Browsed by
Category: Kimia Lingkungan

Pengelolaan Limbah dan Limbah pada Industri Alkohol

Pengelolaan Limbah dan Limbah pada Industri Alkohol

Hai, Selamat malam, sekarang malam rabu, itu saatnya kembali lagi di postingan Portofolio Kjmia Lingkungan.

Pada pertemuan minggu lalu, kami membahas mengenai perlakuan-perlakuan yang harus dilakukan dalam mengelola limbah-limbah yang dihasilkan, baik itu limbah cair padat maupun gas. Namun pada pertemuan minggu lalu, fokus kami terdapat pada limbah cair yang banyak dihasilkan oleh banyak pihak. Selain itu, banyak industri yang menghasilkan limbah cair, salah satunya adalah industri alkohol. Oleh karena itu, pada postingan kali ini selain membahas mengenai limbah secara umum, ada yang harus menjadi bahasan wajib yaitu mengenai segala yang berkaitan dengan industri alkohol, yang paling penting adalah pengolahan limbah dan IPAL di pabrik alkohol tersebut. Sebelum membahas alkohol lebih lanjut, mari berkenalan dengan Limbah secara umum terlebih dahulu.

Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis (Kristanto, 2013). Menurut Palar (2004), limbah industri adalah semua jenis bahan sisa atau bahan buangan yang berasal dari hasil samping suatu proses perindustrian. Limbah industri dapat menjadi limbah yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidup dan manusia.

Menurut Setiawan (2015), berdasarkan dari wujud limbah yang dihasilkan, limbah dibagi menjadi tiga yaitu limbah padat, limbah cair dan gas. Dari beberapa macam limbah tersebbut, limbah dapat diklasifikasikan menjadi limbah B3 atau limbah non B3.

Menurut PP No. 18 tahun 1999, limbah bahan berbahaya dan beracun, disingkat limbah B3, adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.

Dari pengertian tersebut, dapat dijelaskan bahwa limbah dapat dikatakan sebagai limbah B3 karena sifat, konsentrasi dan kuantitasnya memenuhi syarat menjadi limbah B3.

Limbah yang termasuk sebagai limbah B3 apabila memiliki salah satu atau lebih karakteristik sebagai berikut :

a. mudah meledak

b. mudah terbakar

c. bersifat reaktif

d. beracun

e. menyebabkan infeksi dan,

f. bersifat korosif

Ada beberapa jenis limbah yang dapat dimanfaatkan kembali. Namun dalam pemanfaatan limbah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya adalah :

  1. Karakteristik
  2. Ketersediaan
  3. Teknologi
  4. Dampak
  5. NIlai Ekonomi

Terdapat beberapa prinsip dalam pemanfaatan limbah yang telah diterapkan sejak lama, yaitu pinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Jika prinsip ini dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, maka limbah sudah tidak lagi menjadi masalah utama bagi makhluk hidup saat ini.

Itu beberapa penjelasan umum mengenai limbah. Kemudian, akan saya tuliskan mengenai industri alkohol di Indonesia, baik proses maupun keadaan IPAL di kawasan industri alkohol tersebut.

Industri Alkohol

Etanol, disebut juga¬†alkohol, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Etanol termasuk ke dalam alkohol rantai tunggal, dengan¬†rumus kimia¬†C2H5OH dan¬†rumus empiris¬†C2H6O. Etanol sering disingkat menjadi EtOH, dengan “Et” merupakan singkatan dari gugus etil (C2H5).

Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan kimia yang ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah pada parfum, perasa, pewarna makanan, dan obat-obatan. Dalam kimia, etanol adalah pelarut yang penting sekaligus sebagai stok umpan untuk sintesis senyawa kimia lainnya. Dalam sejarahnya etanol telah lama digunakan sebagai bahan bakar.

Ethanol merupakan senyawa yang tidak terdapat secara bebas di alam. Zat ini adalah golongan alkohol biasa atau alkohol primer yang dibuat dari glukosa atau jenis gula yang lain dengan jalan peragian.

Pada dasarnya ada 2 macam cara pembuatan etanol, yaitu:

√ė¬†¬†Secara sintesis, dilakukan dengan menggunakan reaksi elementer (hidrasi katalitik etana), untuk mengubah bahan baku menjadi etanol.

√ė¬†¬†Secara fermentasi, dilakukan dengan bantuan aktifitas mikroorganisme.

Proses produksi etanol dapat dilakukan menggunakan bahan-bahan yang berbeda yang tentunya membutuhkan proses yang berbeda-beda pula. Misalnya saja, bahan yang mengandung gula seperti tetes (molase) dan juga bahan-bahan yang mengandung pati seperti padi, jagung, ubi kayu,gandum dan lain-lain.

Berikut adalah salah satu skema proses produksi etanol skala industri dengan menggunakan bahan molase.

Berikut adalah penjelasan mengenai tahap proses produksi etanol :

  1. Pengolahan tetes (molase)

Tetes (molase) yang telah diolah hingga mencapai kondisi yang optimum ditempatkan pada tangki molase. Yang perlu disesuaikan dalam pengolahan ini adalah pH, konsentrasi gula dan pemakaian nutrisi.

  1. Tahap Pencampuran Tetes

Proses pencampuran tetes dilakukan dengan menggunakan tangki pencampur tetes dengan kapasitas tertentu yang dilengkapi pancaran uap air panas (steam), yang berfungsi sebagai pengaduk dan pemanas tetes. Cara kerjanya yaitu pertama-tama air panas bersuhu 70oC dimasukkan ke dalam tangki pencampur tetes (mixing tank), kemudian disusul dengan tetes yang telah ditimbang. Tujuan diberikannya air panas adalah untuk mempercepat proses pelarutan, sedangkan pemanasan dengan uap air panas (steam) adalah untuk sterilisasi larutan tetes.

  1. Tahap pengendapan

Pada tahap ini larutan tetes dengan kepekatan 40obrix dari tangki pencampur ditampung dalam tangki ini dan diendapkan selama 5 jam untuk mengendapkan kotoran-kotoran tetes (sludge), terutama endapan garam. Pengendapan ini bertujuan untuk mengurangi kerak yang terjadi pada mash column (kolom destilasi pertama). Setelah 5 jam, cairan tetes dipompa menuju tangki fermentor melalui decanter dan heat exchanger (HE). Heat exchanger ini berfungsi untuk menurunkan suhu sampai 30oC sebagai syarat operasi fermentasi. Sedangkan cairan sisa yang berupa endapan kotoran-kotoran dan sebagian cairan tetes dipompa ke tangki pencuci endapan kotoran tetes (tangki sludge).

  1. Tahap fermentasi

Fermentasi ini bertujuan untuk mendapatkan alkohol dengan kadar 8,5 ‚Äď 9% atau lebih. Pertama-tama dimulai dengan sterilisasi tangki fermentor yang masih kosong dengan uap air panas (steam) sampai suhu 121oC lalu membiarkan suhu di dalam tangki turun sampai 30oC. Setelah itu memasukkan air proses dengan suhu 30oC, larutan tetes 40obrix, proses fermentasi ini berjalan secara aerob. Selanjutnya biakan ragi yang telah dibiakkan pada tangki pre-fermentor dipompa masuk ke tangki fermentor. Untuk nutrisinya, dimasukkan urea, ammonium, dan diammonium phospat. Tahap fermentasi ini berlangsung selama 24 jam hingga kadar alkohol mencapai 8,5 – 9% dan kekentalan 6,5 – 7obrix. Setelah kadar alkohol sebesar 8,5 – 9% terpenuhi, larutan hasil fermentasi dipompa menuju separator untuk dipisahkan antara hasil fermentasi (cairan¬†mash) dengan ragi (yeast cream). Hasil fermentasi yang telah dipisahkan ini langsung masuk ke tangki mash (mash tank). Dan selanjutnya didestilasi hingga menjadi alkohol prima (fine alcohol) dengan kadar mencapai 96,5%.

  1. Tahap destilasi dan dehidrasi

Setelah proses fermentasi selesai, cairan fermentasi dimasukkan ke dalam evaporator atau boiler. Panaskan evaporator dan suhunya dipertahankan antara 79‚Äď81oC. Pada suhu ini etanol sudah menguap, tetapi air tidak menguap. Uap etanol dialirkan ke distilator. Bioetanol akan keluar dari pipa pengeluaran distilator.

Prinsip : Jika larutan campuran etanol air dipanaskan, maka akan lebih banyak molekul etanol menguap dari pada air. Jika uap-uap ini didinginkan (dikondensasi), maka konsentrasi etanol dalam cairan yang dikondensasikan itu akan lebih tinggi dari pada dalam larutan aslinya. Jika kondensat ini dipanaskan lagi dan kemudian dikondensasikan, maka konsentrasi etanol akan lebih tinggi lagi. Proses ini bisa diulangi terus, sampai sebagian besar dari etanol dikonsentrasikan dalam suatu fasa. Distilasi pertama, biasanya kadar etanol masih di bawah 95%. Apabila kadar etanol masih di bawah 95%, distilasi perlu diulangi lagi (reflux) hingga kadar etanolnya 95%. Apabila kadar etanolnya sudah 95% dilakukan dehidrasi atau penghilangan air. Untuk menghilangkan air bisa menggunakan kapur tohor atau zeolit sintetis. Tambahkan kapur tohor pada etanol. Biarkan semalam. Setelah itu didistilasi lagi hingga kadar airnya kurang lebih 99.5%

Penjelasan di atas merupakan penjelasan mengenai proses pembuatan alcohol dalam skala industry secara umum. Pada tugas kali ini saya mendapatkan data dari tugas akhir Mahasiswa S1 PWK UNS, yang meneliti mengenai industry alcohol di daerah Bekonang, Surakarta. Judul dari tugas akhir tersebut adalah PENGARUH KEBERADAAN INDUSTRI ALKOHOL DI DESA BEKONANG KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO TERHADAP LINGKUNGAN, EKONOMI, DAN SOSIAL

Dalam tugas akhir tersebut dijelaskan mengenai searah berdirinya indusrtri alcohol di desa tersebut. Namun yang menjadi sorotan bagi saya adalah mengenai proses dan pengolahan hasil akhir dari alcohol itu sendiri.

Industri alkohol adalah salah satu usaha yang dikembangkan di Desa Bekonang Kecamatan Mojolaban. Keberadaan industri alkohol di daerah penelitian sesuai dengan PERDA No. 15 Tahun 1987 dimana peraturan PERDA memberikan ijin usaha berupa usaha industri skala kecil atau rumah tangga kepada pengusaha industri alkohol di Desa Bekonang Kabupaten Sukoharjo serta Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 15/M-DAG/3/2006 tentang perizinan industri alcohol.

Peralatan Alat yang digunakan dalam proses produksi alcohol di desa Bekonang ini, di antara lain :

  1. Drum plastik: tempat untuk proses fermentasi dan proses pendinginan setelah penyulingan.
  2. Drum pemasak: tempat untuk menyuling.
  3. Selang plastik: untuk mengalirkan hasil penyulingan ke drum pendingin.
  4. Pompa air: tempat mengalirkan air ke pendingin.
  5. Drum atau dirigen penempatan hasil.
  6. Alkohol meter: alat untuk mengukur kadar alkohol.
  7. Kondensor (pendingin): berupa spiral yang dimasukkan kedalam tangki air.

Proses Pengolahan Bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan alkohol adalah tetes tebu yang diperoleh dari pabrik gula yang diproses menggunakan cara destilasi. Tahap pertama tempat pengolahan dengan menggunakan tangki yang berkapasitas 200 liter.

Di dalam tangki terdiri atas larutan:

  1. Tetes tebu sebanyak 60 liter (30 %).
  2. Air sebanyak 60 liter (30 %).
  3. Sisa proses sebanyak 60 liter (30 %).
  4. Ragi sebanyak 20 liter (10 %).
  5. Sodium metabisulfit sebanyak 100 ml (0,1 %).

Di dalam tangki ini terjadi proses fermentasi yang berlangsung selama kurang lebih enam sampai dengan tujuh hari. Larutan yang berkapasitas 200 liter diproses yaitu dengan cara destilasi atau penyulingan. Proses pertama yaitu melakukan penyulingan (1) terhadap larutan 200 liter hingga menghasilkan 60 liter alkohol dengan kadar 30-37 %, kemudian larutan 60 liter disuling (2) hingga menjadi 30 liter alkohol dengan kadar 75 %. Kemudian larutan ini disuling lagi (3) hingga kadar alkoholnya mencapai 90 % dimana larutan ini hanya tersisa menjadi 24 liter dan siap dipasarkan. Dari tahapan penyulingan tersebut maka dapat diketahui bahwa hanya 40% dari bahan tetes tebu saja atau 12% dari larutan yang menjadi alkohol berkadar 90 %.

Berikut diagram alir proses pembuatan alkohol :

Kebutuhan Air dan Pengganti Air

Dari proses yang sudah digambarkan di atas, banyak dari tahap pembuatan alkohol yang melibatkan air, salah di antaranya adalah saat proses, pencampuran tetes, fermentasi dan distilasi. Pada proses ini, air digunakan karena sifatnya yang dapat melarutkan alkohol dan titik didih yang beberbeda sehingga dapat digunakan saat proses distilasi. Untuk pengganti air, saat ini indusrtri alkohol masih menggunakan air karena sifatya tersebut, namun jika dibutuhkan pengganti, dapat dicarikan alternatif lain yang sifatnya hampir sama dengan air.

Pengolahan Air Limbah Industri Alkohol dan IPAL di Industri Alkohol

Limbah cair dari proses produksi sering disebut dengan air limbah. Air limbah yang dihasilkan tiap pengrajin alkohol berbeda-beda karena air limbah yang dihasilkan tergantung pada besarnya kapasitas produksi. Untuk pengrajin yang mempunyai kapasitas produksi 15 liter/ hari maka menghasilkan air limbah (Penyulingan 2 dan 3) 25-30 liter/hari, untuk kapasitas produksi 30 liter/hari maka menghasilkan air limbah 40-60 liter/hari, sedangkan dari seluruh anggota peguyuban alkohol Desa Bekonang dengan jumlah pengrajin 65 keluarga, rata- rata membuang air limbah ¬Ī 3.600-4.000 liter/hari atau ¬Ī 3,6-4 m¬≥. (Sumber: Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo). Pembuangan limbah cair dilakukan dengan cara mengangkut secara perorangan dari tempat produksi ke lokasi Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) dengan menggunakan gerobag, truk kecil atau pick-up dan dengan dipikul. Waktu pembuangan pada umumnya sekitar jam 11.00-16.00 WIB.

Dukuh Sentul dan Sembung Kulon yang merupakan area sentra industri alkohol tidak dilengkapi dengan prasarana khusus seperti saluran pembuangan menuju IPAL. Dengan kondisi ini maka pengusaha alkohol belum sepenuhnya membuang limbah produksi alkohol yang sudah didinginkan (diolah) ke IPAL, tetapi ke saluran-saluran drainase dan saluran irigasi.

Analisis Kondisi Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL). Dari data yang diperoleh dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo, keterangan pengurus paguyuban dan penduduk di sekitar industri alkohol, berdasarkan pengamatan di lapangan, terdapat dua buah IPAL yang terletak di Dukuh Sentul dan Dukuh Sembung Kulon dengan kondisi sebagai berikut :

  1. Instalasi terdiri atas lima (5) unit komponen berurutan dari hulu ke hilir yaitu :

1) Bak umpan dengan ukuran 2,5√ó1√ó1 meter.

2) Bak sedimentasi ukuran 7,5√ó2,5 meter, kedalaman bervariasi.

3) Bak anaerob 4 kompartemen dibuat seri masing-masing ukuran 1,5×2,5×2,5 m³.

4) Bak pengendap akhir (final setting tanks) dengan ukuran 3√ó2,5 meter kedalaman 3 meter.

5) Sistem aerasi dengan cara mengalirkan effluent melalui tangga secara gravitasi.

6) Effluent dibuang langsung ke badan air atau saluran irigasi.

Analisis Kinerja IPAL Menurut Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo. Sistem pengolahan air limbah yang sudah dibangun dan difungsikan memiliki kombinasi pegolahan fisik dan biokimia. Pengolahan fisik dimaksudkan untuk memisahkan padatan tersuspensi dalam air limbah dengan menggunakan bak pengendap. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa bak sedimentasi tertutup lumpur sehingga air limbah tidak bisa mengalir.

Analisis kinerja instalasi (Data Laporan Tahunan BLH Tahun 2010) dapat diuraikan sebagai berikut: a. Bangunan sipil dengan bak-bak terbuat dari pasangan bata dengan kedalaman 3 m, dan tidak tertanam 1,5 m dinilai cukup berat untuk dapat menahan air didalamnya, disamping itu terdapat kebocoran di dinding bangunan.

  1. Pada bak pengumpan, yang tidak dilengkapi dengan kisi-kisi saringan (screen), dikhawatirkan adanya limbah padat/sampah (plastik, tali rafia dan lain-lain) yang mungkin terbawa akan sulit dikontrol, pada saat pengurasan dengan cara memompa maka hal ini akan membahayakan kinerja pompa.
  2. Dengan posisi bangunan bak sedimentasi yaitu ketinggian bagian dasar berada di bawah ketinggian saluran badan air, maka tidak dimungkinkan untuk dipasang lubang pengurasan, dengan demikian pengurasan lumpur harus dengan cara dipompa dan untuk keperluan ini dapat menggunakan jasa penyedot lumpur tinja. Dari pengamatan di lapangan, pengurasan pada bak pengumpan dan bak sedimentasi perlu dilakukan 2 tahun sekali.
  3. Pipa penyalur yang menghubungkan antara bak-bak komponen/unit pengolah dengan jenis PVC yang dipasang terbuka dinilai kurang tepat karena pipa ini tidak tahan terhadap sinar matahari sehingga perlu dilindungi dari sinar matahari.
  4. Tidak dilengkapi dengan prasarana pengolah lumpur, dengan demikian hasil pengurasan harus dibuang ke tempat yang aman.
  5. Di dalam pengoperasiannya tidak digunakan bahan koagulan, disinfektan dan tidak menggunakan peralatan mekanik, sehingga dapat dikatakan diperlukan relatif kecil.
  6. Dari dimensi yang sudah ada, jika debit air limbah 3,6 m³-4 m³/hari maka waktu tinggal mulai dari bak sedimentasi awal hingga bak sedimentasi akhir sekitar 21 hari IPAL yang ada di Dukuh Sentul dan Sembung Kulon ini dibangun dengan tujuan untuk menjaga agar limbah tidak mencemari air baik air tanah, sungai dan saluran terutama saluran irigasi.

IPAL ini sudah mampu menampung limbah alkohol yang dihasilkan pengusaha alkohol setiap harinya. Akan tetapi keberadaan IPAL ini belum cukup efektif karena tidak semua pengusaha membuang limbah hasil industri alkohol ke IPAL komunal ini. Hal ini dikarenakan banyak pengusaha yang enggan dan letaknya yang tidak strategis yaitu tidak semua pengusaha dapat menjangkau dengan mudah karena letak IPAL cukup jauh yaitu berada di barat Dukuh Sentul dan utara Dukuh Sembung Kulon. Pengusaha perlu tenaga atau biaya transportasi tambahan untuk mengangkut limbah sehingga banyak pengusaha yang tidak membuang di IPAL tetapi dibuang di saluran drainase/ selokan.

Air limbah yang dibuang ke selokan ini sebagian besar mengalir ke saluran irigasi sehingga saluran irigasi menjadi keruh. Untuk mengatasi hal tersebut maka apabila akan melakukan pembangunan IPAL, perlu mempertimbangkan aspek kemudahan akses, lahan yang cukup, harga tanah yang terjangkau dan tidak bertentangan dengan fungsi utama lahan. Berdasarkan aspek tersebut maka peneliti memberikan rekomendasi lokasi pembangunan IPAL apabila IPAL yang berada di Dukuh Sentul dan Sembung Kulon sudah tidak mencukupi kebutuhan para pengusaha alkohol. Berdasarkan aspek-aspek tersebut maka lokasi yang sesuai dan yang menjadi rekomendasi peneliti untuk lokasi pembangunan IPAL yaitu berada di utara Dukuh Sentul.

 

Sumber :

Pratiwi, Yulia. 2011. Pengaruh Keberadaan Industri Alkohol di Desa Bekonang Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo Terhadap Lingkungan, Ekonomi, dan Sosial. Tugas Akhir Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota UNS

All About Biogeochemical Cycle

All About Biogeochemical Cycle

Ohayou, sebelumnya saya hendak meminta maaf terlebih dahulu, karena seharusnya postingan ini saya publish semalam. Namun karena saat proses editing saya tertidur dan kaget bukan main saat membuka mata, ternyata hari sudah berganti.

Jadi pada portofolio kali ini, tidak seperti biasanya karena isi dari portofolio ini bukan review hasil kuliah melainkan jawaban dari 3 pertanyaan mengenai siklus bigeokimia. Berikut adalah pertanyaan dan jawabannya  :

1. What is shown by the reaction below?
2(CH2O) ==>  CO2(g) + CH4 (g)
How is this process related to aerobic respiration ?

2(CH2O) ==>  CO2(g) + CH4 (g)

Reaksi di atas merupakan reaksi pembentukan metana atau yang sering disebut sebagai Methanogenesis. Metanogenesis adalah proses konversi materi organik menjadi gas CH4 dan CO2yang terjadi secara anaerob. Reaksi ini dikatakan reaksi anaerob karena tidak melibatkan kehadiran O2 pada reaksinya.

Dalam pembentukan metana, mempunyai beberapa kesamaan dan perbedaan dengan yang terjadi pada respirasi aerobik.

  • Perbedaan yang dapat terlihat jelas dari reaksi tersebut¬†adalah dalam resprasi aerobik melibatkan Oksigen dalam reaksi reduksinya, sedangkan pada pembentukan metana¬†CH2O terdegradasi tanpa adanya oksigen.
  • Kesamaannya adalah kedua proses tersebut melibatkan proses reduksi-oksidasi dengan bantuan mikroorganisme (Misra, 2012).

Resprasi Aerobik :

reaksi oksidasi : {CH2O} (aq) + H2O (l) ==> CO2 (g) + 4H+ + 4e-

reaksi reduksi : O2 (g) + 4H+ + 4e- ==> 2 H2O (l)

reaksi lengkap : {CH2O} (aq) + O2 (g) ==> CO2 (g) + H2O (l)

Pembentukan Metana :

reaksi oksidasi : {CH2O} (aq) + H2O (l) ==> CO2 (g) + 4H+ + 4e-

reaksi reduksi : CO2 (g) + 8H+ + 8e- ==> CH4(g) + 2H2O (l)

reaksi lengkap : 2{CH2O} (aq) ==> CO2 (g) +CH4(g)

Selain itu, baik aerob dan anaerob menghasilkan kembali gas CO2 yang dapat digunakan oleh tumbahan saat proses fotosintesis dan menghasilkan Oksigen yang sangat penting bagi seluruh makhluk hidup.

2. Define cycles of matter and explain how the definition given relates to the definition of environmental chemistry!

Siklus biogeokimia merupakan perjalanan atau aliran bahan-bahan kimia dalam ekosistem global di bumi ini (Ahmad, 2004)

kehidupan Udara, air, tanah dan teknologi sangat berkaitan secara erat satu sama lain. HUbungan masing-masing komponen dapat digambarkan oleh gambar berikut :

Dari gambar tersebut tampak adanya saling keterkaitan antara komponen-komponen abiotik yaitu udara, air dan tanah serta keterkaitan dari masing-masing komponen dengan komponen biosfer. Jika dikaitkan dengan pengertian dari kimia lingkungan sendiri, (lebih lengkap mengenai kimia lingkungan bisa dibaca di sini), Kimia lingkungan merupakan cabang ilmu kimia yang mengkaji lingkungan kehidupan dari segi sifat dan komposisi kimia serta pengaruh bahan kimia terhadap lingkungan.

Hal ini sangat berkaitan erat, karena siklus biogeomkimia merupakan siklus yang terjadi terus menerus selama di dunia ini masih terdapat makhluk hidup dan siklus yang terjadi saling mempengaruhi proses yang terjadi di berbagai aspek. Salah satu contoh keterkaitan yang dapat diberikan adalah, siklus biogeokimia yang terjadi pada siklus karbon dan oksigen. Siklus ini saling mempengaruhi satu sama lain, karena siklus karbon akan membentuk CO2, yang kemudian CO2 akan digunakan pada siklus Oksigen untuk medapatkan oksigen yang dibutuhkan dalam respirasi aerob untuk membentuk CO2.

DEngan demikian, siklus ini terjadi secara kontinyu dan berkesinambungan antara satu siklus dengan siklus lain yang mempengaruhi keadaan lingkungan sehingga hal ini dipelajari dalam mata kuliah kimia lingkungan.

3. What are the main feature of the carbon cycle?

Sebuah aspek  yang paling penting dari siklus karbon adalah terjadinya transfer energi surya pada sistem biologis dan kemudian diteruskan ke geosfer dan antrosfer dalam bentuk karbon fosil dan bahan bakar fosil sehingga dapat digunakan bagi banyak hal yang menunjang kehidupan makhluk hidup (Manahan, 2010).

Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa karbon yang berasal dari CO2 di atmosfir mengalami fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan dengan bantuan energi surya menjadi karbon dalam karbohidrat (CH2O) yang merupakan komponen dari semua molekul kehidupan. Itu mengapa bagian ini adalah bagian yang terpenting dalam siklus karbon.

 

Referensi :

Achmad,R. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta  : ANDI.

Manahan, S. 2010. Environmental Chemistry, Ninth Edition. London : CRC Press LLC

Misra, K. 2012. Introduction to Geochemistry Principles and Applications. USA : Wiley-Blackwell

 

Portofolio 2 – Etika Lingkungan

Portofolio 2 – Etika Lingkungan

Pertemuan Tanggal 15 Maret 2017.

Pada pertemuan hari rabu tanggal 15 Maret 2017, dalam silabus dijadwalkan untuk mengkaji mengenai etika lingkungan. Namun sebelumnya, Bu Nurma kembali meminta kami untuk review kembali pertemuan minggu sebelumnya, karena ada beberapa yang belum kami bahas dalam tugas portofolio kami. Oleh karena itu, sebelum masuk ke bagian etika lingkungan, mungkin penulis akan membahas kembali beberapa kebijakan yang diterapkan dunia agar tetap terjamin keamanan penduduk bumi dan menyelamatkan dari rusaknya bumi.

  1. (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation, REDD+) 

Tujuan utama REDD+ adalah untuk membantu mitigasi perubahan iklim dengan menghindari pelepasan emisi karbon yang disebabkan oleh deforestasi dan degradasi hutan. Mitigasi sangat penting untuk membatasi meluasnya perubahan iklim dan tingkat keparahan dampak buruknya bagi masyarakat. Sekalipun dengan upaya-upaya mitigasi yang kuat, iklim akan terus berubah. Oleh karena itu, kita harus bersiap untuk beradaptasi dengan perubahan perubahan ini untuk menyesuaikan manusia dan sistem alam sehingga masyarakat lebih tahan dan dapat mengatasi pengaruh berbahaya dari variabilitas iklim.

Mitigasi perubahan iklim didefinisikan sebagai sebuah intervensi antropogenik untuk menurunkan tekanan antropogenik terhadap sistem iklim, termasuk didalamnya strategi untuk mengurangi sumber-sumber penghasil gas-gas rumah kaca dan meningkatkan penyerapan karbon. Terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan, seperti dari sisi sosial, ekonomi, politik, dan teknologi; yang semuanya dapat mendukung penurunan emisi yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Dalam skala kecil, mitigasi bisa berupa gerakan cinta lingkungan seperti pengelolaan sampah, bike to work, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan AC yang non CFC, hemat energi dan lain sebagainya.

Adaptasi artinya penyesuaian diri. Adapun beradaptasi dapat dilakukan dengan melakukan penataan lansekap lingkungan, penghijauan, menjaga daerah resapan, re-use, recycling, dan lain-lain.

sumber : http://ghinaghufrona.blogspot.co.id/2012/01/mitigasi-adaptasi-perubahan-iklim.html
sumber : http://ghinaghufrona.blogspot.co.id/2012/01/mitigasi-adaptasi-perubahan-iklim.html

  2. Kebijakan Carbon offset

Carbon offset adalah salah satu mekanisme untuk membantu negara-negara maju memenuhi kewajibannya mengurangi gas rumah kaca. Dengan mekanisme carbon offset, negara maju dapat mengurangi gas rumah kaca di luar negaranya. Hal itu dilakukan karena biaya untuk mengurangi gas rumah kaca di negaranya dinilai jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan mengurangi gas rumah kaca di luar negaranya.

Di Indonesia, 26,6 juta hektare lahan pun telah direncanakan akan diperdagangkan dalam proyek carbon offset. Uang yang beredar dalam proyek ini diperkirakan mencapai Rp 63 triliun. Melihat banyaknya uang yang beredar dalam proyek carbon offset itu, tak mengherankan bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ingin Indonesia menjadi pemimpin dalam hal penurunan emisi gas rumah kaca ini. Bahkan SBY mematok target ikut menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen pada 2020. (https://www.tempo.co/read/kolom/2009/12/16/123/Proyek-Carbon-Offset-dan-Ketidakadilan-Iklim)

Untuk saat ini, program ini telah menghasilkan lebih dari setengah juta dolar dari $ 1 juta pada saat mencanangkan. Dampak keseluruhannya adalah 120.700 metrik ton karbon telah diimbangi Рyang didasarkan pada standar US, Environmental Protection Agency (EPA), setara dengan menghemat 13,5 juta galon bensin dan 280.700 barel minyak. (http://www.drivingfutures.com/programs-initiatives/carbon-offset/)

  3. Kebijakan Debt Swap

Debt-for-Nature Swap sering juga disebut Debt-for-Environment Swap didefinisikan sebagai pembatalan hutang dalam pertukaran dengan komitmen atas mobilisasi sumber daya domestik untuk pelestarian lingkungan/sumber daya alam. DN/ES yang pertama kali dilakukan di Amerika Latin pada periode krisis ekonomi tahun 1980-an, merupakan alternatif mekanisme yang digunakan negara-negara berkembang dalam mengurangi tingginya hutang luar negeri, dan sekaligus meningkatkan dukungan bagi pelestarian lingkungan, misalnya Taman Nasional, riset dan pendampingan kelompok-kelompok masyarakat. (http://keuanganlsm.com/sekilas-tentang-debt-for-nature-swaps/)

Ketiga contoh kebijakan di atas merupakan kebijakan-kebijakan yang dilakukan untuk mengurangi pencemaran udara dan perusakan sumber daya alam di bumi ini. Dengan demikian, dapat membantu bumi untuk dapat bertahan menjadi tempat yang bisa makhlup hidup tinggali untuk waktu yang masih sangat lama. Kebijakan-kebijakan tersebut erat kaitannya dengan etika lingkungan yang seharusnya dilakukan oleh manusia yang berakal.

Etika lingkungan adalah norma dan kaidah moral yang mengatur perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam tersebut.

3 teori utama etika lingkungan, di antaranya yaitu:

  1. Etika Teleologi

Teleologi berasal dari kata Yunani, ¬†telos = tujuan. Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah. Dalam bidang lain, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan ‚Äúkebijaksanaan‚ÄĚ objektif di luar manusia .

Contoh dari etika teleologi ini adalah Setiap agama mempunyai tuhan dan kepercayaan yang berbeda beda dan karena itu aturan yg ada di setiap agama pun perbeda beda .

       2. Deontologi

Istilah deontologi berasal dari kata¬† Yunani ‚Äėdeon‚Äô yang berarti kewajiban. Dalam suatu perbuatan pasti ada konsekuensinya, dalam hal ini konsekuensi perbuatan tidak boleh menjadi pertimbangan. Perbuatan menjadi baik bukan dilihat dari hasilnya melainkan karena perbuatan tersebut wajib dilakukan. Deontologi menekankan perbuatan tidak dihalalkan karena tujuannya. Tujuan yang baik tidak menjadi perbuatan itu juga baik. Di sini kita tidak boleh melakukan suatu perbuatan jahat agar sesuatu yang dihasilkan itu baik.

Sehingga, dalam teori ini baik buruknya suatu perbuatan didasarkan pada norma dan moral yang berlaku.

      3. Teori Keutamaan (Virtue)

Dalam teori keutamaan, suatu tindakan dilakukan dengan memandang  sikap atau akhlak seseorang. Keutamaan bisa didefinisikan  sebagai berikut : disposisi watak  yang telah diperoleh  seseorang dan memungkinkan  dia untuk bertingkah  laku baik secara moral.

Contoh keutamaan :

  1. Kebijaksanaan
  2. Keadilan
  3. Suka bekerja keras

 

Selain itu, dibahas juga mengenai pengelolaan Limbah Domestik yang mempunyai beberapa parameter pencemaran. Air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha dan/atau kegiatan pemukiman, rumah makan, perkantoran, perniagaan, apartemen dan asrama (PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH). Yang termasuk ke dalam golongan air limbah domestik antara lain adalah air buangan dari toilet, dapur, dan laundry.

Kandungan zat-zat yang menjadi pencemar di dalam air limbah harus dibatasi jumlahnya agar tidak mencemari badan perairan. Untuk itu, pemerintah pusat telah menetapkan baku mutu untuk jenis air limbah domestik. Baku mutu air limbah domestik yang ditetapkan oleh menteri lingkungan hidup yaitu KepMenLH No.112/tahun 2003. Di dalam baku mutu ini terdapat parameter-parameter antara lain :

  • pH (power of hydrogen)
  • BOD (Biochemical Oxygen Demand)

BOD merupakan parameter pengukuran jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bekteri untuk mengurai hampir semua zat organik yang terlarut dan tersuspensi dalam air buangan. BOD adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan dan untuk mendesain sistem pengolahan secara biologis (G. Alerts dan SS Santika, 1987).

Penguraian zat organik adalah peristiwa alamiah, jika suatu badan air tercemar oleh zat organik maka bakteri akan dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama proses biodegradable berlangsung, sehingga dapat mengakibatkan kematian pada biota air dan keadaan pada badan air dapat menjadi anaerobik yang ditandai dengan timbulnya bau busuk.

Angka BOD ada­lah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasikan) hampir semua zat organis yang terlarut dan sebagian zat-zat organis yang tersuspensi dalam air.  Apabila kandungan zat-zat organik dalam limbah tinggi, maka semakin banyak oksigen yang dibutuhkan untuk mendegradasi zat-zat organik tersebut, sehingga nilai BOD  limbah akan tinggi pula. Oleh karena itu untuk menurunkan nilai BOD, perlu dilakukan pengurangan zat-zat organik yang terkandung di dalam limbah sebelum dibuang ke perairan.

  • TSS (Total Suspended Solid)

TSS adalah jumlah berat dalam mg/liter kering lumpur yang ada dalam limbah setelah mengalami penyaringan dengan membran berukuran 0,45 mikron (Sugiharto, 1987). Penentuan zat padat tersuspensi (TSS) berguna untuk mengetahui ke kuatan pencemaran air limbah domestik, dan juga berguna untuk penentuan efisiensi unit pengolahan air (BAPPEDA, 1997).

Zat yang tersuspensi biasanya terdiri dari zat organik dan anorganik yang melayang-layang dalam air, secara fisika zat ini sebagai penyebab kekeruhan pada air. Limbah cair yang mempunyai kandungan zat tersuspensi tinggi tidak boleh dibuang langsung ke badan air karena disamping dapat menyebabkan pendangkalan juga dapat menghalangi sinar matahari masuk kedalam dasar air sehingga proses fotosintesa mikroorganisme tidak dapat berlangsung.

  • Minyak dan lemak

Baku mutu air limbah domestik tersebut, dapat diketahui sebagai berikut :

yuhu

Dalam menguranginya, diperlukan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang mempunyai 2 tipe, yaitu aerob dan anaerob.

Sumber :

BAPPEDA TK. I Jawa Timur. (1997). Panduan Pelatihan Manajemen Laboratorium. Surabaya.

G, Alaerts dan S.S. Santika. (1987). Metoda Penelitian Air. Surabaya:Usaha Nasional.

KepMenLH No.112/tahun 2003

Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). 2014.¬†Sinergi Mitigasi ‚Äď Adaptasi.¬†cifor.org. Disusun sebagai bagian dari Program Penelitian Pohon, Hutan dan Wanatani.

Sugiharto. (1987). Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta: UIP: 6-7.

 

 

Mari Menulis!

Mari Menulis!

“Menulislah, apapun. Jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna.” Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

 

Menulis merupakan sebuah kata yang mempunyai kata dasar tulis. Menurut KBBI, salah satu pengertian dari menulis adalah¬†melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Kegiatan menulis merupakan kegiatan yang sangat bisa membuat orang yang memang hobi menulis akan melupakan segalanya, lupa waktu, lupa makan, lupa jadwal, lupa… ya, lupa, bahkan dengan menulis kadang penulis dapat melupakan masalah yang saat itu sedang penulis hadapi. Mengapa bisa lupa? karena biasanya, saat seseorang sedang menulis itu berarti orang tersebut sedang mengeluarkan apa yang ada di pikirannya dan saat itu pula fokusnya hanya tertuju pada apa yang sedang ¬†ditulis. Oleh karena itu, seorang penulis kadang membutuhkan waktu khusus untuk dapat menuangkan segala ide yang ada dalam pikirannya agar tidak ada hal yang mengganggunya saat proses pemindahan pemikiran-pemikiran menjadi sebuah tulisan.

 

“Writing is the best way to talk without being interrupted” Jules Renard

 

Hi, selamat datang di blog baruku di civitas uns ini. Sebelumnya sebenarnya aku sudah mempunyai blog lain juga yang berdomain uns.ac.id, tapi entah kenapa aku kehilangannya. Jadi, ya terpaksa membuat blog baru lagi melalui civitas ini.

Selain itu sebenarnya, aku masih punya blog yang masih sangat aktif sampai sekarang, mungkin bisa dicek di menu pojok kanan atas, uhuk. hehe, blog itu merupakan media ceritaku dari masa SMA. Sampai sekarang pun masih sering diupdate, karena terlalu banyak cerita untuk ditinggalkan.

Lalu, apa yang membuat ku mebuat blog kembali?

Ada motivasi besar dalam pembuatan blog ini, yaitu tugas portofolio yang harus diupdate setiap pertemuan pada mata kuliah Kimia Lingkungan dengan dosen pengampu Dr.paed. Nurma Yunita Indriyanti, M.Si, MSc. Jadi setelah post ini, mungkin akan banyak post mengenai tugas ku tersebut. Semoga bermanfaat bagi yang mungkin kebetulan membaca dan bagi aku sendiri tentunya.

Sekilas cerita mengenai dosen pengampu mata kuliah Kimia Lingkungan ini, ada satu kalimat dari beliau yang sampai sekarang masih terngiang di telingaku :

“Jangan sampai menangis 2 kali…”

That time really made me so confused, what was the best way that I should take? and her answer that time really made me so ‘plong‘ and could think clear enough again, hehe. Thank yo so much Mrs Nurma, the best lecturer I’ve ever met till this day.

Well, It’s the preface of my new blog. Hope I will have a pretty time to manage my education blog and can fill it with some worthy posts.

sumber : https://indrisrozas.wordpress.com/2015/09/04/menulislah/
sumber : https://indrisrozas.wordpress.com/2015/09/04/menulislah/

Saat menunggu kepastian di pagi hari

07.40 WIB

Solo, 9 Maret 2017