SEJARAH PERAN WANITA DARI RATU SAFIATUDDIN ABAD 16, FEMINISME SALAH ALAMAT, DAN SIAPA SEBENARNYA KARTINI

Saat tahun 1641 di Aceh, Sultan Iskandar Tsani Alauddin Mughayat Syah (Sultan Aceh ketiga belas, menggantikan Sultan Iskandar Muda) telah wafat. Saat itu terjadilah kekosongan pemerintahan, karena Raja Iskandar Tsani tidak memiliki keturunan. Kemudian para ulama membahas hal tersebut, didapatlah istri beliau yang menjadi janda yakni Safiatuddin menjadi penerusnya karena yang paling memiliki kecerdasan dalam bidang yang dibutuhkan dalam kepemimpinan dan politik, dari pada yang lainnya. Dengan kaidah darurat dari pada negara akan hancur jika dipimpin oleh orang yang tidak memiliki ilmu, maka Safiatuddin disepakati menjadi Ratu, walaupun ia seorang perempuan yang dalam syariat sebenarnya tidak diperbolehkan menjadi pemimpin umum umat. Ini adalah cerminan kemuliaan perempuan dalam Islam, bahwa karena kaidah darurat tersebut perempuan bisa maju menjadi pemimpin. Islam melarang perempuan menjadi pemimpin tidak karena deskriminasi namun yang ada adalah pembedaan yang adil yang menempatkan sesuai kodratnya dan tidak bersifat diskriminatif.

Sultanah Safiatuddin bergelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah memerintah antara tahun 1641-1675.

Peran wanita muslimah lainnya dalam sejarah Indonesia yaitu Malahayati. Malahayati merupakan salah satu panglima perang pada zaman pemerintahan ayahnya Ratu Safiatuddin yang bernama Raja Iskandar Muda. Pada abad ke-19, Indonesia juga mempunyai tentara perang yang berasal dari kaum wanita, beliau bernama Cut Nyak Dien.

Feminisme Salah Alamat

Lihatlah sepak perjuangan perempuan Indonesia yang dimulai abad ke 16 tersebut. Saat itu Eropa dalam keadaan kegelapan dan perempuan dalam keadaan terdeskriminasi dan tidak akan pernah bermimpi bisa mendapatkan tempat mulia dan tinggi seperti kejadian di Aceh Indonesia tersebut. Feminisme mulai masuk Indonesia abad kemarin. Maka jika sekarang ini umat muslim belajar feminisme barat maka itu salah kaprah. Feminisme masuk Indonesia adalah salah alamat. Di kawasan Eropa baru pada abad ke-20 kaum perempuan boleh menempuh pendidikan setara dengan kaum laki-laki.

Di dalam ajaran dan tradisi Kebudayaan indonesia tidak ada yang namanya diskriminasi perempuan dari dulu dari sejak Islam membuka nusantara.

Siapa Kartini yang Sebenarnya?

Kartini sebenarnya bukanlah tokoh, namun tokoh buatan yang dimunculkan oleh Belanda. Karena kedekatan Kartini dengan antusiasmenya membalas surat dan membaca pemahaman gender belanda waktu itu. Kemudian salah satu pimpinan redaksi salah satu majalah Belanda waktu itu mengangkat Kartini di dalam majalahnya juga.

Setelah Kartini menikah menjadi istri ke-4 Bupati Rembang dan Kartini mulai belajar Islam dan menjadi muslimah, Kartini tidak lagi antusias membalas surat-surat dengan Belanda dan hal yang berkaitan dengan pemikiran belanda. Artinya di kehidupan Kartini pada akhirnya mengalami perubahan yang tidak lagi antusias dengan emansipasi seperti saat masih bersekolah.

Surat-surat Kartini yang diterbitkan oleh nyonya Abendanon menjadi awal masuknya gerakan Fenimisme ke Indonedia karena dipengaruhi oleh pemikiran dan kebudayaan Belanda. Kartini hanya membalas sebagai feedback surat-surat saja, yang artinya faham emansipasi bukan asli pemikiran Kartini.

Pun selain Kartini, ada tokoh pendidikan perempuan lainnya yaitu Rohana Kudus. Sebenarnya, antara Kartini dengan Rohana Kudus lebih berjasa Rohana Kudus. Contoh perbedaannya yaitu Kartini hanya mendirikan sekolah di rumah sedangkan Rohana Kudus sudah sejak lama mendirikan sekolah resmi di Medan. Namun kiprah Rohana Kudus tidak dimunculkan dalam sejarah Indonesia karena Rohana kudus itu anti terhadap Belanda dan Kartini lebih dekat dengan Belanda dan Belanda memanfaatkan Kartini sebagai pintu masuknya faham feminisme barat. Itulah ketokohan Kartini selama ini yang diajarkan di sekolah-sekolah yang notabene juga warisan dari penjajah.

disarikan dari pemaparan materi Dr. Tiar Anwar Bachtiar (Doktor Sejarawan UI, Peneliti INSISTS, Pembina JIB) di Kajian Inspirasi, Sabtu Sore, di Masjid Agung Karanganyar

 

Daru Nurdianna

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *