanlah dalam batin kita untuk menahan diri dari nafsu-nafsu liar dan memutuskan hasrat-hasrat atau keinginan-keinginan duniawi yang muncul dari gagasan-gagasan syetan dan sekutunya. Berikut ini adalah 7 hikmah ibadah puasa Ramadhan yang luar biasa:

1. Meraih Ketakwaan

Kitab suci Al-Quran telah menjelaskan, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalian bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183). Ayat Al-Quran tersebut menunjukkan bahwa di antara hikmah puasa yaitu agar seorang hamba dapat menggapai derajat takwa dan puasa adalah sebab meraih derajat yang mulia di sisi Tuhan. Hal ini dikarenakan dalam puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya.

Pada hakikatnya tiap umat Islam adalah hamba Allah yang diperintahkan untuk selalu bertakwa. Namun sayang hanya karena hal duniawi seperti pekerjaan, hawa nafsu dan lain-lain biasanya sering melupakan kewajiban. Demikianlah hikmah ibadah puasa yang merupakan momen tepat untuk kembali mengingat dan melaksanakan seluruh kewajiban Allah Ta’ala tersebut dengan imbalan pahala berlipat ganda.

2. Melatih Kedisiplinan

Untuk menghasilkan ibadah puasa yang tetap fit dan kuat di siang hari, maka tubuh memerlukan istirahat yang cukup, hal ini membuat kita tidur lebih teratur demi lancarnya puasa. Bangun untuk makan sahur dipagi hari juga melatih kebiasaan untuk bangun lebih pagi untuk mendapatkan rejeki (makanan).

3. Mengendalikan Nafsu dan Syahwat

Nafsu dan syahwat berkuasa cenderung membutakan hati nurani dan melupakan nilai-nilai agama. Akibatnya, kemaksiatan menjadi budaya yang tumbuh subur dan tanpa merasa dosa, padahal sebagian besar pelakunya termasuk orang yang beragama. Tidak jarang, ketika harta melimpah dan kesempatan terbuka lebar, syahwat seksual menjadi komoditas bisnis haram. Seperti bisnis esek-esek, ayam kampus, jualan bokep dan sejenisnya.

Diantara hikmah ibadah puasa adalah mengendalikan nafsu liar. Syahwat harus dikendalikan, dimanej dengan iman, ilmu, dan amal shalih. Dengan meninggalkan syahwat terhadap tontonan XXX, makanan yang lezat, minuman yang segar dan lain-lain sebagainya, karena semata- mata melaksanakan perintah Allah, dan tunduk kepada petunjuk agamanya, untuk berpuasa sebulan lamanya. Jika diperturutkan, nafsu syahwat memang tidak akan pernah puas dan tidak pernah ada habisnya.

4. Mempererat Silaturahmi

Dalam Islam ada persaudaraan sesama muslim, akan tampak jelas jika berada dibulan Ramadhan, Orang memberikan tajil perbukaan puasa gratis. Sholat bersama di masjid, memberi ilmu islam dan banyak ilmu Islam di setiap ceramah dan diskusi keagamaan yang dilaksanakan di Masjid. Orang memberikan takjil ibadah puasa gratis. Sholat bersama di masjid, saling berbagi cerita dan diskusi keagamaan yang dilaksanakan di Masjid.

5. Melatih Kesabaran

Dalam Puasa di bulan Ramadhan dianjurkan untuk menahan yang tidak baik dilakukan. Misalnya marah-marah, berburuk sangka, dan dianjurkan sifat Sabar atas segala perbuatan orang lain kepada kita. Misalkan ada orang yang menggunjingkan kita, atau mungkin meruncing pada Fitnah, tetapi kita tetap Sabar karena kita dalam keadaan Puasa.

6. Melatih Untuk Bersyukur

Dengan memakan hanya ada saat berbuka, seseorang menjadi lebih mensykuri nikmat yang telah diperoleh, inilah salah satu hikmah puasa Ramadhan. Sehingga dapat menjadi pribadi yang lebih mensyukuri nikmat Allah SWT. Ketika waktu berbuka puasa tiba, saat minum dan makan sedikit saja dapat merasakan nikmatnya makanan yang sungguh luar biasa.

7. Membiasakan Diri Berakhlak Mulia

Hikmah ibadah puasa yang terakhir adalah membiasakan diri untuk senantiasa berperilaku akhlak mulia. Puasa Ramadhan akan sempurna dan tidak sia-sia apabila selain menahan lapar dan haus, juga dianjurkan untuk tidak berbohong, tidak berzina, tidak korupsi, tidak membuka aib orang lain, bahkan berbuat mesum dengan anak dibawah umur. Tentu moral bejat tersebut akan membahayakan diri sendiri dan akan bikin kecewa orang terdekat. Dan sebaliknya, akhlak mulia akan membawa manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Puasa dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan bagi pemeluknya. Puasa menjadi wajib terhadap orang-orang yang baligh dan tidak sedang berhalangan.

Sering kita mendengar bahwa hikmah berpuasa tidak hanya menjadikan kita makin bertidakwa, tapi juga makin sehat. Ini seperti dengan apa yang Rasulullah Saw sampaikan pada sebuah hadits:

“Berpuasalah, niscaya kamu akan sehat.” (HR. Ath-Thabrani)

Sebagai umat Islam kita harus bersyukur dianugerahkan satu paket lengkap selama sebulan sarana-sarana untuk perbaikan akhlak, pengabulan doa, juga lasertag pahala serta kebaikan. serta dari sisi jasmaniah, selama sebulan penuh ini juga tubuh kita mengadakan perbaikan-perbaikan.

Kita mungkin tidak sadar, selama 11 bulan sebelumnya kita telah berkontribusi banyak atas masuknya zat-zat berbahaya bagi tubuh. Tapi tubuh tidak bisa berbuat banyak untuk membersihkannya sebab pencernaan kita hampir tidak diberi waktu untuk istirahat yang cukup.

Di luar Ramadhan, kita memulai hari dengan sarapan. Tengah hari lapar menyerang, makan lagi. Dipertengahan menuju malam, kita ngemil. serta kita menutup hari dengan makan malam. Tapi itu pun belum selesai. Tengah malam lapar menyerang, makan lagi.

Tubuh demikian disibukkan dengan arus makan, minum juga ngemil. Kerja lambung, usus juga hati tidak pernah berhenti. Hingga tubuh kesulitan mencari-cari waktu luang untuk sekedar membersihkan diri dari zat-zat yang tidak diperlukan juga zat-zat yang berbahaya bagi tubuh.

serta puasa memberikan waktu untuk proses itu. Itulah yang dinamakan proses “autolisis” yang secara sederhana dapat diartikan sebagai proses pengeluaran sisa metabolisme serta zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh pada jumlah berlebih.

Cara kerjanya mirip seperti bersih-bersih rumah di kala weekend. Di hari-hari kerja, tentu rumah biasanya dibersihkan hanya pada bagian-bagian yang biasa kita lalu-lalang. Karena setiap kita punya pekerjaan yang tidak memungkinkan membersihkan lebih dari itu.

Nah, saat akhir pekan. Kita punya banyak waktu untuk membersihkan rumah sampai ke gusertag-gusertag. Mulai menyortir barang-barang yang sudah tidak dipakai. Membuangnya. serta rumah pun menjadi benar-benar bersih serta sehat.

Saat berpuasa pun demikian. Dikarenakan aktivitas metabolisme tidak ada, maka tubuh mempunyai waktu untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh tubuh. Itulah mengapa, seringkali saat kita buang air kecil, air kencing kita berwarna pekat, baserta serta nafas terasa lebih bau. Sebab, itu adalah hasil dari proses pembersihan tubuh dari racun-racun penyakit.

Lihatlah, Islam sedemikian indah pada amal ibadahnya. tidak hanya berpengaruh pada akhlak serta kerohanian. Tapi juga berdampak baik bagi kesehatan jasmaninya.

Jadi, sebenarnya, menjalankan ibadah puasa bukanlah satu bentuk siksaan atau malapetidaka atas tubuh jasmani kita. Justru puasa mengandung banyak manfaat yang bisa kita peroleh.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa berpuasa sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh kita.

Bacaan lainnya: Adab kepada buku

9 Adab Terhadap Buku

buku

Membaca merupakan salah satu sarana menuntut ilmu yang terbaik dan terluas. Oleh karena itulah, ayat yang pertama sekali turun kepada Rasulullah SAW adalah iqra’ (bacalah!). Para ulama dan cerdik pandai sangat mengetahui nilai dari sebuah buku. Mereka sangat perhatian terhadap buku, menjaga dan merawatnya dengan cermat.

Demikianlah seharusnya yang dilakukan oleh orang yang berakal, yaitu paham terhadap nilai sebuah buku dan adab-adab yang berkaitan dengan penulisan buku.
Berikut beberapa adab terhadap buku diantaranya :

1. Niat yang Ikhlas

Seorang muslim wajib mengikhlaskan niatnya ketika ia membeli sebuah buku, yaitu ingin mendulang faedah dari buku yang dibacanya untuk dirinya dan orang lain. Dengan demikian, kita akan mendapatkan pahala atas uang yang telah dibelanjakan untuk membeli buku atau kitab, atas waktu yang dihabiskan untuk membahas permasalah tersebut, dan atas kesungguhannya dalam menjaga, merawat, serta menurunnya, dan lain-lain.

2. Memiliki Buku Bukan untuk Kebanggan dan Pamer

Ketika seseorang memiliki buku, hendaknya ia bermaksud membaca dan mengambil manfaat darinya. Sebab, ada pula sebagian orang yang mempunyai keinginan dan perhatian besar terhadap buku, suka membeli dan mengkoleksi buku, serta mengikuti perkembangan buku-buku terbaru.

Ia terus berusaha dengan maksimal untuk memperbesar perpustakaannya. Sehingga timbul keinginannya supaya masyarakat sekitarnya mengetahui bahwasanya ia memiliki perpustakaan besar dan memiliki sekian banyak buku. Ia berusaha agar tidak satupun buku terluput.
Sikap seperti inilah yang keliru. Sebab, keinginan kita untuk memiliki buku hanya untuk mendulang faedah untuk menyebarkan ilmunya ke masyarakat seraya mengharap pahala dari Allah SWT. Demikianlah niat yang benar.

Adapun memiliki buku dengan tujuan pamer dan riya maka pelakunya akan mendapatkan dosa, bahkan mungkin akan menghapuskan amalannya berkaitan dengan buku tersebut.

3. Mulai dengan Membeli Buku-Buku yang Terpenting

Janganlah seseorang membeli buku-buku yang tidak berfaedah. Tetapi berilah yang bermanfaat untuk dirinya, baik untuk sebuah penelitian, sebagai bahan bacaan, maupun yang lainnya.

4. Tidak Boleh Memiliki Buku-Buku yang Diharamkan

Siapa saja yang memiliki buku atau yang ingin membeli buku hendaknya jangan menyimpan atau membeli buku-buku yang Diharamkan atau yang memudharatkan dirinya, seperti buku porno, buku yang membahayakan aqidah dan moral , dan buku-buku yang tidak berguna lainnya. Sebab, Allah SWT akan menghisap dirinya tentang kepemilikannya dan perhatiannya terhadap buku-buku tersebut, serta harta yang telah ia habiskan untuk membeli buku-buku itu.

Bagi mereka yang sedang melakukan penelitian, penulisan, dan pembahasan boleh memiliki buku-buku yang ditulis oleh kelompok-kelompok yang menyimpang dan keluar dari aqidah Ahlus Sunnah dengan tujuan memberikan bantahan terhadap kelompok-kelompok yang sesat tersebut.

5. Memilih dan Merawat Buku

Seseorang yang memiliki buku harus memperhatikan, menjaga dan merawat buku-bukunya agar terawat dan tetap awet selama mungkin. Sebab, buku adalah permasalah sebuah ilmu dan ilmu merupakan sesuatu yang paling berharga yang dimiliki oleh seseorang. Buku juga merupakan harta yang wajib dijaga dan tidak boleh ditelantarkan.

6. Menyusun dan Membuat Daftar Judul Buku

Bagi yang memiliki kitab atau buku yang cukup banyak, terlebih lagi bagi mereka yang memiliki buku yang sangat banyak, dianjurkan agar menyusunnya menurut isi buku. Tujuannya, supaya seseorang mudah mendapatkan buku tersebut ketika dibutuhkan dan untuk mencari serta mengeluarkan permasalahan yang terkandung di dalam buku tersebut. Demikian juga akan memudahkan seseorang dalam mencari buku tertentu ketika ia membutuhkannya.

7. Meminjamkan Buku kepada yang Membutuhkan

Meminjamkan Buku merupakan adab yang seharusnya dimiliki seorang Muslim. Sebab, seorang Muslim tidak pantas menghalangi faedah yang bermanfaat bagi saudaranya. Tidak meminjamkan Buku kepada orang yang membutuhkannya termasuk sikap menyembunyikan ilmu yang Diharamkan Allah SWT.

Adapun meminjamkannya berarti ikut andil dalam menyebarkan ilmu sehingga ia juga termasuk orang yang telah memberikan manfaat kepada saudaranya sesama Muslim yang telah diperintahkan syariat.
Nabi SAW bersabda : ” Barang siapa yang mampu memberikan sebuah manfaat bagi saudaranya maka lakukanlah.”
Beliau juga bersabda : ” Barang siapa yang menunjukkan sebuah kebaikan maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang melaksanakannya.”

Sebagian orang enggan meminjamkan bukunya karena khawatir hilang atau rusak. Hal ini dapat diatasi dengan membuat catatan khusus atau buku peminjaman.

8. Merawat Buku yang Dipinjam

Apabila seorang muslim terpaksa meminjam sebuah buku kepada seseorang untuk mendapatkan faedahnya, maka ia harus menjaga dan merawat Buku tersebut serta mengembalikannya dalam kondisi seperti ketika meminjamnya. Yang demikian itu dilakukan guna menunaikan sebuah amanah.
Allah SWT berfirman :
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya..”.(Qs. AN Nisa’ : 58)

Oleh karena itu, janganlah orang yang meminjam membuat susah pemilik buku dengan mengembalikan buku dalam keadaan robek atau kotor, atau menghilangkan buku. Jadi, peminjam wajib menjaga buku yang dipinjam hingga ia mengembalikan kepada pemiliknya.

9. Mewakafkan Buku Setelah Pemiliknya Meninggal Dunia

Apabila seseorang tidak memiliki ahli waris atau ahli warisnya tidak begitu peduli dan perhatian dengan buku, maka sebaiknya ia berwasiat untuk mewakafkan buku-buku yang ia miliki agar dapat bermanfaat bagi para penuntut ilmu, para peneliti, dan mereka yang memiliki perhatian kepada ilmu. Maksudnya, supaya buku-buku tersebut menjadi sedekah jariyahnya setelah meninggal.

Sumber : Ensiklopedi Adab jilid ke 2, Abdul ‘Aziz bin Fathi as Sayyid Nada

Halal untuk Kami, Haram untuk Tuan

ibadah haji

Membaca kisah-kisah ulama terdahulu dapat membuat kita lebih memahami arti sebuah kebaikan. Salah satu kisah yang cukup terkenal ialah mengenai pahala ibadah Haji yang mampu menggetarkan jiwa. Berikut kisahnya.

Adalah ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi, seorang ulama terkenal di Makkah yang menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”
“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (sekarang bernama Damaskus)”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, namun menuju kota Damaskus, Syiria.

Sesampainya di sana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah. “Ada, di tepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.

Begitu sampai di sana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, “Bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah Anda perbuat, sehingga Anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan Anda selama ini.”
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar:
Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu.

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis
Ya allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat Kabah. Ijinkan aku datang…..Ijinkan aku datang ya Allah..

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.”

“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
‘Suamiku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?’
‘Ya, sayang’
‘Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku.’”

“Sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.
Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :
‘Tidak boleh tuan.’
‘Dijual berapapun akan saya beli.’
‘Makanan itu tidak dijual, tuan.’ katanya sambil berlinang mata.

Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata ‘daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan’, katanya.

Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?

Karena itu saya mendesaknya lagi ‘Kenapa?’
‘Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.’

‘Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram.’

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun
menangis. Kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

‘Ini masakan untuk mu.’
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.
‘Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi.'”

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak kuasa menahan air mata. Beliau pun menangis seraya berkata, “Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya.”

CATATAN :
Dalam versi lain, Ulama itu adalah Hasan Al-Basyri ulama Mesir terkenal.
Namun ijma’ lebih mempercayai ulama ini bernama Abdullah bin Mubarak karena riwayatnya yang lebih jelas. Beliau lahir pada tahun 118 H/736 M.
Beliau adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka, dan sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan,
antara lain di dalam bidang gramatika dan kesastraan. Beliau adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan
kepada orang-orang miskin. Beliau meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat pada tahun 181 H/797.
Dalam riwayat lain tukang sepatu ini bernama Ali bin Mowaffaq.

Wallahualam

Sumber:
Dari Kitab Irsyadul Ibad ila Sabiila Rasyad karangan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz.
https://twitter.com/sayidmachmoed/status/1417715748152115203

Baca juga: Kisah Abu Hurairah, Pencuri dan Ayat Kursi

Adab Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat muslim dimanapun berada. Setiap huruf yang dibaca memiliki pahala dan kebaikan. Istiqomah untuk membaca Al-Qur’an pada awalnya akan berat, namun apabila kita konsisten maka akan terasa lebih mudah. Pada hari kiamat, Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada para pembacanya. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili, ia berkata, Rasulullah bersabda;ِ “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat kepada para pembacanya.”

Agar seorang mendapatkan syafaat tersebut, maka hendaknya seorang pembaca Al-Qur’an memperhatikan adab-adab dalam membaca Al-Qur’an. Diantara adab membaca Al-Qur’an ialah:

1. Dianjurkan Membersihkan Mulut Dengan Siwak Sebelum Membaca Al-Qur’an
2. Disunnahkan Membaca Isti’adzah Ketika Mengawali Membaca Al-Qur’an
3. Dianjurkan Membaca Al-Qur’an Secara Tartil (Perlahan-lahan
4. Dianjurkan Untuk Membaguskan Suara Ketika Membaca Al-Qur’an
5. Disunnahkan Melakukan Sujud Tilawah Ketika Melewati Ayat Sajdah
Di dalam Al-Qur’an terdapat lima belasayat sajdah dan seorang yang membaca Al-Qur’an ketika membaca ayat-ayat tersebut disunnahkan untuk melakukan sujud tilawah.
6. Membaca Al-Qur’an Sesuai dengan Urutan dalam Mushaf
Karena hal inilah yang dilakukan oleh Nabi
7. Dianjurkan Untuk Tidak Memotong Bacaan Al-Qur’an
8. Tidak Boleh Mengatakan “Aku lupa”
Karena dengan mengatakan, “Aku lupa” terkesan melalaikan ayat Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan kitab suci bagi pemeluk agama Islam. Sudah selayaknya bagi seorang mukmin untuk selalu membacanya, meresapi maknanya, dan mengamalkan isi ajarannya.

Adab di Masjid

Masjid merupakan tempat ibadah bagi umat muslim. Masjid juga merupakan tempat yang paling dicintai oleh Allah. Sebab masjid merupakan tempat yang mulia, maka ada beberapa adab yang sebaiknya diperhatikan ketika di masjid, diantara adalah:

1. Berdoa Ketika Berjalan Menuju Ke Masjid

2. Mendahulukan Kaki Kanan Ketika Masuk Masjid dan Mendahulukan Kaki Kiri Ketika Keluar
Seorang yang masuk masjid dianjurkan untuk mendahulukan kaki kanan. Karena inilah yang dilakukan olehRasulullah, dan karena masjid adalah tempat yang paling mulia. Adapun ketika keluar dari masjid dianjurkan untuk mendahulukan kaki kiri.

3. Berdoa Ketika MasukMasjid
Disunnahkan ketika masuk masjid untuk membaca doa.

4. Melakukan Shalat Tahiyyatul Masjid
Apabila seseorang yang memasuki masjid disunnahkan untuk melakukan Shalat Tahiyyatul Masjid sebelum duduk.

5. Diperbolehkan Makan, Minum, dan Tidur di Masjid
Diperbolehkan bagi seorang untuk makan, minum, dan tidur di masjid, dengan tetap menjaga kebersihan masjid

6. Dimakruhkan Menjalinkan Jari-je mari

”Jika salah seorang diantara kalian berwudhu‟ dirumahnya, kemudian pergi ke masjid, maka senantiasa ia mendapatkan pahala shalat hingga ia pulang. Maka janganlah ia melakukan seperti ini.”Beliau menjalinkan jari-jemarinya.”

7. Dilarang Melakukan Transaksi Jual Beli di Masjid
Dilarang melakukan transaksi jualbeli di dalam masjid, karena masjid bukan dibangun untuk itu. Tetapi masjid dibangun untuk berdzikir kepada Allah, mendirikan shalat, belajar-mengajar ilmu agama dan sebagainya.

8. Dilarang Mengumumkan Kehilangan Di Masjid
Masjid bukanlah tempat untuk mengumumkan barang yang hilang.

9. Dilarang Keluar dari Masjid Setelah Dikumandakan Adzan
Apabila seorang berada didalam masjid, maka setelah dikumandangkan adzan ia dilarang untuk keluar dari masjid, kecuali dalam keadaan darurat, seperti; sakit, memperbarui wudhu karena batal, dan yang semisalnya.

10. Berdoa Ketika Keluar dari Masjid
Disunnahkan ketika keluar dari masjid untuk membaca doa.

Demikian tadi adab-adab di masjid. Semoga dapat menambah wawasan. Terima kasih sudah membaca.

Adab Ketika Makan Menurut Islam

Islam merupakan agama yang mengatur segala sisi kehidupan, mulai dari hal yang kecil hingga hal yang besar. Di antara perkara yang diatur di dalam syari‟at Islam ialah mengenai adab. Sangat banyak hadis yang menjelaskan mengenai masalah adab. Hal ini menunjukkan bahwa agama Islam juga memperhatikan masalah tersebut. Adab sangat penting. Oleh karena itu seorang suami wajib untuk mengajarkan kepada keluarganya tentang adab serta ilmu agama.

Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar mereka selalu memakan makanan yang halal yang telah Allah rizkikan kepada mereka. Hal ini sebagaimana terkandung dalam QS. Al-Ma‟idah ayat 88. Salah satu cara bersyukur terhadap nikmat makanan yang telah Allah berikan kepada kita ialah dengan memperhatikan dan melaksanakan adab-adab ketika menyantap makanana. Di antara adab ketika makan ialah sebagai berikut:

1. Duduk Saat Makan
Di dalam Islam sangat dianjurkan untuk duduk ketika menyantap hidangan makanan. Duduk yang terbaik saat makan ialah sebagaimana duduk saat duduk di antara dua sujud dalam shalat.

2. Menghindari Makanan yang Masih Panas
Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Janganlah memakan makananhingga telah hilang asapnya.” (HR. Baihaqi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa‟ul Ghalil: 1978)

3. Tidak Meniup Makanan dengan Nafas
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Qatadah, dari ayahnyaِْ, bahwa Nabi melarang bernafas di dalam wadah (makanan).

4. Makan Bersama
Makan bersama merupakan termasuk hal yang dianjurkan oleh Rasulullah. Salah satu yang mendatangkan keberkahan adalah makanbersama. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan, namun tidak pernah merasa kenyang.” Rasulullah bersabda, ”Mungkin kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, ”Ya.”

5. Membaca Basmalah dan Berdoa
Seorang muslim hendaknya sadar bahwa seluruh makanan berasal dari rizqi Allah. Oleh karena itu hendaknya membaca basmalah terlebih dahulu sebelum memulai makan.

6. Makan dan Minum dengan Tangan Kanan
Wajib bagi setiap muslim untuk makan dan minum dengan tangan kanannya.

7. Memulai Makan dari Pingggir Piring
Karena memulai makan dari pinggir dapat mendatangkan keberkahan pada makanan.

8. Membersihkan Jari
Apabila seseorang telah selesai makan, maka hendaknya ia membersihkan jari-jemarinya dengan mulutnya terlebih dahulu sebelum ia mencuci tangannya tersebut.

9. Berdoa Setelah Selesai Makan
Setelah selesai makan disunnahkan untuk membaca doa

Itulah tadi adab ketika menyantap makanan. Hal-hal kecil seperti di atas dapat mendatangkan keberkahan. Semoga bermanfaat.

Adab Bertamu Dalam Islam

Bertamu (datang berkunjung) merupakan hal yang baik apabila dilakukan dengan niat yang baik pula. Kebiasaan saling mengunjungi antar seorang muslim dengan muslim yang lainnya merupakan sarana untuk menguatkan ukhuwah Islamiyyah dan sebagai ajang silaturahmi antar sesama muslim. Dan bila seseorang muslim yang ikhlas di dalam mengunjungi saudaranya karena Allah, maka hal ini akan mendatangkan kebaikan.

Agar kunjungan tersebut sesuai dengan Sunnahd an membawa berkah, maka ada beberapa adab yang perlu diperhatikan bagi seorang muslim ketika akan bertamu ke rumah saudaranya sesama muslim, antara lain :

1. Sebaiknya Tidak Bertamu Pada Waktu-Waktu Aurat
Allah menyebutkan ada tiga waktu aurat yang hendaknya seorang muslim menghindari bertamu pada ketiga waktu tersebut. Namun hal ini masih dapat ditolerir untuk urusan yang mendesak. Tiga waktu aurat tersebut adalah;sebelum Shalat Shubuh, pada waktu istirahat siang, dan sesudah Shalat Isya‟.

2. Disunnahkan Untuk Mengucapkan Salam
Mengucapkan salam kepada sesama muslim secara tidak langsung juga mendoakan keselamatan dan keberkahan kepada muslim tersebut.

3. Hendaknya Tamu yang Meminta Izin Berdiri di Sebelah Kanan atau Kiri Pintu
Hal ini dimaksudkan untuk menjaga pandangan agar tidak melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat dan untuk menjaga dari sesuatu yang pemilik rumah tidak menyukai orang lain melihatnya.

4. Meminta Izin Tidak Lebih dari Tiga Kali
Seorang tamu yang meminta izin untuk masuk menemui tuan rumah maksimal adalah sebanyak tiga kali. Jika ia tidak mendapatkan izin atau tidak ada jawaban dari tuanrumah, maka tamu tersebut sebaiknya kembali pulang.

5. Hendaknya Berjabat Tangan Ketika Bertemu Dengan Tuan Rumah
Berjabat tangan sangatlah positif karena dengan berjabat tangan dapat menggugurkan dosa-dosa.

6. Mendoakan Tuan Rumah Setelah Selesai Makan
Apabila dalam bertamu tersebut tuan rumah memberikan jamuan makan kepada para tamunya, maka dianjurkan kepada para tamu untuk mendoakan tuan rumah setelah mereka selesai menikmati hidangan makanan.

7. Segera Pulang Setelah Selesai Menikmati Hidangan Makan

8. Meminta Izin Ketika Hendak Pulang
Seorang tamu yang masuk dengan izin, maka hendaknya pulangnyapun dengan izin.

Demikian tadi sedikit adab ketika bertamu. Semoga bermanfaat.

Adab Dalam Berdoa

Menurut KBBI, doa adalah permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan. Doa termasuk dalam ibadah. Sebagaimana diriwayatkan dari Nu‟man bin Basyir ia berkata, aku mendengar Nabi berkata, “Doa adalah ibadah.” Oleh karena doa merupakan termasuk ibadah, maka ada beberapa adab yang perlu kita perhatikan dalam berdoa, diantaranya ialah:

1. Ketika Berdoa Dianjurkan Untuk Menghadap Ke Kiblat
Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab, ia berkata;
“Pada waktu hari perang Badar Rasulullah melihat ke arah orang-orang musyrik yang berjumlah seribu orang. Sementara sahabatnya berjumlah 319 orang. Kemudian Nabiyullah amenghadap ke arah Kiblat, lalu membentangkan tangannya dan mulai berdoa (kepada)Rabb-nya. (Beliau mengatakan), “Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”

2. Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
Dianjuran untuk mengangkat tangan pada saat memanjatkan doa-doa.

3. Mengawali Doa Dengan Pujian Kepada Allah dan Shalawat Untuk Nabi
Hendaknya apabila kita memanjatkan doa, kita awali doa tersebut dengan pujian dan shalawat kepada Rasulullah.
”Rasulullah nmendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya, tetapi tidak memuji Allah qdan tidak bershalawat kepadaNabi a. Maka beliau bersabda, ”(Orang) ini telah tergesa-gesa.” Lalu beliau memanggil orang tersebut dan bersabda kepadanya ataukepadayang lainnya, ”Apabilaseorang diantara kalian berdoa, hendaklah ia memulai dengan memuliakan Rabb-nya rdan memuji kepada-Nya. Lalu bershalawat untuk Nabia, kemudian berdoalah sekehendaknya.”

4. Dianjuran Berdoa dengan Suara Lirih

5. Berharap Doanya Akan Dikabulkan

6. Berdoa Pada Waktuyang Mustajab
Diantara waktu yang mustajab untuk berdoa adalah:
a. Sepertiga malam terakhir
b. Ketika sujud c. Antara adzan dan iqamah
d. Ketika (berbuka)puasadan ketika bepergian
e. Ketika turun hujan

Berdoa memiliki nilai ibadah. Karenanya apabila kita memanjatkan doa, otomatis akan mendapat pahala. Doa juga merupakan bukti ketundukan seorang hamda kepada Rabb-nya.

Kebaikan Yang Dapat Mengetuk Pintu Rezeki

Pada zaman nabi Musa AS, terdapat sepasang suami istri yang hidup penuh dengan kemiskinan tapi mereka tetap menghadapinya dengan penuh kesabaran. Suatu saat ketika mereka sedang istirahat, sang istri berkata kepada suaminya.

“Wahai suamiku, bukankah Musa adalah seorang Nabi yang dapat berbicara dengan Tuhannya?. Kemudian suaminya menjawab : “Ya benar” . Sang istri berkata lagi : ” Kenapa kita tidak pergi saja kepadanya untuk mengadukan kondisi kita yang penuh kemiskinan dan memintanya agar ia berbicara dng Rabb nya, agar dia menganugerahkan kepada kita kekayaan

Selanjutnya mereka menceritakan kemiskinannya tersebut kepada Musa AS. kemudian nabi Musa AS bermunajat menghadap Allah SWT dan menyampaikan keadaan keluarga tersebut.

Allah SWTpun berfirman kepada Musa:

“Wahai Musa, katakanlah kepada mereka, aku akan memberikan kepada mereka kekayaan, tetapi kekayaan tersebut aku berikan hanya satu tahun, dan setelah satu tahun, akan aku kembalikan mereka menjadi orang miskin kembali”

Kemudian Nabi Musa menyampaikan hal tersebut kepada mereka bahwa Allah mengabulkan permintaan mereka, tapi kekayaan tersebut hanya berlangsung selama setahun saja. Mereka menerima kabar tersebut dengan penuh suka cita.

Beberapa hari kemudian datanglah rezeki kepada mereka dengan melimpah dari jalan yang tiada diketahui darimana arahnya. Dan mereka menjadi orang terkaya kala tersebut. kemudian sang istri berkata kepada suaminya:

“Wahai suamiku, selama setahun ini kita akan memberi makan orang orang miskin dan menyantuni anak-anak yatim mumpung kita masih punya kesempatan, karena setelah setahun kita akan kembali miskin” Sang suami menjawab:” Baiklah, kita akan menggunakan harta ini untuk membantu orang orang yang membutuhkannya”

Kemudian mereka membantu orang-orang yang membutuhkan, membangun tempat tempat singgah bagi musafir, serta menyediakan makan gratis bagi orang-orang yang membutuhkan.

Hal tersebut berlangsung terus hingga waktu setahun tiba. Tapi mereka terlihat masih tetap sibuk untuk berbagi dengan menyediakan makanan hingga mereka lupa bahwa waktu setahun tersebut tiba dan mereka kembali menjadi miskin.

Nabi Musa yang mengetahui tersebut heran melihat mereka tetap kaya. Nabi Musa kemudian bertanya kepada Allah SWT:

”Ya Rabb, bukankah Engkau berjanji memberikan mereka kekayaan hanya satu tahun saja, kemudian setelah tersebut Engkau akan kembalikan mereka menjadi miskin seperti sedia kala?’

Allah SWT pun berfirman: “Wahai Musa, Aku telah membuka satu pintu rezeki kepada mereka, tetapi mereka membuka beberapa pintu rezeki untuk hamba hamba Ku”. “tersebutlah wahai Musa, mengapa Aku titipkan kekayaan lebih lama kepada mereka.”

“Wahai Musa, Aku sangat malu jikalau ada hamba hambaKu yang lebih mulia dan lebih pemurah daripada Aku”

Nabi Musa menjawab : Maha suci Engkau ya Allah, betapa maha Mulia urusan Mu dan maha tinggi kedudukanMu”

Wallahu a’lam

Baca juga:

Anjuran Memilih Nama Yang Baik Dalam Islam

Surat Al Lahab dan Kisahnya