KEHADIRAN ANAK AUTIS DALAM KELUARGA

Kehadiran anak autis di tengah-tengah keluarga akan mempengaruhi pada kehidupan keluarga, khususnya pada aspek psikologis orang tua yang selanjutnya mempengaruhi hubungan suami istri dan anggota keluarga lainnya, termasuk di dalamnya adalah saudara kandung. Berdasarkan pengalaman penulis selama 20 tahun lebih sebagai praktisi dalam memberikan layanan konsultasi dan membimbing orang tua serta intervensi dini anak autis, kehadiran anak autis menunjukkan dampak yang bervariasi bagi keluarga. Dampak yang ditimbulkan seperti adanya sikap yang saling menyalahkan atas kondisi anaknya yang autis, menyalahkan masa lalu, suami menyalahkan istri atas ketidakmampuan dalam mengasuh anaknya dan sebagainya. Hubungan suami istri menjadi masalah awal mulanya.
Masa-masa sulit yang dihadapi oleh orang tua adalah menanti diagnosis dan setelah hasil diagnosis dari psikolog atau dokter yang menyatakan anaknya autis. Orang tua bingung dan cemas atas situasi dan kondisi perkembangan anaknya yang autistik pada saat ini dan di masa datang. Hardman, Drew, Egan dan Wolf (1993) yang dikutip oleh Handerson (2004)  menyatakan bahwa dengan mengetahui anaknya didiagnosis sebagai autis, orang tua mengalami shock (terkejut, tidak percaya). Sikap ini biasanya diikuti dengan berbagai sikap seperti cemas, merasa bersalah, menjadi persoalan, bingung, tidak punya harapan, marah, tidak berdaya, atau menolak, limbung, tidak tahu harus berbuat apa, merasa tak berdaya, menyalahkan diri sendiri, marah kepada diri sendiri, pasangan bahkan kepada anaknya yang autis tersebut dan bertanya-tanya kepada Tuhan kenapa terjadi seperti ini. Mereka sedih sekali dan muncul sikap putus asa yang dapat berkembang menjadi depresi dan stres berkepanjangan, merasa tidak diperlakukan dengan adil, tidak percaya pada fakta dan berpindah dari satu dokter ke dokter lain untuk menegaskan bahwa dokter tersebut salah; tawar menawar diagnosa dan menolak kenyataan/fakta lalu bersikukuh bahwa anak tidak bermasalah.
Hal senada juga ditunjukkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Widodo (2008), bahwa ibu yang memiliki sikap/penyesuaian diri negatif terhadap kehadiran anak autistik memiliki ciri-ciri seperti tidak dapat menerima kenyataan memiliki anak autistik, tidak dapat menerima keberadaan anak autis secara apa adanya, tidak melakukan penanganan terhadap anak autistik dan merasa rendah diri serta bersikap tertutup terhadap orang lain dengan keberadaan anaknya.
Fakta-fakta tersebut di atas pada umumnya dialami oleh semua orang tua yang anaknya didiagnosis sebagai anak autistik. Tidak ditemukan orang tua yang menunjukkan sikap ”biasa-biasa” saja ketika anaknya didiagnosis sebagai anak autistik. Yang membedakan sikap orang tua terhadap kehadiran anak autistik adalah berapa lama orang tua ”bangkit” dari keadaan yang dirasa kurang ”srek” (baca : jawa)/kurang nyaman menjadi sikap yang optimis, peduli dan menerima anak sebagai mana adanya hingga pada level sikap tertinggi yang ditunjukkan orang tua dengan tetap mengatasi masalah selayaknya keluarga yang memiliki anak-anak pada umumnya. Meraka adalah yang sudah berprinsip bahwa masalah selalu hadir dan harus diatasi. Pada level ini, orang tua dan keluarga memandang bahwa kehidupan harus tetap berjalan, tanpa mengeluh dan tetap menatap masa depan keluarga dan anaknya yang selalu menunggu dan membutuhkan pertolongan orang tua dan keluarga.

 

 

Dr. Joko Yuwono/Dosen PKh & PSD LPPM UNS

JOKO YUWONO, Lahir di Solo, 19 Juni 1973. PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN Bersekolah di Solo dari SD, SMP, SMA hingga jenjang Perguruan Tinggi. Lulus dari Prodi. Pendidikan Khusus (PKh) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 1997, saya hijrah ke Jakarta untuk mengaplikasikan keilmuannya bekerja di sebuah pusat layanan anak berkebutuhan khusus (Autis dan Cerebral Palscy). Selama 3 tahun bekerja menjadi terapis, guru hingga kepala SLB telah dilakoninya. Kemudian, pada tahun 2000, saya memulai mendirikan lembaga penanganan anak autis secara mandiri. Akhirnya saya memiliki 3 lembaga, 2 lembaga penanganan anak autis di Jakarta dan 1 lembaga pendidikan anak usia dini Tangerang. Pada tahun 2005, saya mengikuti seleksi masuk Program Master/S2, Jurusan Pendidikan Khusus (fokus: Pendidikan Inklusif). Kebetulan Program Master ini adalah Program Beasiswa kerjasama Direktorat Pendidikan Khusus Kemdikbud RI dan Braillo Norwey melalui Universitas Pendidikan Indonesia dan Oslo University di Bandung. Saya adalah angkatan ke 2. Selama dua tahun saya lulus dan langsung melanjutkan Program Doktor pada Jurusan Psikologi dan Konseling. Selama 5 tahun, saya menempuh Program Doktor. Tahun 2012/2013 saya menyelesaikan sekolahnya. Jadi, 7 tahun saya bersekolah, menuntut ilmu, mondar-mandir Jakarta-Bandung. Saya menjadi guru/terapis di lembaga saya sendiri dan home visit (sejak 1997) di Jakarta sekitarnya. Saya juga pernah menjadi konsultan di Medan selama 2 tahun, 1-2 bulan sekali pergi ke Medan. Demikin pula di Jambi, Bandung dan Solo. Selain menjadi guru atau terapis, saya juga menjadi Dosen di beberapa Universitas seperti Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Prog. PGSD dan Bimbingan Konseling sekitar 7 tahun, Universitas Islam Nusantara/Uninus Jur. Pendidikan Luar Biasa, Bandung selama 7 tahun dan MENDIRIKAN dan mengajar di Prodi Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayas Serang Banten selama 5 tahun. Dan tak disangka, akhirya saya kembali ke kampung halaman, Solo. Saat ini, Saya mengabdikan dirinya di Prodi. Pendidikan Khusus FKIP UNS/Universitas Sebelas Maret Surakarta. Terima Kasih Prof. Dr. Ravik Karsidi, Prof. Dr. Sunardi, Prof. Gunarhadi, Prof. Munawir Yusuf dan juga Dr. Subagya yang memotivasi saya untuk terus berkarya. KELUARGA Saya adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara. Bapak saya adalah seorang sopir dan si Mbok adalah penjual gorengan dan nasi kucing di Solo. Penghasilan orang tua jauh dari pas-pasan. Sekolah terbata-bata. Saya harus bersekolah sambil bekerja waktu S1-S3, semuanya MANDIRI. Alhamdulilah. Berbagai pekerjaan pernah saya lakoni, jual jagung bakar, jual nasi, jualan es dawet, kuli bangunan, jualan alat kesehatan, jaga counter di Pasar Pagi Mangga Dua, jualan tas keliling hingga ke Pacitan dan Ponorogo, membuat tas dari sak semen, hingga mengamen adalah cara untuk mempertahankan hidup dan bersekolah. Selalu cemas setelah ujian akhir semester, dimana sementara mahasiswa yang lain kebanyakan sibuk memikirkan kemana mereka akan rekreasi/refreshing, saya sibuk berpikir keras kemana mencari uang SPP yang pada waktu itu cuma Rp. 90.000-150.000. Alhamdulillah, tak menyangka kini saya bisa bersekolah terus hingga tuntas. Terima kasih Allah SWT. Apa yang saya tulis di atas bukan saya ingin menyombongkan diri, tetapi hanya berbagi pengalaman. Karena sejatinya, sekolah hanyalah tanda bahwa kita pernah belajar dan berpikir. Sekolah setinggi-tingginya adalah penring, lebih penting lagi apa yang bisa kita lakukan setelah sekolah, apa yang bisa kita perbuat setelah sekolah! Terus Belajar dan Hidup Bermanfaat!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *