PANDEMI COVID-19; SELF CARE BAGI ORANG TUA DARI ANAK AUTISTIC SPECTRUM DISORDER (ASD) KETIKA BELAJAR DARI RUMAH

Merawat, mengasuh dan mendidik anak adalah tugas utama orang tua. Peran ini sangat strategis bagi perkembangan anak dimasa-masa mendatang. Demikian juga merawat, mengasuh dan mendidik anak-anak dengan sindrom autism. Kehadiran orang tua sangat dibutuhkan untuk membantu dan mendukung pada berbagai aspek perkembangan anak ASD yang terhambat. Menjadi orang tua dari anak autis tentu memiliki tantangan yang unik dalam merawat, mengasuh dan mendidik khususnya pada masa Pandemi Covid-19. Stay at home, social distancing, dan work from home memunculkan peran dadakan orang tua menjadi “as teacher” di rumah bagi anak-anaknya, anak ASD. Dibutuhkan pengetahuan, keterampilan, ketangguhan fisik, emosional dan mental yang kuat bagi oaring tua untuk tetap bersama dengan anak ASD selama Pandemi Covid-19. Dengan peran orang tua pada masa Pandemi Covid-19 yang penuh tekanan karena berbagai hal, maka orang tua membutuhkan pertologan orang lain dan butuh waktu luang untuk mengurus dirinya sendiri. Orang tua membutuhkan sedikit banyak waktu yang cukup untuk berpeduli dengan dirinya sendiri, aksi merawat diri (self care).

Memaknai Self Care

Self-care bisa didefinisikan sebagai tindakan merawat diri sendiri secara fisik dan mental. Ini adalah cara untuk memastikan kita mendapatkan waktu yang dibutuhkan untuk merasa nyaman dan tenang, misalnya dengan membaca buku, menonton tv, jalan-jalan di sekitar persawahan meikmati udara sejuk pedesaan di pagi hari,  atau sekedar sendau gurau dengan suami atau kerabat dekat serta sahabat. Atau sekedar hanya menelepon teman. Ada juga yang punya cara berlama-lama dengan Sang Pencipta pada waktu tertentu, berkomunitasi dalam ketenangan dan menguatkan pikiran dan psikologis apa yang kita butuhkan. Self-care adalah kesadaran diri yang kita butuhkan untuk tumbuh atau berkembang dengan cara yang membuat kita merasa santai, tenang dan bahagia. Orang tua butuh waktu untuk menge”charging”, mengisi battery daya kekuatan sehingga dapat bekerja dan berfugsi dengan baik. Melakukan perawatan diri (Self Care) bukanlah egois atau memanjakan. Itu adalah sebuah cara menjaga diri kita dengan baik untuk memastikan kita secara fisik, emosional, dan mental sehingga orang tua mampu berada di tengah-tengah keluarga membantu anak ASD yang sangat membutuhkan banyak pendampingan selama Pandemi Covid-19 ini.

Perawatan Diri adalah Cara Terbaik Membantu Anak ASD

Apakah bapak ibu pernah naik peswat terbang?. Ya, jika bapak ibu pernah naik pesawat terbang maka kita akan mendengar dan menyaksikan bagiamana pramugari menjelaskan dan memperagakan cara penumpang mengenakan masker oksigen sebelum membantu orang lain dalam situasi darurat. Hal yang sama berlaku untuk mengasuh anak ASD (Anak dengan Disabilitas). Kesehatan dan kesejahteraan orang tua itu penting agar orang tua dapat merawat, mengasuh dan mendidik anak  ASD dengan efektif. Perawatan diri bukanlah egois atau memanjakan karena hal itu adalah cara kita menjaga diri kita dengan baik untuk memastikan kita secara fisik, emosional, dan mental mampu berada di sana untuk anak-anak dan anak ASD di tengah-tengah keluarga.

Realitas Pandemi COVID-19 menjadikan perawatan diri bagi orang tua yang memilki anak ASD semakin penting. Dapat dipastikan bahwa mengasuh, merawat dan mendidik anak ASD pada masa Pandemi Covid-19, benteng ketangguhan bendungan akal, mental dan emosional orang tua terancam  jebol juga. Orang tua dihadapkan dengan peran tambahan sebagai pendidik di rumah, selain sebagai bekerja, mengurus rumah dan lingkungannya. Kondisi ini tentu menghadirkan tekanan tersendiri. Belum lagi orang tua menghadapi situasi yang tidak menentu dan penuh kekawatiran serta gelisah atas perkembangan kebijakan sosial, ekonomi, budaya, pendidikan yang berkembang pada masa Pandemi Covid-19 ini. Orang tua tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika dihadapkan dengan periode ketidakpastian yang lama, orang tua sangat memungkinkan menjadi stress. Akibat lainya mungkin akan muncul seperti kekhawatiran tentang hilangnya pendapatan, bagaimana menjaga ketersediaan makanan, dan banyak lagi. Tetapi anak ASD khususnya atau Disabilitas umumnya membutuhkan pendampingan, membutuhkan orang tua yang tenang, stabil, dan perilakunya dapat diprediksi bagi anak ASD. Ini adalah tantangan. Sebagai orang tua, salah satu cara terbaik untuk memastikan diri bahwa orang tua dapat membantu anak ASD secara maksimal adalah dengan menjaga diri sendiri. Self Care!

Perasaan Orang Tua dari Anak ASD

Kecemasan, kekhawatiran, dan kesedihan adalah respons normal selama dan setelah kejadian seperti coronavirus. Sebagai orang tua mungkin merasa kewalahan oleh tugas-tugas biasa atau terganggu dalam situasi dimana biasanya orang tua bersabar, munkin hari-hari di masa Pandemi Covid-19 orang tua menjadi lanbil.

Bebarapa hal yang perlu orang tua perhatikan adalah mengidentifikasi perasaan negative bapak ibu dalam menghadapi anak ASD di rumah. Ketika orang tua mengetahui bahwa kesabaranya berkuarang, bahkan berubah menjadi kemarahan ketika menghadapi anak ASD di rumah, cara yang pertama adalah silahkan ambil nafas atau tinggalkan anak sejenak dan pergi ambil minum, menengguk air secukupnya. Jika bapak ibu sebagai seorang muslim mungkin mengambil air wudlu adalah cara yang baik. Mungkin bisa juga segera berpindah aktifitas atau menghentikan kegiatan bersama anak ASD untuk sekedar keluar dari pergumulan emosional yang kuat.  Namun, dalam situasi yang terkontrol, orang tua dapat bekerjasama dengan anggota keluarga yang ada. Seabagai contoh jika ibu sedang mengajar anak ASD dan terlihat situasi psikologis memburuk, maka suami atau anggota keluarga yang lain harus segera mengingatkan dan menggantikan peranya. Ini dapat memberikan waktu bagi ibu untuk mengalihkan emosinya, menenangkan diri. Demikian kebalikannya bagi anggota keluarga lainya. Kondisi tersebut jika dibiarkan dalam waktu yang lama maka sangat mungkin orang tua akan stress berkepanjangan. Ini sangat tidak baik bagi orang tua dan anak ASD serta anggoata keluarga lainnya. Keluarga menjadi sangat tidak nyaman.

Pahamilah bahwa anak ASD membutuhkan cara yang berbeda-beda. Anak ASD membutuhkan tambahan waktu untuk dapat menyelesaikan tugasnya. Anak ASD membutuhkan kehadiran pendamping yang memahaminya. Anak ASD membutuhkan kehadiran orang tua yang “klik” mengerti atas kekuarangan dan kemampuan serta kebutuhan dalam kegiatan sehari-harinya.

Untuk menguarangi masalah kekawatiran, stress, kebingungan dan kegelisahan orang tua, pertimbangkan untuk membatasi informasi atau berita tentang kondisi Pandemi Covid-19. Sebaiknya orang tua dapat memilih informasi yang tepat dari sumber yang terpercaya misalkan pembaharuan berita dari pejabat kesehatan masyarakat tepercaya. Jangan membiarkan diri anda membabibuta membaca semua informasi yang masuk di dunia maya, mungkin melalui group WhatsApp atau media online lainnya. Ini penting karena banyak informasi yang tidak dapat dipercaya kebenaranya yang dapat mengganggu akal pikiran dan psikologis orang tua.

Kondisi keluarga dari anak ASD berbeda-beda. Indonesia juga belum memiliki system layanan yang baik guna menjamin keberlangsungan penanganan anak ASD pada masa Pandemi Covid-19. Keluarga yang memiliki anak ASD pada masa Pandemi Covid-19 belum memperoleh layanan konseling, psikologis, medis dan informasi yang terbaik dari pemerintah maupun lembaga-lembaga bantuan lainnya. Oleh karena itu, bagi beberapa keluarga atau kondisi di daerah tertentu, pikirkan tentang bagiaman menjangkau seorang profesional kesehatan untuk membantu dengan masalah kesehatan fisik atau mental. Tentu ini bisa dilakukan oleh keluarga yang cukup dengan financial atau mungkin keluarga dapat bekerjasama dengan sekolah, meskipun di sekolah khusus disabilitas (ASD) kecukupan professional untuk berkonsultasi masih terbatas. Bantuan oleh Negara melalui Pemerintah Kabubaten Kota dengan menyediakan layanan professional gratis bagi keluarga dan anak ASD khususnya dan Disabilitas umumnya sangat dibutuhkan.

Pahami Cara Berkomunikasi Anak ASD

Sebagaimana salah satu karakteristik dari perilaku anak ASD adalah Rigid Routine. Perilaku anak ASD yang cenderung melakukan kegiatan yang bersifat rutin, ketat. Sedikit ada perubahan pada aktifitas bagi anak ASD bukanlah sesuatu yang mudah baginya untuk memahami. Ketika anak ASD mengalami perubahan dalam rutinitas mereka, mereka mungkin bingung atau kesal. Anak ASD juga memiliki problem bagaimana menyampaikan keinginannya, kemarahannya. Oleh karena itu banyak anak ASD yang seringkali muncul perilaku tantrum atas tekanan kondisi yang ada di rumah. Apalagi terdapat anak ASD yang memiliki masalah dengan respon sensorik yang dimilikinya. Sangat mungkin anak ASD menjadi sangat sensitive, menghindari aktifitas atau situasi karena overload terhadap sensori. Maka akibatnya anak ASD marah-marah, menyendiri dan berperilaku yang tidak efektif. Seringkali orang di sekitarnya mengatakan anak marah-marah tanpa sebab yang jelas, padahal sebenarnya ada yang menyebabkanya namun orang-orang di sekitarnya TIDAK DAPAT memahami masalah perilaku anak ASD. Anak ASD mungkin ingin “memberi tahu” orang tua dan saudara melalui perilaku mereka dengan caranya.

Dalam kondisi ini, orang tua sangat mudah untuk menjadi frustrasi, karena sebagai orang tua sudah mengelola begitu banyak masalah di rumah pada masa Pandemi Covid-19 ini. Tetapi ketika orang tua menghadapi perilaku anak ASD yang unik, menantang, berhentilah sejenak untuk memikirkan apa yang mungkin ingin dikatakan anak ASD. Pahami perilaku anak ASD dan berikan dengan cara yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Luangkan Waktu untuk Perawatan Diri

Orang tua dan anak ASD mungkin sebelum Pandemi Covid-19 ini terbiasa memiliki waktu terpisah. Orang tua sibuk bekerja di kantor, pabrik, toko, perusahaan, atau di temapt kerja lainnya. Sementara itu anak ASD pergi sekolah, menjalani terapi dan melakukan berbagai aktifitas untuk memenuhi kebutuhan perkembangan anak. Ada juga anak ASD di penitipan anak atau boarding house (sekolah dengan asrama). Pada masa Pandemi Covid-19 ini, orang tua lebih banyak bersama anak ASD di rumah karena tindakan pencegahan penularan Covid-19. Anak ASD tidak bisa pergi sekolah, terapi atau juga kebalikannya tidak dikungjungi oleh terapis di rumah. Di masa Pandemi Covid-19 mungkin orang tua dan anak ASD serta anak-anak yang lainya tinggal bersama 24 jam sehari dan mungkin terasa mustahil untuk mendapatkan istirahat untuk diri sendiri.

Orang tua membutuhkan waktu luang untuk mengurus diri sendiri/self care. Kondisi keluarga yang memilki anak ASD tentu berbeda-beda. Sebagian keluarga ada yang suaminya tetap bekerja, ada juga yang istrinya bekerja, atau kedua-duanya bekerja sehingga anak ASD tingal bersama dengan kakek neneknya. Kondisi lain yang mungkin terjadi adalah orang tua salah satunya bekerja dari rumah dan atau keduanya bekerja dari rumah. Orang tua harus bekerja dan juga mengasuh anak-anak lainya serta bertanggungjawab dengan anak ASD. Kondisi yang menangtang bukaaan?

Sebaiknya orang tua membicarakan bagaimana dapat berbagi waktu pengasuhan sehingga masing-masing memiliki sedikit waktu sendirian. Berkolaborasi untuk membuat jadwal harian yang memungkinkan orang tua masing-masing untuk fokus pada tanggung jawab profesional utama sambil menjaga anak-anak tetap aman dan sibuk. Jadwal harian perlu dibuat dalam hal apa, siapa melakukan apa, kapan serta dimana. Menata ruang rumah agar semua berjalan dengan lancer adalah cara terbaik. Manfaatlan sumber daya yang ada. Mungkin perlu berubah setiap hari. Meluangkan waktu untuk merencanakan sebelum tidur atau selama sarapan dapat membuat  siap untuk meraih hari-hari yang sukses bersama anak ASD pada masa Pandemi Covid-19 ini.

Manfaatkan jadwal waktu untuk merawat diri. Beberapa pertanyaan ini mungkin bisa membantu orang tua untuk melakukan self care; Kegiatan apa yang membuat Anda bahagia? Kurangi tingkat stres Anda? Membuat Anda merasa tenang dan bersemangat lagi? Ini semua tentu berbeda-beda bagi setiap orang tua. Yang penting adalah menemukan strategi perawatan diri yang bisa mambantu orang tua menjadi refresh dan siap menghadapi tantangan pada masa Pandemi Covid-19.

Selamat menikmati Perawatan Diri dengan Caranya Sendiri. Semoga semuanya sukses. Lakukan yang terbaik bagi buah hati kita. Anak ASD membutuhkan pertolongan orang tua yang terbaik.

Jika Orang tua membutuhkan konsultasi tentang Program Penanganan Anak Autis dapat hubungi: Joko Yuwono. ke : 0822 9895 8741. Konsultasi Gratis di Pusat Studi Difabilitas LPPM UNS.  link web http://psd.lppm.uns.ac.id

 

Dr. Joko Yuwono/Dosen PKh & PSD LPPM UNS

JOKO YUWONO, Lahir di Solo, 19 Juni 1973. PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN Bersekolah di Solo dari SD, SMP, SMA hingga jenjang Perguruan Tinggi. Lulus dari Prodi. Pendidikan Khusus (PKh) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 1997, saya hijrah ke Jakarta untuk mengaplikasikan keilmuannya bekerja di sebuah pusat layanan anak berkebutuhan khusus (Autis dan Cerebral Palscy). Selama 3 tahun bekerja menjadi terapis, guru hingga kepala SLB telah dilakoninya. Kemudian, pada tahun 2000, saya memulai mendirikan lembaga penanganan anak autis secara mandiri. Akhirnya saya memiliki 3 lembaga, 2 lembaga penanganan anak autis di Jakarta dan 1 lembaga pendidikan anak usia dini Tangerang. Pada tahun 2005, saya mengikuti seleksi masuk Program Master/S2, Jurusan Pendidikan Khusus (fokus: Pendidikan Inklusif). Kebetulan Program Master ini adalah Program Beasiswa kerjasama Direktorat Pendidikan Khusus Kemdikbud RI dan Braillo Norwey melalui Universitas Pendidikan Indonesia dan Oslo University di Bandung. Saya adalah angkatan ke 2. Selama dua tahun saya lulus dan langsung melanjutkan Program Doktor pada Jurusan Psikologi dan Konseling. Selama 5 tahun, saya menempuh Program Doktor. Tahun 2012/2013 saya menyelesaikan sekolahnya. Jadi, 7 tahun saya bersekolah, menuntut ilmu, mondar-mandir Jakarta-Bandung. Saya menjadi guru/terapis di lembaga saya sendiri dan home visit (sejak 1997) di Jakarta sekitarnya. Saya juga pernah menjadi konsultan di Medan selama 2 tahun, 1-2 bulan sekali pergi ke Medan. Demikin pula di Jambi, Bandung dan Solo. Selain menjadi guru atau terapis, saya juga menjadi Dosen di beberapa Universitas seperti Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Prog. PGSD dan Bimbingan Konseling sekitar 7 tahun, Universitas Islam Nusantara/Uninus Jur. Pendidikan Luar Biasa, Bandung selama 7 tahun dan MENDIRIKAN dan mengajar di Prodi Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayas Serang Banten selama 5 tahun. Dan tak disangka, akhirya saya kembali ke kampung halaman, Solo. Saat ini, Saya mengabdikan dirinya di Prodi. Pendidikan Khusus FKIP UNS/Universitas Sebelas Maret Surakarta. Terima Kasih Prof. Dr. Ravik Karsidi, Prof. Dr. Sunardi, Prof. Gunarhadi, Prof. Munawir Yusuf dan juga Dr. Subagya yang memotivasi saya untuk terus berkarya. KELUARGA Saya adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara. Bapak saya adalah seorang sopir dan si Mbok adalah penjual gorengan dan nasi kucing di Solo. Penghasilan orang tua jauh dari pas-pasan. Sekolah terbata-bata. Saya harus bersekolah sambil bekerja waktu S1-S3, semuanya MANDIRI. Alhamdulilah. Berbagai pekerjaan pernah saya lakoni, jual jagung bakar, jual nasi, jualan es dawet, kuli bangunan, jualan alat kesehatan, jaga counter di Pasar Pagi Mangga Dua, jualan tas keliling hingga ke Pacitan dan Ponorogo, membuat tas dari sak semen, hingga mengamen adalah cara untuk mempertahankan hidup dan bersekolah. Selalu cemas setelah ujian akhir semester, dimana sementara mahasiswa yang lain kebanyakan sibuk memikirkan kemana mereka akan rekreasi/refreshing, saya sibuk berpikir keras kemana mencari uang SPP yang pada waktu itu cuma Rp. 90.000-150.000. Alhamdulillah, tak menyangka kini saya bisa bersekolah terus hingga tuntas. Terima kasih Allah SWT. Apa yang saya tulis di atas bukan saya ingin menyombongkan diri, tetapi hanya berbagi pengalaman. Karena sejatinya, sekolah hanyalah tanda bahwa kita pernah belajar dan berpikir. Sekolah setinggi-tingginya adalah penring, lebih penting lagi apa yang bisa kita lakukan setelah sekolah, apa yang bisa kita perbuat setelah sekolah! Terus Belajar dan Hidup Bermanfaat!!

 

10 thoughts on “PANDEMI COVID-19; SELF CARE BAGI ORANG TUA DARI ANAK AUTISTIC SPECTRUM DISORDER (ASD) KETIKA BELAJAR DARI RUMAH

  1. Bagus paparannya Pak Joko, strategi yg dilakukan oleh orang tua atau guru dalam melayani putranya dengan karakteristik menarik diri, sulit diajak beraktivitas, pasif, membuat orang tua berkecendrungan pasif juga. Bgmn cara agar anaknya mau beraktivitas Pak? Terimakasih

  2. Saya salut sm bapak yg sdh bekerja keras, berjuang, mandiri tak berhenti belajar hal itu menjadi insfirasi utk kt semua terimakasih sdh memberikan tips2 utk orangtua yg memiliki anak berkebutuhan khusus dimasa pandemi ini termasuk sy jg memiliki seorang putra yg berkebutuhan khusus itu sangat bermanfaat bagi sy terimakasih semoga bapak selalu diberikan kesehatan🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *