Portofolio 2 – Etika Lingkungan

Portofolio 2 – Etika Lingkungan

Pertemuan Tanggal 15 Maret 2017.

Pada pertemuan hari rabu tanggal 15 Maret 2017, dalam silabus dijadwalkan untuk mengkaji mengenai etika lingkungan. Namun sebelumnya, Bu Nurma kembali meminta kami untuk review kembali pertemuan minggu sebelumnya, karena ada beberapa yang belum kami bahas dalam tugas portofolio kami. Oleh karena itu, sebelum masuk ke bagian etika lingkungan, mungkin penulis akan membahas kembali beberapa kebijakan yang diterapkan dunia agar tetap terjamin keamanan penduduk bumi dan menyelamatkan dari rusaknya bumi.

  1. (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation, REDD+) 

Tujuan utama REDD+ adalah untuk membantu mitigasi perubahan iklim dengan menghindari pelepasan emisi karbon yang disebabkan oleh deforestasi dan degradasi hutan. Mitigasi sangat penting untuk membatasi meluasnya perubahan iklim dan tingkat keparahan dampak buruknya bagi masyarakat. Sekalipun dengan upaya-upaya mitigasi yang kuat, iklim akan terus berubah. Oleh karena itu, kita harus bersiap untuk beradaptasi dengan perubahan perubahan ini untuk menyesuaikan manusia dan sistem alam sehingga masyarakat lebih tahan dan dapat mengatasi pengaruh berbahaya dari variabilitas iklim.

Mitigasi perubahan iklim didefinisikan sebagai sebuah intervensi antropogenik untuk menurunkan tekanan antropogenik terhadap sistem iklim, termasuk didalamnya strategi untuk mengurangi sumber-sumber penghasil gas-gas rumah kaca dan meningkatkan penyerapan karbon. Terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan, seperti dari sisi sosial, ekonomi, politik, dan teknologi; yang semuanya dapat mendukung penurunan emisi yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Dalam skala kecil, mitigasi bisa berupa gerakan cinta lingkungan seperti pengelolaan sampah, bike to work, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan AC yang non CFC, hemat energi dan lain sebagainya.

Adaptasi artinya penyesuaian diri. Adapun beradaptasi dapat dilakukan dengan melakukan penataan lansekap lingkungan, penghijauan, menjaga daerah resapan, re-use, recycling, dan lain-lain.

sumber : http://ghinaghufrona.blogspot.co.id/2012/01/mitigasi-adaptasi-perubahan-iklim.html
sumber : http://ghinaghufrona.blogspot.co.id/2012/01/mitigasi-adaptasi-perubahan-iklim.html

  2. Kebijakan Carbon offset

Carbon offset adalah salah satu mekanisme untuk membantu negara-negara maju memenuhi kewajibannya mengurangi gas rumah kaca. Dengan mekanisme carbon offset, negara maju dapat mengurangi gas rumah kaca di luar negaranya. Hal itu dilakukan karena biaya untuk mengurangi gas rumah kaca di negaranya dinilai jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan mengurangi gas rumah kaca di luar negaranya.

Di Indonesia, 26,6 juta hektare lahan pun telah direncanakan akan diperdagangkan dalam proyek carbon offset. Uang yang beredar dalam proyek ini diperkirakan mencapai Rp 63 triliun. Melihat banyaknya uang yang beredar dalam proyek carbon offset itu, tak mengherankan bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ingin Indonesia menjadi pemimpin dalam hal penurunan emisi gas rumah kaca ini. Bahkan SBY mematok target ikut menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen pada 2020. (https://www.tempo.co/read/kolom/2009/12/16/123/Proyek-Carbon-Offset-dan-Ketidakadilan-Iklim)

Untuk saat ini, program ini telah menghasilkan lebih dari setengah juta dolar dari $ 1 juta pada saat mencanangkan. Dampak keseluruhannya adalah 120.700 metrik ton karbon telah diimbangi – yang didasarkan pada standar US, Environmental Protection Agency (EPA), setara dengan menghemat 13,5 juta galon bensin dan 280.700 barel minyak. (http://www.drivingfutures.com/programs-initiatives/carbon-offset/)

  3. Kebijakan Debt Swap

Debt-for-Nature Swap sering juga disebut Debt-for-Environment Swap didefinisikan sebagai pembatalan hutang dalam pertukaran dengan komitmen atas mobilisasi sumber daya domestik untuk pelestarian lingkungan/sumber daya alam. DN/ES yang pertama kali dilakukan di Amerika Latin pada periode krisis ekonomi tahun 1980-an, merupakan alternatif mekanisme yang digunakan negara-negara berkembang dalam mengurangi tingginya hutang luar negeri, dan sekaligus meningkatkan dukungan bagi pelestarian lingkungan, misalnya Taman Nasional, riset dan pendampingan kelompok-kelompok masyarakat. (http://keuanganlsm.com/sekilas-tentang-debt-for-nature-swaps/)

Ketiga contoh kebijakan di atas merupakan kebijakan-kebijakan yang dilakukan untuk mengurangi pencemaran udara dan perusakan sumber daya alam di bumi ini. Dengan demikian, dapat membantu bumi untuk dapat bertahan menjadi tempat yang bisa makhlup hidup tinggali untuk waktu yang masih sangat lama. Kebijakan-kebijakan tersebut erat kaitannya dengan etika lingkungan yang seharusnya dilakukan oleh manusia yang berakal.

Etika lingkungan adalah norma dan kaidah moral yang mengatur perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam tersebut.

3 teori utama etika lingkungan, di antaranya yaitu:

  1. Etika Teleologi

Teleologi berasal dari kata Yunani,  telos = tujuan. Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah. Dalam bidang lain, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan “kebijaksanaan” objektif di luar manusia .

Contoh dari etika teleologi ini adalah Setiap agama mempunyai tuhan dan kepercayaan yang berbeda beda dan karena itu aturan yg ada di setiap agama pun perbeda beda .

       2. Deontologi

Istilah deontologi berasal dari kata  Yunani ‘deon’ yang berarti kewajiban. Dalam suatu perbuatan pasti ada konsekuensinya, dalam hal ini konsekuensi perbuatan tidak boleh menjadi pertimbangan. Perbuatan menjadi baik bukan dilihat dari hasilnya melainkan karena perbuatan tersebut wajib dilakukan. Deontologi menekankan perbuatan tidak dihalalkan karena tujuannya. Tujuan yang baik tidak menjadi perbuatan itu juga baik. Di sini kita tidak boleh melakukan suatu perbuatan jahat agar sesuatu yang dihasilkan itu baik.

Sehingga, dalam teori ini baik buruknya suatu perbuatan didasarkan pada norma dan moral yang berlaku.

      3. Teori Keutamaan (Virtue)

Dalam teori keutamaan, suatu tindakan dilakukan dengan memandang  sikap atau akhlak seseorang. Keutamaan bisa didefinisikan  sebagai berikut : disposisi watak  yang telah diperoleh  seseorang dan memungkinkan  dia untuk bertingkah  laku baik secara moral.

Contoh keutamaan :

  1. Kebijaksanaan
  2. Keadilan
  3. Suka bekerja keras

 

Selain itu, dibahas juga mengenai pengelolaan Limbah Domestik yang mempunyai beberapa parameter pencemaran. Air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha dan/atau kegiatan pemukiman, rumah makan, perkantoran, perniagaan, apartemen dan asrama (PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH). Yang termasuk ke dalam golongan air limbah domestik antara lain adalah air buangan dari toilet, dapur, dan laundry.

Kandungan zat-zat yang menjadi pencemar di dalam air limbah harus dibatasi jumlahnya agar tidak mencemari badan perairan. Untuk itu, pemerintah pusat telah menetapkan baku mutu untuk jenis air limbah domestik. Baku mutu air limbah domestik yang ditetapkan oleh menteri lingkungan hidup yaitu KepMenLH No.112/tahun 2003. Di dalam baku mutu ini terdapat parameter-parameter antara lain :

  • pH (power of hydrogen)
  • BOD (Biochemical Oxygen Demand)

BOD merupakan parameter pengukuran jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bekteri untuk mengurai hampir semua zat organik yang terlarut dan tersuspensi dalam air buangan. BOD adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan dan untuk mendesain sistem pengolahan secara biologis (G. Alerts dan SS Santika, 1987).

Penguraian zat organik adalah peristiwa alamiah, jika suatu badan air tercemar oleh zat organik maka bakteri akan dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama proses biodegradable berlangsung, sehingga dapat mengakibatkan kematian pada biota air dan keadaan pada badan air dapat menjadi anaerobik yang ditandai dengan timbulnya bau busuk.

Angka BOD ada­lah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasikan) hampir semua zat organis yang terlarut dan sebagian zat-zat organis yang tersuspensi dalam air.  Apabila kandungan zat-zat organik dalam limbah tinggi, maka semakin banyak oksigen yang dibutuhkan untuk mendegradasi zat-zat organik tersebut, sehingga nilai BOD  limbah akan tinggi pula. Oleh karena itu untuk menurunkan nilai BOD, perlu dilakukan pengurangan zat-zat organik yang terkandung di dalam limbah sebelum dibuang ke perairan.

  • TSS (Total Suspended Solid)

TSS adalah jumlah berat dalam mg/liter kering lumpur yang ada dalam limbah setelah mengalami penyaringan dengan membran berukuran 0,45 mikron (Sugiharto, 1987). Penentuan zat padat tersuspensi (TSS) berguna untuk mengetahui ke kuatan pencemaran air limbah domestik, dan juga berguna untuk penentuan efisiensi unit pengolahan air (BAPPEDA, 1997).

Zat yang tersuspensi biasanya terdiri dari zat organik dan anorganik yang melayang-layang dalam air, secara fisika zat ini sebagai penyebab kekeruhan pada air. Limbah cair yang mempunyai kandungan zat tersuspensi tinggi tidak boleh dibuang langsung ke badan air karena disamping dapat menyebabkan pendangkalan juga dapat menghalangi sinar matahari masuk kedalam dasar air sehingga proses fotosintesa mikroorganisme tidak dapat berlangsung.

  • Minyak dan lemak

Baku mutu air limbah domestik tersebut, dapat diketahui sebagai berikut :

yuhu

Dalam menguranginya, diperlukan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang mempunyai 2 tipe, yaitu aerob dan anaerob.

Sumber :

BAPPEDA TK. I Jawa Timur. (1997). Panduan Pelatihan Manajemen Laboratorium. Surabaya.

G, Alaerts dan S.S. Santika. (1987). Metoda Penelitian Air. Surabaya:Usaha Nasional.

KepMenLH No.112/tahun 2003

Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). 2014. Sinergi Mitigasi – Adaptasi. cifor.org. Disusun sebagai bagian dari Program Penelitian Pohon, Hutan dan Wanatani.

Sugiharto. (1987). Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta: UIP: 6-7.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *