OBROLIN TENTANG DAKWAH DENGAN DR. TIAR ANWAR BACHTIAR- KOMUNITAS ISLAMIKA

Maqashid Dakwah

Kenapa harus ada dakwah? kenapa cara dakwah selalu seperti itu? Yaitu menggunakan metode hikmah, mauidhoh, dan mujadalah. Salah satu metode dakwah dan belajar adalah dengan diskusi (mujadalah), namun diskusi yang dimaksud adalah diskusi yang ahsan dan membangkitkan rasa penasaran pada ilmu, berbeda dengan debat kusir yang malah menebarkan kebencian. Sistem mujadalah yang ahsan cirinya adalah tidak menimbulkan rasa benci, karena niatnya mencari ilmu. Berbeda dengan debat kusir apalagi di sosial media, yang semrawut dan kurang ilmu, terlebih, dalam debat kusir (terutama di sosmed) yang dominan adalah nafsu. Debat kusir adalah suatu hal yang tidak bagus. Namun, berbeda dengan mujadalah yang berlandaskan ilmu dan bertujuan untuk mencari ilmu juga, maka hal ini sangat bagus.

Metode dakwah telah dipatenkan di dalam Al Qur’an, yaitu dengan hikmah, mauidhoh, dan mujadalah. Kemudian, sesuatu hal yang dipatenkan di dalam Al Qur’an, maka sesuatu itu akan terus ada. Sesuatu yang diabadikan di dalam Al Qur’an yang abadi, maka ia juga akan menjadi abadi, setidaknya disinyalir abadi.

Dakwah dengan mujadalah senantiasa dilandasi dengan hikmah, dengan ilmu. Berbeda dengan fenomena entertaining masa sekarang yang merupakan fenomena yang berbeda dengan dakwah, karena forum-forum enternain seperti ini sering kali hanya memiliki sedikit aspek ilmu, namun lebih banyak hiburannya.

Dakwah adalah hikmah, yang metodenya senantiasa paten, diabadikan. Media dakwah, apapun itu, esensinya tetap sama, yaitu mauidhoh, yaitu menyampaikan nasihat. Apapun medianya, seperti halnya di dalam mujadalah. Hal yang terpenting adalah bagaimana supaya nasihat sampai dan yang sampai itu adalah ilmu. Karena itu kita jangan sampai bosan-bosan mendatangai majelis yang isinya orang berbicara, yang menyampaikan mauidhoh, karena sampai kapan pun, metode dakwah adalah seperti ini. Seperti halnya dengan bakti sosial, ketika baksos hanya sebatas pembagian sembako, maka ia bukan dakwah, namun bila diisi dengan penyampaian nasihat dan ilmu, maka ia adalah dakwah.

Manajemen Dakwah

Permasalahan dakwah juga berkaitan dengan peserta. Secara umum, semakin banyak jumlah peserta, maka pemateri semakin susah menyampaikan materi yang berat. Berkebalikan, semakin sedikit peserta, maka pemateri semakin mudah menyampaikan materi yang berat. Karena itulah, kita menemukan bahwa majelis-majelis ilmu yang membahas tema-tema berat, semacam pemikiran, bedah disertasi, atau semacamnya, seringkali jumlah pesertanya relatif jauh lebih sedikit daripada majelis-majelis yang membahas mengenai pernikahan, mengenai karir, dan semacamnya.

Dakwah memiliki banyak media, contohnya zakat. Pada masa dahulu, zakat merupakan pilar ekonomi negara, dan zakat diatur langsung oleh Al Qur’an. Zakat pun harus diambil oleh negara. Karena itu, mengingat salah satu mustahiq zakat adalah orang miskin, dapat disimpulkan bahwa negara bertanggung jawab terhadap orang miskin, dan Allah memberikan media kepada negara untuk menyelesaikan masalah kemiskinan melalui zakat.

Masa sekarang, banyak orang yang berpandangan bahwa mengatasi kemiskinan dapat dilakukan dengan media yang disebut serupa dengan zakat, yaitu bakti sosial. Padahal, secara esensi, bakti sosial (Baksos) tidaklah menyelesaikan masalah. Karena, seharusnya jaminan sosial itu dijamin oleh masyarakat sendiri, seperti orang kaya bertanggung jawab kepada tetangganya yang miskin. Hal ini direpresentasikan sebagai zakat. Namun, Baksos meskipun tidak memberikan solusi permasalahan, namun setidaknya dia bisa dijadikan media untuk dakwah.  Melalui Baksos, juru dakwah bisa memasukkan nilai-nilai dakwah (hikmah, mauidhoh) ke dalamnya. Meski pun kembali, solusi akan datang dari hal lain, bukan dari bakti sosial.

Kita semua mengetahui bahwa media-media di dalam membuka komunikasi antara dai dan mad’u itu penting, karena melaluinya lah dakwah disampaikan. Namun, masa sekarang, justru banyak dai yang tidak memahami hal ini sehingga terjebak pada penekanan medianya, bukan esensinya. Sebagai contoh, sering Lembaga Dakwah Kampus (LDK) berpikiran bahwa melalui bakti sosial, mereka telah memberikan solusi bagi permasalahan umat. Kemudian, mereka menjadikan Baksos ini sebagai program kerja utama. Mereka tidak menyadari, bahwa Baksos itu hanya media dakwah. Padalah, seharusnya LDK memiliki paradigma bahwa bakti sosial hanyalah media untuk membuka hati seseorang. Lalu, apabila hati orang tersebut sudah terbuka, maka nasihat bisa lebih mudah disampaikan.
Dakwah juga berkaitan erat dengan pendidikan. Dakwah sering kali dilakukan menggunakan institusi pendidikan, hal ini sangat bagus mengingat pendidikan adalah suatu hal yang sangat urgen. Namun, masa sekarang, berbagai institusi pendidikan mulai mengalami pergeseran orientasi dan esensi.

Esensi sebuah lembaga pendidikan adalah mendidik, orientasinya adalah ilmu. Tapi, tidak jarang, lembaga pendidikan mengalami misleading dan mengalami pergeseran orientasi yang mengakibatkan juga pergeseran esensi. Kebanyakan, pergeseran ini adalah pergeseran orientasi dari ilmu menjadi materi. Sehingga, esensi lembaganya berubah dari pendidikan menjadi bisnis. esensi bisnis ini dipengaruhi juga oleh sistem kapitalisme yang menghilangkan orientasi ilmu di dalamnya. Berbeda dengan Islam, yang menyatakan bahwa membuat sekolah (lembaga pendidikan) itu dasarnya wakaf, ikhlas,

Pergeseran orientasi dan esensi lembaga pendidikan disebabkan karena profil lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi lembaga dakwah, dihilangkan. Pendidikan dihilangkan aspek dakwahnya. Dengan ini, pendidikan juga dihilangkan aspek Islamnya. Dengan demikian, lembaga ini tidak lagi menjadi ladang dakwah, namun sekadar ladang bisnis.

Dakwah adalah jalan yang unik. Tidak ada juru dakwah yang bisa bertahan seperti motivator. Dakwah bukanlah bisnis yang ditentukan tarifnya, berbeda dengan motivator atau trainer yang sering kali mematok tarif. Trainer atau motivator bahkan sering kali berbangga dengan nilai tarifnya, berbeda dengan dakwah yang tidak ada tarifnya. Dakwah adalah jalan yang orientasinya bukanlah bisnis. Dakwah hanya akan bertahan dengan barokah Allah, dengan kekuatan Allah, dengan hikmah, mauidhoh, dan mujadalah. Lembaga-lembaga pendidikan yang berorientasi dakwah selayaknya menjunjung hal-hal ini. Karena yang namanya dakwah adalah mauidhoh, hikmah, mujadalah. Inilah esensi dakwah. Ketika dakwah telah kehilangan orientasinya, kehilangan esensinya, maka ia akan blunder dan misleading.

Tantangan Dakwah

Manusia dari zaman ke zaman berubah dan bergeraknya disebabkan pikiran, dan pikiran tidak akan pernah bisa diisi kecuali dengan nasihat. Nasihat ini mempengaruhi pikiran, pikiran mempengaruhi hati, dan hati mempengaruhi gerakan tubuhnya. Pergerakan ini energinya adalah ilmu. Karena itulah disebut bahwa dasar segala sesuatu adalah ilmu. Hal ini senantiasa paten, tidak akan berubah model seperti ini hingga kapan pun.

Model perusakan setan (musuh dakwah) adalah menghembuskan bisikan. Setan tidak memiliki program serius, adanya senang-senang, karena memang setan terserah dan bebas dalam merusak. Hal ini karena merusak itu tidak susah, tidak memerlukan ilmu, merusak itu gampang. Karena itu juga tidak ada majelis dakwah dengan tujuan yang merusak, karena dakwah itu serius dan tidak gampang. pola-pola yang sama ini senantiasa tidak berubah. Karena itu Allah menetapkan bahwa dakwah tidak berubah, dakwah akan senantiasa seperti hal di atas.

Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan kadar, dengan ukuran yang adil. Karena itu tidak tepat bila dikatakan segala sesuatu itu berubah. Karena, segala sesuatu itu ada yang tetap dan ada yang berubah. Namun, hal tetap itu dominan dari pada hal yang berubah. Seperti halnya manusia berubah dari bayi, remaja, dewasa, tua. Namun manusia tidak pernah berubah urutan proses perubahannya ini, artinya manusia selalu berubah dari bayi, remaja, dewasa, tua, tidak pernah berubah urutannya.

Kita harus memahami, bahwa dalam hidup ada yang tsawabit (tetap) dan ada yang mutaghayyirat (berubah). Sedangkan, hal-hal yang tsawabit ini lebih banyak daripada hal-hal yang mutaghayyirat. Karena itu Al Qur’an dan Sunnah tidak berubah, ia tetap, karena ia senantiasa membimbing kehidupan yang tetap. Ia membimbing manusia menghadapi permasalahan yang senantiasa abadi.

Sebagai contoh Al Qur’an membahas mengenai pakaian. Hal ini karena pakaian merupakan hal abadi yang akan senantiasa dibicarakan sepanjang masa. Karena permasalahan ini abadi, maka Islam mengatur mengenai pakaian ini. Atau mengenai perdukunan (dalam hadits), diatur oleh Islam karena ia merupakan permasalahan yang abadi yang senantiasa ada.

Zaman saat ini sudah banyak yang berorientasi materi, materialis. Tantangan saat ini (bahkan sejak dulu) seperti halnya mengenai kader dakwah, yang memang senantiasa sedikit. Justru dakwah harus dipertahankan dalam jumlah yang normal, untuk menguatkan komunikasi. Namun jumlah juru dakwah ini harus dibuat strategi untuk berdiaspora dan memperluas dakwah. Hal seperti inilah yang akan mempertahankan dakwah. Serta, orang-orang yang menjadi juru dakwah inilah yang kelak akan menjadi pemimpin. Apabila kemenangan telah diraih, maka kemudian manusia akan masuk ke dakwah berbondong-bondong. Di jalan yang sedikit inilah kita akan menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih bisa bergerak.

Penentuan target dakwah selayaknya distrategikan dengan matang dan istiqomah. Hendaknya para kader juru dakwah dijaga terus menerus, karena melalui penjagaan ini, kemudian kelak dia di manapun akan menjadi juru dakwah. Dakwah itu hakikatnya sedikit orangnya. Namun orang-orang yang berdiri di barisan dakwah ini adalah orang-orang penting dan terpilih. Mereka akan menjalani kesulitan, menghadapi ujian yang sangat berat, dan di kala ketika mereka benar-benar telah terhantam luka hingga muncul kalimat mata nashrullah, maka di saat itulah pertolongan Allah akan hadir, anna nashrullahi qarib.

Karena dakwah senantiasa diisi oleh sedikit orang, maka untuk menjaga kader-kader ini, diperlukan adanya komunitas-komunitas, halaqah-halaqah, atau pun engklaf-engklaf yang saling menguatkan. Meski pun isinya hanya sedikit, namun pemikirannya strategis, berkaitan dengan fiqh awlawiyat. Dengan sedikitnya juru dakwah ini pula, maka diperlukan sasaran dakwah kaderisasi kepada orang-orang tertentu yang berpengaruh atau bahkan orang-orang terbaik di kaumnya. Sebagai contoh, M. Natsir dahulu membuat Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan hanya terdiri dari 10 orang mahasiswa binaan. Namun, mereka adalah orang-orang terbaik dan penting dan kemudian berdiaspora mengembangkan dakwah dan berpengaruh besar di Indonesia, salah satunya kita kenal adalah Prof. Amien Rais.

Hendaklah juru dakwah menyeru manusia dengan hikmah, mauidhoh, dan mujadalah. Karena melalui hal inilah dakwah itu ada.

Pertanyaan:
Fenomena westernisasi merupakan permasalahan yang ada saat ini, di mana virus ini menjangkit banyak pemuda muslim. Hal ini sangat terlihat di beberapa program pendidikan tinggi, sebagai contoh di fakultas Seni Rupa dan Desain yang secara umum kebanyakan literatur rujukannya adalah literatur barat. Hal ini sangat berpotensi dalam terjadinya westernisasi. Bagaimanakah cara dakwah menghadapi westernisasi ini?

Jawab:
Caranya adalah dengan menggali warisan Islam mengenai budaya, mengenai seni. Warisan Islam ini sangat banyak, namun hanya sedikit orang yang menggalinya. Warisan peradaban Islam ini harus digali dengan sungguh-sungguh dan kemudian dikaji dan didalami. Ketika sudah dikaji dan didalami, langkah selanjutnya adalah memaparkan mengenai hal warisan peradaban Islam tentang budaya dan seni ini dan dilakukan pendekatan sedikit demi sedikit kepada mad’u. Ketika sudah ketemu warisan dan sudah dikaji serta sudah matang, maka kemenangan akan menjadi dekat dan melalui kemenangan ini banyak orang akan masuk ke dalam dakwah. Karena itu perlu untuk menekuni dunia pemikiran seni dalam Islam.

Menjawab tantangan seperti ini memerlukan dasar yang kuat dan benar, dasar akidah, dasar ilmu Islam. Akidah harus benar, akhlak harus ahsan, dan kemudian bila pondasi sudah benar dan kuat, baru melanjut kepada Islamic art, atau tantangan lain yang muncul.

Ditulis oleh Dinta D. A.Wijaya (Mahasiswa UGM, Pegiat Komunitas ISLAMIKA (Lingkar Studi Literasi Muslim Karanganyar) 

 

Dr Tiar diskusi islamika karanganyar

Dr Tiar diskusi islamika karanganyar

 

SEJARAH PERAN WANITA DARI RATU SAFIATUDDIN ABAD 16, FEMINISME SALAH ALAMAT, DAN SIAPA SEBENARNYA KARTINI

Saat tahun 1641 di Aceh, Sultan Iskandar Tsani Alauddin Mughayat Syah (Sultan Aceh ketiga belas, menggantikan Sultan Iskandar Muda) telah wafat. Saat itu terjadilah kekosongan pemerintahan, karena Raja Iskandar Tsani tidak memiliki keturunan. Kemudian para ulama membahas hal tersebut, didapatlah istri beliau yang menjadi janda yakni Safiatuddin menjadi penerusnya karena yang paling memiliki kecerdasan dalam bidang yang dibutuhkan dalam kepemimpinan dan politik, dari pada yang lainnya. Dengan kaidah darurat dari pada negara akan hancur jika dipimpin oleh orang yang tidak memiliki ilmu, maka Safiatuddin disepakati menjadi Ratu, walaupun ia seorang perempuan yang dalam syariat sebenarnya tidak diperbolehkan menjadi pemimpin umum umat. Ini adalah cerminan kemuliaan perempuan dalam Islam, bahwa karena kaidah darurat tersebut perempuan bisa maju menjadi pemimpin. Islam melarang perempuan menjadi pemimpin tidak karena deskriminasi namun yang ada adalah pembedaan yang adil yang menempatkan sesuai kodratnya dan tidak bersifat diskriminatif.

Sultanah Safiatuddin bergelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah memerintah antara tahun 1641-1675.

Peran wanita muslimah lainnya dalam sejarah Indonesia yaitu Malahayati. Malahayati merupakan salah satu panglima perang pada zaman pemerintahan ayahnya Ratu Safiatuddin yang bernama Raja Iskandar Muda. Pada abad ke-19, Indonesia juga mempunyai tentara perang yang berasal dari kaum wanita, beliau bernama Cut Nyak Dien.

Feminisme Salah Alamat

Lihatlah sepak perjuangan perempuan Indonesia yang dimulai abad ke 16 tersebut. Saat itu Eropa dalam keadaan kegelapan dan perempuan dalam keadaan terdeskriminasi dan tidak akan pernah bermimpi bisa mendapatkan tempat mulia dan tinggi seperti kejadian di Aceh Indonesia tersebut. Feminisme mulai masuk Indonesia abad kemarin. Maka jika sekarang ini umat muslim belajar feminisme barat maka itu salah kaprah. Feminisme masuk Indonesia adalah salah alamat. Di kawasan Eropa baru pada abad ke-20 kaum perempuan boleh menempuh pendidikan setara dengan kaum laki-laki.

Di dalam ajaran dan tradisi Kebudayaan indonesia tidak ada yang namanya diskriminasi perempuan dari dulu dari sejak Islam membuka nusantara.

Siapa Kartini yang Sebenarnya?

Kartini sebenarnya bukanlah tokoh, namun tokoh buatan yang dimunculkan oleh Belanda. Karena kedekatan Kartini dengan antusiasmenya membalas surat dan membaca pemahaman gender belanda waktu itu. Kemudian salah satu pimpinan redaksi salah satu majalah Belanda waktu itu mengangkat Kartini di dalam majalahnya juga.

Setelah Kartini menikah menjadi istri ke-4 Bupati Rembang dan Kartini mulai belajar Islam dan menjadi muslimah, Kartini tidak lagi antusias membalas surat-surat dengan Belanda dan hal yang berkaitan dengan pemikiran belanda. Artinya di kehidupan Kartini pada akhirnya mengalami perubahan yang tidak lagi antusias dengan emansipasi seperti saat masih bersekolah.

Surat-surat Kartini yang diterbitkan oleh nyonya Abendanon menjadi awal masuknya gerakan Fenimisme ke Indonedia karena dipengaruhi oleh pemikiran dan kebudayaan Belanda. Kartini hanya membalas sebagai feedback surat-surat saja, yang artinya faham emansipasi bukan asli pemikiran Kartini.

Pun selain Kartini, ada tokoh pendidikan perempuan lainnya yaitu Rohana Kudus. Sebenarnya, antara Kartini dengan Rohana Kudus lebih berjasa Rohana Kudus. Contoh perbedaannya yaitu Kartini hanya mendirikan sekolah di rumah sedangkan Rohana Kudus sudah sejak lama mendirikan sekolah resmi di Medan. Namun kiprah Rohana Kudus tidak dimunculkan dalam sejarah Indonesia karena Rohana kudus itu anti terhadap Belanda dan Kartini lebih dekat dengan Belanda dan Belanda memanfaatkan Kartini sebagai pintu masuknya faham feminisme barat. Itulah ketokohan Kartini selama ini yang diajarkan di sekolah-sekolah yang notabene juga warisan dari penjajah.

disarikan dari pemaparan materi Dr. Tiar Anwar Bachtiar (Doktor Sejarawan UI, Peneliti INSISTS, Pembina JIB) di Kajian Inspirasi, Sabtu Sore, di Masjid Agung Karanganyar

 

Mengapa Perlu Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer? – Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

 

Islam dan Sekularisme

Membaca buku Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas – Islam dan Sekularisme

islam dan sekularisme 1

Islam dan sekularisme

Islam dan Sekularisme

Islam dan Sekularisme