ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS/DISABILITAS: NUR AZIZAH TIDAK DAPAT BERSEKOLAH (Sekolah itu hanya 300 m dari rumahku)

Semua anak usia sekolah harus pergi ke sekolah. Anak-anak harus bersekolah, kerena sekolah adalah salah satu bagian penting bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Dengan bersekolah, anak-anak mimiliki teman, bisa bermain, menggambar, menulis, mungkin saling bercerita tentang pengalaman, bernyanyi bersama, tertawa bahagia bersama atau bersedih bersama.

Sekolah harus ramah pada semua peserta didik. Tak terkecuali adalah anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung dalam banyak hal, miskin, dan juga anak-anak berkebutuhan khusus/disabilitas. Siapa anak-anak berkebuthan khusus/disabilitas? Mereka adalah anak yang disertai hambatan penglihatan, pendengaran, belum bisa baca, menulis, berbicara, autis dan juga termasuk anak-anak dengan hambatan gerak serta jenis hambatan lainya.

Anak-anak berkebutuhan khusus/disabilitas sangat rentan untuk diperlakukan secara diskrimintif. Baik di kehidupan seharai hari, secara sosial, kesehatan maupun pendidikan. Dalam dunia pendidikan, masih banyak anak-anak berkebutuhan khusus/disabilitas kesulitan mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas. Pada masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) seringkali anak-anak berkebutuhan khusus/disabilitas tidak menjadi prioritas. Terdiskriminasi!

NUR AZIZAH TERACAM TAK BISA SEKOLAH

Hari-hari ini adalah hari dimana anak-anak dan orang tua “deg-degan”. Hari-hari ini, terutama di Sekolah Dasar (SD) Negeri sedang ada proses pendaftaran dan bahkan ada yang sudah mengumumkan hasil siapa-siapa saja  yang diterima di sekolah. Ada yang diterima dan ada yang tidak diterima. Ada yang bergembira bahagia dan ada yang masih kebingungan kemana anaknya harus bersekolah.

Nur Azizah  adalah seorang anak putri berkebutuhan khusus/Disabili-tas motorik. Dia duduk di “kursi dorong anak-anak”. Nur Azizah belum bisa berjalan, bisa berbicara meski terbatas, dia mengerti sedikit banyak informasi dan dia bisa berkomunikasi meski masih membutuhkan pembimbingan. Nur Azizah bersekolah di Paud/TK, sebelumnya. Guru, orang tua dari anak-anak lainya, dan teman-temanya senang menerima kehadiran Nur Azizah. Dia sangat senang, demikian pula orang tuanya. Tapi hari ini adalah hari KELABU bagi Nur Azizah karena Nur Azizah tidak diterima di SD yang jaraknya kurang dari 300 meter dari rumahnya.  Nur Azizah mendaftar di SD N Kampung Bambu 1 Bojong Nangka, Kelapa Dua Kabupaten Tangerang. Nur Azizah TIDAK diterima di SD tersebut.

Saya bersama guru TK dari Nur Azizah dan Ibu dari Nur Azizah mendatangi SD N Kampung Bambu 1 dan bertemu dengan Guru atau Tim Panitia untuk menanyakan apa alasanya sehingga Nur Azizah TIDAK diterima di sekolah tersebut. Alasan yang disampaikan kenapa tidak diterima adalah guru mengaku kesulitan untuk mengajar Nur Azizah di dalam kelas umum, tidak mengetahui cara mengajarnya. Guru juga kesulitan jika mengajar kelas yang di dalamnya terdapat anak berkebutuhan khusus dan jumlah murid yang besar (35 murid per kelas), dan atau kuotanya telah penuh. Demikian juga bagi Sekolah Dasar Negeri Kampung Bambu 2 Bojong Nangka Kelapa Dua Kabupaten Tangerang, Tidak bersedia menerimanya. Sebenarnya ada satu lagi yakni SD N Kambung Bambu 3 dimana areanya saling berdampingan, tetapi besar kemungkinan juga tidak menerimanya.

Azizah tidak dapat bersekolah di SD Negeri yang jaraknya sangat deket dengan rumahnya. Tiga (3) SD Negeri di sekitarnya tidak bersedia menerimanya. Ibunya menangis sedih berharap anaknya bisa sekolah di sekitar rumahnya, belajar bersama teman-teman seusianya. Bagaimana dengan Zonasi! Tidak berlaku untuk Disabilitas?  IRONIS BUKAAAAN!!!

Pilihan Sekolah Dasar terdekat di sekitar rumah Nur Azizah adalah di SD Swasta dan Sekolah Khusus (SKh). Terdapat beberapa SD swasta di sekitar rumah Azizah tetapi belum tentu menerima dan jika diterima membutuhkan biaya yang cukup tinggi dan orang tua Azizah tidak sanggup memenuhinya. Di sekitar rumah Azizah juga terdapat Sekolah Khusus tetapi dibutuhkan biaya yang juga tidak terjangkau. Satu lagi SKh yang ada tetapi dengan jarak yang cukup jauh, sehingga mobilitas dan biaya yang dikeluarkan belum sepenuhnya bisa diatasi. Orang tua dari Nur Azizah adalah keluarga yang tidak mampu. Mobilitas dan secara ekonomi adalah tantanganya.

PENDIDIKAN UNTUK SEMUA

Pendidikan itu adalah hak bagi semua anak, tak terkecuali adalah anak-anak berkebutuhan khusus/disabilitas. Semua anak boleh bersekolah, bersekolah di sekolah terdekat. Sangat tidak elok karena hanya berbeda dari kebanyakan anak-anak lainya, anak dengan kebutuhan khusus/Disabilitas tidak mendapatkan akses pendidikan yang baik, tidak diterima di sekolah terdekat. Apapun alasanya menolak anak-anak berkebutuhan khusus adalah diskriminasi. Dalam hukum positif menolak anak-anak berkebuthan khusus bersekolah di sekolah terdekat adalah melanggar Undang-Undang.

Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia memberikan jaminan hak pendidikan bagi anak dengan kebutuhan khusus/disabilitas. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjamin hak pendidikan bagi penyandang disabilitas. Sistem pendidikan bagi anak-anak ini dapat diselenggarakan di sekolah khusus dan secara inklusif. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 tahun 2009 mengamanatkan kepada Kabupaten/Kota untuk menyelenggarakan Pendidikan Inklusif dimana sekolah-sekolah umum dapat memfasilitasi pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus/disabilitas. Mereka dapat bersekolah bersama dengan anak-anak pada umumnya. Sekolah memberikan akomodasi yang layak bagi anak-anak ini yakni dengan melakukan memodifikasi dan adaptasi beberapa komponen yang dibutuhkan sehingga semua anak dapat belajar bersama-sama. (baca: Permendikbud Nomor 13 tahun 2020 tentang Akomodasi Yang layak).

Jaminan mendapatkan hak pendidikan bagi anak berkebuthan khusus/disabilitas didukung dengan adanya Sistem Zonasi. Dalam system zonasi, Nur Azizah memiliki hak bisa bersekolah di sekolah terdekat. Jalur zonasi disediakan bagi peserta didik yang telah tinggal dalam satu zona selama minimal satu tahun. Jalur zonasi tidak ada proses seleksi menggunakan tes/UN/ujian sekolah dan bentuk seleksi yang digunakan di jalur prestasi. Jalur ini juga berlaku bagi siswa penyandang disabilitas. Sedangkan, jalur afirmasi diperuntukkan bagi peserta didik yang berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu. Hal tersebut dibuktikan dengan keikutsertaan program penanganan keluarga tidak mampu dari pemerintah. Nur Azizah adalah hanya kurang 300 meter jarak rumah ke sekolah, keluarga tidak mampu dan penyandang disabilitas. Kenapa tdak diterima?

Melihat kasus Nur Azizah yang tidak diterima di SD Negeri Kampung Bambu 1 atau juga Nur Azizah lainya, sangat mungkin salah satu alasan kompetensi  guru kelas dalam melakukan pengelolaan kelas dimana terdapat anak yang beragam. Kompetensi pembelajaran guru dalam setting inklusif sangat mempengaruhi disamping masalah-masalah lainya.

PERAN DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN/KOTA

Apa yang terjadi pada Nur Azizah tentu juga banyak terjadi di wilayah Kabupaten/Kota di Indonesia. Masih banyak anak-anak berkebutuhan khusus/Disabilitas yang belum mendapatkan pendidikan yang layak. Mereka masih kesulitan untuk bersekolah di sekolah terdekat sekalipun karena berbagai alasan, meski Undang-Undang menjamin adanya akses pendidikan bagi mereka.

Dinas Kabupaten/Kota memiliki peran penting untuk memfasilitasi dan mewujudkan akses pendidikan bagi semua anak Indonesia tak terkecuali anak berkebutuhan khusus/disabilitas. Bagi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota harus memiliki program priotritas bagi pendidikan anak-anak ini. Pertanyaan pentingnya adalah pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus/Disabilitas melalui pendidikan inklusif menjadi PRIORITAS tidak di Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota?. Bupati/Walikota memiliki perspektif tentang pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus/disabilitas tidak?

Banyak Kabupaten/Kota telah mendeklarasikan sebagai Kabupaten/Kota yang ramah disabilitas, pendidikan inklusif. Sebagai wujud Kabupaten Kota yang Ramah Anak, banyak Dinas Pendidikan Kabupaten Kota yang telah menunjuk sekolah untuk menyelenggarakn pendidikan inklusif. Faktanya jumlah sekolah yang ditunjuk belum bisa seluruhnya memenuhi akses pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus/Disabilitas. Salah satu yang perlu dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota adalah menambah jumlah sekolah penyelenggara pendidikan inklusif dan memberikan pendampingan dan pembimbingan secara berkelanjutan agar di masa mendatang tidak terjadi lagi anak-anak berkebuthan khusus/disabilitas tidak bisa bersekolah. Kita apresiasi setinggi-tingginya bahwa ada Kabupaten/Kota yang sudah me”wajibkan” semua sekolah harus menerima semua anak. Alhamdulillah.

Kesimpulan

Prioritas tidak pendidikan bagi semua itu? Prioritas tidak pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus/disabilitas? Jika kita ingin memberikan layanan pendidikan yang terbaik bagi semua peserta didik termasuk anak-anak berkebutuhan khusus/disabilitas maka Dinas Pendidikan Kabupaten Kota harus memiliki program prioritas yang tersusun dalam jangka panjang. Dengan cara ini kita bisa mewujudkan semua anak bisa bersekolah. Bahwa masih banyak sekolah/stakeholder dalam hal ini pengawas, kepala sekolah dan guru serta orang tua/komite belum sepenuhnya memahami tentang pendidikan inklusif, maka tugas kita adalah membantunya. Termasuk pemahaman yang belum “pas” dari sebagian Dinas terkait penyelenggaraan pendidikan inklusif harus terus dikuatkan.

Masih banyak waktu untuk meperjuangkan anak-anak berkebutuhan khusus/disabilitas agar bisa bersekolah. Semoga Dinas Pendidikan Kabupaten Kota terus berjuang mewujudkan pendidikan bagi semua. Semoga Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Bapak Syaifullah semakin terdorong untuk mewujudkan sekolah yang ramah bagi semua anak termasuk anak berkebutuhan khusus/disabilitas melalui kebijakan-kebijakanya. Semoga Nur Azizah-Nur Azizah lainya di masa mendatang kehidupan dan pendidikannya menjadi lebih baik.

Salam Hidup Bermanfaat!

Salam Inklusi!

 

Dr. Joko Yuwono/Dosen PKh & PSD LPPM UNS

JOKO YUWONO, Lahir di Solo, 19 Juni 1973. PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN Bersekolah di Solo dari SD, SMP, SMA hingga jenjang Perguruan Tinggi. Lulus dari Prodi. Pendidikan Khusus (PKh) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 1997, saya hijrah ke Jakarta untuk mengaplikasikan keilmuannya bekerja di sebuah pusat layanan anak berkebutuhan khusus (Autis dan Cerebral Palscy). Selama 3 tahun bekerja menjadi terapis, guru hingga kepala SLB telah dilakoninya. Kemudian, pada tahun 2000, saya memulai mendirikan lembaga penanganan anak autis secara mandiri. Akhirnya saya memiliki 3 lembaga, 2 lembaga penanganan anak autis di Jakarta dan 1 lembaga pendidikan anak usia dini Tangerang. Pada tahun 2005, saya mengikuti seleksi masuk Program Master/S2, Jurusan Pendidikan Khusus (fokus: Pendidikan Inklusif). Kebetulan Program Master ini adalah Program Beasiswa kerjasama Direktorat Pendidikan Khusus Kemdikbud RI dan Braillo Norwey melalui Universitas Pendidikan Indonesia dan Oslo University di Bandung. Saya adalah angkatan ke 2. Selama dua tahun saya lulus dan langsung melanjutkan Program Doktor pada Jurusan Psikologi dan Konseling. Selama 5 tahun, saya menempuh Program Doktor. Tahun 2012/2013 saya menyelesaikan sekolahnya. Jadi, 7 tahun saya bersekolah, menuntut ilmu, mondar-mandir Jakarta-Bandung. Saya menjadi guru/terapis di lembaga saya sendiri dan home visit (sejak 1997) di Jakarta sekitarnya. Saya juga pernah menjadi konsultan di Medan selama 2 tahun, 1-2 bulan sekali pergi ke Medan. Demikin pula di Jambi, Bandung dan Solo. Selain menjadi guru atau terapis, saya juga menjadi Dosen di beberapa Universitas seperti Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Prog. PGSD dan Bimbingan Konseling sekitar 7 tahun, Universitas Islam Nusantara/Uninus Jur. Pendidikan Luar Biasa, Bandung selama 7 tahun dan MENDIRIKAN dan mengajar di Prodi Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayas Serang Banten selama 5 tahun. Dan tak disangka, akhirya saya kembali ke kampung halaman, Solo. Saat ini, Saya mengabdikan dirinya di Prodi. Pendidikan Khusus FKIP UNS/Universitas Sebelas Maret Surakarta. Terima Kasih Prof. Dr. Ravik Karsidi, Prof. Dr. Sunardi, Prof. Gunarhadi, Prof. Munawir Yusuf dan juga Dr. Subagya yang memotivasi saya untuk terus berkarya. KELUARGA Saya adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara. Bapak saya adalah seorang sopir dan si Mbok adalah penjual gorengan dan nasi kucing di Solo. Penghasilan orang tua jauh dari pas-pasan. Sekolah terbata-bata. Saya harus bersekolah sambil bekerja waktu S1-S3, semuanya MANDIRI. Alhamdulilah. Berbagai pekerjaan pernah saya lakoni, jual jagung bakar, jual nasi, jualan es dawet, kuli bangunan, jualan alat kesehatan, jaga counter di Pasar Pagi Mangga Dua, jualan tas keliling hingga ke Pacitan dan Ponorogo, membuat tas dari sak semen, hingga mengamen adalah cara untuk mempertahankan hidup dan bersekolah. Selalu cemas setelah ujian akhir semester, dimana sementara mahasiswa yang lain kebanyakan sibuk memikirkan kemana mereka akan rekreasi/refreshing, saya sibuk berpikir keras kemana mencari uang SPP yang pada waktu itu cuma Rp. 90.000-150.000. Alhamdulillah, tak menyangka kini saya bisa bersekolah terus hingga tuntas. Terima kasih Allah SWT. Apa yang saya tulis di atas bukan saya ingin menyombongkan diri, tetapi hanya berbagi pengalaman. Karena sejatinya, sekolah hanyalah tanda bahwa kita pernah belajar dan berpikir. Sekolah setinggi-tingginya adalah penring, lebih penting lagi apa yang bisa kita lakukan setelah sekolah, apa yang bisa kita perbuat setelah sekolah! Terus Belajar dan Hidup Bermanfaat!!

 

2 thoughts on “ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS/DISABILITAS: NUR AZIZAH TIDAK DAPAT BERSEKOLAH (Sekolah itu hanya 300 m dari rumahku)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *