BENTUK LAYANAN PENDIDIKAN KHUSUS (Least Restrictive Environment/LRE, Hallahan & Kauffman, 1991)

 DEFINISI PENDIDIKAN KHUSUS

Pendidikan khusus adalah pembelajaran yang dirancang secara khusus yang memenuhi kebutuhan luar biasa dari anak-anak berkebutuhan khusus. Materi, teknik pengajaran, peralatan dan atau fasilitas yang mungkin dibutuhkan. Sebagai contoh, anak dengan hambatan penglihatan mungkin membutuhkan materi belajar membaca dalam teks yang dicetak besar atau braille; bagi peserta didik yang memiliki hambatan pendengaran mungkin membutuhkan alat bantu dengar (hearing aid) atau pembelajaran dengan menggunakan bahasa isyarat; termasuk juga yang punya hambatan fisik/gerak mungkin membutuhkan peralatan khusus (kursi roda); anak dengan gifted dan talented boleh jadi membutuhkan akses ke profesional. Layanan terkait; layanan transportasi khusus, pengukuran psikologi, terapi fisik dan okupasi, penanganan  medis, dan konseling bisa jadi diperlukan jika pendidikan khusus ingin efektif. Poin utama yang paling penting dari pendidikan khusus adalah menemukan dan mengkapitalisasi kemampuan anak-anak yang “luar biasa”.

DI MANA DAN OLEH SIAPA PENDIDIKAN KHUSUS DISEDIAKAN

Beberapa rencana yang bersifat administratif disediakan oleh pendidikan anak berkebutuhan khusus dan anak muda, dari beberapa ketentuan khusus yang dibuat oleh guru di sekolah umum hingga dua puluh empat jam perawatan di rumah dengan fasilitas khusus. Siapa yang mendidik anak-anak berkebutuhan khusus dan dimana mereka memperoleh pendidikan tergantung pada dua faktor:

  1. Bagaimana dan berapa banyak anak-anak dan anak remaja berbeda dari peserta didik pada
  2. Sumber sumber daya sekolah dan komunitas

Kita memaparkan rencana administratif yang bervariasi bagi pendidikan berdasarkan tingkat integrasi secara fisik: sejauhmana keluarbiasaan dan ketidakluarbiasaan peserta didik diajar di dalam tempat yang sama dengan guru yang sama.

Dimulai dengan intervensi yang paling integrasi, guru kelas umum yang menyadari kebutuhan anak secara individual dan terampil untuk menemukan atau memenuhi kebutuhan mereka untuk dapat memperoleh materi, peralatan, metode pembelajaran yang  tepat. Di dalam level ini, layanan spesial secara langsung mungkin tidak dibutuhkan, keahlian guru di sekolah umum bisa jadi dapat menemukan kebutuhan anak-anak.

Level selanjutnya guru di sekolah umum bisa jadi membutuhkan konsultasi dengan special educators atau profesional lain seperti psikolog sekolah sebagai tambahan untuk materi-materi khusus, perlengkapan dan metode. Special education dapat mengajari guru umum: mengarahkan guru pada sumber-sumber lain atau menunjukkan bagaimana menggunakan materi peralatan atau media atau metode.

Menuju step selanjutnya, special educator dapat menyediakan itinerant service (layanan keliling) untuk anak-anak berkebutuhan khusus atau guru di kelas umum. Guru keliling menetapkan jadwal, secara konsisten, berpindah dari sekolah satu ke sekolah lain dan mengunjungi kelas untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus secara individual atau di dalam kelompok kecil, menyediakan materi dan menyarankan pengajaran bagi guru umum untuk dilaksanakan, dan konsultasi dengan guru umum tentang problem-problem khusus.

Level selanjutnya, resource teacher menyediakan layanan kepada anak-anak dan guru-guru hanya dalam satu sekolah. Anak-anak yang dilayani terdaftar di dalam kelas umum dan dilihat oleh guru yang di training secara khusus untuk waktu yang lama dan pada frekuensi yang ditentukan oleh sifat dan keparahan masalah khusus mereka. Guru sumber secara berkelanjutan mengases kebutuhan anak-anak dan guru mereka dan biasanya guru mengajar anak-anak secara individual atau dalam kelompok kecil di dalam kelas khusus, di mana materi dan peralatan-peralatan khusus itu disediakan. Secara khusus, guru sumber melayani sebagai konsultan guru di kelas umum, memberitahu pengajaran dan manajemen anak di dalam kelas dan mungkin menunjukkan teknik-teknik pembelajaran. Fleksibilitas rencana dan fakta bahwa anak tetap bersama denagn teman sebayanya sebagian besar waktu menjadikan alternatif yang sangat menarik dan alternatif yang populer.

Diagnostik prescriptive Center (pusat diagnostik-preskriptif) melampaui level intervensi yang direpresentasikan oleh ruang sumber. Di dalam rencana anak-anak ini ditempatkan pada periode waktu yang singkat, di kelas khusus di sekolah atau fasilitas lain dimana kebutuhan mereka dapat diukur dan perencanaan tindakan dapat ditentukan berdasarkan temuan diagnosis. Setelah preskripsi educational (rekomendasi) ditulis bagi anak-anak dan direkomendasikan bagi penempatan bisa jadi termasuk sesuatu berasal dari institusional care untuk penempatan di ruang kelas reguler khususnya guru yang kompeten yang dapat melaksanakan program.

Hospital and homebound instruction adalah yang paling sering dibutuhkan oleh anak-anak yang memiliki problem physical, meskipun kadang-kadang digunakan untuk anak-anak yang terganggu secara emosi atau disabilitas lainnya ketika tidak ada alternatif yang tersedia. Biasanya, anak-anak dikurung di rumah sakit atau di rumah untuk waktu yang relatif singkat atau, dan rumah sakit atau guru yang tinggal di rumah memelihara dengan guru anak-anak umumnya.

Salah satu yang paling memungkinkan – dan di tahun-tahun akhir ini, tapi kontroversial- yaitu layanan alternatif special self-contained class. Kelas semacam itu biasanya mendaftarkan lima belas atau lebih sedikit anak-anak dengan label diagnostik (contoh: Mental Retardasi). Guru biasanya telah dilatih sebagai guru khusus dan menyediakan pembelajaran bagi semua anak-anak dalam kelas tersebut. mereka yang ditugaskan ke kelas seperti itu biasanya menghabiskan seluruh hari sekolah terpisah dari temen-temen lainya, meskipun kadang-kadang mereka diintegrasikan dengan anak-anak yang tidak memiliki hambatan selama hari itu misalnya olahraga, musik, atau beberapa aktivitas dimana mereka dapat berpartisipasi dengan baik.

Special day school. Sekolah khusus menyediakan pengalaman sehari-hari yang terpisah untuk anak-anak luar biasa. The day school biasanya diorganisasi bagi kategori anak kebutuhan khusus tertentu dan bisa jadi berisikan untuk memenuhi kebutuhan khusus tertentu bagi perawatan dan pendidikan. Anak-anak tersebut kembali ke rumah mereka selama di luar jam sekolah.

Level intervensi yang terakhir yaitu residential school. Disini anak-anak berkebutuhan khusus menerima sekitar 24 jam perawatan jauh dari rumah, seringkali berjarak dari komunitas mereka. Anak-anak ini secara periodik dikunjungi dan atau kembali di hari akhir pekan tetapi selama seminggu mereka tinggal di institusi di mana mereka menerima pembelajaran akademik selain manajemen kehidupan sehari-hari di lingkungan tersebut.

Hukum pendidikan khusus membutuhkan penempatan anak-anak dalam lingkungan yang tak terbatas (Least Restrictive Environment/LRE). Apa yang biasanya dimaksud bahwa anak harus terpisah kelas yang “normal” dan terpisah dari rumah, keluarga dan komunitas sedikit mungkin. Bahwa hal ini, hidup anak-anak harus se”normal” mungkin dan intervensi harus konsisten dengan kebutuhan individual dan tidak tercampur dengan kebebasan individual lebih dari itu sangat diperlukan. Sebagai contoh, individu tidak harus ditempatkan di kelas khusus (special class) jika mereka dapat dilayani cukup dengan guru sumber, dan mereka tidak harus ditempatkan di institusi jika special class dapat melayani kebutuhan mereka dengan baik.

Meskipun gerakan menuju penempatan anak-anak luar biasa di LRE patut dipuji, definisi LRE tidak sesederhana yang kita lihat. Cruickshank (1977) menunjukkan bahwa pembatasan yang lebih besar dari lingkungan fisik tidak perlu dimaknai sebagai pembatasan yang lebih besar dari kebebasan psikologi anak atau human potential. Kenyataanya, hal ini dapat dibayangkan bahwa anak-anak dapat menjadi sangat terbatas dalam jangka panjang di dalam kelas umum dimana mereka ditolak oleh yang lainnya dan gagal untuk mempelajari ketarampilan yang diperlukan dari kelas khusus atau sekolah khusus dimana mereka belajar dengan bahagia dan sehat. Hal tersebut sangat penting untuk menjaga tujuan yang terbaik bagi anak dalam pikiran dan menghindari membiarkan LRE menjadi slogan hampa yang menghasilkan anak-anak yang mengalami kekurangan dalam hal pendidikan mereka. Sebagaimana Morse mecatat: “the goal should be to find the most productive setting to provide the maximum assistance for the child”. (tujuannya adalah menemukan pengaturan yang paling produktif untuk memberikan bantuan maksimal bagi anak). (1984, P. 120)

Anak-anak di bawah umur jarang menerima pendidikan di kelas umum dan lebih sering menghadiri sekolah terpisah daripada anak-anak yang telah mencapai usia sekolah biasa. Kelas khusus, sekolah terpisah, dan lingkungan lain seperti pengajaran di rumah digunakan lebih sering untuk remaja yang lebih tua dan orang dewasa muda daripada untuk siswa usia sekolah dan usia sekolah menengah. Kita dapat menjelaskan perbedaan-perbedaan ini dengan dua fakta. Pertama, anak-anak prasekolah dan dewasa muda yang diidentifikasi untuk pendidikan khusus cenderung memiliki disabilitas yang lebih parah daripada anak-anak usia sekolah. Kedua, beberapa sistem sekolah tidak memiliki kelas reguler untuk anak-anak prasekolah dan dewasa muda, dan dengan demikian penempatan di selain kelas reguler biasanya lebih tersedia dan lebih sesuai.

Di dalam bukunya Hallahan dan Kauffman yang berjudul Exceptional Children, Introduction Special Education, Edisi ke V (1991: 10) bentuk penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus  ada berbagai pilihan. Hallahan dan Kuffman memberikan 3 penjelasan dari setiap bentuk layanan yakni ciri utama alternatif penempatan, jenis peserta didik yang dilayani dan peran utama guru pendidikan khusus;

  • Reguler Class Only (Kelas biasa dengan guru biasa).
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru umum menemukan semua kebutuhan anak; peserta didik mungkin tidak secara resmi dilabel; peserta didik integrasi secara total Kesulitan belajar, gangguan perilaku/emotional; mental retardasi ringan Tidak ada
  • Reguler Class with Consultation (Kelas biasa dengan konsultan guru PLB),
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru umum menemukan semua kebutuhan anak dengan sedikit bantuan sesekali dari konsultan; peserta didik mungkin tidak secara resmi dilabel; peserta didik integrasi secara total Kesulitan belajar, gangguan perilaku/emotional; mental retardasi ringan Menawarkan demonstrasi dan pe,bejaran dan untuk membantu guru kelas regular bila diperlukan
  • Itinerant Teacher (Kelas biasa dengan guru kunjung),
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru umum menyediakan sebagian atau seluruh pembelajaran; guru pendidikan khusus mengajar secara berselang dan atau konsultasi dengan guru umum; Siswa terintegrasi kecuali untuk sei pengajaran singkat Peserta didik dengan hambatan visual atau physical disability, gangguan komunikasi Visit ke kelas umum secara regular, melihat pembelajaran secara tepat, materi dan layanan yang disediakan; menawarkan konsultasi, menunjukan dan mengarahkan guru umum dan asesmen dan pembelajaran peserta didik sebagai kebutuhan; bekerja mengarah ke integrasi secara total
  • Resource Teacher (Guru sumber, yaitu kelas biasa dengan guru biasa, namun dalam beberapa kesempatan anak berada di ruang sumber dengan guru sumber)
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru umum menyediakan banyak pengajaran; guru khusus menyediakan sebagian pembelajaran dan mennyarakan guru umum; sebagian peserta didik terintegrasi di kelas seharian gangguan perilaku/emotional, belajar dan komunikasi ringan Mengukur kebutuhan peserta didik bagi pembelajaran dan menajemen;menyediakan pembejaran individual atau kelompok kecil setting kelas umum atau ruang khusus; menawarkan saran dan demonstrasi bagi guru umum; mereferal ke agensi lain sebagai tambahan layanan; menuju integrasi total peserta didik
  • Pusat Diagnostik-Prescriptif
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru khusus menyediakan sebagian atau semua pembelajaran untuk beberap hari atau minggu dan mengembangkan rencana ataurekomendasi/resep untuk diteroma guru; peserta didik total terpisah di pusat layanan tetapi kadang boleh terintegrasi berdasarkan diagnosis dan rekomendasi Peserta didik disabilitas ringan yang belum menerima layanan yang memadahi Membuat asesmen komprehensif yakni kekuatan dan kelemahan; mengembangkan rekomendasi tertulis bagi pemebelajran dan menajemen perilaku bagi guru umum; menginterpretasikan rekomendasi kepada guru dan mengases dan merevisi saran yang dibutuhkan
  • Hospital or Homebound Instruction (Pendidikan di rumah atau di rumah sakit, yakni kondisi anak yang memungkinkan belum masuk ke sekolah biasa).
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru khusus menyediakan semua pembelajaran di rumah sakit (RS) atau di rumah hingga peserta didik dapat kembelai ke sekolah biasa (sekolah umum atau seolah khusus) dari mereka secara temporal; peserta didik terpisah untuk beberapa waktu periodik Peserta didik dengan hambatan fisik; dibwah penanganan atau tes medis Untuk memperoleh laporan dari sekolah yang didatangi; untuk memaintainen kontak dengan guru (special atau umum) dan menawarkan pembelajaran secara konsisten dengan program sekolah; untuk menyiapkan peserta didik pergi ke sekolah (special atau umum)
  • Self-contained Class (Kelas khusus di sekolah biasa bersama guru PLB)
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru khusus menyediakan sebagian atau semua pembelajaran di kelas khusus peserta didik yang diberikan kategori label; guru umum menyediakan pemeblajaran di kelas umum pada sebagian hari sekolah; peserta didik sebagian atau seluruhnya tepisah secara total. Peserta didik dengan mental retardasi sedang dan atau emosional/behavioral disorder Untuk mengelola (manajemen) dan mengajar kelas khusus; menawarkan pembelajaran pada sebagia are kurikulum; menuju integrasi di kelas umum
  •  Special Day School (Sekolah luar biasa tanpa asrama)
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Guru khusus menyediakan pembelajaran di sekolah terpisah; juga bekerja dengan guru di sekolah umu atau kelas khusus dari sekolah umum; peserta didik secara total atau sebagian besar terpisah Peserta didik dengan kondisi hambatan fisik berat dan gangguan mental berat Untuk mengelola (manajemen) dan mengajar secara individual atau kelompok kecil pesrta didik dengan hambatan; mengarah integrasi di sekolah umum
  • Residential School (Sekolah luar biasa berasrama)
CIRI UTAMA ALTERNATIF PENEMPATAN, JENIS PESERTA DIDIK YANG DILAYANI DAN PERAN UTAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS
Sama halnya dengan sekolah khusus: Guru khusus juga bekerja dengan staff lain untuk  menyediakan lingkungan teraputik secara total/mellieu; peserta didik secara total atau sebagian besar terpisah Peserta didik dengan kondisi retardasi mental berat atau gangguan emosi perlaku yang berat Sama halnya di sekolah khusus; guru khusus juga bekerja dengan staff untuk membuat program sekolah yang terintegrasi seacar tepat dengan aktifitas non sekolah

PRAKTIK PENDIDIKAN KHUSUS DI INDONESIA

Peraturan Pemerintan No. 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, pada pasal 127 mendefinisikan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Selanjutnya, pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. Adapun di dalam PP ini yang dimaksud peserta didik “berkelainan” yakni terdiri atas peserta didik dengan jenis: tunanetra, tunarungu; tunawicara; tunagrahita; tunadaksa; tunalaras; berkesulitan belajar; Lambar belajar, Autis, Memiliki ganguan motorik, Menjadi korban penyalahgunaan narkotik, obat terlarang, zat aditif lain; dan memiliki kelainan lainnya.

Pendidikan khusus dapat disepenggarakan pada satuan pendidikan khusus formal. Satuan pendidikan khusus formal bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini berbentuk taman kanak-kanak luar biasa (TKLB) atau sebutan lain untuk satuan pendidikan yang sejenis dan sederajat. Sedang satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas sekolah dasar luar biasa (SDLB) atau sebutan lain untuk satuan pendidikan yang sejenis dan sederajat; dan sekolah menengah pertama luar biasa (SMALB) atau sebutan lain untuk satuan pendidikan yang sejenis dan sederajat. Selanjutnya, untuk satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah sekolah menengah atas luar biasa (SMALB), sekolah menengah kejuruan luar biasa, atau sebutan lain untuk satuan pendidikan yang sejenis dan sederajat. Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat dilaksanakan secara terintegrasi antarjenjang pendidikan dan/atau antarjenis kelainan.

Pendidikan khusus atau disebut juga dengan Sekolah Luar Biasa (SLB). Di Indonesia sebutan Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Sekolah Khusus (SKh) seringkali digunakan secara bergantian dengan maksud yang sama. Hanya di daerah Banten yang telah menggunakan nama SKh sebagai sebutan nama sekolah bagi peserta didik dengan kebutuhan khusus.

Menurut pasal 15 Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, bahwa jenis pendidikan bagi Anak berkebutuan khusus adalah Pendidikan Khusus. Pasal 32 (1) UU No. 20 tahun 2003 memberikan batasan bahwa Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Teknis layanan pendidikan jenis Pendidikan Khusus untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa dapat diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Jadi Pendidikan Khusus hanya ada pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Penyelenggaraan pendidikan khusus pada pasal 130 (1) PP No. 17 Tahun 2010 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur dan jenis pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui satuan pendidikan khusus, satuan pendidikan umum, satuan pendidikan kejuruan, dan/atau satuan pendidikan keagamaan. Pasal 133 ayat (4) menetapkan bahwa penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat dilaksanakan secara terintegrasi antarjenjang pendidikan dan/atau antarjenis kelainan. Permendiknas No. 70 tahun 2009 Pasal 3 ayat (1) Setiap peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berhak mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Pada ayat selanjutnya (2) dijelaskan bahwa peserta didik tersebut dapat mengikuti pendidikan dalam bentuk Sekolah Luar Biasa (SLB) satu atap, yakni satu lembaga penyelenggara mengelola jenjang TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB dengan seorang Kepala Sekolah.

Berdasarkan paparan di atas, menunjukkan model layanan pendidikan bagi ABK dapat diselenggarakan dalam dua bentuk yakni pendidikan khusus di Sekolah Khusus (SKh) dan di sekolah umum (Inklusif). Semua jenis ABK dapat bersekolah secara khusus maupun inklusif. Pada praktinya, berdasarkan konsep Halahan dan Kauffman tentang LRE, pendidikan khusus di Indonesia mengalami dinamika yang sangat cepat. Penyelenggaraan pendidikan khusus dalam setting Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Pendidikan Inklusif terus berkembang berkembang dengan berbagai dinamika kemajuan dan tatanganya. Pada Dinamika dan tantangan pendidikan khusus akan dibahas pada artikel selanjutnya.

Salam Hidup Bermanfaat!

 

Dr. Joko Yuwono/Dosen PKh & PSD LPPM UNS

JOKO YUWONO, Lahir di Solo, 19 Juni 1973. PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN Bersekolah di Solo dari SD, SMP, SMA hingga jenjang Perguruan Tinggi. Lulus dari Prodi. Pendidikan Khusus (PKh) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 1997, saya hijrah ke Jakarta untuk mengaplikasikan keilmuannya bekerja di sebuah pusat layanan anak berkebutuhan khusus (Autis dan Cerebral Palscy). Selama 3 tahun bekerja menjadi terapis, guru hingga kepala SLB telah dilakoninya. Kemudian, pada tahun 2000, saya memulai mendirikan lembaga penanganan anak autis secara mandiri. Akhirnya saya memiliki 3 lembaga, 2 lembaga penanganan anak autis di Jakarta dan 1 lembaga pendidikan anak usia dini Tangerang. Pada tahun 2005, saya mengikuti seleksi masuk Program Master/S2, Jurusan Pendidikan Khusus (fokus: Pendidikan Inklusif). Kebetulan Program Master ini adalah Program Beasiswa kerjasama Direktorat Pendidikan Khusus Kemdikbud RI dan Braillo Norwey melalui Universitas Pendidikan Indonesia dan Oslo University di Bandung. Saya adalah angkatan ke 2. Selama dua tahun saya lulus dan langsung melanjutkan Program Doktor pada Jurusan Psikologi dan Konseling. Selama 5 tahun, saya menempuh Program Doktor. Tahun 2012/2013 saya menyelesaikan sekolahnya. Jadi, 7 tahun saya bersekolah, menuntut ilmu, mondar-mandir Jakarta-Bandung. Saya menjadi guru/terapis di lembaga saya sendiri dan home visit (sejak 1997) di Jakarta sekitarnya. Saya juga pernah menjadi konsultan di Medan selama 2 tahun, 1-2 bulan sekali pergi ke Medan. Demikin pula di Jambi, Bandung dan Solo. Selain menjadi guru atau terapis, saya juga menjadi Dosen di beberapa Universitas seperti Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Prog. PGSD dan Bimbingan Konseling sekitar 7 tahun, Universitas Islam Nusantara/Uninus Jur. Pendidikan Luar Biasa, Bandung selama 7 tahun dan MENDIRIKAN dan mengajar di Prodi Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayas Serang Banten selama 5 tahun. Dan tak disangka, akhirya saya kembali ke kampung halaman, Solo. Saat ini, Saya mengabdikan dirinya di Prodi. Pendidikan Khusus FKIP UNS/Universitas Sebelas Maret Surakarta. Terima Kasih Prof. Dr. Ravik Karsidi, Prof. Dr. Sunardi, Prof. Gunarhadi, Prof. Munawir Yusuf dan juga Dr. Subagya yang memotivasi saya untuk terus berkarya. KELUARGA Saya adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara. Bapak saya adalah seorang sopir dan si Mbok adalah penjual gorengan dan nasi kucing di Solo. Penghasilan orang tua jauh dari pas-pasan. Sekolah terbata-bata. Saya harus bersekolah sambil bekerja waktu S1-S3, semuanya MANDIRI. Alhamdulilah. Berbagai pekerjaan pernah saya lakoni, jual jagung bakar, jual nasi, jualan es dawet, kuli bangunan, jualan alat kesehatan, jaga counter di Pasar Pagi Mangga Dua, jualan tas keliling hingga ke Pacitan dan Ponorogo, membuat tas dari sak semen, hingga mengamen adalah cara untuk mempertahankan hidup dan bersekolah. Selalu cemas setelah ujian akhir semester, dimana sementara mahasiswa yang lain kebanyakan sibuk memikirkan kemana mereka akan rekreasi/refreshing, saya sibuk berpikir keras kemana mencari uang SPP yang pada waktu itu cuma Rp. 90.000-150.000. Alhamdulillah, tak menyangka kini saya bisa bersekolah terus hingga tuntas. Terima kasih Allah SWT. Apa yang saya tulis di atas bukan saya ingin menyombongkan diri, tetapi hanya berbagi pengalaman. Karena sejatinya, sekolah hanyalah tanda bahwa kita pernah belajar dan berpikir. Sekolah setinggi-tingginya adalah penring, lebih penting lagi apa yang bisa kita lakukan setelah sekolah, apa yang bisa kita perbuat setelah sekolah! Terus Belajar dan Hidup Bermanfaat!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *