AKHIRNYA NUR AZIZAH BISA BERSEKOLAH; PENDIDIKAN INKLUSIF

Saya mendatangi sekolah itu dan bertanya kepada beberapa guru dan Kepala Sekolah itu. Ibu Shely namanya.

“Kakek dan Ibu dari Nur Aziza tiba-tiba menangis dihadapan saya, saya kan bingung pak. Setelah saya tanya baik-baik ternyata mereka berharap anaknya jangan ditolak untuk bersekolah di sini. Mereka bilang anaknya tidak bisa berjalan, pakai kursi dorongan bayi sebagai alat mobilitasnya.  Sambil nangis, kakek dan ibu Nur Azizah memohon anaknya diterima di sekolah ini. Rupanya mereka takut buah hatinya tidak diterima di sekolah ini”. Demikianlah petikan keterangan Ibu Kepala SD Muhammadiyah Bonjognangka Kelapa Dua Kabupaten Tangerang Banten, Ibu Shely.

Kenapa SD ini menerima Nur Azizah, padahal guru-guru di sini belum pernah mengikuti pelatihan tentang bagaimana mengajar di kelas yang di dalamnya terdapat peserta didik berkebutuhan khusus? “Ya, saya kasihan saja. Kalau tidak diterima anak-anak seperti Nur Azizah nanti sekolahnya gimana. Kami memang belum pernah ikut pelatihan terkait masalah ini. Sekolah kami juga bukan yang ditunjuk atau memiliki SK sebagai peneyelenggara pendidikan inklusif”, demikian penjelasan Ibu Shely, Kepala SD Muhammadiyah Bojongnangka Kelapa Dua Kabupaten Tangerang, Banten.

Akhirnya saya, mungkin juga pembaca semua lega mendengar kabar bahwa Nur Azizah mendapatkan tempat bersekolah di SD Muhammadiyah Bonjongnangka Kelapa Dua Kabupaten Tangerang, Banten. Jarak dari rumah Nur Azizah ke sekolah sekitar  1 km, dengan menggunakan sepeda ibunya mengikatkan dorongan bayi sebagai alat mobilitas dan tempat duduknya di kelas nanti. Ibunya bersemangat dan tidak sedih lagi. Demikian pula kakek dan neneknya. Siapa sih ibu atau kakek nenek yang jika melihat anak/cucunya, berkebutuhan khusus, tidak mendapatkan sekolah?  Pasti sangat hancur hatinya. Tapi sekarang, Nur Azizah mendapatkan tempat untuk belajar, mungkin tidak muluk-muluk keinginanya. Nur Azizah tidak ingin jadi menteri, bupati, direksi, atau selebriti. Nur Azizah hanya ingin memiliki teman bermain, makan bersama, menggar bersama, membaca bersama, bercerita, tertawa, dan riang gembira bersama dengan teman-teman di sekolahnya. Sederhana bukan?

Yah, saya hanya ingin mengatakan bahwa ternyata untuk berbuat baik; sebenarnya tidak harus menunggu SK atau ditunjuk sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Sekolah yang sebelumnya Kami kunjungi memang tidak ditunjuk sebagai satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif (SPPPI). Ketiga Sekolah Negeri  I, II dan III Kampung Bambu memang tidak ditunjuk sebagai  SPPPI. Mungkin itu dasar alasan tidak menerima Nur Azizah atau mungkin alasan yang lainnya. Tidak salah memang. Tetapi kenapa ada sekolah yang tidak punya SK sebagai SPPPI mau menerima Nur Azizah? Apa sekolah yang tanpa ada SK sebagai SPPPI dilarang menerima anak berkebutuhan khusus? Saya pastikan jawabnya adalah TIDAK DILARANG!. Lalu kanapa menolak? Saya memahaminya sekaligus tidak mengerti kenapa sekolah tidak menerima Nur Azizah.

Kita berharap dimasa yang akan datang guru mengetahui dengan benar bagaimana cara memberi layanan pendidikan, pembelajaran dalam kelas yang di dalamnya terdapat peserta didik yang berbeda. Tentu dukungan pemerintah daerah (Kabupaten/Kota) maupun Pusat sangat diharapkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam melakukan pengelolaan kelas yang terdapat peserta didik yang beragam. Tetapi dalam konsep Sekolah Merdeka , Guru Penggerak sebenarnya dapat memulai meningkatkan pengetahuan (banyak sumber belajar) dan mengembangkan kreatifitas dan inovasi pembelajaran secara mandiri, sambil menunggu dukungan Dinas Pendidikan terkait memberikan penegathuan dan pelatihan terkait dengan penyelenggaraan pendidikan inklusif. Sekolah harus Merdeka, Guru harus Bergerak!

Tetap semangat Nur Azizah. Selamat memulai belajar bersama teman-teman barumu. Tetap semangat guru-guru Indonesia. Menjadi guru, mencerdaskan pikiran dan mengasah budi pekerti anak-anak bangsa adalah tugas yang mulai. Mengajarlah untuk semua anak, tak terkecuali anak-anak berkebutuhan khusus/Disabilitas. Menjadi guru jangan pilih kasih. Bagaimana perasaanmu jika Nur Azizah adalah anakmu? Cucumu? atau keponakanmu? dimana dia ditolak oleh sekolah, padahal sekolah itu jaraknya hanya kurang dari 100 m dari rumahnya.

Saya berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Kota semakin meningkatkan bentuk layanan pendidikan inklusif dan memberikan bekal kepada guru-guru agar semakin tahu bagaimana membantu anak-anak berkebuthan khusus di sekolah umum.

Salam Hidup Bermanfaat!

 

ANAK BERKESULITAN BELAJAR KHUSUS/SPECIFIC LEARNING DISABILITY (Bagian 1)

Anak Berkesulitan Belajar (ABB) didefinisikan sebagai terminology yang mengarah pada kelompok gangguan yang heterogen yang termanisfestasikan dengan kesulitan yang signifikan dalam perolehan dan penggunaan mendengar, berbicara, membaca, menulis, kemampuan berpikir atau kemampuan terkait matematik. Gangguan tersebut secara instriksik pada individu dan dianggap karena gangguan fungsi sistem syaraf pusat. Namun demikian kesulitan belajar bisa jadi secara bersamaan dengan kondisi yang menghalangi anak untuk berkembang. Kondisi lain atau lingkungan bukanlah merupakan penyebab utamanya.

Menurut Dapodik tahun 2019, jumlah anak berkesulitan belajar yang bersekolah di sekolah umum dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas atau Kejurauan (SMA dan SMK) di Indonesia dapat dilihat pada tabel di bwah ini. 

SEKOLAH

TOTAL ABK

ABB

%

SD

69649

27716

39,7%

SMP

23497

10082

42,9%

SMA

6373

1894

29,7%

SMK

5412

1976

36,5%

Sumber : Data dapodik cut off 31 Januari 2019 

Biasanya anak-anak kesulitan belajar teridentifikasi selama  di sekolah dasar (SD). Kemampuan anak-anak ini menunjukkan di bawah dari kemampuan yang seharusnya.  Beberapa manifestasi dari  kesulitan belajar spesifik ini dapat dijelaskan secara singkat di bawah ini.

  1. DYSLEXIA
  • Mempengaruhi komunikasi lisan dan tertulis, kesulitan mengidentifikasi huruf / kata. Kemampuan membaca lambat, tidak akurat, dan susah payah
  • Saat membaca dengan keras: ragu atau menebak kata-kata tanpa intonasi dan ekspresi yang normal
  • Ejaan kesulitan: menambah atau menghilangkan huruf
  • Kesulitan memahami apa yang dibaca: kehilangan makna perikop, lupa urutan kejadian, tidak dapat membuat kesimpulan
  1. DYSGRAPHIA
  • Kesulitan dalam menulis: ejaan dan tata bahasa yang buruk, seringkali tulisan tangan yang buruk (keterampilan motorik halus lainnya tidak terpengaruh)
  • Tulisan bercampur; huruf cetak dengan latin
  • Menyalahgunakan huruf besar dan kecil
  • Lambat dan tenaga: mudah kelelahan menulis
  • Kesulitan menempatkan pemikiran di atas kertas atau berpikir dan menulis pada saat yang sama: kurang kohesi. Kesulitan menuangkan pikiranya dalam tulisan.
  1. DYSCALLCULIA
  • Kesulitan dengan angka-angka dan hubungannya
  • Bermasalah dengan pengertian angka pengertian intuitif tentang bagaimana angka bekerja
  • Berjuang/berpikir keras untuk menghafal fakta matematika
  • Berjuang/berpikir keras untuk mengikuti alasan matematika. Harus mengandalkan hafalan
  • Mengarah ke masalah lain. Masalah mengukur bahan atau membaca grafik / grafik.

PENDIDIKAN ANAK BERKESULITAN BELAJAR DI  INDONESIA

  • Di Sekolah Umum

Penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak dengan kesulitan belajar dapat dilakukan di sekolah umum. Anak-anak ini mengikuti kurikulum di sekolah umum dengan sedikit modifikasi dan adaptasi baik isi, media, proses dan evaluasi. Modifikasi dapat dilakukan satu atau lebih dari komponen-komponen pembelajaran di sekolah.

Beberapa tantangan bagi anak-anak berkesulitan belajar yang bersekolah di sekolah umum adalah perlakuan dan pembelajaran yang dilakukab oleh guru. Jika guru kurang ramah dalam menyikapi kemampuan belajar anak misalnya merah-marah, mengabaikan, memberikan tugas yang berulang-ulang padahala anak kesulitan dalam mengerjakannya, maka anak akan lebih tertekan. Anak-anak ini akan makin bermasalah ketika perlakuan guru di”contoh” anak-anak lainya yang tidak bermasalah dengan pembelajaran. Akan menjadi lebih parah adalah anak-anak pada umumnya bertidak deskriminatif dan bullying; mengolok-ngolok, “mengat-ngatain”, dijadikan obyek bahan ketawaan dan cacian atau yang lainnya.

  • Di Sekolah Khusus

Anak-anak dengan kesulitan belajar ada yang bersekolah di sekolah khusus untuk anak-anak berkesulitan belajar. Di Indonesia mungkin hanya 1-2 sekolah. Dulu, di Jakarta ada sekolah umum tetapi sangat konsen dengan anak-anak kesulitan belajar, sekarang saya tidak tahu persisi/ “tidak mendapat kabar” apakah sekarang masih memberi  layanan pada anak-anak berkesulitan belajar.

Sekolah khusus yang memberikan layanan bagi anak-anak berkesulitan belajar adalah Sekolah Talenta di Jakarta. Meski ada beberapa anak yang tidak sepenuhnya kesulitan belajar, sekolah ini sangat konsen membantu anak-anak berkesulitan belajar. Dalam setting pendidikan khusus, anak-anak berkesulitan belajar mendapatkan manfaat yang baik dimana mereka dapat belajar sesuai dengan cara mereka sehingga kebutuhan belajarnya terpenuhi.

Masih banyak alternative layanan pendidikan bagi anak berkesulitan belajar lainya seperti melalui jalur pendidikan informal di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), home schooling dan sebagainya.

Poin

Anak-anak berkesulitan belajar bukan karena kurangnya kecerdasan atau kurangnya keinginan untuk belajar. Dengan metode pengajaran yang tepat dapat menguasai keterampilan ini (Kurikulum Fleksibilitas). Ini harus menjadi perhatian bagi GURU di sekolah umum. Mungkin, anak-anak berkesulitan belajar akan  mendapat manfaat dari modifikasi dan adaptasi kecil, misalnya tes tanpa waktu, pengujian lisan, membuat laporan video, pendampingan, diberikan tabahan penjelasan, struktur kalimat yang simple dan mudah dipahami dan lain seterusnya.  Sebagai contoh Untuk Disleksia guru dapat membuat tek dengan font spesifik sedang Disgrafia, guru dapat menyediakan kertas lebar atau genggaman tangan berbeda dan Dyscalculia, guru dapat memodifikasi pembelajaran dengan game, objek fisik dan seterusnya. Juga sangat mungkin memberi waktu ekstra untuk latihan dan les satu lawan satu

Bagaimana pembelajaran bagi anak berkesulitan belajar, kurikulum, peluang berkuliah di perguruan tinggi, pengembangan minat bakat, program keterampilan, menjadi orang tua dari anak berkesulitan belajar, dan kajian yang relevan akan Saya tulis pada bagian selanjutnya.

Penulis adalah partner discuss di Sekolah Khusus Talenta, sekolah untuk anak-anak berkesulitan belajar dan Komunitas orang tua dari anak berkesulitan belajar di Jakarta sejak tahun 2005/2007 hingga sekarang.

Salam Hidup Bermanfaat!

 

BENTUK LAYANAN PENDIDIKAN KHUSUS (Least Restrictive Environment/LRE, Hallahan & Kauffman, 1991)

 DEFINISI PENDIDIKAN KHUSUS

Pendidikan khusus adalah pembelajaran yang dirancang secara khusus yang memenuhi kebutuhan luar biasa dari anak-anak berkebutuhan khusus. Materi, teknik pengajaran, peralatan dan atau fasilitas yang mungkin dibutuhkan. Sebagai contoh, anak dengan hambatan penglihatan mungkin membutuhkan materi belajar membaca dalam teks yang dicetak besar atau braille; bagi peserta didik yang memiliki hambatan pendengaran mungkin membutuhkan alat bantu dengar (hearing aid) atau pembelajaran dengan menggunakan bahasa isyarat; termasuk juga yang punya hambatan fisik/gerak mungkin membutuhkan peralatan khusus (kursi roda); anak dengan gifted dan talented boleh jadi membutuhkan akses ke profesional. Layanan terkait; layanan transportasi khusus, pengukuran psikologi, terapi fisik dan okupasi, penanganan  medis, dan konseling bisa jadi diperlukan jika pendidikan khusus ingin efektif. Poin utama yang paling penting dari pendidikan khusus adalah menemukan dan mengkapitalisasi kemampuan anak-anak yang “luar biasa”.

DI MANA DAN OLEH SIAPA PENDIDIKAN KHUSUS DISEDIAKAN

Beberapa rencana yang bersifat administratif disediakan oleh pendidikan anak berkebutuhan khusus dan anak muda, dari beberapa ketentuan khusus yang dibuat oleh guru di sekolah umum hingga dua puluh empat jam perawatan di rumah dengan fasilitas khusus. Siapa yang mendidik anak-anak berkebutuhan khusus dan dimana mereka memperoleh pendidikan tergantung pada dua faktor:

  1. Bagaimana dan berapa banyak anak-anak dan anak remaja berbeda dari peserta didik pada
  2. Sumber sumber daya sekolah dan komunitas

Kita memaparkan rencana administratif yang bervariasi bagi pendidikan berdasarkan tingkat integrasi secara fisik: sejauhmana keluarbiasaan dan ketidakluarbiasaan peserta didik diajar di dalam tempat yang sama dengan guru yang sama.

Dimulai dengan intervensi yang paling integrasi, guru kelas umum yang menyadari kebutuhan anak secara individual dan terampil untuk menemukan atau memenuhi kebutuhan mereka untuk dapat memperoleh materi, peralatan, metode pembelajaran yang  tepat. Di dalam level ini, layanan spesial secara langsung mungkin tidak dibutuhkan, keahlian guru di sekolah umum bisa jadi dapat menemukan kebutuhan anak-anak.

Level selanjutnya guru di sekolah umum bisa jadi membutuhkan konsultasi dengan special educators atau profesional lain seperti psikolog sekolah sebagai tambahan untuk materi-materi khusus, perlengkapan dan metode. Special education dapat mengajari guru umum: mengarahkan guru pada sumber-sumber lain atau menunjukkan bagaimana menggunakan materi peralatan atau media atau metode.

Menuju step selanjutnya, special educator dapat menyediakan itinerant service (layanan keliling) untuk anak-anak berkebutuhan khusus atau guru di kelas umum. Guru keliling menetapkan jadwal, secara konsisten, berpindah dari sekolah satu ke sekolah lain dan mengunjungi kelas untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus secara individual atau di dalam kelompok kecil, menyediakan materi dan menyarankan pengajaran bagi guru umum untuk dilaksanakan, dan konsultasi dengan guru umum tentang problem-problem khusus.

Level selanjutnya, resource teacher menyediakan layanan kepada anak-anak dan guru-guru hanya dalam satu sekolah. Anak-anak yang dilayani terdaftar di dalam kelas umum dan dilihat oleh guru yang di training secara khusus untuk waktu yang lama dan pada frekuensi yang ditentukan oleh sifat dan keparahan masalah khusus mereka. Guru sumber secara berkelanjutan mengases kebutuhan anak-anak dan guru mereka dan biasanya guru mengajar anak-anak secara individual atau dalam kelompok kecil di dalam kelas khusus, di mana materi dan peralatan-peralatan khusus itu disediakan. Secara khusus, guru sumber melayani sebagai konsultan guru di kelas umum, memberitahu pengajaran dan manajemen anak di dalam kelas dan mungkin menunjukkan teknik-teknik pembelajaran. Fleksibilitas rencana dan fakta bahwa anak tetap bersama denagn teman sebayanya sebagian besar waktu menjadikan alternatif yang sangat menarik dan alternatif yang populer.

Diagnostik prescriptive Center (pusat diagnostik-preskriptif) melampaui level intervensi yang direpresentasikan oleh ruang sumber. Di dalam rencana anak-anak ini ditempatkan pada periode waktu yang singkat, di kelas khusus di sekolah atau fasilitas lain dimana kebutuhan mereka dapat diukur dan perencanaan tindakan dapat ditentukan berdasarkan temuan diagnosis. Setelah preskripsi educational (rekomendasi) ditulis bagi anak-anak dan direkomendasikan bagi penempatan bisa jadi termasuk sesuatu berasal dari institusional care untuk penempatan di ruang kelas reguler khususnya guru yang kompeten yang dapat melaksanakan program.

Hospital and homebound instruction adalah yang paling sering dibutuhkan oleh anak-anak yang memiliki problem physical, meskipun kadang-kadang digunakan untuk anak-anak yang terganggu secara emosi atau disabilitas lainnya ketika tidak ada alternatif yang tersedia. Biasanya, anak-anak dikurung di rumah sakit atau di rumah untuk waktu yang relatif singkat atau, dan rumah sakit atau guru yang tinggal di rumah memelihara dengan guru anak-anak umumnya.

Salah satu yang paling memungkinkan – dan di tahun-tahun akhir ini, tapi kontroversial- yaitu layanan alternatif special self-contained class. Kelas semacam itu biasanya mendaftarkan lima belas atau lebih sedikit anak-anak dengan label diagnostik (contoh: Mental Retardasi). Guru biasanya telah dilatih sebagai guru khusus dan menyediakan pembelajaran bagi semua anak-anak dalam kelas tersebut. mereka yang ditugaskan ke kelas seperti itu biasanya menghabiskan seluruh hari sekolah terpisah dari temen-temen lainya, meskipun kadang-kadang mereka diintegrasikan dengan anak-anak yang tidak memiliki hambatan selama hari itu misalnya olahraga, musik, atau beberapa aktivitas dimana mereka dapat berpartisipasi dengan baik.

Special day school. Sekolah khusus menyediakan pengalaman sehari-hari yang terpisah untuk anak-anak luar biasa. The day school biasanya diorganisasi bagi kategori anak kebutuhan khusus tertentu dan bisa jadi berisikan untuk memenuhi kebutuhan khusus tertentu bagi perawatan dan pendidikan. Anak-anak tersebut kembali ke rumah mereka selama di luar jam sekolah.

Level intervensi yang terakhir yaitu residential school. Disini anak-anak berkebutuhan khusus menerima sekitar 24 jam perawatan jauh dari rumah, seringkali berjarak dari komunitas mereka. Anak-anak ini secara periodik dikunjungi dan atau kembali di hari akhir pekan tetapi selama seminggu mereka tinggal di institusi di mana mereka menerima pembelajaran akademik selain manajemen kehidupan sehari-hari di lingkungan tersebut.

Hukum pendidikan khusus membutuhkan penempatan anak-anak dalam lingkungan yang tak terbatas (Least Restrictive Environment/LRE). Apa yang biasanya dimaksud bahwa anak harus terpisah kelas yang “normal” dan terpisah dari rumah, keluarga dan komunitas sedikit mungkin. Bahwa hal ini, hidup anak-anak harus se”normal” mungkin dan intervensi harus konsisten dengan kebutuhan individual dan tidak tercampur dengan kebebasan individual lebih dari itu sangat diperlukan. Sebagai contoh, individu tidak harus ditempatkan di kelas khusus (special class) jika mereka dapat dilayani cukup dengan guru sumber, dan mereka tidak harus ditempatkan di institusi jika special class dapat melayani kebutuhan mereka dengan baik.

Meskipun gerakan menuju penempatan anak-anak luar biasa di LRE patut dipuji, definisi LRE tidak sesederhana yang kita lihat. Cruickshank (1977) menunjukkan bahwa pembatasan yang lebih besar dari lingkungan fisik tidak perlu dimaknai sebagai pembatasan yang lebih besar dari kebebasan psikologi anak atau human potential. Kenyataanya, hal ini dapat dibayangkan bahwa anak-anak dapat menjadi sangat terbatas dalam jangka panjang di dalam kelas umum dimana mereka ditolak oleh yang lainnya dan gagal untuk mempelajari ketarampilan yang diperlukan dari kelas khusus atau sekolah khusus dimana mereka belajar dengan bahagia dan sehat. Hal tersebut sangat penting untuk menjaga tujuan yang terbaik bagi anak dalam pikiran dan menghindari membiarkan LRE menjadi slogan hampa yang menghasilkan anak-anak yang mengalami kekurangan dalam hal pendidikan mereka. Sebagaimana Morse mecatat: “the goal should be to find the most productive setting to provide the maximum assistance for the child”. (tujuannya adalah menemukan pengaturan yang paling produktif untuk memberikan bantuan maksimal bagi anak). (1984, P. 120)

Anak-anak di bawah umur jarang menerima pendidikan di kelas umum dan lebih sering menghadiri sekolah terpisah daripada anak-anak yang telah mencapai usia sekolah biasa. Kelas khusus, sekolah terpisah, dan lingkungan lain seperti pengajaran di rumah digunakan lebih sering untuk remaja yang lebih tua dan orang dewasa muda daripada untuk siswa usia sekolah dan usia sekolah menengah. Kita dapat menjelaskan perbedaan-perbedaan ini dengan dua fakta. Pertama, anak-anak prasekolah dan dewasa muda yang diidentifikasi untuk pendidikan khusus cenderung memiliki disabilitas yang lebih parah daripada anak-anak usia sekolah. Kedua, beberapa sistem sekolah tidak memiliki kelas reguler untuk anak-anak prasekolah dan dewasa muda, dan dengan demikian penempatan di selain kelas reguler biasanya lebih tersedia dan lebih sesuai.

Di dalam bukunya Hallahan dan Kauffman yang berjudul Exceptional Children, Introduction Special Education, Edisi ke V (1991: 10) bentuk penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus  ada berbagai pilihan. Hallahan dan Kuffman memberikan 3 penjelasan dari setiap bentuk layanan yakni ciri utama alternatif penempatan, jenis peserta didik yang dilayani dan peran utama guru pendidikan khusus;

  • Reguler Class Only (Kelas biasa dengan guru biasa).
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru umum menemukan semua kebutuhan anak; peserta didik mungkin tidak secara resmi dilabel; peserta didik integrasi secara total Kesulitan belajar, gangguan perilaku/emotional; mental retardasi ringan Tidak ada
  • Reguler Class with Consultation (Kelas biasa dengan konsultan guru PLB),
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru umum menemukan semua kebutuhan anak dengan sedikit bantuan sesekali dari konsultan; peserta didik mungkin tidak secara resmi dilabel; peserta didik integrasi secara total Kesulitan belajar, gangguan perilaku/emotional; mental retardasi ringan Menawarkan demonstrasi dan pe,bejaran dan untuk membantu guru kelas regular bila diperlukan
  • Itinerant Teacher (Kelas biasa dengan guru kunjung),
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru umum menyediakan sebagian atau seluruh pembelajaran; guru pendidikan khusus mengajar secara berselang dan atau konsultasi dengan guru umum; Siswa terintegrasi kecuali untuk sei pengajaran singkat Peserta didik dengan hambatan visual atau physical disability, gangguan komunikasi Visit ke kelas umum secara regular, melihat pembelajaran secara tepat, materi dan layanan yang disediakan; menawarkan konsultasi, menunjukan dan mengarahkan guru umum dan asesmen dan pembelajaran peserta didik sebagai kebutuhan; bekerja mengarah ke integrasi secara total
  • Resource Teacher (Guru sumber, yaitu kelas biasa dengan guru biasa, namun dalam beberapa kesempatan anak berada di ruang sumber dengan guru sumber)
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru umum menyediakan banyak pengajaran; guru khusus menyediakan sebagian pembelajaran dan mennyarakan guru umum; sebagian peserta didik terintegrasi di kelas seharian gangguan perilaku/emotional, belajar dan komunikasi ringan Mengukur kebutuhan peserta didik bagi pembelajaran dan menajemen;menyediakan pembejaran individual atau kelompok kecil setting kelas umum atau ruang khusus; menawarkan saran dan demonstrasi bagi guru umum; mereferal ke agensi lain sebagai tambahan layanan; menuju integrasi total peserta didik
  • Pusat Diagnostik-Prescriptif
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru khusus menyediakan sebagian atau semua pembelajaran untuk beberap hari atau minggu dan mengembangkan rencana ataurekomendasi/resep untuk diteroma guru; peserta didik total terpisah di pusat layanan tetapi kadang boleh terintegrasi berdasarkan diagnosis dan rekomendasi Peserta didik disabilitas ringan yang belum menerima layanan yang memadahi Membuat asesmen komprehensif yakni kekuatan dan kelemahan; mengembangkan rekomendasi tertulis bagi pemebelajran dan menajemen perilaku bagi guru umum; menginterpretasikan rekomendasi kepada guru dan mengases dan merevisi saran yang dibutuhkan
  • Hospital or Homebound Instruction (Pendidikan di rumah atau di rumah sakit, yakni kondisi anak yang memungkinkan belum masuk ke sekolah biasa).
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru khusus menyediakan semua pembelajaran di rumah sakit (RS) atau di rumah hingga peserta didik dapat kembelai ke sekolah biasa (sekolah umum atau seolah khusus) dari mereka secara temporal; peserta didik terpisah untuk beberapa waktu periodik Peserta didik dengan hambatan fisik; dibwah penanganan atau tes medis Untuk memperoleh laporan dari sekolah yang didatangi; untuk memaintainen kontak dengan guru (special atau umum) dan menawarkan pembelajaran secara konsisten dengan program sekolah; untuk menyiapkan peserta didik pergi ke sekolah (special atau umum)
  • Self-contained Class (Kelas khusus di sekolah biasa bersama guru PLB)
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru khusus menyediakan sebagian atau semua pembelajaran di kelas khusus peserta didik yang diberikan kategori label; guru umum menyediakan pemeblajaran di kelas umum pada sebagian hari sekolah; peserta didik sebagian atau seluruhnya tepisah secara total. Peserta didik dengan mental retardasi sedang dan atau emosional/behavioral disorder Untuk mengelola (manajemen) dan mengajar kelas khusus; menawarkan pembelajaran pada sebagia are kurikulum; menuju integrasi di kelas umum
  •  Special Day School (Sekolah luar biasa tanpa asrama)
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru khusus menyediakan pembelajaran di sekolah terpisah; juga bekerja dengan guru di sekolah umu atau kelas khusus dari sekolah umum; peserta didik secara total atau sebagian besar terpisah Peserta didik dengan kondisi hambatan fisik berat dan gangguan mental berat Untuk mengelola (manajemen) dan mengajar secara individual atau kelompok kecil pesrta didik dengan hambatan; mengarah integrasi di sekolah umum
  • Residential School (Sekolah luar biasa berasrama)
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Sama halnya dengan sekolah khusus: Guru khusus juga bekerja dengan staff lain untuk  menyediakan lingkungan teraputik secara total/mellieu; peserta didik secara total atau sebagian besar terpisah Peserta didik dengan kondisi retardasi mental berat atau gangguan emosi perlaku yang berat Sama halnya di sekolah khusus; guru khusus juga bekerja dengan staff untuk membuat program sekolah yang terintegrasi seacar tepat dengan aktifitas non sekolah

PRAKTIK PENDIDIKAN KHUSUS DI INDONESIA

Peraturan Pemerintan No. 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, pada pasal 127 mendefinisikan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Selanjutnya, pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. Adapun di dalam PP ini yang dimaksud peserta didik “berkelainan” yakni terdiri atas peserta didik dengan jenis: tunanetra, tunarungu; tunawicara; tunagrahita; tunadaksa; tunalaras; berkesulitan belajar; Lambar belajar, Autis, Memiliki ganguan motorik, Menjadi korban penyalahgunaan narkotik, obat terlarang, zat aditif lain; dan memiliki kelainan lainnya.

Pendidikan khusus dapat disepenggarakan pada satuan pendidikan khusus formal. Satuan pendidikan khusus formal bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini berbentuk taman kanak-kanak luar biasa (TKLB) atau sebutan lain untuk satuan pendidikan yang sejenis dan sederajat. Sedang satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas sekolah dasar luar biasa (SDLB) atau sebutan lain untuk satuan pendidikan yang sejenis dan sederajat; dan sekolah menengah pertama luar biasa (SMALB) atau sebutan lain untuk satuan pendidikan yang sejenis dan sederajat. Selanjutnya, untuk satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah sekolah menengah atas luar biasa (SMALB), sekolah menengah kejuruan luar biasa, atau sebutan lain untuk satuan pendidikan yang sejenis dan sederajat. Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat dilaksanakan secara terintegrasi antarjenjang pendidikan dan/atau antarjenis kelainan.

Pendidikan khusus atau disebut juga dengan Sekolah Luar Biasa (SLB). Di Indonesia sebutan Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Sekolah Khusus (SKh) seringkali digunakan secara bergantian dengan maksud yang sama. Hanya di daerah Banten yang telah menggunakan nama SKh sebagai sebutan nama sekolah bagi peserta didik dengan kebutuhan khusus.

Menurut pasal 15 Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, bahwa jenis pendidikan bagi Anak berkebutuan khusus adalah Pendidikan Khusus. Pasal 32 (1) UU No. 20 tahun 2003 memberikan batasan bahwa Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Teknis layanan pendidikan jenis Pendidikan Khusus untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa dapat diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Jadi Pendidikan Khusus hanya ada pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Penyelenggaraan pendidikan khusus pada pasal 130 (1) PP No. 17 Tahun 2010 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur dan jenis pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui satuan pendidikan khusus, satuan pendidikan umum, satuan pendidikan kejuruan, dan/atau satuan pendidikan keagamaan. Pasal 133 ayat (4) menetapkan bahwa penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat dilaksanakan secara terintegrasi antarjenjang pendidikan dan/atau antarjenis kelainan. Permendiknas No. 70 tahun 2009 Pasal 3 ayat (1) Setiap peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berhak mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Pada ayat selanjutnya (2) dijelaskan bahwa peserta didik tersebut dapat mengikuti pendidikan dalam bentuk Sekolah Luar Biasa (SLB) satu atap, yakni satu lembaga penyelenggara mengelola jenjang TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB dengan seorang Kepala Sekolah.

Berdasarkan paparan di atas, menunjukkan model layanan pendidikan bagi ABK dapat diselenggarakan dalam dua bentuk yakni pendidikan khusus di Sekolah Khusus (SKh) dan di sekolah umum (Inklusif). Semua jenis ABK dapat bersekolah secara khusus maupun inklusif. Pada praktinya, berdasarkan konsep Halahan dan Kauffman tentang LRE, pendidikan khusus di Indonesia mengalami dinamika yang sangat cepat. Penyelenggaraan pendidikan khusus dalam setting Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Pendidikan Inklusif terus berkembang berkembang dengan berbagai dinamika kemajuan dan tatanganya. Pada Dinamika dan tantangan pendidikan khusus akan dibahas pada artikel selanjutnya.

Salam Hidup Bermanfaat!

 

KAMPUS MERDEKA, MERDEKA BELAJAR; Mengembangkan Kurikulum Prodi Pendidikan Khusus Menuju Kampus Merdeka

PENDAHULUAN

Kampus Merdeka, merupakan konsep baru Merdeka Belajar di perguruan tinggi yang dirilis oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. Pelaksanaan Kampus Merdeka (KM) yang paling memungkinkan untuk segera dilangsungkan dengan mengubah peraturan menteri, tidak sampai mengubah Peraturan Pemerintah ataupun Undang-Undang, (Kemdikbud, 2020).

Ada empat kebijakan kampus merdeka yakni pertama, Pembukaan program studi baru. Memberikan otonomi pendirian prodi baru kepada perguruan tinggi. Kedua, Sistem akreditasi perguruan tinggi. Ketiga, Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum. Kemdikbud memberikan kebebasan bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja (Satker) untuk menjadi PTN Badan Hukum (PTN BH). Kemendikbud akan mempermudah persyaratan PTN BLU dan Satker untuk menjadi PTN BH tanpa terikat status akreditasi.

Keempat; Hak belajar tiga semester di luar program studi. Kemdikbud memberikan hak kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar prodi dan melakukan perubahan definisi Satuan Kredit Semester (sks). Perguruan tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela, dimana mahasiswa boleh mengambil ataupun tidak sks di luar kampusnya sebanyak dua semester atau setara dengan 40 sks dan mahasiswa juga dapat mengambil sks di prodi lain di dalam kampusnya sebanyak satu semester dari total semester yang harus ditempuh. Ini tidak berlaku untuk prodi kesehatan.

Proses pembelajaran dalam Kampus Merdeka merupakan salah satu perwujudan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centered learning) yang sangat esensial. Pembelajaran dalam Kampus Merdeka memberikan tantangan dan kesempatan untuk pengembangan inovasi, kreativitas, kapasitas, kepribadian, dan kebutuhan mahasiswa, serta mengembangkan kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan melalui kenyataan dan dinamika lapangan seperti persyaratan kemampuan, permasalahan riil, interaksi sosial, kolaborasi, manajemen diri, tuntutan kinerja, target dan pencapaiannya. Melalui program merdeka belajar yang dirancang dan diimplementasikan dengan baik, maka hard dan soft skills mahasiswa akan terbentuk dengan kuat. 

Mendikbud menerangkan bahwa paket kebijakan Kampus Merdeka ini menjadi langkah awal dari rangkaian kebijakan untuk perguruan tinggi. Tujuannya pada tahap awal untuk melepaskan belenggu agar lebih mudah bergerak.

Kebijakan KM harus direspon oleh Perguruan Tinggi (PT), fakultas dan pada level ujung adalah Program Studi. Tulisan ini mencoba menggali tantangan-tantangan yang dihadapi dan menciptakan peluang-peluang realitis bagi Prodi Pendidikan Khusus (PKh) untuk mewujudkan KM yang diharapkan. Dari empat kebijakan KM, pada level Prodi PKh akan dibahas terkait dengan kebijakan dan implementasinya pada poin 4  yakni hak belajar tiga semester di luar program studi dimana 2 semester mahasiswa dapat belajar di luar kampus dan 1 semester mahasiswa dapat belajar di luar prodinya. Melalui konsep Merdeka Belajar diharapkan mahasiswa memiliki nilai-nilai sikap, kompetensi pengetahuan yang memadahi dan kompetensi keterampilan yang siap kerja membantu anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia menjadi lebih baik.

PEMAHAMAN KONSEP

Kurikulum

Kurikulum Pendidikan Tinggi pada dasarnya bukan sekedar kumpulan mata kuliah, tetapi merupakan rancangan serangkaian proses Pendidikan/ pembelajaran untuk menghasilkan suatu learning outcomes (capaian pembelajaran). A curriculum is broadly defined as the totality of student experiences that occur in the educational process, (Kelly 2009). Proses belajar mahasiswa melalui kegiatan di luar kampus dengan memberikan pengalaman langsung dianggap sangat penting. Komponen proses dalam kurikulum menjadi prioritas untuk diperkaya. Kurikulum di Prodi PKh bisa jadi dibutuhkan perubahan atau adaptasi untuk mewuwujudkan Kampus Merdeka jika memang diperlukan. Peran Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) sangat strategis untuk memberi sentuhan  terkait dinamika Kurikulum PKh bersama Prodi-Prodi PKh di seluruh Indonesia dalam frame Merdeka Belajar, Kampus Merdeka.

Sistem Kredit Semester (sks)

Berdasarkan Permenristekdikti no. 44/2015, sks merupakan takaran waktu kegiatan belajar berdasarkan proses pembelajaran maupun pengakuan atas keberhasilan usaha mahasiswa dalam mengikuti kegiatan kurikuler. Selama ini, sks juga terbatas pada definisi pembelajaran tatap muka di dalam kelas. Padahal, proses pembelajaran mahasiswa tidak terbatas pada kegiatan di dalam kelas saja. Dalam skema yang baru, mahasiswa diberikan hak untuk secara sukarela (bisa diambil ataupun tidak) melakukan kegiatan di luar program studi, bahkan di luar perguruan tinggi yang dapat diperhitungkan dalam sks. Fokus dari program merdeka belajar adalah pada capaian pembelajaran (learning outcomes).

Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020

Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi: Perguruan Tinggi wajib memfasilitasi hak bagi mahasiswa (dapat diambil atau tidak) untuk: a) Dapat mengambil SKS di luar perguruan tinggi paling lama 2 semester atau setara dengan 40 SKS. b) Dapat mengambil SKS di program studi yang berbeda di perguruan tinggi yang sama sebanyak 1 semester atau setara dengan 20 SKS.

Jenis Kegiatan Di luar Kampus

Adapun kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam penilaian SKS adalah magang atau praktik kerja di industri atau organisasi, pertukaran pelajar, pengabdian masyarakat, wirausaha, riset, studi independen, maupun kegiatan mengajar di daerah terpencil, mengajar di sekolah dan kegiatan lainnya yang disepakati dengan program studi. Beberapa contoh kegiatan mahasiswa di luar kampus yang relevan dengan Prodi PKh adalah mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB), Satuan Pendidikan Penyelenggara Pendidikan Inklusif (SPPPI), Pusat Terapi dan layanan pendidikan sejenis. Kegiatan bersama dengan Organisasi sosial terkait dengan pendidikan khusus seperti HKI, Unicef, dan lain sebagainya.

Dosen

Dosen sebagai tenaga pendidikan sedikit memiliki  peran sebagai fasilitator. Semua kegiatan di luar kampus harus melalui persetujuan prodi dan diberikan pendampingan oleh salah satu atau bebarapa dosen yang relevan.

GAGASAN YANG MEMUNGKINKAN

Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, konsep kurikulum pendidikan tinggi mengutamakan kesetaraan capaian pembelajaran atau mutu. Capaian tersebut terdiri atas sikap dan tata nilai, kemampuan kerja, penguasaan keilmuan, kewenangan serta tanggungjwabnya. Perumusan capaian pembelajaran minimal tercantum pada standar nasional pendidikan tinggi (SNPT) dan hasil kesepakatan prodi sejenis.

Berdasarkan kebijakan Kemdikbud poin ke-empat tentang hak belajar tiga semester di luar program studi, maka beberapa hal yang memungkinkan bisa diwujuddkan oleh Prodi-Prodi PKh di Indonesia dalam upaya merespon kebijakan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Membuka kesempatan kepada mahasiswa untuk menempuh satu mata kuliah dalam satu semester di luar Prodi PKh. Adapun beberapa mata kuliah yang memungkinkan diambil adalah: Pendidikan Pancasila, kewirausahanan Bimbingan Konselig ABK dan lain-lain. Ini artinya, Prodi PKh juga memiliki peluang untuk membuka satu atau lebih mata kuliah yang dapat diambil oleh mahasiswa di luar PKh seperti mata kuliah pendidikan inklusif. (wajib bagi mahasiswa di fakultas Keguruan). Tentu pada bagian ini harus dianalsisi terkait ketersediaan ruang, ketercukupan dosen, pengaturan waktu, pengadministrasian dan lain sebagainya
  2. Membuka Kegiatan Mahasiswa di Luar Kampus (Magang):

Membuka kesempatan bagi mahasiwa untuk belajar secara langsung  terkait dengan mata kuliah tertentu baik di Sekolah Luar Biasa (SLB), Satuan Pendidikan Penyelenggara Pendidikan Inklusif  (SPPPI), layanan terapi dan jenis layanan lainnya baik di dalam negeri maupun luar negeri Mahasiswa Prodi PKh UNS dapat magang di SLB N Bali, atau magang di Sekolah Khusus, Malaysia. Mahasiswa dapat memilih dan memanfaatkan satu atau lebih dari sumber belajar yang ada. Untuk itu dibutuhkan pemetakan mata kuliah relevan yang dapat dipelajari oleh mahasiswa melalui kegiatan magang di SLB. Diperlukan pemetaan mata kuliah yang dapat ditempuh atau di-explore melalui kegiatan di luar kampus. Melalui kegiatan belajar di luar kampus mahasiswa memiliki pengalaman secara langsung, komprehensif dan mendalam. Mahasiswa melakukan invetegasi, mengkonstruk pengetahuan, pengalaman dan mengasah keterampilan seperti kemampuan dalam mengenali ABK secara mendalam, mengasesmen, mengobservasi, membuat Program Pendidikan Individual (PPI), memodifikasi dan mengadaptasi kurikulum, meningkatkan keterampilan pembelajaran kompensatoris, membuat dan menjalankan program kebutuhan khusus di SLB, mengembangkan kurikulum, etika sebagi guru, tanggungjawab dan masih banyak lagi aspek yang dapat dikembangkan dari potensi dan kemampuan mahasiswa.

Sebagai contoh, beberapa mata kuliah di semester tertentu yang memungkinkan ditempuh dengan cara magang di SLB, SPPPI atau tempat terapi seperti sebagai berikut:

  • Kajian Kurikulum PLB
  • Identifikasi dan Asesmen ABK I 
  • Pendidikan Inklusi 
  • Orientasi dan Mobilitas 
  • Membaca dan Menulis Braille 
  • Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama 
  • Bina Diri Anak Gangguan Intelektual 
  • Strategi Pembelajaran ABK 
  • Pengembangan Komunikasi dan Integrasi Sosial Anak Autis 
  • Bahasa Isyarat 

Contoh tersebut terdapat 10 mata kuliah dengan bobot SKS 20. Ini artinya baru dapat dilakukan dalam satu semester. Kebijakan Kemdikbud disampaikan bahwa kegiatan mahasiswa di luar kampus dilakukan selama 2 semester yang disetarakan dengan bobot sks yakni 40 sks. Pada masa transisi ini, tahap awal, sangat realistis jika Prodi PKh memulai dengan Kegiatan Mahasiswa di Luar Kampus cukup 1 dan selanjutnya 2 semester.

PENUTUP 

Banyak Prodi PKh di Indonesia, mungkin sudah “sedikit” mengimplementasi Kampus Merdeka seperti Prodi PKh FKIP UNS dengan melakukan pertukaran mahasiswa dari Universitas Kebangsaan Malaysia untuk program PPL.

Secara bertahap, diharapkan di masa akan datang Prodi PKh dapat mengembangkan pola-pola kegiatan pembelajaran yang memberikan pengalaman di dalam dan di luar kampus bagi mahasiswa dapat ditingkat. Tentu, pengembangan Prodi PKh sebagai bagian dari Kampus Merdeka membutuhkan banyak modifikasi baik isi, proses, evaluasi, administrasi, manajemen dan lain sebagainya. Membahasa pengembangan Kampus Merdeka pada Prodi PKh tentu membutuhkan dukungan dari Fakultas dan Universitas. Semoga langkah awal ini menjadi jalan yang bermanfaat.

Salam Hidup Bermanfaat!

 

Daftar Pustaka

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2020Buku Panduan Kampus Merdeka. Jakarta: Kemdikbud

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/01/mendikbud-luncurkan-empat-kebijakan-merdeka-belajar-kampus-merdeka