Memahami dan Mengatasi Tantrum dan Meltdown Anak Autis

Orang tua, pengasuh dan GURU pernah menyaksikan kemarahan dan emosi dari anak autisme yang meledak-ledak. Perilaku mereka dari luar terlihat persis seperti amarah anak-anak kecil. Ada 2 hal perilaku terkait dengan anak autis yakni dengan istilah Tantrum dan Meltdown. Keduanya terlihat sama tetapi berbeda.

Tantrum (mengamuk) pada anak kecil biasanya berasal dari frustrasi karena tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan pada saat itu dan atau tertekan: apakah itu ingin mainan, makanan, melakukan aktifitas sederhana yang diinginkan, atau tidak ingin pergi tidur. Tantrum pada anak kecil bisa lebih sering terjadi ketika mereka lelah, lapar atau tidak enak badan, mereka selalu berorientasi pada tujuan. Entah frustrasi karena tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, tidak mampu melakukan apa yang mereka inginkan, atau bahkan tidak mampu mengomunikasikan apa yang mereka inginkan dengan benar.  Sementara itu, Meltdown pada anak autis pada sisi lain itu adalah tentang kewalahan (over stimulation). Anak autisme, ketika mereka mencapai titik sensorik, emosional, dan informasi yang berlebihan, atau bahkan terlalu banyak ketidakpastian, itu dapat memicu berbagai perilaku eksternal yang mirip dengan tantrum (seperti menangis, berteriak, atau menjilat) ), atau dapat memicu shutdown dan withdrawal (menarik diri secara total).

Perilaku Tantrum pada anak autis itu karena keinginan anak tidak dapat dipenuhi oleh lingkungan (guru, teman, situasi dll) maka anak akan tantrum. Nah, ada istilah tentangMeltdown, yakni perilaku yang terjadi jika anak sudah over stimulation dan anak autis tidak dapat merespon dengan baik. Anak marah karena situasi tak dapat dipahami akibat over stimulation (Baca: Jean Ayres dan Miller tentang: Sensory Processing Disorders (SPD). Perilaku Tantrum dan Meltdown jika dibiarkan dalam waktu yang panjang maka akan mengganggu perkembangan anak autis.

Salah beberapa cara mengatasi perilaku tantrum adalah tenangkan anak, jangan menekan anak atau memaksa tugas sementera anak tidak bersedia mengerjakan tugaa. Guru harus sedikit mengubah cara. Identifikasilah apa yang membuat anak tantrum. Sedang untuk meltdown adalah kenali anak, hal-hal apa yang membuat kemarahan anak muncul dengan mengidentifikasi apa yang membuat anak Meltdown, buat pengelolaan kelas dengan tujuan mengurangi sebanyak mungkin situasi membuat anak autis kebingungan. Jika perilaku meltdown terjadi berikan waktu anak untuk sendiri (tetap terawasi) untuk menenangkan diri. Ingat dengan over stimulation.

PERHATIAN:

  1. Jangan anggap sepele biasanya guru mengatakan: “biasa dia….susah,….saya tidak tahu, atau guru mengatakan lagi EROR atau Kumat! Sangat tidak dinginkan kata2 itu!.
  2. Jangan Dimarahi! Karena itu menambah masalah perkembangan anak.
  3. Kurangi hal-hal yang menyebabkan terjadinya Tantrum dan Meltdown dengan ilustrasi seperti “ada sebuah ember dipenuhi dengan air ingga terlalu banyak maka tumpah semua. Solusinya adalah lubangi ember sedikit (kecil-kecil) sehingga dapat mengalir keluar untuk mengeurangi beban tekanan air” (tekanan dan beban sensorik yang membuat bingung anak)
  4. Jangan mengacuhkan. Tetap terawasi dan berikan ketenangan, rasa nyaman.
 

Dr. Joko Yuwono/Dosen PKh & PSD LPPM UNS

JOKO YUWONO, Lahir di Solo, 19 Juni 1973. PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN Bersekolah di Solo dari SD, SMP, SMA hingga jenjang Perguruan Tinggi. Lulus dari Prodi. Pendidikan Khusus (PKh) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 1997, saya hijrah ke Jakarta untuk mengaplikasikan keilmuannya bekerja di sebuah pusat layanan anak berkebutuhan khusus (Autis dan Cerebral Palscy). Selama 3 tahun bekerja menjadi terapis, guru hingga kepala SLB telah dilakoninya. Kemudian, pada tahun 2000, saya memulai mendirikan lembaga penanganan anak autis secara mandiri. Akhirnya saya memiliki 3 lembaga, 2 lembaga penanganan anak autis di Jakarta dan 1 lembaga pendidikan anak usia dini Tangerang. Pada tahun 2005, saya mengikuti seleksi masuk Program Master/S2, Jurusan Pendidikan Khusus (fokus: Pendidikan Inklusif). Kebetulan Program Master ini adalah Program Beasiswa kerjasama Direktorat Pendidikan Khusus Kemdikbud RI dan Braillo Norwey melalui Universitas Pendidikan Indonesia dan Oslo University di Bandung. Saya adalah angkatan ke 2. Selama dua tahun saya lulus dan langsung melanjutkan Program Doktor pada Jurusan Psikologi dan Konseling. Selama 5 tahun, saya menempuh Program Doktor. Tahun 2012/2013 saya menyelesaikan sekolahnya. Jadi, 7 tahun saya bersekolah, menuntut ilmu, mondar-mandir Jakarta-Bandung. Saya menjadi guru/terapis di lembaga saya sendiri dan home visit (sejak 1997) di Jakarta sekitarnya. Saya juga pernah menjadi konsultan di Medan selama 2 tahun, 1-2 bulan sekali pergi ke Medan. Demikin pula di Jambi, Bandung dan Solo. Selain menjadi guru atau terapis, saya juga menjadi Dosen di beberapa Universitas seperti Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Prog. PGSD dan Bimbingan Konseling sekitar 7 tahun, Universitas Islam Nusantara/Uninus Jur. Pendidikan Luar Biasa, Bandung selama 7 tahun dan MENDIRIKAN dan mengajar di Prodi Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayas Serang Banten selama 5 tahun. Dan tak disangka, akhirya saya kembali ke kampung halaman, Solo. Saat ini, Saya mengabdikan dirinya di Prodi. Pendidikan Khusus FKIP UNS/Universitas Sebelas Maret Surakarta. Terima Kasih Prof. Dr. Ravik Karsidi, Prof. Dr. Sunardi, Prof. Gunarhadi, Prof. Munawir Yusuf dan juga Dr. Subagya yang memotivasi saya untuk terus berkarya. KELUARGA Saya adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara. Bapak saya adalah seorang sopir dan si Mbok adalah penjual gorengan dan nasi kucing di Solo. Penghasilan orang tua jauh dari pas-pasan. Sekolah terbata-bata. Saya harus bersekolah sambil bekerja waktu S1-S3, semuanya MANDIRI. Alhamdulilah. Berbagai pekerjaan pernah saya lakoni, jual jagung bakar, jual nasi, jualan es dawet, kuli bangunan, jualan alat kesehatan, jaga counter di Pasar Pagi Mangga Dua, jualan tas keliling hingga ke Pacitan dan Ponorogo, membuat tas dari sak semen, hingga mengamen adalah cara untuk mempertahankan hidup dan bersekolah. Selalu cemas setelah ujian akhir semester, dimana sementara mahasiswa yang lain kebanyakan sibuk memikirkan kemana mereka akan rekreasi/refreshing, saya sibuk berpikir keras kemana mencari uang SPP yang pada waktu itu cuma Rp. 90.000-150.000. Alhamdulillah, tak menyangka kini saya bisa bersekolah terus hingga tuntas. Terima kasih Allah SWT. Apa yang saya tulis di atas bukan saya ingin menyombongkan diri, tetapi hanya berbagi pengalaman. Karena sejatinya, sekolah hanyalah tanda bahwa kita pernah belajar dan berpikir. Sekolah setinggi-tingginya adalah penring, lebih penting lagi apa yang bisa kita lakukan setelah sekolah, apa yang bisa kita perbuat setelah sekolah! Terus Belajar dan Hidup Bermanfaat!!

 

6 thoughts on “Memahami dan Mengatasi Tantrum dan Meltdown Anak Autis

  1. Hello! I’m at work browsing your blog from
    my new iphone 3gs! Just wanted to say I love reading through your
    blog and look forward to all your posts! Keep up the fantastic work!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *