DAYA INGAT ANAK DENGAN AUTISM

Kanner melihat bahwa anak dengan autism seringkali sangat bagus dalam mengingat sesuatu tertentu.  Anak dengan autism mungkin mengingat pesan secara keseluruhan. Mereka mendengar atau membacakan sajak anak-anak dan puisi tanpa membuat kesalahan. Beberapa anak dengan autism sangat pandai mengenali bagian dari musik berdasarkan bilah tampilan. Mereka juga mungkin memperhatikan  ketika sedikit ada perubahan yang ada di ruangan, seperti  susunan buku di rak atau asbak yang ada di meja. Ingatan mereka terlihat sangat pas melalui pengalaman yang tampaknya disimpan secara akurat. Ciri lain bahwa sesuatu yang mereka ingat tidak pada beberapa hal yang sangat penting; mereka terkesan tidak menyeleksi tentang apa yang diingat itu menjadi sesuatu hal yang penting atau tidak. Pengamatan ini didukung oleh temuan penelitian dimana menunjukkan bahwa anak-anak dengan autism mungkin memiliki ingatan langsung dan isyarat yang baik. (Boucher, 1981; Boucher & Warrington, 1976) dan mengingat beberapa  aktifitas. Namun demikian, hasil penelitian lain menunjukkan bahwa anak dengan autism memiliki ingatan yang terganggu.

Kita sudah melihat bahwa anak dengan autism kesulitan mengingat  dimana foto-foto orang yang mereka telah lihat sebelumnya, dimana memberi kesan bahwa cara mengingatnya itu terganggu. Hal ini didukung dengan hasil temuan penelitian yang menunjukkan bahwa keterlambatan antara penyajian materi  yang akan diingat dan mengingat materi, anak dengan autism itu terganggu. (Boucher, 1981; Boucher & Lewis, 1989; Boucher & Warrington, 1976). Hal ini, Boucher & Lewis menemukan bahwa anak dengan autism usia 11-15 tahun terganggu untuk menghasilkan urutan aktifitas yang mengikuti petunjuk atau perintah secara lisan dibanding anak gangguan belajar, baik yang non verbal dan verbal. Anak dengan autism juga memiliki daya ingat yang lebih buruk dari berbagai hasil penelitian yang telah mereka lakukan selama lebih dari setahun dibandingkan dengan anak-anak dengan gangguan belajar.

Hal menarik dari studi selanjutnya yang diungkapkan oleh Willward, Powell, Misser dan Jordan (2000). Anak dengan autism itu berjalan sendiri atau  dengan teman sebaya dan di jalan mereka (dengan teman sebaya) terlibat dalam aktifitas yang berbeda. Ketika berjalan tanpa teman, anak dengan autism mengingat lebih sedikit aktivitas daripada anak-anak dengan jenis gangguan perkembangan lainya dengan kemampuan verbal yang sama dan meskipun isyarat meningkatkan daya ingat kedua kelompok, perbedaannya tetap.  Bahwa peristiwa  pengalaman individu anak dengan autism itu ditemukan kesulitan dalam daya ingat mereka.

Jarrold dan Henry (1996) menjelaskan secara spesifik bahwa aspek memori itu sangat tergantung dari kapasitas dari pusat pemrosesan dimana terganggu. Anak dengan autism, gangguan belajar  dan keterlabatan perkembangan spesifik diberi tugas untuk mengingat daftar kata. Terdapat perbedaan kemampuan mengingat kata dari ketiga jenis anak tersebut (anak dengan gangguan  belajar, keterlabatan perkembangan spesifik). Ketika tugas mengingat diberikan, anak dengan autism mengembangkan tugas kognitif (menghitung bulatan pada kartu), sementara menangkap memori informasi lainnya (sejumlah bulatan siap dihitung), anak dengan autism menunjukkan tidak berbeda dengan anak gangguan belajar dan keterlambatan perkembangan lainnya, tetapi anak dengan autism tidak menunjukkan performa sebaik anak dengan gangguan belajar dan keterlambatan perkembangan lainnya.

Terdapat kecenderungan anak dengan autism memiliki daya ingat yang baik pada bagian tertentu, tetapi anak dengan autism kesulitan menggunakan kemampuan ingatanya untuk mengingat pada hal-hal lainya. Ada kecenderungan bahwa cara mengingat anak dengan autism ditandai dengan “symbol” tertentu yang memudahkan hal tersebut untuk diingat baik benda, gambar, objek atau aktifitas. Ada dugaan hal itu semata-mata karena perilaku repetitive sebagai karakteristik unik dari anak autism.   

Beberapa jenis obyek atau aktifitas yang diingat sangat unik. Ada beberapa anak dengan autism mengingat jenis obat-obatan dengan merk tertentu, ada juga yang sangat tajam mengingat symbol-simbol dari matematik. Ada juga yang senang mengingat nama-nama mall, universitas dan bendera-bendera di dunia. Bahkan anak dengan autism sangat “mengingat” prosedur atau tahapan dalam menggunakan sebuah game atau aplikasi tertentu. Ada juga anak dengan autism yang sangat hafal tentang huruf dan gabungan antara huruf menjadi suku kata dan kata. Dengan cara ini, anak dengan autism kemudian dengan sendirinya dapat membaca dengan caranya. Pada bagian lain, saking daya ingat anak dengan autism sangat kuat, pola aktifitas di rumah dari bangun tidur, gosok gigi, makan, penggunaan alat makan, susunan barang, jumlah benda yang tersusun dan sebagainya mudah diingat oleh anak dengan autism secara detail.  

Mengetahui kemampuan mengingat dan mengenali cara mengingat dari anak autism bagi guru dan orang tua sangat dibutuhkan. Hal ini dapat digunakan sebagai salah satu informasi untuk mengembangkan pembelajaran bagi anak dengan autism. Orang tua juga dapat mengembangkan perilaku, sosial komunikasi dan bahasa berbasis rote learner. Meski awalnya berpola, pada tahap selanjutnya anak dengan autism diharapkan bisa mengeneralisasikan pada area lainnya bagi hidupnya di masa-masa akan datang.  

 

Salam Hidup Bermanfaat!

 

 

 

 

 

 

Dr. Joko Yuwono/Kepala Prodi Pendidikan Luar Biasa & PSD LPPM UNS

JOKO YUWONO, Lahir di Solo, 19 Juni 1973. PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN Bersekolah di Solo dari SD, SMP, SMA hingga jenjang Perguruan Tinggi. Lulus dari Prodi. Pendidikan Khusus (PKh) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 1997, saya hijrah ke Jakarta untuk mengaplikasikan keilmuan yang saya peroleh. Saya bekerja di sebuah pusat layanan anak berkebutuhan khusus (Autis dan Cerebral Palscy). Selama 3 tahun, Saya bekerja menjadi terapis, guru hingga Kepala SLB. Kemudian, pada tahun 2000, saya memulai mendirikan lembaga penanganan anak autis secara mandiri. Saya memiliki 3 lembaga, 2 lembaga penanganan anak autis di Jakarta dan 1 lembaga pendidikan anak usia dini/PAUD Tangerang. Pada tahun 2005, saya mengikuti seleksi masuk Program Master/S2, Jurusan Pendidikan Khusus (fokus: Pendidikan Inklusif). Kebetulan Program Master ini adalah Program Beasiswa kerjasama Direktorat Pendidikan Khusus Kemdikbud RI dan Braillo Norwey melalui Universitas Pendidikan Indonesia dan Oslo University di Bandung. Saya adalah angkatan ke 2. Selama dua tahun saya belajar tentang Pendidikan Inklusif. Setelah lulus, saya langsung melanjutkan Program Doktor pada Jurusan Psikologi dan Konseling. Selama 5 tahun, saya menempuh Program Doktor. Tahun 2012/2013 saya menyelesaikan sekolah. Jadi, 7 tahun saya bersekolah, menuntut ilmu, mondar-mandir Jakarta-Bandung. Saya menjadi guru/terapis di lembaga saya sendiri dan home visit (sejak 1997) di Jakarta sekitarnya. Saya juga pernah menjadi konsultan di Medan selama 2 tahun, 1-2 bulan sekali pergi ke Medan. Demikin pula di Jambi, Bandung dan Solo. Saya juga pernah jadi Konsultan di Sekolah Khusus di Jakarat, sebagai Tenaga Ahli di Direktorat PKLK Kemdikbud (2016) dan Konsultan di World Bank (2021) untuk Mengevaluasi Program Pendidikan Inklusif di Indonesia atas inisiasi Dirrektorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK) Kemdikbud-ristek RI. Selain menjadi guru atau terapis, saya juga menjadi Dosen di beberapa Universitas seperti Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Prog. PGSD dan Bimbingan Konseling sekitar 7 tahun, Universitas Islam Nusantara/Uninus Jur. Pendidikan Luar Biasa, Bandung selama 7 tahun dan MENDIRIKAN dan mengajar di Prodi Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayas Serang Banten selama 5 tahun. Dan tak disangka, akhirnya saya kembali ke kampung halaman, Solo. Saat ini, Saya mengabdikan diri di Prodi. Pendidikan Khusus FKIP UNS/Universitas Sebelas Maret Surakarta. Terima Kasih Prof. Dr. Ravik Karsidi, Prof. Dr. Sunardi, Prof. Gunarhadi, Prof. Munawir Yusuf dan juga Dr. Subagya yang memotivasi saya untuk kembali ke UNS Surakarta dan terus berkarya. KELUARGA DAN PENGALAMAN KERJA SRABUTAN Saya adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara. Bapak saya adalah seorang sopir dan si Mbok adalah penjual gorengan dan nasi kucing di Kampung Sewu Jebres Solo. Penghasilan orang tua jauh dari pas-pasan. Sekolah terbata-bata. Saya harus bersekolah sambil bekerja waktu S1-S3, semuanya MANDIRI. Alhamdulilah. Berbagai pekerjaan pernah saya lakoni, jual jagung bakar, jual nasi, jualan es dawet, kuli bangunan, jualan alat kesehatan, jaga counter di Pasar Pagi Mangga Dua, jualan tas keliling hingga ke Pacitan dan Ponorogo, membuat tas dari sak semen (bungkus semen), hingga mengamen adalah cara untuk mempertahankan hidup dan bersekolah/kuliah. Selalu cemas setelah ujian akhir semester, dimana sementara mahasiswa yang lain kebanyakan sibuk memikirkan kemana mereka akan rekreasi/refreshing setelah menemouh ujian semesteran, saya justru dipaksa harus berpikir keras kemana mencari uang SPP yang pada waktu itu cuma Rp. 90.000-150.000. Alhamdulillah, selesai juga dan tak menyangka kini saya bisa bersekolah terus hingga tuntas, hingga Doktor. berkah anak dari si Mbok Penjual Nasi Kucing, jajanan khas Kota Solo (angkringan). Terima kasih Allah SWT. Apa yang saya tulis di atas bukan saya ingin menyombongkan diri, tetapi hanya berbagi pengalaman. Sekolah hanyalah tanda bahwa kita pernah belajar dan berpikir. Sekolah setinggi-tingginya adalah penting, lebih penting lagi adalah apa yang bisa kita lakukan setelah sekolah, apa yang bisa kita perbuat setelah sekolah! Terus Belajar dan Salam Hidup Bermanfaat!!