TERMINOLOGI AUTISM DALAM SEJARAH TEMUAN TAHUN 1911-1943

Untuk mendapatkan pemahaman tentang anak autism dengan baik, maka pemahaman terhadap sejarah munculnya terminologi autism menjadi penting sekali untuk diketahui jalan ceriteranya. Sejarah munculnya terminologi autism pertama kali dicetuskan oleh Eugen Bleuler seorang Psikiatrik Swiss pada tahun 1911, dimana terminologi ini digunakan pada penderita schizophrenia anak remaja. Pada tahun 1943, Dr. Leo Kanner dari Johns Hopkins University mendiskripsikan tentang autism pada masa kanak-kanak awal (Infantile Autism). Penemuannya didasarkan pada hasil observasi dari 11 anak-anak dari tahun 1938-1943.

Volkmar et al. (2005) menulis bahwa pada tahun 1943, Kanner mendiskripsikan 11 anak-anak dengan gangguan kontak yang efektif anak autism yang terjadi dalam berbagai cara. Deskripsi tentang anak-anak ini memperoleh data-data yang berharga dan dibangun dari grounded theory atas perkembangan anak, dimana anak-anak normal menunjukkan tanda ketertarikan dalam interaksi sosial pada masa kanak-kanak awal kehidupan pertama. Kanner menyatakan bahwa autism pada masa kanak-kanak dibawa sejak lahir, gangguan yang bersifat mendasar dimana anak-anak sejak lahir kurang memiliki motivasi untuk interaksi sosial dan kurang dalam cara menyatakan ekspresinya secara efektif. Penggunaan model kesalahan metabolisme sejak lahir, Kanner merasa bahwa anak autism lahir tanpa didahului secara biologis pada metabolisme psikologis sosial. Kanner mengunakan istilah kata autism untuk menunjukkan isi kualitas diri anak autism. Terminologi ini dipinjam dari Bleuler pada tahun 1911-1950, dimana penggunaan kata autism untuk mendeskripsikan pikiran yang istimewa atau aneh yang berpusat pada diri sendiri. Kanner menggunakan terminologi ”autism” yang menyebabkan beberapa kebingungan karena hal ini sebelumnya menggunakan terminologi dalam hubungannya dengan ”menyendiri” dalam fantasi yang ditunujukkan gangguan schizophrenia. Individu autism secara individual belum dibedakan dari schizoprenia. Terminologi ini mengakibatkan kebingungan awal tentang hubungan dari kondisi-kondisi anak autism dimana yang ia pelajari pada anak-anak yang suka menghindari kontak dengan orang lain sebagaimana awal usia 1 tahun.

Kesulitan sosial dari individu autism, Kanner melihat ciri-ciri yang tidak biasa dalam sejarah klinis dari anak-anak tersebut. Kanner mendeskripsikan bahwa anak-anak autism memiliki gangguan yang sangat berat dalam aspek komunikasi. Dalam kelompok terdapat tiga anak-anak autism adalah ”mute”, tidak bicara. Bahasa hanya ditandai dengan echolalia (pengulangan) dan kurang orisinil serta kesulitan dalam munggunakan kata ganti ”saya” dan menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal ”dia” sebagai dirinya sendiri atau mewakili ”saya”. Ciri lain adalah respon yang tidak umum terhadap benda di sekitar lingkungannya, contohnya anak autism mungkin tidak merepon kepada kedua orang tuanya, kurang sensitif pada suara atau pada perubahan kecil pada aktivitas sehari-hari yang sudah rutin.

Laporan Kanner yang sangat brelian secara klinis tentang pengasingan sosial/perilaku menyendiri yang luar biasa, penolakan terhadap perubahan dan ketidakberfungsian dalam komunikasi, serta aspek lain dalam laporan aslinya disangkal oleh penelitian selanjutnya. Isu-isu pada masa awal selanjutnya dalam sejarah penelitian autism ditekankan pada peran ibu dalam pathogenesis. Kanner mengamati bahwa peran ibu sering ditandai dengan keberhasilan pendidikan atau profesional. Ia juga menyadari bahwa ada masalah utama dalam hubungannya antara ibu dan anak mereka yang autism. Dalam laporannya, Kanner mengindikasikan bahwa ia meyakini autism terjadi karena bawaan sejak lahir (congenital), tapi isu faktor psikologis berpotensi menyebabkan autism dijelaskan oleh beberapa individu. Isu ini mengganggu dalam sejarah penemuan pada beberapa tahun. Pada tahun 1960-an, hal ini dikenal dengan sebagai perilaku parental yang tidak dianggap sebagai pathologis dari anak autism.

Menurut Mundy, Sigman, Ungere dan Sherman yang dikutip oleh Aarons dan Gittens (1999) ada dua jenis informasi mengarah pada teori ”psychogenic”. Hal ini dikenal bahwa anak-anak autism ditemukan dalam keluarga dari semua kelas sosial. Isu pokok yang sangat relevan pada psychogenic etiology memusatkan pada pola interaksi yang luar biasa pada anak-anak autism dan hubungannya dengan kondisi ibu mereka. Masalah yang berkaitan dengan individu autism dengan jelas dapat ditemukan pada sisi anak autism sendiri dan bukan dari sisi orang tua, meskipun ibu mungkin beresiko terhadap masalah yang bervariasi.

Kanner berspekulasi bahwa autism tidak berhubungan dengan kondisi yang bersifat medis. Namun, penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa kondisi medis yang bervariasi diasosiasikan dengan autism. Salah satu laporan berkaitan dengan aspek medis pada anak autism dapat dibaca pada tulisan Pauline A. Filipek dalam bukunya Volkmar et al. ”Hand Book of Autism and Pervasive Developmental Disorder” tahun 2005, hal.534, chapter 20).

Kanner juga menyadari hubungannya antara autism dan kesulitan intelektual. Kasus pertamanya adalah anak yang menarik tanpa ciri fisik yang tidak biasa, dimana memiliki prestasi baik pada beberapa tes IQ. (test rote memory dan copying; seperti menyusun balok, lebih baik dari pemahaman abstrak dan konsep verbal). Kanner merasa bahwa anak-anak autism bukanlah MR (Mentally Retarded) dan ia bersama dengan bebebrapa psikolog, setidaknya menginginkan faktor-faktor yang mendorong untuk menjelaskan performance yang kurang. Individu autism disebut sebagai functionally retarded. Kanner terkesan dengan potensi IQ yang normal, meskipun menghadapi keterlambatan yang nyata didasarkan pada apa yang menjamin penemuan secara konsisten pada tes psikologi. Anak-anak autism seringkali memiliki kemampuan tidak merata yang sangat luar biasa, dimana kemampuan nonverbal seringkali mencapai secara signifikan lebih dari pada kemampuan verbalnya. Selain itu, anak-anak autism berbeda dalam pola perilaku dan perkembangan kognitif, maka dari itu anak-anak autism memiliki gangguan bahasa yang berat.

Aarons & Gittens (1999) menuliskan beberapa poin yang berharga karena masih relevan dan menunjukkan kondisi yang bentuknya ”klasik” :

  1. An inability to develop relationships

Hal ini berarti bahwa anak dengan gangguan autism akan memiliki kesulitan dalam berinteraksi dengan orang dan mungkin menunjukkan lebih tertarik pada objek daripada dengan keberadaan manusia.

  1. Delay in the acquisition of language

Meskipun beberapa anak-anak dengan gangguan autism tidak mengembangkan kemampuan berbicara yang bermakna, sedang anak lainnya memperoleh bahasa. Tetapi sebagian besar hal ini muncul belakangan daripada perkembangan normal anak-anak pada umumnya.

  1. Non-communicative use of spoken language after it develops

Hal ini menggambarkan karakteristik khusus pada anak-anak dengan gangguan autism. Meskipun mereka memiliki atau dapat berkata-kata/bicara, tetapi mereka tidak dapat menggunakan untuk kepentingan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-harinya.

  1. Delayed echolalia

Hal ini merupakan pengulangan dari kata-kata dan prase, ungkapan-ungkapan di video, nyanyian di televise/lagu atau iklan televisi yang pernah mereka dengar. Hal ini sangat umum terjadi pada anak-anak autism.

  1. Pronominal reversal

Hal ini berarti secara sederhana kata ganti “kamu sebagai aku”. Misalnya, Ibubertanya : “apakah kamu mau susu ?”. Anak menjawab: “Kamu mau susu”. Jelas sekali bahwa anak-anak autism kesulitan dalam menggunakan kata ganti kamu sebagai aku.

  1. Repetitive and stereotyped play

Secara tipycal, cara bermain anak dengan gangguan autism itu sangat terbatas. Mereka cenderung mengulang-ualang aktivitas yang sama dan kurang dapat mengembangkan bermain berpura-pura secara imajinatif.  Sebagaimana anak-anak pada umumnya bermain pura-pura dengan media boneka atau mobil-mobilan dengan teman sebayanya, namun tidak untuk anak-anak autism.

  1. Maintenance of sameness

Hal ini ditunjukkan dengan beberapa anak dengan gangguan autism dalam menolak perubahan di sekelilingnya dan kehidupan sehari-harinya. Ada anak autism yang memiliki kecenderungan selalu menutup pintu. Ia tidak mengizinkan pintu dalam keadaan terbuka dan bahwa pintu itu harus selalu tertutup. Hal ini dikarenakan ketidakmampuan anak memahami kenapa perubahan itu harus terjadi. Konsep pintu yang ada di rumahnya adalah tertutup, tidak terbuka.

  1. Good rote memory

Beberapa anak-anak dengan gangguan autism itu menunjukkan prestasi yang luar biasa dalam mengingat dan belajar hafalan. Pada kasus-kasus tertentu anak autism mungkin dapat mengingat nama-nama kota ternama di dunia atau nama-nama universitas dan atau urutan arah jalan saat bepergian ke tempat tertentu, nomer telepon, peta daerah tertentu hanya dengan melihat beberapa kali saja. (visual learner).

  1. Normal physical appearance

Terlihatnya normal secara fisikal. Hal ini merupakan ciri yang terakhir dimana mendorong Kanner untuk meyakini bahwa anak-anak dengan gangguan autism tanpa kecuali memiliki intelegensi normal. Untuk beberapa tahun hal ini mengarahkan para ibudan professional memiliki harapan yang tidak realistik hasil dari diagnosis setiap anak dengan gangguan autism.

Aarons & Gittens (1999) menambahkan bahwa dalam waktu yang sama, seorang psychiatrist dari Jerman Hans Asperger mengenalkan pola perilaku abnormal dalam kelompok remaja dimana ia menyebutnya dengan “Autism Psychopathy” (kepribadian yang tidak normal). Tulisan yang dipublikasikannya terkenal adalah “Autism and Asperger Syndrome” yang diedit oleh Uta Frith tahun 1991. Kedua tulisan Hans Asperger dan Kanner mendeskripsikan aspek kondisi yang sama. Digby Tantam dalam publikasinya National Autism Society yang memberi kesan bahwa bagian dari keberadaan orang-orang dengan autism itu dapat bersosialisasi, perilaku yang janggal, ketrampilan secara verbal dan mengembangkan ketertarikan khusus. Dia menggunakan terminologi ”Aspergers Syndrome” untuk menentukan individu dalam kelompok ”difficulties”.

Daftar Pustaka

Aarons, Maureen and Gittens, Tessa. (1999). The Handbook of Autism, A Guide for Parent and Professionalls. Routledge, London and New York.

Volkmar, Paul, Klin dan Cohen. (2005). Handbook of Autism and Pervasive Developmental Disorder. Volume 1 : Diagnosis, Development, Neurobiology and Behavior. John Weley & Sons Inc

 

Dr. Joko Yuwono/Kepala Prodi Pendidikan Luar Biasa & PSD LPPM UNS

JOKO YUWONO, Lahir di Solo, 19 Juni 1973. PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN Bersekolah di Solo dari SD, SMP, SMA hingga jenjang Perguruan Tinggi. Lulus dari Prodi. Pendidikan Khusus (PKh) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 1997, saya hijrah ke Jakarta untuk mengaplikasikan keilmuan yang saya peroleh. Saya bekerja di sebuah pusat layanan anak berkebutuhan khusus (Autis dan Cerebral Palscy). Selama 3 tahun, Saya bekerja menjadi terapis, guru hingga Kepala SLB. Kemudian, pada tahun 2000, saya memulai mendirikan lembaga penanganan anak autis secara mandiri. Saya memiliki 3 lembaga, 2 lembaga penanganan anak autis di Jakarta dan 1 lembaga pendidikan anak usia dini/PAUD Tangerang. Pada tahun 2005, saya mengikuti seleksi masuk Program Master/S2, Jurusan Pendidikan Khusus (fokus: Pendidikan Inklusif). Kebetulan Program Master ini adalah Program Beasiswa kerjasama Direktorat Pendidikan Khusus Kemdikbud RI dan Braillo Norwey melalui Universitas Pendidikan Indonesia dan Oslo University di Bandung. Saya adalah angkatan ke 2. Selama dua tahun saya belajar tentang Pendidikan Inklusif. Setelah lulus, saya langsung melanjutkan Program Doktor pada Jurusan Psikologi dan Konseling. Selama 5 tahun, saya menempuh Program Doktor. Tahun 2012/2013 saya menyelesaikan sekolah. Jadi, 7 tahun saya bersekolah, menuntut ilmu, mondar-mandir Jakarta-Bandung. Saya menjadi guru/terapis di lembaga saya sendiri dan home visit (sejak 1997) di Jakarta sekitarnya. Saya juga pernah menjadi konsultan di Medan selama 2 tahun, 1-2 bulan sekali pergi ke Medan. Demikin pula di Jambi, Bandung dan Solo. Saya juga pernah jadi Konsultan di Sekolah Khusus di Jakarat, sebagai Tenaga Ahli di Direktorat PKLK Kemdikbud (2016) dan Konsultan di World Bank (2021) untuk Mengevaluasi Program Pendidikan Inklusif di Indonesia atas inisiasi Dirrektorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK) Kemdikbud-ristek RI. Selain menjadi guru atau terapis, saya juga menjadi Dosen di beberapa Universitas seperti Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Prog. PGSD dan Bimbingan Konseling sekitar 7 tahun, Universitas Islam Nusantara/Uninus Jur. Pendidikan Luar Biasa, Bandung selama 7 tahun dan MENDIRIKAN dan mengajar di Prodi Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayas Serang Banten selama 5 tahun. Dan tak disangka, akhirnya saya kembali ke kampung halaman, Solo. Saat ini, Saya mengabdikan diri di Prodi. Pendidikan Khusus FKIP UNS/Universitas Sebelas Maret Surakarta. Terima Kasih Prof. Dr. Ravik Karsidi, Prof. Dr. Sunardi, Prof. Gunarhadi, Prof. Munawir Yusuf dan juga Dr. Subagya yang memotivasi saya untuk kembali ke UNS Surakarta dan terus berkarya. KELUARGA DAN PENGALAMAN KERJA SRABUTAN Saya adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara. Bapak saya adalah seorang sopir dan si Mbok adalah penjual gorengan dan nasi kucing di Kampung Sewu Jebres Solo. Penghasilan orang tua jauh dari pas-pasan. Sekolah terbata-bata. Saya harus bersekolah sambil bekerja waktu S1-S3, semuanya MANDIRI. Alhamdulilah. Berbagai pekerjaan pernah saya lakoni, jual jagung bakar, jual nasi, jualan es dawet, kuli bangunan, jualan alat kesehatan, jaga counter di Pasar Pagi Mangga Dua, jualan tas keliling hingga ke Pacitan dan Ponorogo, membuat tas dari sak semen (bungkus semen), hingga mengamen adalah cara untuk mempertahankan hidup dan bersekolah/kuliah. Selalu cemas setelah ujian akhir semester, dimana sementara mahasiswa yang lain kebanyakan sibuk memikirkan kemana mereka akan rekreasi/refreshing setelah menemouh ujian semesteran, saya justru dipaksa harus berpikir keras kemana mencari uang SPP yang pada waktu itu cuma Rp. 90.000-150.000. Alhamdulillah, selesai juga dan tak menyangka kini saya bisa bersekolah terus hingga tuntas, hingga Doktor. berkah anak dari si Mbok Penjual Nasi Kucing, jajanan khas Kota Solo (angkringan). Terima kasih Allah SWT. Apa yang saya tulis di atas bukan saya ingin menyombongkan diri, tetapi hanya berbagi pengalaman. Sekolah hanyalah tanda bahwa kita pernah belajar dan berpikir. Sekolah setinggi-tingginya adalah penting, lebih penting lagi adalah apa yang bisa kita lakukan setelah sekolah, apa yang bisa kita perbuat setelah sekolah! Terus Belajar dan Salam Hidup Bermanfaat!!