INTERVENSI UNTUK MENGEMBANGKAN KOMUNIKASI ANAK AUTIS (Bagian 1) Disarikan dari tulisan: Rhea Paul, PhD (2008) Interventions to Improve Communication in Autism

Kurangnya kemampuan berkomunikasi adalah salah satu gejala inti dari Autism Spektrum Disorders (ASD). Orang yang memiliki ASD bisa lambat untuk mulai berbicara atau mungkin tidak berbicara sama sekali. Beberapa anak autism lainya mungkin belajar untuk menghasilkan kata dan kalimat tetapi mengalami kesulitan menggunakannya secara efektif untuk mencapai tujuan interaktif sosial atau untuk kepentingan hidupnya sehari-hari. Pokok perkembangan bahasa dan komunikasi memainkan peran utama di hampir setiap titik dalam pengembangan untuk mendiagnosis dan memahami autism. Pengalaman penulis selama membantu orang tua dari anak autism kebanyakan mereka pertama mulai khawatir tentang perkembangan anak mereka karena keterlambatan sejak awal atau regresi dalam perolehan bicara. Yuwono (2019) menuliskan tentang anak autism yang ditinjau dari kemunculannya yakni klasik dan regresi. Riwayat keterlambatan bahasa dapat menjadi sangat penting dalam membedakan autism dari gangguan kejiwaan lainnya pada orang dewasa yang berfungsi tinggi. (DSM-IV)

Karena sentralitas defisit komunikatif dalam ekspresi ASD, perbaikan masalah komunikasi pada anak-anak dengan sindrom ini adalah salah satu bidang layanan pendidikan yang paling penting. Paul (2008) membagi diskusi intervensi untuk gangguan komunikasi ASD ini dibagi menjadi dua bagian besar bagian satu membahas perkembangan awal, perilaku komunikatif prelinguisik yang mengarah pada munculnya bahasa dan bagian kedua intervensi untuk anak-anak yang menghasilkan bahasa tetapi mengalami kesulitan menggunakannya secara tepat untuk interaksi sosial.

Communication intervention for children with pre-linguistic communication and emerging language

Characteristics of early communication in autism spectrum disorders

Banyak penelitian yang telah membahas karakteristik komunikatif prin anak-anak yang memiliki ASD. Chawarska dan Volkmar [2008] meninjau literatur ini dan mengidentifikasi beberapa karakteristik utama dari grup ini:

  • Perhatian terbatas pada ucapan, termasuk kegagalan merespons nama
  • Kurang memiliki kemampuan dalam joint attention skills termasuk mengkoordinasikan perhatian antara orang dan benda, menarik perhatian orang lain ke benda atau peristiwa untuk tujuan berbagi pengalaman, mengikuti pandangan dan menunjuk gerakan orang lain, mengalihkan pandangan antara orang dan objek untuk tujuan mengarahkan perhatian orang lain, dan mengarahkan pengaruh kepada orang lain melalui tatapan
  • tingkat komunikasi yang kurang
  • Keterbatasan komunikasi yang kurang beralasan untuk mencapai tujuan/maksud tertentu

·         Kegagalan untuk mengkompensasi kurangnya bahasa dengan bentuk komunikasi lain, terutama bentuk yang lebih konvensional, seperti menunjuk, menarik tangan, isyarat mata dan sebaginya·      Defisit dalam perilaku simbolik selain dari bahasa. Kesulitan meniru vokal dan perilaku lainnya, keduanya terkait erat dengan perkembangan bahasa pada anak-anak pada umumnya. Intervensi untuk komunikasi pada anak ASD yang berupaya untuk mengatasi berbagai kesulitan di atas. Intervention methods for children with prelinguistic communication and emerging language Paul mengutip beberapa penulis seperti Goldstein (2002), Paul dan Sutherland (2005), Rogers (2006), dan Wetherby dan Woods (2006) yang telah meninjau intervensi untuk komunikasi awal anak autism yang secara umum dibagi menjadi tiga kategori utama. Kategori pertama sering disebut sebagai didactic (didaktik). Metode didaktik didasarkan pada teori behavioris dan mengambil keuntungan dari teknik-teknik behavioristik seperti, massed trials, operant conditioning, shaping, prompting, and chaining. Penguatan digunakan untuk meningkatkan frekuensi dari target perilaku yang diinginkan. Sesi pengajaran menggunakan pendekatan-pendekatan ini melibatkan tingkat kontrol orang dewasa yang tinggi, periode latihan dan latihan yang berulang, urutan antecedent/stimulus dan konsekuensi yang tepat, dan peran responden yang pasif untuk anak. Orang dewasa mengarahkan dan mengendalikan semua aspek interaksi.

Kategori pendekatan kedua sering disebut naturalistic (naturalistik). Pendekatan kedua ini mencoba untuk menggabungkan prinsip behavioris dalam lingkungan yang lebih alami menggunakan interaksi sosial fungsional, pragmatis yang tepat alih-alih urutan stimulus-respon-penguatan. Pendekatan naturalistik fokus pada penggunaan “intrinsic” bukan penguat nyata atau yang dapat dimakan. Penguatan intrinsik mencakup kepuasan mencapai tujuan yang diinginkan melalui komunikasi (anak mengatakan, “Saya ingin jus” dan mendapat jus) daripada penguat ekstrinsik yang lebih dibuat-buat/ditata, seperti mendapatkan token atau diberi tahu “anak yang baik. Akhirnya,mungkin yang paling penting, pendekatan naturalistik berusaha untuk membuat anak autism memulai komunikasi daripada selalu menempatkan mereka dalam peran responden. Yuwono (2019) menjelaskan bahwa apa yang diucapkan anak harus mendapatkan konsekuensi dari apa yang dikatakanya. Dengan cara ini anak diharapkan mengerti bahwa instrument bahasa/bunyi menjadi alat untuk menyampaikan atau mengeskpresikan maksud dan tujuan komunikasi. Orientasi pendekatan terakhir dalam skema klasifikasi ini disebut developmental or pragmatic. (pengembangan atau pragmatis). Pendekatan ini menekankan komunikasi fungsional, bukan ucapan, sebagai tujuan. Dengan demikian, mereka mendorong pengembangan berbagai aspek komunikasi, seperti penggunaan gerakan tubuh, pandangan, pengaruh, dan vokalisasi, dan menganggap perilaku ini sebagai precursors/pelopor yang diperlukan untuk produksi suara. Kegiatan menyediakan banyak peluang dan godaan untuk berkomunikasi; orang dewasa menanggapi inisiasi anak dengan menyediakan kegiatan yang bermanfaat. Anak mengarahkan interaksi dan memilih topik dan bahan dari berbagai rentang yang diberikan orang dewasa. Guru berusaha untuk menciptakan lingkungan positif yang efektif dengan mengikuti petunjuk anak dan bereaksi secara mendukung terhadap perilaku apa pun yang dapat diartikan sebagai komunikasi (bahkan jika itu tidak dimaksudkan seperti itu).  Pada bagian berikut ini adalah contoh masing-masing dari ketiga jenis pendekatan intervensi, sebagaimana diterapkan pada tahap komunikasi prelinguistik dan bahasa awal di ASD dipaparkan:  Didactic approach (Pendekatan didaktik)  Sejumlah besar penelitian telah menunjukkan bahwa pendekatan didaktik adalah cara yang efektif untuk awalnya mengembangkan perhatian dan pemahaman bahasa dan memulai produksi bicara pada anak-anak preverbal yang memiliki ASD. Discrete Trial Instruction/Teaching (DTT) mengharuskan guru/orang tua membagi keterampilan yang dipilih ke dalam komponen dan melatih setiap komponen secara terpisah menggunakan prosedur yang sangat terstruktur dan seperti bor (drill-like procedures). Pelatihan intensif menggunakan strategi shaping, prompting, prompt fading, and reinforcement. Percobaan berlanjut sampai anak menghasilkan respons target dengan dorongan minimal, di mana titik langkah berikutnya dalam hierarki perilaku (misalnya, dengan benar menunjuk ke gambar yang disebutkan di antara dua gambar) disajikan dan dilatih. (Pada bagian ini pelaksanaan penedekatan didaktik guru/orang tua harus terlatih).

Beberapa studi kelompok telah menunjukkan bahwa intervensi terstruktur didasarkan pada prinsip-prinsip perilaku berguna dalam meningkatkan bahasa ekspresif pada anak-anak yang memiliki ASD (Howard, dkk. 2005; Remington, dkk. 2007; Tsiouri dan Greer, 2003). Pendekatan-pendekatan ini sangat bergantung pada perintah/arahan guru, respon yang ditanyakan, dan bentuk-bentuk penguatan yang diberikan. Kelemahan yang melekat dalam pendekatan didaktik terletak pada kenyataan bahwa mereka sering mengarah pada gaya komunikasi pasif, di mana anak-anak menanggapi dorongan untuk berkomunikasi tetapi tidak memulai komunikasi atau mentransfer perilaku yang diperoleh untuk situasi di luar konteks pengajaran (Stokes, 1997). Kesulitan-kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempertahankan perilaku yang diajarkan melalui pendekatan didaktik, bersama dengan perubahan dalam pandangan teoretis pembelajaran bahasa yang menekankan peran sentral pertukaran sosial dalam penguasaan bahasa, mengarah pada pengenalan metode intervensi yang lebih naturalistik.

Lebih lanjut beberapa metode yang termasuk dalam didaktic, naturalistic dan pragmatic seperti contemporary applied behavior analysis dari O. Ivan Lovaas, Developmentally based, social-pragmatic strategies, floor time (Tulisan: Dr. Stanley Greenpan, MD), relationship development intervention, more than words (baca bukunya: Sussmen, 1999), Augmentative and alternative communication strategies (Strategi AAC), sign language (bukan bahasa isyarat untuk tunarungu), Picture exchange communication system (PECs), dan atau Aided augmentative and alternative communication. 

Ringkasan

Developmental-pragmatic approaches banyak digunakan dan dianjurkan oleh banyak spesialis komunikasi terkemuka. Satu masalah dengan metode ini adalah bahwa pada tingkat yang lebih besar daripada pendekatan naturalistik, mereka memerlukan tingkat kepekaan, kreativitas, dan pengambilan keputusan yang tepat dari pihak intervensionis. Program seperti Hanen telah menunjukkan bahwa orang tua, guru, paraprofesional, dan lainnya dapat mempelajari metode ini, tetapi mereka membutuhkan pelatihan, praktik, dan dukungan berkelanjutan. Pada tingkat tertentu, keberhasilan program pragmatis perkembangan dapat bergantung pada pelatihan yang cermat, tindak lanjut, dukungan, dan bakat orang-orang yang memberikan intervensi.  Saat ini, developmental-pragmatic approaches memiliki basis yang lebih sempit di penelitian empiris dari dua pendekatan lain untuk intervensi komunikasi di ASD. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa mereka efektif untuk menimbulkan bicara pada anak-anak dengan keterlambatan perkembangan lainnya (Girolametto, Pearce, dan Weitzman, 1996; Fey, Proctor dan Williams, 2000). Studi metode yang berpusat pada anak telah menunjukkan kemampuan mereka untuk meningkatkan imitasi, pandangan, pengambilan giliran, dan perhatian bersama pada anak-anak preverbal yang memiliki autisme. (Hwang dan Hughes, 2000; Pierce dan Schreibman 2005). Kasari (2001) dan Whalen et al (2006) melaporkan studi sampel kecil yang menunjukkan peningkatan dalam komunikasi setelah pelatihan yang berfokus secara khusus pada keterampilan joint attention. Yoder dan McDuffie (2006) meninjau penelitian yang menyarankan bahwa melatih anak-anak dalam bermain dan keterampilan komunikasi nonverbal dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk menghasilkan bicara. Pengalaman penulis selama bekerja dengan anak-anak autism dalam menggunakan pendekatan didactic, naturalistic maupun pragmatic sungguh membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang panjang untuk menghasilkan kepekaan, kreativitas, dan pengambilan keputusan yang tepat untuk menghasilkan target perilaku yang ditetapkan. Hal ini juga membutuhkan pelatihan yang panjang. Sebagai seorang guru dari anak autism seyogyanya mengetahi berbagai pendekatan penanganan anak autis di atas.

Conclusions: early communication intervention

Program untuk memperoleh perilaku komunikasi awal dan rentang kata pertama dari behavioris yang sangat terstruktur hingga metode terbuka yang diarahkan anak, dengan serangkaian pendekatan naturalistik di antaranya. Metode ABA didaktik dan naturalistik ditujukan khusus untuk memunculkan bicara dari anak-anak preverbal yang memiliki ASD dan telah membangun kemanjuran untuk melakukannya dalam studi kasus tunggal, meskipun percobaan terkontrol dengan penugasan secara acak untuk perawatan, ‘standar emas’ dari bukti ilmiah, masih relatif sedikit pada tulisan ini. Pendekatan pragmatis perkembangan ditujukan secara lebih luas pada peningkatan komunikasi sosial dan interaksi dan memiliki rekam jejak empiris yang kurang mapan untuk memunculkan kata-kata pertama pada anak-anak yang memiliki ASD. Dalam sampel kecil dan studi kasus, mereka telah terbukti meningkatkan perilaku preverbal, seperti imitasi dan perhatian bersama. Developmental approaches yang menggabungkan metode augmentatif dan alternatif komunikasi, seperti tanda-tanda dan gambar, telah terbukti kompatibel dengan perkembangan bicara, meskipun efisiensi mereka relatif terhadap treatmen bicara secara langsung belum ditetapkan. Ada sedikit penelitian tentang hubungan antara karakteristik anak dan kemanjuran intervensi, jadi kita tidak tahu pendekatan mana yang paling cocok untuk anak tertentu. Apa yang tampak jelas adalah bahwa defisit komunikatif pada anak-anak preverbal anak autism dapat menerima treatmen dan bahwa berbagai treatmen telah terbukti bermanfaat dalam meningkatkan perilaku komunikatif.

Daftar Pustaka

American Psychiatric Association. Diagnostic and statistical manual. 4th edition. Wash- ington, DC: APA Press; 1994

Chawarska K, Volkmar F. Autism spectrum disorders in infants and toddlers. New York: Guilford; 2008

Fey M, Proctor-Williams K. Elicited imitation, modeling and recasting in grammar inter- vention for children with specific language impairments. In: Bishop D, Leonard L, editors. Specific speech and language disorders in children. London: Psychology Press; 2000. p. 177–94

Girolametto L, Pearce P, Weitzman E. Effects of lexical intervention on the phonology of late talkers. J Speech Lang Hear Res 1996;40:338–48

Goldstein H. Communication intervention for children with autism: a review of treatment efficacy. J Autism Dev Disord 2002;32:373–96

Howard J, et al. A comparison of intensive behavior analytic and eclectic treatments for young children with autism. Res Dev Disabil 2005;26:359–83

Hwang B, Hughes C. The effects ofsocial interactive training on early social communicative skills of children with autism. J Autism Dev Disord 2000;30(4):331–43

Remington B, et al. Early intensive behavioral intervention: outcomes for children with autism and their parents after two years. Am J Ment Retard 2007;112:418–38

Kasari C, Freeman SF, Paparella T. Early intervention in autism: joint attention and sym- bolic play. In: Glidden LM, editor. International review of research in mental retardation: autism. Vol. 23. San Diego (CA): Academic Press; 2001. p. 207–37

Paul R, Sutherland D. Enhancing early language in children with autism spectrum disor- ders. In: Volkmar FR, et al, editors. Handbook ofautism and pervasive developmental dis- orders. New York: Wiley & Sons; 2005. p. 946–76

Pierce K, Schreibman L. Increasing complex social behaviors in children with autism: ef- fects ofpeer-implemented pivotal response training. J Appl Behav Anal 1995;28(3):285–95

Rogers S. Evidence-based intervention for language development in young children with autism. In: Charman T, Stone W, editors. Social and communication development in au- tism spectrum disorders: early identification, diagnosis, and intervention. New York: Guil- ford Press; 2006. p. 143–79

Short A, Schopler E. Factors relating to age of onset in autism. J Autism Dev Disord 1988; 18:207–16

Stokes KS. Planning for the future ofa severely handicapped autistic child. J Autism Child Schizophr 1977;7(3):288–302

Tsiouri I, Greer R. Inducing vocal verbal behavior in children with severe language delays through rapid motor imitation responding. Journal of Behavioral Education 2003;12(3): 185–206

Wetherby A, Woods J. Effectiveness ofearly intervention for children with autism spectrum disorders beginning in the second year of life. Topics in Early Childhood Special Education 2006;26:67–82

Whalen C, Schreibman L, Ingersoll B. The collateral effects of joint attention training on social initiations, positive affect, imitation, and spontaneous speech for young children with autism. J Autism Dev Disord 2006;36:655–64

Yoder P, McDuffie A. Teaching young children with autism to talk. Semin Speech Lang 2006;27:161–72

Yuwono, J (2019). Memahami Anak Autis, Kajian Teoritik dan Empirik. Bandung: Alabeta

 

Dr. Joko Yuwono/Dosen PKh & PSD LPPM UNS

JOKO YUWONO, Lahir di Solo, 19 Juni 1973. PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN Bersekolah di Solo dari SD, SMP, SMA hingga jenjang Perguruan Tinggi. Lulus dari Prodi. Pendidikan Khusus (PKh) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 1997, saya hijrah ke Jakarta untuk mengaplikasikan keilmuannya bekerja di sebuah pusat layanan anak berkebutuhan khusus (Autis dan Cerebral Palscy). Selama 3 tahun bekerja menjadi terapis, guru hingga kepala SLB telah dilakoninya. Kemudian, pada tahun 2000, saya memulai mendirikan lembaga penanganan anak autis secara mandiri. Akhirnya saya memiliki 3 lembaga, 2 lembaga penanganan anak autis di Jakarta dan 1 lembaga pendidikan anak usia dini Tangerang. Pada tahun 2005, saya mengikuti seleksi masuk Program Master/S2, Jurusan Pendidikan Khusus (fokus: Pendidikan Inklusif). Kebetulan Program Master ini adalah Program Beasiswa kerjasama Direktorat Pendidikan Khusus Kemdikbud RI dan Braillo Norwey melalui Universitas Pendidikan Indonesia dan Oslo University di Bandung. Saya adalah angkatan ke 2. Selama dua tahun saya lulus dan langsung melanjutkan Program Doktor pada Jurusan Psikologi dan Konseling. Selama 5 tahun, saya menempuh Program Doktor. Tahun 2012/2013 saya menyelesaikan sekolahnya. Jadi, 7 tahun saya bersekolah, menuntut ilmu, mondar-mandir Jakarta-Bandung. Saya menjadi guru/terapis di lembaga saya sendiri dan home visit (sejak 1997) di Jakarta sekitarnya. Saya juga pernah menjadi konsultan di Medan selama 2 tahun, 1-2 bulan sekali pergi ke Medan. Demikin pula di Jambi, Bandung dan Solo. Selain menjadi guru atau terapis, saya juga menjadi Dosen di beberapa Universitas seperti Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Prog. PGSD dan Bimbingan Konseling sekitar 7 tahun, Universitas Islam Nusantara/Uninus Jur. Pendidikan Luar Biasa, Bandung selama 7 tahun dan MENDIRIKAN dan mengajar di Prodi Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayas Serang Banten selama 5 tahun. Dan tak disangka, akhirya saya kembali ke kampung halaman, Solo. Saat ini, Saya mengabdikan dirinya di Prodi. Pendidikan Khusus FKIP UNS/Universitas Sebelas Maret Surakarta. Terima Kasih Prof. Dr. Ravik Karsidi, Prof. Dr. Sunardi, Prof. Gunarhadi, Prof. Munawir Yusuf dan juga Dr. Subagya yang memotivasi saya untuk terus berkarya. KELUARGA Saya adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara. Bapak saya adalah seorang sopir dan si Mbok adalah penjual gorengan dan nasi kucing di Solo. Penghasilan orang tua jauh dari pas-pasan. Sekolah terbata-bata. Saya harus bersekolah sambil bekerja waktu S1-S3, semuanya MANDIRI. Alhamdulilah. Berbagai pekerjaan pernah saya lakoni, jual jagung bakar, jual nasi, jualan es dawet, kuli bangunan, jualan alat kesehatan, jaga counter di Pasar Pagi Mangga Dua, jualan tas keliling hingga ke Pacitan dan Ponorogo, membuat tas dari sak semen, hingga mengamen adalah cara untuk mempertahankan hidup dan bersekolah. Selalu cemas setelah ujian akhir semester, dimana sementara mahasiswa yang lain kebanyakan sibuk memikirkan kemana mereka akan rekreasi/refreshing, saya sibuk berpikir keras kemana mencari uang SPP yang pada waktu itu cuma Rp. 90.000-150.000. Alhamdulillah, tak menyangka kini saya bisa bersekolah terus hingga tuntas. Terima kasih Allah SWT. Apa yang saya tulis di atas bukan saya ingin menyombongkan diri, tetapi hanya berbagi pengalaman. Karena sejatinya, sekolah hanyalah tanda bahwa kita pernah belajar dan berpikir. Sekolah setinggi-tingginya adalah penring, lebih penting lagi apa yang bisa kita lakukan setelah sekolah, apa yang bisa kita perbuat setelah sekolah! Terus Belajar dan Hidup Bermanfaat!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *