PEMBELAJARAN ANAK AUTIS DI MASA PANDEMI COVID-19 BERBASIS KELUARGA MELALUI PENDEKATAN SETTING RUMAH (TINJAUAN PROGRAM KEBUTUHAN KHUSUS)

Foto: Pelatihan Pendidikan Inklusif di Langsa, Aceh

A. Latar Belakang

Dua kasus virus Corona pertama di Indonesia diumumkan Senin, 2 Maret 2020. Sejak saat itulah jumlah kasus Covid-19 di Tanah Air Indonesia terus melonjak tajam hingga totalnya per tanggal 27 Agustus 2020 kasus positif Covid-19 sudah menembus 162.884 orang. Bertambah 2.719 kasus baru. Jumlah pasien sembuh bertambah 3.166 orang, sehingga total menjadi 118.575 orang. Kasus meninggal bertambah 120 orang. https://www.merdeka.com/peristiwa/data-terkini-jumlah-korban-virus-corona-di-indonesia.html. Sungguh jumlah kasus yang fantastic.

 Pemerintah melalui Presiden mengeluarkan Keputusan Presiden/Keppres Nomor 7 tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan PP Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. PP yang mengatur soal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini dibuat Presiden untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona.  Beberapa hal yang pokok dilakukan dalam kebijakan tersebut adalah tetap tinggal di rumah (stay at home), tidak keluar rumah jika tidak mendesak, jaga jarak (social distancing) dan menjaga kebersihan, cuci tangan setelah beraktifitas serta memakai masker.

Pandemi Covid-19 memberi dampak yang sangat mempengaruhi keberlangsungan pendidikan dan perkembangan serta ancaman kesehatan bagi ASD. Praktik pembelajaran di sekolah tidak bisa dilaksanakan. Pembelajaran di sekolah berpindah dari sekolah ke rumah. Anak-anak autis adalah peserta didik di sekolah khusus atau layanan terapi yang memiliki dampak yang luas bagi kehidupannya karena mengingat karakteristik unik dan problem perkembangan ASD yang sangat kompleks dibanding anak-anak lainya.

Dalam situasi ini penanganan anak ASD menjadi tantangan bagi sekolah/guru, keluarga dan pengasuh di rumah. Biasanya anak-anak ini memiliki intervensi selama beberapa jam seminggu di rumah dengan terapis khusus atau di rumah sakit dan lembaga khusus/Sekolah Khusus (SKh) bersama guru. Namun pada saat ini, karena tindakan pencegahan penularan, baik keluarga dan ASD secara fisik tidak didukung oleh guru/terapis mereka dan mereka tidak dapat menghadiri intervensi di luar rumah. Langkah-langkah ini sangat diperlukan untuk kesehatan kita semua, perlu ditangani dengan hati-hati untuk menghindari peningkatan stres orang tua dan memperburuk masalah perilaku anak-anak autis. (Narzisi, 2020).

Sementara tingkat infeksi penyakit virus COVID-19 meningkat secara eksponensial di seluruh dunia, individu dengan gangguan spektrum autis diidentifikasi sebagai bagian dari kelompok yang berisiko lebih tinggi untuk komplikasi dari COVID-19. Individu dengan autis juga memiliki berbagai jenis tantangan perilaku termasuk defisit dalam komunikasi sosial, hiperaktif, gangguan pemusatan perhatian, mudah tanrum (mengamuk), dan agresif serta menyakiti diri sendiri. Kondisi umum seperti itu dapat menghadirkan tantangan tambahan bagi individu untuk mengatasinya selama pandemi COVID-19, membuatnya lebih sulit untuk menerima terapi yang diperlukan, mempraktikkan jarak fisik, dan menyesuaikan diri dengan rutinitas harian yang terganggu. Individu dengan autis adalah kelompok penting yang mungkin memerlukan dukungan tambahan selama wabah COVID-19 dan kedaruratan kesehatan masyarakat di masa depan.(Eshraghi et al., 2020)

Yuwono (2019) menuliskan bahwa autis dengan kompleksitas hambatannya termasuk perilaku, interaksi sosial, komunikasi dan bahasa, emosi, morotik, sensorik, sehingga dengan hambatanya tersebut tidak sedikit anak-anak dalam kelompok ini mengalami masalah perkembangan kognitifnya. Anak autis suka menyendiri, melakukan gerakan-gerakan yang tak fungsional (stereotype, da stimming), kurang bisa bermain bersma, kesulitan bekerjasama, menunggu giliran, dan memiliki kesulitan untuk berbicara, memahami perintah serta menyampaikan keinginannya. Ada juga yang disertai dengan kurang mampu membaca ekpresif mimic, problem keseimbangan, tidak mudah beradaftasi pada fungsi sentuhan dan kadang juga punya masalah dalam fungsi koordinasi motorik. Dengan keadaaan tersebut, anak ASD sebagian besar di usia sekolah hingga dewasa masih banyak yang membutuhkan pendampingan dalam kehidupan sehari-harinya. Ini artinya anak autis memiliki resiko dengan tertular atau menularkan Covid-19 dari dan ke orang lain. 

Pada banyak kondisi, pembelajaran yang dilakukan sekolah pada anak-anak autis lebih banyak melibatkan pendamping yakni guru, keluarga atau orang tua. Anak-anak autis tidak dapat hadir ke sekolah karena berkumpul di sekolah dengan tambahan pendampingan menciptakan kerumunan orang sehingga beresiko untuk tertular atau menularkan Covid-19. Guru tidak bisa hadir dan belajar secara langsung dengan anak autis di rumah. Pembelajaran langsung secara online juga dirasa banyak yang kurang efektif karena berbagai hal, sehingga campur tangan keluarga atau orang tua sangat diperlukan. Guru kadang cukup memberikan informasi pembelajaran kepada orang tua yang selanjutnya diberikan kepada buah hatinya.

Tantangan selanjutnya, bagaimana orang tua dalam melakukan pembelajaran kepada anak autis di rumah. Berdasarkan hasil wawancara dengan Guru di Sekolah Luar Biasa Negeri Surakarta, Ibu Erny menjelaskan bahwa di SLB N Surakarta terdapat 40 anak autis. Selama pandemi Covid-19 pembelajaran kepada anak autis dilakukan dengan media online dengan cara langsung (video conference) dan pemberikan tugas kepada orang tua anak autis. Pembelajaran langsung kepada anak dengan media online tidak berjalan efektif bagi anak-anak autis yang memiliki hambatan perilaku, komunikasi dan bahasa serta pemahaman akademik yang rendah. Sedang pembelajaran melalui penugasan orang tua dapat berjalan dengan baik. Problem yang muncul adalah pemahaman orang tua tentang praktik pembelajaran yang diberikan guru, kesulitan orang tua dalam menejemen perilaku anak autis dimana orang tua kesulitan mengendali perilaku anak sehingga proses belajar tidak berjalan dengan baik. Ibu Erni menambahkan bahwa dalam kondisi tersebut orang tua sangat mungkin mengambil tindakan kekerasan (marah-marah) dan atau melakukan pembiaran karena merasa tidak sanggup untuk mengajarkanya. Informasi tersebut menunjukkan bahwa orang tua memiliki problem besar dalam melakukan pembelajaran terkait dengan mengajarkan materi sekolah dan manajemen perilaku anak autis di rumah. Hubungan orang tua dan anak yang kurang fungsional diduga karena dalam keseharianya mereka tidak memiliki good relationship baik dalam keseharian dan proses belajar. Secara teknis, orang tua juga kesulitan memahami kaidah-kaidah pembelajaran bagi anak autis.

B. Permasalahan Pembelajaran Anak Autis

Ada dua komponen penting dalam proses pembelajaran bagi anak autis di masa pendemi Covid-19 ini yakni guru dan orang tua dari anak autis itu sendiri. Peran guru untuk tetap terus mengajar anak autis dihadapkan pada masalah pendekatan dan metode/cara yang harus dimodifikasi dan disesuaikan pada masa pendemi Covid-19 ini. Kesehatan anak adalah prioritas dan pembelajaran guru harus menjamin hak tersebut. Demikina pula dengan orang tua, pengasuhan, perawatan, pendampingan dan Pendidikan (belajar di rumah) adalah keharusan. Orang tua harus tetap memberikan pembelajaran di rumah dan memberikan jaminan kesehatan bagi anak autis yang prima adalah prioritas.

Berdasarkan paparan di atas, jika Pandemi Covid-19 ini berlangsung dalam jangka panjang, bisa diperkirakan keluarga dan anak autis sendiri akan mengalami masa-masa yang sulit. Keluarga rentan terhadap kejenuhan, keputusasaan dan stress berkepanjangan. Perkembangan anak autis yang dalam jangka panjang diasuh dan penanganan/pembelajaran di rumah yang tidak tepat, maka perkembangan anak autis tidak menunjukkan perbaikan bahkan bisa jadi semakin buruk perkembanganya. Sebagai pendamping, guru juga memiliki kesulitan untuk menjangkau anak ASD baik secara langsung (karena beresiko) dan melalui media online karena hal ini kurang maksimal. Guru harus menemukan cara bagaimana membantu keluarga untuk tetap berperan aktif di tengah-tengah keterbatasan dalam banyak hal karena adanya pandemi Covid-19. Bagaimanakah penanganan/pembelajaran di rumah bagi anak autis di masa pandemi Covid-19? Apa yang harus dilakukan oleh guru dan orang tua dalam membantu anak autis agar dapat belajar di rumah? Tulisan ini akan mencoba menguraikan masalah-masalah tersebut secara teoritis dan praktis dalam kajian program kebutuhan khusus anak autis pada masa pendemi Covid-19 ini.

C. Autistic Spektrum Disorders (ASD)

Autistic Spektrum Disorders (ASD) adalah gangguan multifaktorial parah yang ditandai dengan payung kekhasan khusus di bidang komunikasi sosial, minat terbatas, dan perilaku berulang. Kejadian munculnya ASD di seluruh dunia dan data epidemiologis terbaru diperkirakan lebih tinggi dari 1/100. (Narzisi, 2020).

Autis merupakan gangguan perkembangan yang mempengaruhi beberapa aspek bagaimana anak melihat dunia dan belajar dari pengalamannya. Biasanya anak-anak ini kurang minat untuk melakukan kontak sosial dan tidak adanya kontak mata. Selain itu, anak-anak autistik memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dan terlambat dalam perkembangan bicaranya. Ciri lainnya nampak pada perilaku yang stereotype seperti mengepakkan tangan secara berulang-ulang, mondar-mandir tidak bertujuan, menyusun benda berderet dan terpukau terhadap benda yang berputar dan masih banyak lagi ciri anak autistik yang tak dapat disebutkan seluruhnya karena setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Yuwono (2019) mendefiniskan bahwa autis adalah gangguan perkembangan neurobiologis yang sangat komplek/berat dalam kehidupan yang panjang, yang meliputi gangguan pada aspek perilaku, interaksi sosial, komunikasi dan bahasa, serta gangguan emosi dan persepsi sensori bahkan pada aspek motoriknya. Gejala autistik muncul pada usia sebelum 3 tahun.

Dalam banyak kondisi anak autis, pembelajarannya difokuskan untuk mengembangkan kemampuan perilaku, interaksi sosial dan komunikasi bahasa. Pada bagian ini seringkali kita sebut dengan program kebutuhan khusus bagi anak autis. Pengembangan aspek perkembangan anak autis pada area perilaku, interaksi dan komunikasi bahasa menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Proses penanganan/intervensi dilakukan secara intensif, berkelanjutan dan holistik.

Secara praktik, proses untuk mencapai tujuan pembelajaran/inetervensi program kebutuhan khusus anak autis membutuhkan pendampingan dalam jangka panjang. Interaksi antar pendamping dengan anak autis tidak bisa dihindarkan, bahkan banyak metode dalam pembelajaran/penangan anak autis membutuhkan visual, ekpresif mimic, sentuhan, media bersama, oral imitation, interactive activity dalam waktu yang lama dan terus menerus. Hal ini menjadi tantangan tersendiri ketika pembelajaran anak autis dihadapkan pada kebijakan di masa pandemic Covid-19; tetap tinggal di rumah, jaga jarak, mencuci tangan, tidak bersentuhan (tidak bersalaman), dan memakai masker.    

D. Pembelajaran Anak Autis oleh Guru

Anak-anak autis harus tetap belajar dalam masa pandemi Covid-19. Guru terus mengembangkan cara memberikan pembelajaran bagi anak autis. pembelajaran dengan tatap muka sangat tidak di sarankan hingga tulisan ini dibuat. Jika itu dilakukan banyak dilakukan modifikasi pada banyak area seperti waktu bisa jadi sangat pendek, jumlah anak sangat terbatas, jenis materi/program dipilih, media dibatasi dan lain sebaginya. Tentu protokol kesehatan di sekolah benar-benar dipastikan berjalan dengan ketat. Tentu tidak semua anak autis bisa mengikuti pembelajaran tatap muka pada masa pandemic Covid-19 ini karena kondisi anak autis yang masih membutuhkan pendampingan ketat akan menjadi masalah; aktif (bergerak secara terus menerus), mengeksplor ruangan, media, atau bersentuhan dengan teman dan guru.

Guru dapat menggunakan vasilitas video conference untuk melakukan pembelajaran bagi anak autis dengan system daring. Untuk beberapa anak autis dengan fungsi sedang dan tinggi akan sangat membantu. Pertemuan tatap muka melalui media video conference antara guru dan anak autis dengan pendampingan orang tua dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran langsung (materi tertentu), pemberian tugas, melihat perkembangan anak, me-maintenance hubungan sosial emosi dengan anak dalam situasi belajar, dan melakukan kontak bersama orang tua. Tapi sayangnya ini tidak semua bisa dilakukan di Indonesia dengan berbagai alasan ekonomi, teknis dan ketersediaan sarana prasarana.

Keterbatasan baik pada guru dan orang tua untuk melakukan pembelajaran menggunakan media berbasis Informasi Teknologi (IT) menuntut guru untuk menemukan cara lain. Salah satu cara yang memungkinkan adalah pemberian tugas kepada peserta didik autis melalui pendampingan orang tua. Hal ini mengisayaratkan bahwa peran orang tua menjadi sangat penting. Tetapi faktanya banyak orang tua memiliki kesulitan dengan peran yang mendadak as a teacher. (sebagai guru). Tentu akan manjadi masalah bagi orang tua apabila selama ini tidak “berteman secara langsung” dengan anaknya sehingga tidak mengenali anaknya secara komprehensif. Apalagi pada masa pandemi Covid-19 ini orang tua akan tinggal bersama anak autis dan harus mendampingi dalam waktu yang lama. Ini tidak mudah.

Guru dapat membantu orang tua dengan tidak sekedar memberikan tugas-tugas kepada orang tua. Hal yang pokok adalah guru memastikan orang tua memiliki jadwal rutin kegiatan apa, dengan siapa dan melakukanya seperti apa. Pengaturan ini menjadi dasar kegiatan orang tua bersama anaknya. Guru sebaiknya membuat panduan yang praktis, mudah dibaca dan dipahami, konkrit, memungkinkan dilakukan, tahapan dan indikator yang jelas, dan memperhatikan sumber daya orang tua, keluarga, dan lingkungan rumah. Gagasan yang kreatif, inovatif dan fleksibel dalam mengharmonisasi antara harapan kompetensi anak autis yang ditetapkan oleh sekolah dengan menyesuiakan kebutuhan dan kondisi pada masa pandemic Covid-19 sangat diharpakan. Guru harus menjaga komunikasi dengan orang tua untuk ini. Membuat program pembelajaran bagi anak autis antara guru dan orang tua harus ditegakkan. Berikut contoh peta kebutuhan dan program bagi orang tua anak autis untuk membantu kegiatan belajar anak autis di rumah.

Guru terus berkoordinasi dengan orang tua. Secara periodik, guru dan orang tua berdiskusi untuk melihat keberlangsungan program, progres program, kendala yang dihadapi dan melakukan penyesuaian program kembali. Keluhan-keluhan orang tua harus ditanggapi secara longgar dan dimanfaatkan untuk menciptakan peluang dan membuat program baru selanjunya. Menyusun program harian dan cara baru secara jelas, mudah dipahami dan memungkinkan dilakukan orang tua adalah keharusan.  

  • Pembelajaran Anak Autis oleh Orang Tua

Tugas tambahan oran tua sebagai “guru” yang merawat, mengasuh, mendampingi, dan mendidik (mengajar) anaknya yang autis di rumah pada masa pandemic Covid-19 ini sungguh menantang. Beberapa orang tua cukup baik menyikapinya, tetapi beberapa orang tua lainnya tidak mudah memulainya.   

Dalam masa pandemi Covid-19, Narzisi (2020) menuliskan 10 tips untuk membantu orang tua dan pengasuh anak autisme. Guru dapat membantu orang tua untuk memperhatikan pelaksanaan pembelajaran di rumah dalam beberapa hal sebagai berikut.

  1. Explain to your child what COVID-19 is

Jelaskan kepada anak Anda apa COVID-19. Anak-anak dengan ASD memiliki gaya kognitif konkret dan beberapa dari mereka dapat memiliki verbal yang serius, dan menunjukkan kesulitan dalam persepsi fenomenologis. Penting untuk menjelaskan apa itu COVID-19 dan mengapa kita semua harus tinggal di rumah. Penjelasannya harus sederhana dan konkret. Untuk tujuan ini dimungkinkan untuk menggunakan augmentative alternative communication (AAC). Dimungkinkan juga untuk meminta bantuan dari terapis dalam menyiapkan pamflet singkat berjudul “Apa itu COVID-19?” Menggunakan strategi AAC individual. Untuk anak-anak muda yang verbal penjelasannya harus didukung dengan pemetaan konsep untuk membuatnya lebih mudah bagi anak untuk mengerti.

2.     Structure Daily Life Activities

Secara luas dilaporkan bahwa anak autis memiliki defisit fungsi eksekutif dan mereka dapat menunjukkan masalah dalam merencanakan kegiatan kehidupan sehari-hari mereka, terutama ketika rutinitas mereka kacau. Untuk alasan ini, penting, terutama sekarang, untuk menyusun kegiatan harian (jadwal). Rumah adalah pengaturan unik di mana kegiatan berlangsung. Akan bermanfaat untuk membagi kegiatan sehari-hari. Struktur ini dapat bermanfaat untuk anak-anak dengan ASD yang berfungsi rendah dan/atau menengah tetapi juga bagi mereka yang berfungsi tinggi.

3.     Semi-Structured Play Activities Children

Anak-anak dengan autis menikmati bermain, tetapi mereka dapat menemukan beberapa jenis permainan yang sulit karena masalah sensorik atau karena mereka lebih suka kegiatan terstruktur atau semi-terstruktur. Pilih kegiatan yang disukai anak Anda. Sebagai contoh, terapi LEGO bisa menjadi solusi yang baik untuk anak autis yang berfungsi rendah atau tinggi. Ini bisa menjadi aktivitas bermain semi-terstruktur yang dibagikan dengan orang tua atau saudara kandung dalam pengaturan rumah.

4.     Use of Serious Games

Game serius dapat bermanfaat untuk meningkatkan kognisi sosial dan mengenali emosi wajah, gerakan emosi, dan situasi emosional pada anak-anak dengan ASD.

5.     Shared Video Game and/or Internet Sessions with Parents Video

Berbagi Video Game dan/atau Sesi Internet dengan Orang Tua Video game dan internet sangat menarik bagi anak-anak dengan ASD. Sulit mungkin untuk menghindari anak-anak bermain dengan komputer tetapi pada saat ini, ketika orang tua juga ada di rumah, mungkin ada gunanya menetapkan aturan di mana anak-anak diharapkan untuk berbagi video game/internet (dengan orang tua, saudara kandung, atau pengasuh lainnya). Ini dapat menghindari risiko potensial isolasi anak dan kecanduan internet.

6.     Implement and Share Special Interests with Parents Special

        Melaksanakan dan Berbagi Minat Khusus dengan Orang Tua dapat menjadi alternative kegiatan. Minat khusus harus didukung dari orang tua dan/atau pengasuh. Kereta, peta, hewan, buku komik, geografi, elektronik, dan sejarah dapat menjadi beberapa minat khusus potensial. Dalam periode di mana orang tua dan anak-anak tinggal di rumah, mereka dapat merencanakan beberapa kegiatan dengan minat khusus ini.

7.     Online Therapy for High-Functioning Children

        Terapi Online untuk Anak-Anak High-Functioning. Disadari bahwa kerentanan psikiatris dan atau komorbiditas tinggi pada anak-anak. dengan ASD. Di antara gangguan kecemasan komorbiditas ini adalah salah satu yang paling dilaporkan. Komorbiditas psikiatris dapat berkontribusi pada gangguan perkembangan terutama pada usia remaja. Status siaga sebenarnya untuk COVID-19 bisa menjadi peristiwa yang sulit untuk dimentalisasi untuk anak-anak dengan ASD. Untuk alasan ini, jika anak-anak terlibat dalam psikoterapi sebelum peringatan COVID-19, sangat penting bagi mereka untuk meneruskannya.

8.     Weekly Online Consultations for Parents and Caregivers

Konsultasi Online Mingguan bagi Orang Tua dan pengasuh dari anak-anak dengan autis mengalami lebih banyak stres dan lebih rentan daripada orang tua dari anak-anak. Dengan hambatan lain. Saat ini, orang tua sendirian dalam menangani anak mereka yang autis. Ini dapat mewakili risiko tinggi lebih lanjut untuk tingkat stres mereka, yang sudah parah. Untuk alasan ini, akan sangat berguna untuk memiliki kesempatan untuk konsultasi online mingguan dengan terapis anak-anak mereka. Konsultasi dapat menjadi pertukaran dialogis yang berfokus pada cara-cara yang paling tepat untuk mengelola masa sulit COVID-19 dan strategi koping anak-anak.

9.     Maintain Contact with the School

Pertahankan Kontak dengan Sekolah. Penelitian yang berkembang mendukung saran bahwa hubungan yang dibentuk anak-anak dengan guru dan teman sekelas mereka berdampak pada pembelajaran. Orang tua harus menyediakan slot waktu untuk pekerjaan rumah. Ini adalah rutinitas yang harus dijaga. Untuk menjaga kontak sosial dengan teman sekolah disarankan untuk memiliki setidaknya kontak mingguan dengan salah satu teman kelas. Itu bisa berupa video daring bagi mereka yang suka atau sekedar menelepon teman. Untuk anak-anak dan orang tua, sangat dianjurkan untuk menjaga kontak dengan guru khusus online atau melalui telepon.

10.   Leave Spare Time

Anak-anak dengan ASD harus distimulasi, seperti yang ditunjukkan dalam tips 1-9, tetapi juga dimungkinkan untuk mereka memiliki kuota waktu luang yang tepat di waktu tertentu misalkan berjalan kaki singkat di dekat rumah, pagi hari berjalan area taman (Narzisi, 2020) tentu protokol kesehatan dilakukan dengan ketat.

  • Kesimpulan

Mengajar anak autis pada masa “normal” memiliki tantangan yang besar karena anak autis dengan segala kompleksitas permasalahan perkembangan yang ada membuat banyak guru harus terus belajar, berkreasi dan berinovasi agar tujuan belajar tercapai. Pada masa “normal” anak autis dapat pergi ke sekolah khusus, tempat terapi, ke sekolah umum belajar bersama anak-anak seusianya, atau dikungjungi guru/terapis di rumah. Pembelajaran/terapi yang intensif terkadang “belum” menunjukkan kemajuan yang berarti. Perilaku yang mengulang-ulang (behavior repetitive), rigid routine, terlambat bicara, sulit berkomunikasi, belum tahu cara memulai berteman, masalah sensorik yang membuat perilakunya sungguh unik, sangat tenang atau kadang malah tak terkendali dan masih banyak sederetan masalah perkembangan lainnya dari anak autis mejadikan ini semua membutuhkan penanganan yang panjang.

Kehadiran pandemic Covid-19 memberikan dampak besar atas perubahan dalam penanganan anak autis. Sebijakan stay at home, social distancing, mencuci tangan, menjaga kebersihan dan memakai masker menuntut anak autis belajar di rumah. Orang tua harus tiba-tiba menjadi guru 24 jam. Sebagian besar orang tua dari anak autis tidak mudah untuk melakukan tugas barunya, demikian pula gurunya. Lebih lagi anak autis harus beradapatasi atas perubhan semua ini.

Bagi orang tua dari anak autis mengajar anak di rumah sangat sulit. Kretaifitas dan inovasi pembejaran guru sangat dibuutuhkan. Orang tua membutuhkan pertolongan. Bantuan guru kepada orang tua untuk membuatkan program harian di rumah, mengemas materi secara kontekstual, memperhitungkan sumber daya yang ada di rumah, memberikan panduan praktis tahapan belajar dan mengevaluasinya bersama dengan orang tua secara periodik adalah cara yang dapat memberikan harapan bagi solusi orang tua untuk menjadi guru di rumah pada masa pandemic Covid-19. Apapun bentuknya, layanan pendidikan bagi anak autis baik dari guru atau orang tua, daring maupun luring, pemberian pendampingan atau apapun bentuknya tetap harus memperhatikan protokol kesehatan secara ketat. Kesehatan anak adalah prioritas.

Salam Hidup Bermanfaat!

DAFTAR PUSTAKA

Borg, W.R. & Gall, M.D. Gall. (1983). Educational Research: An Introduction, Fifth Edition. New York: Longman.

Clark, M., Barbaro, J., & Dissanayake, C. (2020). Parent and Teacher Ratings of Social Skills, Peer Play and Problem Behaviours in Children with Autism Spectrum Disorder. International Journal of Disability, Development and Education, 67(2), 194–207. https://doi.org/10.1080/1034912X.2019.1662891

Eshraghi, A. A., Li, C., Alessandri, M., Messinger, D. S., Eshraghi, R. S., Mittal, R., & Armstrong, F. D. (2020). COVID-19: overcoming the challenges faced by individuals with autism and their families. The Lancet Psychiatry, 7(6), 481–483. https://doi.org/10.1016/S2215-0366(20)30197-8

Kasik, L., & Gál, Z. (2016). Parents’ and teachers’ opinions of preschool children’s social problem-solving and behavioural problems. Early Child Development and Care, 186(10), 1632–1648. https://doi.org/10.1080/03004430.2015.1120297

Narzisi, A. (2020). Handle the autism spectrum condition during coronavirus (Covid-19) stay at home period: Ten tips for helping parents and caregivers of young children. Brain Sciences, 10(4). https://doi.org/10.3390/brainsci10040207

O’Brien, Z. K., Cuskelly, M., & Slaughter, V. (2020). Social Behaviors of Children with ASD during Play with Siblings and Parents: Parental Perceptions. Research in Developmental Disabilities, 97(October 2019), 103525. https://doi.org/10.1016/j.ridd.2019.103525

Yuwono, Joko. 2019. Memahami Anak Autis, Kajian Teoritis dan Empiris. Bandung: Alfabeta

https://covid19.go.id/p/berita/kasus-positif-covid-19-naik-700-pasien-sembuh-293-meninggal-40)
 

Dr. Joko Yuwono/Dosen PKh & PSD LPPM UNS

JOKO YUWONO, Lahir di Solo, 19 Juni 1973. PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN Bersekolah di Solo dari SD, SMP, SMA hingga jenjang Perguruan Tinggi. Lulus dari Prodi. Pendidikan Khusus (PKh) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 1997, saya hijrah ke Jakarta untuk mengaplikasikan keilmuannya bekerja di sebuah pusat layanan anak berkebutuhan khusus (Autis dan Cerebral Palscy). Selama 3 tahun bekerja menjadi terapis, guru hingga kepala SLB telah dilakoninya. Kemudian, pada tahun 2000, saya memulai mendirikan lembaga penanganan anak autis secara mandiri. Akhirnya saya memiliki 3 lembaga, 2 lembaga penanganan anak autis di Jakarta dan 1 lembaga pendidikan anak usia dini Tangerang. Pada tahun 2005, saya mengikuti seleksi masuk Program Master/S2, Jurusan Pendidikan Khusus (fokus: Pendidikan Inklusif). Kebetulan Program Master ini adalah Program Beasiswa kerjasama Direktorat Pendidikan Khusus Kemdikbud RI dan Braillo Norwey melalui Universitas Pendidikan Indonesia dan Oslo University di Bandung. Saya adalah angkatan ke 2. Selama dua tahun saya lulus dan langsung melanjutkan Program Doktor pada Jurusan Psikologi dan Konseling. Selama 5 tahun, saya menempuh Program Doktor. Tahun 2012/2013 saya menyelesaikan sekolahnya. Jadi, 7 tahun saya bersekolah, menuntut ilmu, mondar-mandir Jakarta-Bandung. Saya menjadi guru/terapis di lembaga saya sendiri dan home visit (sejak 1997) di Jakarta sekitarnya. Saya juga pernah menjadi konsultan di Medan selama 2 tahun, 1-2 bulan sekali pergi ke Medan. Demikin pula di Jambi, Bandung dan Solo. Selain menjadi guru atau terapis, saya juga menjadi Dosen di beberapa Universitas seperti Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Prog. PGSD dan Bimbingan Konseling sekitar 7 tahun, Universitas Islam Nusantara/Uninus Jur. Pendidikan Luar Biasa, Bandung selama 7 tahun dan MENDIRIKAN dan mengajar di Prodi Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayas Serang Banten selama 5 tahun. Dan tak disangka, akhirya saya kembali ke kampung halaman, Solo. Saat ini, Saya mengabdikan dirinya di Prodi. Pendidikan Khusus FKIP UNS/Universitas Sebelas Maret Surakarta. Terima Kasih Prof. Dr. Ravik Karsidi, Prof. Dr. Sunardi, Prof. Gunarhadi, Prof. Munawir Yusuf dan juga Dr. Subagya yang memotivasi saya untuk terus berkarya. KELUARGA Saya adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara. Bapak saya adalah seorang sopir dan si Mbok adalah penjual gorengan dan nasi kucing di Solo. Penghasilan orang tua jauh dari pas-pasan. Sekolah terbata-bata. Saya harus bersekolah sambil bekerja waktu S1-S3, semuanya MANDIRI. Alhamdulilah. Berbagai pekerjaan pernah saya lakoni, jual jagung bakar, jual nasi, jualan es dawet, kuli bangunan, jualan alat kesehatan, jaga counter di Pasar Pagi Mangga Dua, jualan tas keliling hingga ke Pacitan dan Ponorogo, membuat tas dari sak semen, hingga mengamen adalah cara untuk mempertahankan hidup dan bersekolah. Selalu cemas setelah ujian akhir semester, dimana sementara mahasiswa yang lain kebanyakan sibuk memikirkan kemana mereka akan rekreasi/refreshing, saya sibuk berpikir keras kemana mencari uang SPP yang pada waktu itu cuma Rp. 90.000-150.000. Alhamdulillah, tak menyangka kini saya bisa bersekolah terus hingga tuntas. Terima kasih Allah SWT. Apa yang saya tulis di atas bukan saya ingin menyombongkan diri, tetapi hanya berbagi pengalaman. Karena sejatinya, sekolah hanyalah tanda bahwa kita pernah belajar dan berpikir. Sekolah setinggi-tingginya adalah penring, lebih penting lagi apa yang bisa kita lakukan setelah sekolah, apa yang bisa kita perbuat setelah sekolah! Terus Belajar dan Hidup Bermanfaat!!

 

39 thoughts on “PEMBELAJARAN ANAK AUTIS DI MASA PANDEMI COVID-19 BERBASIS KELUARGA MELALUI PENDEKATAN SETTING RUMAH (TINJAUAN PROGRAM KEBUTUHAN KHUSUS)

  1. I do not even know how I ended up here, but I thought this post was good.
    I do not know who you are but definitely you’re going to a famous blogger if you are not already 😉 Cheers!

    1. thank you very much for the comment. this topic is needed by parents with autism children espically in indonesia. because in indonesia have a many villages that have not recieve a professional support to support them. so parents with autism children need a guide to give services/education to their children. i hope this article can help them. i hope !

  2. Hello, Neat post. There’s an issue together with your website in web
    explorer, would test this? IE nonetheless is
    the marketplace leader and a good component to other people will leave out your excellent
    writing because of this problem.

  3. Does your site have a contact page? I’m having trouble
    locating it but, I’d like to shoot you an e-mail. I’ve got
    some ideas for your blog you might be interested in hearing.
    Either way, great blog and I look forward to seeing it expand over time.

  4. An impressive share! I’ve just forwarded this onto a co-worker who was conducting a
    little homework on this. And he in fact bought me lunch because I
    stumbled upon it for him… lol. So allow me to reword this….
    Thanks for the meal!! But yeah, thanx for spending time to discuss this issue here on your web site.

  5. Hey there! I understand this is somewhat off-topic but I had
    to ask. Does operating a well-established blog such as yours require a massive amount work?
    I’m completely new to running a blog but I do write in my journal daily.

    I’d like to start a blog so I can share my personal
    experience and feelings online. Please let me know
    if you have any suggestions or tips for new aspiring bloggers.
    Thankyou!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *