COVID-19: TIPS BAGI ORANG TUA MENGASUH DAN MENDIDIK ANAK AUTIS DI RUMAH

Core hambatan perkembangan pada anak dengan gejala autism/Autistic Spektrum Disorder (ASD) meliputi tiga area perkembangam yakni perilaku repetitif (repetitive behavioral), social interaction dan communication. Ada banyak artikel yang menyebutkan bahwa ada hambatan penyerta pada anak autis yakni mototik, sensorik, emotional maupun akademik problem sebagai dampak dari kondisi anak autis. Manifestasi perilaku anak ASD menjadi sangat rumit pada banyak aktifitas sehari-hari ketika kompleksitas masalah perkembangan belum tertangani dengan baik.

Dengan memperhatikan kompleksitas permasalahan perkembangan anak ASD,  pada masa Pandemi Covid-19 tentu tidak mudah bagi sekolah/guru, lebih tepatnya adalah keluarga/orang tua untuk memberikan perlindungan kesehatan dan pembelajaran yang terbaik di rumah. Orang tua harus memiliki pemahaman yang komprehensip tentang ASD agar dapat membantu anak ASD tetep merasa aman, nyaman dan tidak stress karena perubahan banyak hal sebagai dampak dari Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia, Stay at Home, social distancing dan Belajar Dari Rumah (BDR)

Dalam masa Pandemi Covid-19, Narzisi (2020) memberikan 10 tips untuk membantu orang tua dan pengasuh anak Autistic Spektrum Disorder (ASD). Guru dapat membantu orang tua untuk memperhatikan pelaksanaan pembelajaran di rumah dalam beberapa hal sebagai berikut.

  1. Jelaskan kepada anak Anda apa COVID-19

Anak-anak dengan ASD memiliki gaya kognitif konkret dan beberapa dari mereka dapat memiliki persoalan verbal yang serius, dan menunjukkan kesulitan dalam persepsi fenomenologis. Penting untuk menjelaskan apa itu COVID-19 dan mengapa kita semua harus tinggal di rumah. Penjelasannya harus sederhana dan konkret. Untuk tujuan ini dimungkinkan untuk menggunakan augmentative alternative communication (AAC). Dimungkinkan juga untuk meminta bantuan dari guru atau terapis dalam menyiapkan pamflet singkat berjudul “Apa itu COVID-19?” menggunakan strategi AAC individual. Untuk anak-anak muda yang verbal penjelasannya harus didukung dengan pemetaan konsep untuk membuatnya lebih mudah bagi anak untuk mengerti.

  1. Structure Daily Life Activities

Secara luas dilaporkan bahwa anak-anak dengan ASD memiliki defisit fungsi eksekutif dan mereka dapat menunjukkan masalah dalam merencanakan kegiatan kehidupan sehari-hari mereka, terutama ketika rutinitas mereka kacau. Untuk alasan ini, penting, terutama sekarang, untuk menyusun kegiatan kehidupan sehari-hari. Rumah adalah pengaturan unik di mana kegiatan berlangsung. Akan bermanfaat untuk membagi kegiatan sehari-hari, menugaskan ruang yang berbeda untuk masing-masing kegiatan tersebut. Struktur ini dapat bermanfaat tidak hanya untuk anak-anak dengan ASD yang berfungsi rendah dan/atau menengah tetapi juga bagi mereka yang berfungsi tinggi. Ini bisa menjadi kegiatan untuk berbagi dengan seluruh keluarga sebagai jenis permainan. Dengan menggunakan papan tulis, setiap anggota keluarga dapat memiliki ruang untuk menulis kegiatan yang direncanakan

  1. Semi-Structured Play Activities Children

Anak-anak dengan ASD menikmati bermain, tetapi mereka dapat menemukan beberapa jenis permainan yang sulit karena masalah sensorik atau karena mereka lebih suka kegiatan terstruktur atau semi-terstruktur. Pada siang hari akan penting untuk menangani kegiatan bermain. Ini dapat bersifat individu dan/atau bersama. Pilih kegiatan yang disukai anak Anda. Sebagai contoh bermain LEGO bisa menjadi solusi yang baik untuk anak-anak dengan ASD yang berfungsi rendah atau tinggi. Kegiatan bermain berbasis LEGO adalah program keterampilan sosial yang semakin populer untuk anak-anak dan remaja dengan masalah komunikasi sosial seperti ASD. Ini bisa menjadi aktivitas bermain semi-terstruktur yang dibagikan dengan orang tua atau saudara kandung dalam pengaturan rumah.

  1. Use of Serious Games

Game serius dapat bermanfaat untuk meningkatkan kognisi sosial dan mengenali emosi wajah, gerakan emosi, dan situasi emosional pada anak-anak dengan ASD. Game yang serius dapat menjadi sumber daya mendasar bagi anak-anak ASD. Banyak game serius gratis dan dapat diunduh sebagai Aplikasi untuk tablet dan/atau PC dari situs khusus. Game yang serius bisa menjadi alternatif pendidikan untuk video game.

  1. Shared Video Game and/or Internet Sessions with Parents Video

Berbagi Video Game dan/atau Sesi Internet dengan Orang Tua Video game dan internet sangat menarik bagi anak-anak dengan ASD tetapi mereka bisa menjadi minat penyerap, terutama pada periode ini ketika anak-anak dipanggil untuk tinggal di rumah. Tidak mungkin untuk menghindari anak-anak bermain dengan komputer tetapi pada saat ini, ketika orang tua juga ada di rumah, mungkin ada gunanya menetapkan aturan di mana anak-anak diharapkan untuk berbagi video game/ internet (dengan orang tua, saudara kandung, atau pengasuh lainnya). Ini dapat menghindari risiko potensial isolasi anak dan kecanduan internet.

  1. Implement and Share Special Interests with Parents Special

Melaksanakan dan membagikan minat khusus dengan orang tua dapat menjadi karakteristik orang-orang dengan ASD. Ada peningkatan jumlah bukti yang mengakui potensi manfaat yang dapat membawa minat khusus. Minat khusus harus didukung dari orang tua dan/atau pengasuh. Kereta, peta, hewan, buku komik, geografi, elektronik, dan sejarah dapat menjadi beberapa minat khusus potensial. Dalam periode di mana orang tua dan anak-anak tinggal di rumah, mereka dapat merencanakan beberapa kegiatan dengan minat khusus ini.

  1. Online Therapy for High-Functioning Children

Terapi online untuk anak-anak yang berfungsi tinggi. Disadari bahwa kerentanan psikiatris dan atau komorbiditas tinggi pada anak-anak dengan ASD. Di antara gangguan kecemasan komorbiditas ini adalah salah satu yang paling dilaporkan, High Fungtioning Children. Komorbiditas psikiatris dapat berkontribusi pada gangguan perkembangan terutama pada usia remaja. Status siaga sebenarnya untuk COVID-19 bisa menjadi peristiwa yang sulit untuk dimentalisasi untuk anak-anak dengan ASD. Untuk alasan ini, jika anak-anak terlibat dalam psikoterapi sebelum peringatan COVID-19, sangat penting bagi mereka untuk meneruskannya. Karena banyak terapis telah menghentikan terapi tatap muka mereka, sangat disarankan untuk melanjutkan psikoterapi dalam video online atau modalitas audio dengan janji mingguan yang sama. Ini dapat mengurangi kecemasan, memeriksa suasana hati, dan menawarkan kepada anak-anak ruang pribadi untuk berbicara dengan seorang spesialis.

  1. Weekly Online Consultations for Parents and Caregivers

Konsultasi online mingguan untuk orang tua dan wali orang tua dari anak-anak dengan autis mengalami lebih banyak stres dan lebih rentan daripada orang tua dari anak-anak dengan hambatan lainnya. Saat ini, orang tua sendirian dalam menangani anak-anak mereka dengan ASD. Ini dapat mewakili risiko tinggi lebih lanjut untuk tingkat stres mereka, yang sudah parah. Untuk alasan ini, akan sangat berguna untuk memiliki kesempatan untuk konsultasi online mingguan dengan terapis anak-anak mereka. Ini berlaku untuk orang tua dari anak-anak rendah dan berfungsi tinggi. Dalam kasus fungsi rendah, orang tua dapat berbagi video rumahan singkat dengan terapis tentang perilaku anak-anak selama bermain bebas atau sesi terstruktur di rumah. Dalam kasus anak-anak yang berfungsi tinggi, konsultasi dapat menjadi pertukaran dialogis yang berfokus pada cara-cara yang paling tepat untuk mengelola masa sulit COVID-19 lansiran ini dan untuk memperbarui orang tua tentang tingkat strategi koping anak-anak

  1. Maintain Contact with the School

Pertahankan tetap untuk kontek/berhubungan dengan Sekolah. Penelitian yang berkembang mendukung saran bahwa hubungan yang dibentuk anak-anak dengan guru dan teman sekelas mereka berdampak pada pembelajaran. Sangat penting untuk mendedikasikan slot waktu untuk pekerjaan rumah. Ini adalah rutinitas yang harus dijaga. Untuk menjaga kontak sosial dengan teman sekolah disarankan untuk memiliki setidaknya kontak mingguan dengan salah satu teman kelas. Modalitas kontak ini harus bergantung pada preferensi anak. Itu bisa berupa video daring bagi mereka yang suka. Untuk anak-anak dengan ASD yang tidak suka menggunakan video untuk kontak online mereka dapat didorong untuk menulis surat kepada salah satu teman sekolah mereka atau untuk memanggil mereka melalui telepon. Untuk anak-anak dan orang tua, sangat dianjurkan untuk menjaga kontak dengan guru khusus online atau melalui telepon.

  1. Leave Spare Time.

Anak-anak dengan ASD harus distimulasi, seperti yang ditunjukkan dalam tips 1-9, tetapi juga dimungkinkan untuk meninggalkan mereka semacam kuota waktu luang yang tepat di siang hari misalnya berjalan kaki singkat di dekat rumah. (pastikan terlindungi dari Covid-19). Pada periode ini anak-anak dapat mengalami peningkatan stereotip. Ini tidak perlu menjadi perhatian khusus. Pada saat ini, ketika kebiasaan berubah, tingkat stres dapat meningkat untuk anak-anak dengan ASD (Yuwono, 2019) dan peningkatan stereotip dapat menjadi hasil perilaku stres yang dirasakan. Mereka pasti tidak akan mundur.(Narzisi, 2020)

Referensi

Narzisi, A. (2020). Handle the autism spectrum condition during coronavirus (Covid-19) stay at home period: Ten tips for helping parents and caregivers of young children. Brain Sciences, 10(4). https://doi.org/10.3390/brainsci10040207

Yuwono, Joko. 2019. Memahami Anak Autistik, Kajian Teorik dan Empeirik. Bandung: Alfabeta

 

Dr. Joko Yuwono/Dosen PKh & PSD LPPM UNS

JOKO YUWONO, Lahir di Solo, 19 Juni 1973. PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN Bersekolah di Solo dari SD, SMP, SMA hingga jenjang Perguruan Tinggi. Lulus dari Prodi. Pendidikan Khusus (PKh) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 1997, saya hijrah ke Jakarta untuk mengaplikasikan keilmuannya bekerja di sebuah pusat layanan anak berkebutuhan khusus (Autis dan Cerebral Palscy). Selama 3 tahun bekerja menjadi terapis, guru hingga kepala SLB telah dilakoninya. Kemudian, pada tahun 2000, saya memulai mendirikan lembaga penanganan anak autis secara mandiri. Akhirnya saya memiliki 3 lembaga, 2 lembaga penanganan anak autis di Jakarta dan 1 lembaga pendidikan anak usia dini Tangerang. Pada tahun 2005, saya mengikuti seleksi masuk Program Master/S2, Jurusan Pendidikan Khusus (fokus: Pendidikan Inklusif). Kebetulan Program Master ini adalah Program Beasiswa kerjasama Direktorat Pendidikan Khusus Kemdikbud RI dan Braillo Norwey melalui Universitas Pendidikan Indonesia dan Oslo University di Bandung. Saya adalah angkatan ke 2. Selama dua tahun saya lulus dan langsung melanjutkan Program Doktor pada Jurusan Psikologi dan Konseling. Selama 5 tahun, saya menempuh Program Doktor. Tahun 2012/2013 saya menyelesaikan sekolahnya. Jadi, 7 tahun saya bersekolah, menuntut ilmu, mondar-mandir Jakarta-Bandung. Saya menjadi guru/terapis di lembaga saya sendiri dan home visit (sejak 1997) di Jakarta sekitarnya. Saya juga pernah menjadi konsultan di Medan selama 2 tahun, 1-2 bulan sekali pergi ke Medan. Demikin pula di Jambi, Bandung dan Solo. Selain menjadi guru atau terapis, saya juga menjadi Dosen di beberapa Universitas seperti Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Prog. PGSD dan Bimbingan Konseling sekitar 7 tahun, Universitas Islam Nusantara/Uninus Jur. Pendidikan Luar Biasa, Bandung selama 7 tahun dan MENDIRIKAN dan mengajar di Prodi Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayas Serang Banten selama 5 tahun. Dan tak disangka, akhirya saya kembali ke kampung halaman, Solo. Saat ini, Saya mengabdikan dirinya di Prodi. Pendidikan Khusus FKIP UNS/Universitas Sebelas Maret Surakarta. Terima Kasih Prof. Dr. Ravik Karsidi, Prof. Dr. Sunardi, Prof. Gunarhadi, Prof. Munawir Yusuf dan juga Dr. Subagya yang memotivasi saya untuk terus berkarya. KELUARGA Saya adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara. Bapak saya adalah seorang sopir dan si Mbok adalah penjual gorengan dan nasi kucing di Solo. Penghasilan orang tua jauh dari pas-pasan. Sekolah terbata-bata. Saya harus bersekolah sambil bekerja waktu S1-S3, semuanya MANDIRI. Alhamdulilah. Berbagai pekerjaan pernah saya lakoni, jual jagung bakar, jual nasi, jualan es dawet, kuli bangunan, jualan alat kesehatan, jaga counter di Pasar Pagi Mangga Dua, jualan tas keliling hingga ke Pacitan dan Ponorogo, membuat tas dari sak semen, hingga mengamen adalah cara untuk mempertahankan hidup dan bersekolah. Selalu cemas setelah ujian akhir semester, dimana sementara mahasiswa yang lain kebanyakan sibuk memikirkan kemana mereka akan rekreasi/refreshing, saya sibuk berpikir keras kemana mencari uang SPP yang pada waktu itu cuma Rp. 90.000-150.000. Alhamdulillah, tak menyangka kini saya bisa bersekolah terus hingga tuntas. Terima kasih Allah SWT. Apa yang saya tulis di atas bukan saya ingin menyombongkan diri, tetapi hanya berbagi pengalaman. Karena sejatinya, sekolah hanyalah tanda bahwa kita pernah belajar dan berpikir. Sekolah setinggi-tingginya adalah penring, lebih penting lagi apa yang bisa kita lakukan setelah sekolah, apa yang bisa kita perbuat setelah sekolah! Terus Belajar dan Hidup Bermanfaat!!

 

2 thoughts on “COVID-19: TIPS BAGI ORANG TUA MENGASUH DAN MENDIDIK ANAK AUTIS DI RUMAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *