Skip to content

Kategori: Khazanah

Adab Ketika Makan Menurut Islam

Islam merupakan agama yang mengatur segala sisi kehidupan, mulai dari hal yang kecil hingga hal yang besar. Di antara perkara yang diatur di dalam syari‟at Islam ialah mengenai adab. Sangat banyak hadis yang menjelaskan mengenai masalah adab. Hal ini menunjukkan bahwa agama Islam juga memperhatikan masalah tersebut. Adab sangat penting. Oleh karena itu seorang suami wajib untuk mengajarkan kepada keluarganya tentang adab serta ilmu agama.

Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar mereka selalu memakan makanan yang halal yang telah Allah rizkikan kepada mereka. Hal ini sebagaimana terkandung dalam QS. Al-Ma‟idah ayat 88. Salah satu cara bersyukur terhadap nikmat makanan yang telah Allah berikan kepada kita ialah dengan memperhatikan dan melaksanakan adab-adab ketika menyantap makanana. Di antara adab ketika makan ialah sebagai berikut:

1. Duduk Saat Makan
Di dalam Islam sangat dianjurkan untuk duduk ketika menyantap hidangan makanan. Duduk yang terbaik saat makan ialah sebagaimana duduk saat duduk di antara dua sujud dalam shalat.

2. Menghindari Makanan yang Masih Panas
Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Janganlah memakan makananhingga telah hilang asapnya.” (HR. Baihaqi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa‟ul Ghalil: 1978)

3. Tidak Meniup Makanan dengan Nafas
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Qatadah, dari ayahnyaِْ, bahwa Nabi melarang bernafas di dalam wadah (makanan).

4. Makan Bersama
Makan bersama merupakan termasuk hal yang dianjurkan oleh Rasulullah. Salah satu yang mendatangkan keberkahan adalah makanbersama. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan, namun tidak pernah merasa kenyang.” Rasulullah bersabda, ”Mungkin kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, ”Ya.”

5. Membaca Basmalah dan Berdoa
Seorang muslim hendaknya sadar bahwa seluruh makanan berasal dari rizqi Allah. Oleh karena itu hendaknya membaca basmalah terlebih dahulu sebelum memulai makan.

6. Makan dan Minum dengan Tangan Kanan
Wajib bagi setiap muslim untuk makan dan minum dengan tangan kanannya.

7. Memulai Makan dari Pingggir Piring
Karena memulai makan dari pinggir dapat mendatangkan keberkahan pada makanan.

8. Membersihkan Jari
Apabila seseorang telah selesai makan, maka hendaknya ia membersihkan jari-jemarinya dengan mulutnya terlebih dahulu sebelum ia mencuci tangannya tersebut.

9. Berdoa Setelah Selesai Makan
Setelah selesai makan disunnahkan untuk membaca doa

Itulah tadi adab ketika menyantap makanan. Hal-hal kecil seperti di atas dapat mendatangkan keberkahan. Semoga bermanfaat.

Adab Bertamu Dalam Islam

Bertamu (datang berkunjung) merupakan hal yang baik apabila dilakukan dengan niat yang baik pula. Kebiasaan saling mengunjungi antar seorang muslim dengan muslim yang lainnya merupakan sarana untuk menguatkan ukhuwah Islamiyyah dan sebagai ajang silaturahmi antar sesama muslim. Dan bila seseorang muslim yang ikhlas di dalam mengunjungi saudaranya karena Allah, maka hal ini akan mendatangkan kebaikan.

Agar kunjungan tersebut sesuai dengan Sunnahd an membawa berkah, maka ada beberapa adab yang perlu diperhatikan bagi seorang muslim ketika akan bertamu ke rumah saudaranya sesama muslim, antara lain :

1. Sebaiknya Tidak Bertamu Pada Waktu-Waktu Aurat
Allah menyebutkan ada tiga waktu aurat yang hendaknya seorang muslim menghindari bertamu pada ketiga waktu tersebut. Namun hal ini masih dapat ditolerir untuk urusan yang mendesak. Tiga waktu aurat tersebut adalah;sebelum Shalat Shubuh, pada waktu istirahat siang, dan sesudah Shalat Isya‟.

2. Disunnahkan Untuk Mengucapkan Salam
Mengucapkan salam kepada sesama muslim secara tidak langsung juga mendoakan keselamatan dan keberkahan kepada muslim tersebut.

3. Hendaknya Tamu yang Meminta Izin Berdiri di Sebelah Kanan atau Kiri Pintu
Hal ini dimaksudkan untuk menjaga pandangan agar tidak melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat dan untuk menjaga dari sesuatu yang pemilik rumah tidak menyukai orang lain melihatnya.

4. Meminta Izin Tidak Lebih dari Tiga Kali
Seorang tamu yang meminta izin untuk masuk menemui tuan rumah maksimal adalah sebanyak tiga kali. Jika ia tidak mendapatkan izin atau tidak ada jawaban dari tuanrumah, maka tamu tersebut sebaiknya kembali pulang.

5. Hendaknya Berjabat Tangan Ketika Bertemu Dengan Tuan Rumah
Berjabat tangan sangatlah positif karena dengan berjabat tangan dapat menggugurkan dosa-dosa.

6. Mendoakan Tuan Rumah Setelah Selesai Makan
Apabila dalam bertamu tersebut tuan rumah memberikan jamuan makan kepada para tamunya, maka dianjurkan kepada para tamu untuk mendoakan tuan rumah setelah mereka selesai menikmati hidangan makanan.

7. Segera Pulang Setelah Selesai Menikmati Hidangan Makan

8. Meminta Izin Ketika Hendak Pulang
Seorang tamu yang masuk dengan izin, maka hendaknya pulangnyapun dengan izin.

Demikian tadi sedikit adab ketika bertamu. Semoga bermanfaat.

Surat Al Lahab dan Kisahnya

Sudah tahukah engkau kisah tentang Surat Al Lahab? Makna apa yang dapat kita petik dari kisah yang ada dalam surat ini? Mari kita pelajari bersama.

Surat Al Lahab merupakan surat urutan ke-111 di dalam Al-Qur’an. Surat ini terdiri dari 5 ayat dan termasuk golongan surat makkiyyah sebab turun di kota Mekkah. Nama surat ini diambil dari kata Al Lahab pada ayat ketiga yang berarti gejolak api.

Dalam surat ini mengkisahkan bahwa Abu Lahab dan isterinya tidak suka dan menentang Rasulullah SAW. Keduanya akan celaka dan mendapat balasan yang pedih. Seluruh kekayaan Abu Lahab tidak akan berguna untuk keselamatannya dan pula segala usaha-usahanya.

Abu Lahab merupakan keturunan dari suku Quraisy yang memusuhi serta menentang dakwah Rasulullah SAW dalam menyiarkan agama Islam di Makah kala itu. Abu Lahab selalu menghasud pengikut Nabi Muahammad SAW dan seluruh penduduk Mekah agar tidak ikut ajaran Nabi. Ia berusaha semaksimal mungkin dalam menghalangi dakwah nabi.

Istri Abu Lahab juga sama seperti suaminya yakni menghalang-halangi Islam dengan menyebarkan duri-duri di tempat yang akan dilewati Nabi.

Dalam Surat Al Lahab ini terdapat beberapa hikmah yang dapat kita ambil darinya, diantaranya:

1. Surat ini dapat menjadi salah satu bukti dari tanda-tanda kekuasaan Allah.

Ketika Allah menurunkan surat ini, Abu Lahab dan istrinya masih hidup, sementara keduanya telah divonis sebagai orang yang akan disiksa didalam api neraka, yang berarti mereka berdua tidak akan mendapat hidayah. Dan apa yang dikabarkan Allah pasti terjadi.

2. Harta benda tidak ada guna sedikitpun (untuk melindungi) seseorang dari azab Allah ketika ia melakukan perbuatan yang dilarang Allah.
3. Mengganggu orang beriman tidak diperbolehkan.
4. Walaupun ada hubungan saudara tidak bermanfaat sedikitpun hubungan kekerabatan dalam pengadilan akhirat dimana Abu Lahab adalah pamannya Nabi namun ia masuk neraka.

Mudah-mudahan dengan kita mengetahui kandungan surat Al-Lahab ini akan menambah rasa tunduk kita kepada Allah dan menjadi pendorong bagi kita untuk melaksanakan ibadah dengan lebih giat.

Kurangi Mengeluh

Mengeluh atau berkeluh kesah memang sudah menjadi kodrat manusia. Hal-hal yang jadi keluhan orang bisa bermacam macam, semisal tertimpa kesusahan, mendapat sesuatu yang tidak sesuai kenyataan, mendapati kesulitan atau ujian, hidup yang tidak kunjung berubah walau sudah berdoa dan macam macam yang menjadi sebab.

Dalam perkara iman, mengeluh adalah celah untuk menguji ketawakalan kita kepada Allah. Seseorang yang mengeluh mulai kehilangan kepercayaan terhadap apa apa yang digariskan Allah kepadanya. Dia berharap segala sesuatunya adalah sesuai yang menjadi keinginannya lupa kalau sesuatu itu sudah menjadi kekuasaaan dan kehendak Allah. Harusnya dirinya yakin sesuatu yang belum diperoleh itu adalah pilihan Allah yang terbaik karena ada yang mudharat didalamnya, karena kalau memang sudah seizin Allah pasti sesuatunya di mudahkan olehNya.

Kala tertimpa ujian, tidaklah perlu mengeluh karena semua ujian sudah sesuai takaran dimana Allah tidak pernah melebihkan sesuatu yang tidak menjadi kuasanya. Ujian yang datang bisa jadi merupakan ujud kasih sayang Allah agar iman tetap di hati seorang muslim dan ujian adalah cara Allah untuk menaikkan derajat seseorang. Dalam hal ini harus diingat “lebih baik kehilangan sesuatu karena Allah daripada hilangnya Allah karena sesuatu”.

Tetapnya iman harus terpatri didada untuk terus diusahakan dalam setiap hembusan napas, kita tidak tau karena iman itu memang mudah turun naik kadang hilang kadang muncul dan kala menghembuskan nafas terakhir semua muslim berharap bahwa iman masih melekat didada, itulah yang diidam idamkan meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah.

Kala mengeluh dihadapkan pada keadaan susah atau tidak seberuntung orang lain tetapkan pada diri untuk melihat kebawah janganlah melihat keatas. Lihatlah masih banyak orang lain yang tidak seberuntung kita. Kala melihat itu pasti diri kita mudah bersyukur dan apa yang menimpa kita tidaklah seberapa. Pribadi yang bersyukur harus ditanamkan karena biar bagaimanapun nikmat Allah yang diberikan jauh lebih banyak dari kesulitan yang ditimpakan.

Kala seseorang mengeluh juga mudah ditumpahkan kepada orang lain, padahal orang lain juga mempunyai masalah yang sama dan belum tentu dapat menjadikannya solusi dengan menceritakan apa apa yang menjadi keluhannya. Dalam hal ini tidak diperbolehkan seseorang mengeluh kecuali hanya bkepada Allah. Lebih baik kita mengadukan keluh kesah kita dengan meminta dan merengek kepada Allah dan itu adalah bentuk doa hamba dan sudah pasti bernilai pahala.

Bagaimana jalan keluar dari mengeluh, yang jelas dalam Al Quran hanya ada 2 yakni berlakulah sabar dan tunaikan shalat bukan yang lain. Sabar diperlukan seseorang setelah segala ikhtiar yang dilakukan belum sepenuhnya membuahkan hasil dan inshallah kerja keras seseorang inshaallah akan membuahkan hasil yang baik. Shalat juga harus dilakukan dengan khusyuk sehingga seseorang itu mengerti hakekat dirinya sebagai hamba dan Allah sebagai pencipta dirinya yang sudah menetapkan segala sesuatu yang terbaik bagi hambanya yang bertakwa.

Selanjutnya sebagai pribadi yang tidak mudah mengeluh tiada lain harus terus dengan latihan berulang ulang sehingga menjadi sikap dan karakter kita sendiri. Biasakan sejak mulai bangun di pagi hari untuk tidak mengeluh atau bersedih agar dapat menyongsong kehidupan menjadi lebih mudah

Dalam kitab Nashaihul ibad dijelaskan 3 hal yang pantang dilakukan seorang muslim di pagi hari sesuai sabda Nabi Saw :

Siapa yang dipagi harinya mengeluh akan kesulitan hidup maka dia sama dengan mengeluhkan Tuhannya
Siapa yang pada pagi harinya bersedih karena urusan dunia maka dia pagi hari itu telah membenci atas apa yang menjadi ketetapan Tuhannya
Siapa yang merendahkan diri pada orang kaya karena kagum kepada kekayaannya, sungguh telah hilang dua pertiga dari agamanya (ketaatannya)

Semoga kita semua dapat menghilangkan kebiasaan mengeluh dan nenjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur.

Baca juga:
Surah Al Lahab dan Kisah Dibaliknya

Kisah Abu Dujana, Sahabat Nabi yang Ahli Wara’

Ini ada kisah wara dari sahabat Nabi Saw yang telah membuat Nabi Saw menitikkan airmatanya.

Pada zaman Nabi Saw, terdapat seorang sahabat nabi Saw bernama Abu Dujana yang sangat taat ibadah. Dia selalu menjalankan ibadah dengan baik diantaranya shalat shubuh berjamaah. Satu hal yang aneh setiap usai shalat shubuh bersama Nabi, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa oleh Nabi Muhammad ketika selesai salat. Suatu Ketika, Nabi mencoba meminta klarifikasi pada Abu Dujanah ketika bertemu dengannya.

“Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi Muhammad kepada Abu Dujanah.

Abu Dujanah pun menjawab, “Anu Rasulullah, saya punya satu alasan. “Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” Lanjut Nabi Muhammad SAW.

“Begini,” kata Abu Dujanah sambil memulai menceritakan alasannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.”

“Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anak-anakku sering kelaparan, kurang makan. Saya takut saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, Saya bergegas segera pulang sebelum anak-anak terbangun dari tidurnya dan memakannya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya.

Satu saat, kami pernah agak terlambat pulang. saya menemukan anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuannya. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya yang ia pungut di bawah tanah tepat di rumah kami.”

Mengetahui itu, Abu Dujanah pun memasukan jari-jari tangannya ke mulut anaknya itu. dia keluarkan apa pun yang ada di mulut anaknya. Abu Dujanah mengatakan pada anaknya, “Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.” Anakku lalu menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan.

Dia katakan kembali kepada anaknya itu, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak.”

Pandangan mata Nabi Muhammad pun sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya mulai berderai begitu deras.

Nabi Muhammad SAW pun kemudian mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah dalam cerita yang ia sampaikan. Kemudian diketahui bahwa pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki munafik.

Tanpa basa-basi, Nabi memanggil pemilik pohon kurma tersebut untuk bertemunya. Setelah bertemu dengan pemilik pohon Nabi Muhammad lalu mengatakan, “Bisakah jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu?

Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Begitu tawar Nabi Muhammad SAW.

Pria yang dikenal sebagai orang munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.”

Lalu tiba-tiba Abu Bakar As-Shiddiq RA datang. Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya).”

Si munafik berkata kegirangan, “Oke, ya sudah, aku jual.”

Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar menyerahkan pohon kurma yang sudah dibelinya dari laki-laki munafik itu kepada Abu Dujanah.

Nabi Muhammad kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”

Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah.

Setelah Pohon kurmanya di beli oleh Abu Bakar, Si laki-laki munafik inipun pulang dan berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi.

“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu (Abu Dujanah) sedikit pun.”

Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Si munafik itupun keheranan. Kisah ini dari kitab I’anatuth Thâlibîn (Beirut, Lebanon, cet I, 1997, juz 3, halaman 293) karya Abu Bakar bin Muhammad Syathâ ad Dimyatîy (w. 1302 H).

https://muslim.okezone.com/read/2019/06/18/614/2067748/kisah-sahabat-nabi-abu-dujanah-dengan-pohon-kurma

Anjuran Memilih Nama Yang Baik Dalam Islam

Berubah status menjadi orang tua merupakan salah satu anugerah luar biasa yang telah dilimpahkan oleh Allah SWT kepada para hamba-Nya. Menjadi orang tua selain memiliki keberkahan juga diikuti dengan tanggung jawab. Salah satu tanggung jawab pertama sebagai orang tua ialah memilihkan nama untuk sang buah hati.

Beberapa orang tua baru mengalami kesulitan dalam menentukan nama anak. Memang sudah sewajarnya orang tua berhati-hati dalam memilihkan nama sebab nama itu merupakan suatu doa agar anak tersebut menjadi seseorang yang sesuai makna baik dari namanya tersebut.

Sesuai kebanyakan tradisi umat muslim di Indonesia, biasanya orang tua mengumumkan nama anak mereka tujuh hari setelah lahirnya anak tersebut pada saat prosesi Aqiqah. Acara tersebut ditandai dengan suatu penyembelihan domba atau kambing yang jumlahnya sudah ditentukan kemudian dagingnya dibagi-bagikan.

Nama merupakan suatu tanda pengenal dasar dan identifikasi untuk setiap orang. Nama muslim yakni sebuah nama harus dengan pedoman yang telah dianjurkan agama Islam.

Rasullullah Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” [HR. Abu Dawud & Al-Baihaqi, Sebagian ulama menilai sanadnya munqathi’, Sebagian menilai sanadnya jayyid]

Demikian pula dalam Fatwa Syabakah Islamiyyah. Diterangkan bahwa seseorang akan dipanggil sesuai dengan nama dan dinisbatkan terhadap nasab bapaknya:

“Pendapat yang kuat -wallahu a’lam- bahwa manusia pada hari kiamat akan dipanggail sesuai dengan nama merrka (di dunia) dan dinisbatkan kepada bapak mereka masing-masing, bukan kepada ibunya.” [Fatawa no. 20374]

Ibnul Qayyim menerangkan pentingnya sebuah nama. Beliau berkata,

“Sesungguhnya pemberian nama pada hakikatnya berfungsi untuk menunjukkan definisi/identitas penyandang nama (yang diberi nama), karena jika ia didapati tanpa diketahui (tanpa nama), maka ia tidak bisa dikenali.” [Tuhfatul Maudud hal. 61, Dar Kutub Al-‘Ilmiyyah].

Oleh sebab itu, Islam menganjurkan untuk memberikan nama yang baik kepada anak sebagai ungkapan doa dan permohonan orang tua. Demikian artikel singkat ini, semoga bermanfaat.

*)Dikutip dari berbagai sumber

Baca juga:
https://civitas.uns.ac.id/dailyblogs/2021/05/25/sekelumit-tentang-shalat-gerhana/

Kebaikan Yang Dapat Mengetuk Pintu Rezeki

Pada zaman nabi Musa AS, terdapat sepasang suami istri yang hidup penuh dengan kemiskinan tapi mereka tetap menghadapinya dengan penuh kesabaran. Suatu saat ketika mereka sedang istirahat, sang istri berkata kepada suaminya.

“Wahai suamiku, bukankah Musa adalah seorang Nabi yang dapat berbicara dengan Tuhannya?. Kemudian suaminya menjawab : “Ya benar” . Sang istri berkata lagi : ” Kenapa kita tidak pergi saja kepadanya untuk mengadukan kondisi kita yang penuh kemiskinan dan memintanya agar ia berbicara dng Rabb nya, agar dia menganugerahkan kepada kita kekayaan

Selanjutnya mereka menceritakan kemiskinannya tersebut kepada Musa AS. kemudian nabi Musa AS bermunajat menghadap Allah SWT dan menyampaikan keadaan keluarga tersebut.

Allah SWTpun berfirman kepada Musa:

“Wahai Musa, katakanlah kepada mereka, aku akan memberikan kepada mereka kekayaan, tetapi kekayaan tersebut aku berikan hanya satu tahun, dan setelah satu tahun, akan aku kembalikan mereka menjadi orang miskin kembali”

Kemudian Nabi Musa menyampaikan hal tersebut kepada mereka bahwa Allah mengabulkan permintaan mereka, tapi kekayaan tersebut hanya berlangsung selama setahun saja. Mereka menerima kabar tersebut dengan penuh suka cita.

Beberapa hari kemudian datanglah rezeki kepada mereka dengan melimpah dari jalan yang tiada diketahui darimana arahnya. Dan mereka menjadi orang terkaya kala tersebut. kemudian sang istri berkata kepada suaminya:

“Wahai suamiku, selama setahun ini kita akan memberi makan orang orang miskin dan menyantuni anak-anak yatim mumpung kita masih punya kesempatan, karena setelah setahun kita akan kembali miskin” Sang suami menjawab:” Baiklah, kita akan menggunakan harta ini untuk membantu orang orang yang membutuhkannya”

Kemudian mereka membantu orang-orang yang membutuhkan, membangun tempat tempat singgah bagi musafir, serta menyediakan makan gratis bagi orang-orang yang membutuhkan.

Hal tersebut berlangsung terus hingga waktu setahun tiba. Tapi mereka terlihat masih tetap sibuk untuk berbagi dengan menyediakan makanan hingga mereka lupa bahwa waktu setahun tersebut tiba dan mereka kembali menjadi miskin.

Nabi Musa yang mengetahui tersebut heran melihat mereka tetap kaya. Nabi Musa kemudian bertanya kepada Allah SWT:

”Ya Rabb, bukankah Engkau berjanji memberikan mereka kekayaan hanya satu tahun saja, kemudian setelah tersebut Engkau akan kembalikan mereka menjadi miskin seperti sedia kala?’

Allah SWT pun berfirman: “Wahai Musa, Aku telah membuka satu pintu rezeki kepada mereka, tetapi mereka membuka beberapa pintu rezeki untuk hamba hamba Ku”. “tersebutlah wahai Musa, mengapa Aku titipkan kekayaan lebih lama kepada mereka.”

“Wahai Musa, Aku sangat malu jikalau ada hamba hambaKu yang lebih mulia dan lebih pemurah daripada Aku”

Nabi Musa menjawab : Maha suci Engkau ya Allah, betapa maha Mulia urusan Mu dan maha tinggi kedudukanMu”

Wallahu a’lam

Baca juga:

Anjuran Memilih Nama Yang Baik Dalam Islam

Surat Al Lahab dan Kisahnya