(Monument Construction System: Cultural Heritage of Agricultural Kingdoms in Java)
Penulis : C. Reinhart | Peneliti Sejarah Agraris dan Buddha (Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Indonesia)

Kerajaan agraris sudah tentu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah panjang Indonesia. Hasil bumi yang membawa kerajaan-kerajaan ini menjadi jaya juga adalah hal yang membuat nama mereka terkenal hingga ke Eropa. Di samping kerajaan maritim yang sungguh tersohor, kerajaan agraris adalah permata yang tersembunyi di antara rimbunnya pepohonan. Posisi mereka yang berada di hinterland membuat mereka terlindung dari pengaruh asing. Salah satu wilayah terpenting dalam perkembangan kerajaan agraris ini sudah tentu adalah Pulau Jawa. Sejak masa kerajaan-kerajaan yang pertama, Jawa telah dikenal sebagai penghasil padi yang termasyur.

Selain hal-hal fisik seperti hasil bumi, kerajaan agraris juga sudah tentu terkenal akan kepercayaan mereka. Ketergantungan pada tanah sebagai hal yang paling penting dalam kehidupan ekonomi membuat mereka mengenal banyak junjungan yang melindungi kesuburan tanah. Hingga sekarang, pengaruh itu masih terasa dalam banyak aspek kebudayaan Jawa.

Dapat disebutkan di antara junjungan yang dipuja itu: Vashudara (Dewi Sri), Prtivi (Dewi Pertiwi) hingga kepercayaan akan Kanjeng Ratu Kidul. Junjungan ini sebagian besarnya tentu adalah sosok wanita, karena sosok wanita dianggap dekat dengan kesuburan. Kepercayaan mereka ini tentu nantinya akan sangat berpengaruh pada berbagai bidang kehidupan masyarakat agraris.

Ada satu ciri dari masyarakat agraris yang masih menjadi bahan pertentangan ahli-ahli agraris di dunia: masyarakat agraris hampir selalu meninggalkan peninggalan yang monumental. Warisan budaya masyarakat agraris Jawa menunjukkan adanya dukungan yang penuh atas pendapat di atas. Di wilayah Indonesia modern, kiranya pulau Jawa mewakili bukti yang paling penting dalam sejarah kebudayaan masyarakat agraris ini.

Mataram misalnya, meninggalkan produk budaya yang tidak dapat dibantah: Borobudur dan kompleks candi Prambanan hingga sederetan candi dan tempat pemujaan lain di wilayah dataran rendah hingga dataran tinggi. Bila melihat kerajaan lain yang sezaman dengan Mataram dan berorientasi pada kemaritiman seperti Sriwijaya, tidak dapat kita temukan produk budaya yang se-monumental Borobudur atau kompleks candi Prambanan. Hal ini menunjukkan bahwa memang ada faktor penunjang yang istimewa dalam kehidupan dan pengorganisasian masyarakat agraris.

Faktor penunjang yang istimewa ini kiranya dapat kita lihat mulai dari aspek yang paling dekat dengan kebutuhan masyarakat agraris. Masyarakat agraris membutuhkan teknologi yang mendukung usaha mereka, dalam hal pertanian mereka membutuhkan pengairan sehingga mereka menciptakan sistem irigasi. Terlepas apakah mereka mengadopsinya dari kebudayaan lain atau menciptakannya. Dalam pembuatan sistem irigasi ini dibutuhkan sistem pemerintahan yang birokratis-patrimonial sehingga dapat diorganisasikan pembangunan sistem irigasi ituSistem ini adalah sistem birokrasi yang berpusat pada satu pemimpin untuk memberikan komando dan semua loyalitas mengalir pada pemimpin ini.

Sistem yang demikian memungkin satu kekuatan atau penguasa untuk memberikan komando tanpa gangguan dari adanya komando lain semacam tuan tanah dan kekuatan lainnya. Dengan demikian, pengorganisasian yang rumit dalam pembangunan sistem irigasi dapat dilakukan tanpa adanya dualisme komando.

Hal ini juga berlaku pada kasus pembangunan monumen-monumen besar seperti Borobudur, Mendut dan Sewu. Dari sini kita dapat melihat bahwa pada masa itu dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi sudah ada organisasi sederhana yang bersendikan sistem patrimonial karena dalam pembangunan monumen besar itu dibutuhkan interaksi bidang teknik, ekonomi dan pemerintahan. Hal ini hanya mungkin tercapai bila pengorganisasian yang dilakukan penguasa berjalan baik. Hal yang pada masa ini saja demikian rumit, dapat direalisasikan dengan baik oleh masyarakat agraris kala itu.

Selain menjadi bukti yang menggembirakan bahwa ada suatu sistem yang telah begitu sukses untuk membangun monument hebat dalam masyarakat kala itu, sistem ini agaknya juga sangat sukses dalam membuat masyarakat berlaku in-order. Hal yang pada masa kini agaknya susah diwujudkan.

Pengorganisasian yang baik dalam sistem kemasyarakatan agraris ini bisa dijelaskan dengan kenyataan bahwa dalam pengusahaan pertanian ada jeda waktu yang cukup lama selama masa penanaman dan masa panen. Waktu jeda itu digunakan untuk pengorganisasian sehingga masyarakat yang pada masa jeda itu tidak melakukan banyak aktivitas mengembangkan kehidupan mereka di bidang lain yaitu budaya.

Hal ini menyebabkan masyarakat agraris memiliki banyak sekali produk budaya yang tidak terlihat pada masyarakat maritim. Selain digunakan untuk pengorganisasian masyarakat, masa jeda ini juga dipergunakan secara politis dan militer sebagai masa yang paling tepat dalam kampanye militer atau penaklukan. Kerajaan agraris begitu sibuk ketika masa penanaman dan masa panen. Hal ini menghambat kampanye militer karena sebagian besar pasukan yang dimiliki kerajaan agraris berasal dari rakyat mereka.

Tidak heran bahwa mereka terlihat sebagai sepasukan petani yang dipersenjatai. Namun, kekuatan mereka pada masa itu tidak kalah hebat dengan pasukan lain karena kecintaan yang kuat pada sosok penguasa. Hal ini sekali lagi dikarenakan sistem sosial yang begitu kuat.

Di sisi lain, pembangunan monumen-monumen yang hebat itu tidak pula terlepas dari faktor geografis. Pada masa Mataram contohnya, pembangunan monumen Borobudur dan monumen lainnya itu dilakukan sepanjang aliran sungai yang lagi-lagi mengukuhkan posisi sungai sebagai hal yang penting dalam masyarakat agraris.

Dalam pembahasan mengenai ini baik pula kita melihat bahwa ada kemiripan geografis antara Jawa bagian tengah dan India yaitu lembah Progo-Elo yang mirip dengan Gangga-Yamuna. Stutterheim mengemukakan ada enam pokok kesesuaian antara lembah Gangga-Yamuna dan Progo-Elo: Tukmas sebagai sumber sungai Elo merupakan tiruan Kunjarakunjadesa sumber Sungai Gangga, lembah Progo-Elo menggantikan Lembah Gangga-Yamuna untuk Jawa bagian tengah, lokasi desa Progowati di dekat pertemuan sungai Progo-Elo mencerminkan lokasi kota Prayoga, lokasi monumen Borobudur mirip dengan lokasi stupa besar kuno Bharut, lokasi desa Canggal mirip dengan lokasi kota Kaci di tepi sungai Gangga, nama Yogyakarta (Ngayogya) di Timur hilir sugai Progo, berasosiasi dengan kota Ayodya di mana raja Rama bertakhta.

Khusus pembangunan Borobudur misalnya: haruslah dekat dengan daerah sungai karena menurut pendapat Nieuwenkamp, Borobudur itu seharusnya berdiri di atas sebuah telaga. Telaga itu tentu mengambil air dari sungai yang dialirkan kepadanya. Borobudur diproyeksikan sebagai bangunan berbentuk teratai untuk menghormati Boddhisattva Maitreya yang pada waktu itu masih menghuni alam Tusita.

Maitreya nantinya akan datang ke dunia sebagai Buddha pengganti Sakyamuni (Siddharta Gautama). Terlepas dari itu, Nieuwenkamp menggambarkan dalam Algemeen Handelsblad bahwa di sekitaran Borobudur terdapat hamparan sawah yang luas sehingga mengukuhkan posisi Mataram sebagai sebuah kerajaan agraris.

Jika kita menilik kebudayaan yang berkaitan dengan tarian, dapat pula kita kaitkan dengan faktor spiritual. Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa masyarakat agraris sangat terikat dengan sosok junjungan wanita untuk memberikan kesuburan pada tanah yang mereka olah, mereka juga sangat terikat dengan simbol-simbol lain yang mereka anggap mampu menunjang produktivitas pertanian mereka dari sisi spiritual.

Tarian-tarian yang berkembang di dalam masyarakat agraris adalah simbol penghormatan kepada junjungan yang memberikan kesuburan itu. Seperti Bedaya Ketawang dari Kasunanan Surakarta untuk menghormati Kanjeng Ratu Kidul.

http://www.hariansejarah.id/2017/01/sistem-pembangunan-monumen-warisan-budaya-kerajaan-agraris-di-jawa.html

Sumber :

Chandrasekaran, B, K. Annadurai dan E. Somasundaram. 2010. A Textbook of Agronomy. New Delhi: New Age International Ltd.
Daldjoeni, N. 1984. Geografi Kesejarahan Jilid 2. Bandung: Penerbit Alumni.
__________. 1995. Geografi Kesejarahan Jilid 1. Bandung: Penerbit Alumni.
Djoened, Marwati dan Nugroho Notosusanto (ed.). 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 1. Jakarta: Balai Pustaka.
__________. 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 2. Jakarta: Balai Pustaka.
__________. 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 3. Jakarta: Balai Pustaka.
Geertz, Clifford. 1976. Involusi Pertanian. Jakarta: Bhratara K. A.
Iskandar, Mohammad. Masyarakat dan Kerajaan Agraris. Wawancara oleh C. Reinhart pada 29 September 2016 di Gedung 3 FIB UI.
Kern, H. 1922. Het oud-Javaansche lofdicht Nagarakertagama van prapantja (1365 AD). Weltevreden: Drukkerij Volkslectuur.
Leur, J. C. Van. 1960. Indonesian Trade and Society: Essays in Asian Social and Economic History. Bandung: Sumur Bandung.
Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya, Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
__________. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya, Batas-Batas Pembaratan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Muljana, Slamet. 2006. Nagara Kretagama: Tafsir Sejarah. Yogyakarta: LKIS.
Nieuwenkamp, W. O. J. Borobodoer en omgeving. Algeemen Handelsblad Den Haag, 2 Mei 1937.
PaEni, Mukhlis (ed). 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Sistem Teknologi. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Reid, Anthony. 1993. Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680, Volume 2. New Haven: Yale University.
Ricklefs, M. C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi.
Vlekke, H. M. 2016. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *