Sejarah Implementasi Pendidikan Inklusif di Indonesia (Sebuah catatan wawancara bersama Dr. Didi Tarsidi, M.Ed, 25 Agustus 2018)

Catatan sejarah gagasan untuk mengimplementasikan pendidikan inklusif di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak dulu kala. Filosofi Negara Republik Indonesia memiliki nilai-nilai atau semangat inklusif. Tetapi, pendidikan inklusif diartikulasikan oleh pemerintah sejak tahun 1990-an.

Awal tahun 1990-an adalah tahun dimana pendidikan inklusif mulai dibicarakan. Pada awalnya adalah adanya projek pengadaan mesin cetak Braielle bagi anak-anak dengan hambatan penglihatan. (visual impairment). Melalui kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia diadakanlah kerjasama dengan Braillo Norway yang manajernya adalah Terje  Watterdal. Pemerintah RI bersedia membeli perangkat mesin brille, tetapi pemerintah memohon agar pihak Braillo Norway bersedia membantu mengembangkan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).

Pada peristiwa selanjutnya, Dr. Didi Tarsidi, selaku dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan  (FIP) Universitas Pendidikan Indoenesia (UPI) yang pada waktu itu masih bernama IKIP Bandung sudah mengenal baik dengan Terje Watterdal selaku Manajer Braillo Norway. Keduanya beberapa kali bertemu dalam kegiatan international seminar ataupun symposium dimana Dr. Didi Tarsidi menjadi bagian dari oraganisasi perkumpulan tunanetra dunia (World Blind Union). Keduanya melakukan percakapan sehingga munculah gagasan untuk mengadakan seminar tentang pendidikan inklusif yang bertempat di IKIP Bandung pada tahun 1999. Kegiatan itu dihadiri oleh 10 perguruan tinggi yang dihadiri oleh para Pembantu Rektor 1 IKIP se Indonesia. Salah satu hasil rekomendasinya adalah agar mata kuliah Pendidikan Inklusif (PI) diajarkan kepada seluruh mahasiswa keguruan di IKIP seluruh Indonesia.

Pada tahun 2003 diadakan kegiatan pengiriman para dosen ke Oslo University yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sholeh YAI dari Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Sebelas Maret Surakarta. Para dosen yang dikirim ke Oslo University yakni Juang Sunanto, Ph.D, Dr. Zaenal Alimin, M.Pd, Dr. Djadja Raharja, M.Pd, dan Dr. Didi Tarsidi, M.Pd. Tindak lanjut dari kegiatan tersebut, program S2 Pendidikan Kebutuhan Khusus di UPI mulai dibuka pada tahun 2004. Ada informasi bahwa pada tahun 1999 sampai dengan 2001 ada kegiatan pengiriman guru Sekolah Luar Biasa berjumlah sekitar 15 guru untuk berkunjung ke OSLO guna melihat dan belajar tentang penyelenggaraan pendidikan luar biasa di OSLO.

Program S2 Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus di UPI untuk angkatan pertama dan ke-dua diberikan beasiswa kepada guru Sekolah Luar Biasa (SLB) se Indonesia untuk belajar tentang pendidikan inklusif. Beberapa guru-guru tersebut dari propinsi dari Jawa Timur (Ahsan Romadhon, Endang, Hermanto Jainudin, Adfal Fadoli dll), Jawa Tengah (Rubimanto), Daerah Istimewa Yogyakarta (Sarwiasih, Ponijo dll), Jawa Barat (Dedi Kustawan, Deden, Eka, Utin, dll), Daerah Khusus Ibu kota Jakarta (Joko Yuwono, Toni Santosa, Murni Winarsih, dll), Sumatera Barat (Padang; Tarmansyah, Arief Taboer, Asep Sopandi), Kalimantan (Banjarmasin; Utomo, Imam Yuwono), Sulawesi (Makasar, Palu; Iis Masdiana, Sutardin dan Yusuf), dan Bali (Ratih). Mohon maaf tidak bisa penulias sebut satu persatu. Program ini dibimbing oleh 10 Profesor bidang pendidikan khusus dari Oslo University yang dipimpin Prof. Merriem Skjorten. 

Pada tahun 2004, Terje Watterdal melalui Braillo Norway bersama dengan Tim Projek Pendidikan Inklusif membuat rintisan sekolah inklusif yang pertama di Bandung yakni di SD Tunas Harapan dan di delapan SD lain di delapan kota lain di Indonesia. Sejak itulah terus lahir, lahir dan lahir sekolah-sekolah inklusi di seluruh Indonesia.

Catatan: sebagai informasi bahwa Prof. Dr. Sholeh YAI (salah satu Bapak yang berjasa membimbing saya waktu S1 tentang penelitian dan menulis),  Juang Sunanto, Ph.D (Guru dan patner kerja 2 tahun keluar masuk SD di pelosok Grobogan Purwodadi Jateng mengembangkan pendidikan inklusif), Dr. Djadja Raharja, M.Pd, dan Dr. Zaenal Alimin, M.Ed sudah wafat meninggalkan kita. Dr. Didi Tarsidi, M.Pd (Guru dan bapak yang selalu memberi solusi (diskusi) adalah salah satu saksi hidup/pelaku sejarah yang memungkinkan memberikan informasi perjalanan implementasi pendidikan inklusif di Indonesia.

 

MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PEMBELAJARAN YANG RAMAH (Mengintip Praktik Pembelajaran di Sekolah Ramah Anak; Inklusif)

Terima kasih: Mas Pardi atas diskusinya.

Malam itu saya berbagi tentang konsep pendidikan inklusif kepada temen-temen lama dalam sesi cengkrama melalui media online, “zoom meeting”. Saya mengemas pembahasan tentang pendidikan inklusif dalam judul “menciptakan pembelajaran yang ramah”. Judul itu saya pilih karena ketika saya berbicara pendidikan inklusif seringkali temen-teman saya; guru, masyarakat umum; berpikir bahwa kita akan banyak berbicara tentang peserta didik berkebutuhan khusus yang belajar di sekolah reguler. Apakah salah? Tentu tidak, namun hal itu hanyalah bagian, kepingan puzzle dari puzzle konsep dan implementasi pendidikan inklusif secara luas di Indonesia.

Pendidikan inklusif merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan atau akses yang seluas-luasnya kepada SEMUA ANAK untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa diskriminasi. Pendidikan inklusif memberikan peluang bagi sekolah untuk menjangkau semua anak agar dapat bersekolah. Pendidikan inklusif menjamin tidak terjadi lagi anak-anak usia sekolah tidak pergi ke sekolah di jam sekolah.

Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang memahami dan menghargai keberagaman. Pendidikan inklusif memberi kesempatan anak-anak untuk bersekolah bersama-sama, belajar dalam kelas yang sama, bermain bersama, berbagi, dan saling belajar menghargai perbedaan (toleransi). Sekolah inklusi menuntut pembelajaran yang ramah pada semua peserta didik; non-diskriminasi dan kurikulum yang fleksibel. Pada proses pembelajaran dalam setting kelas inklusif, guru harus menciptakan bembelajaran yang memberikan peluang kepada semua anak menjadi lebih baik. Desain pembelajaran harus ramah. Praktik pembelajaran yang ramah harus bersandar pada nilai-nilai inklusifitas; non-diskriminasi, berbagi, menghargai perbedaan, fleksibel, adanya guru yang ramah, sekolah yang ramah, aksisibel, dan kolaboratif/kemiteraan.

Terdapat beberapa prinsip pembelajaran dalam setting kelas yang peserta didiknya beragam. Pada bagian ini, sekolah yang ramah pada praktik pembelajaranya harus memegang beberapa prinsip dalam kerangka pendidikan inklusif yakni Present, Acceptance, Perticipation dan Achievment (PAPA). Sekolah yang ramah harus menghargai keberagaman dan perbedaan, salah satunya adalah hadirnya peserta didik berkebutuhan khusus di kelas reguler, sekali lagi salah satunya. 1) Present dimaknai bahwa peserta didik berkebutuhan khusus harus hadir di dalam sekolah reguler, tinggal di kelas bersama anak-anak pada umumnya. 2) Hadir saja tidak cukup, maka peserta didik ini juga harus diterima, Acceptance. Pastikan bahwa semua anak diterima apapun itu latar belakang dan kondisinya. Ada keramahan yang ditunjukkan secara emotional oleh warga sekolah atas hadirnya keberagaman di dalam kelas. Guru, peserta didik pada umumnya, orang tua, dan anggota masyarakat sekolah lainnya menunjukkan rasa penerimaan yang terbuka sehingga peserta didik yang berbeda dari kebanyakan anak-anak di kelas dapat merasakan kenyamanan atas sambutan dan penerimaan yang tulus. Pada umumnya, orang dapat merasakan bahwa dirinya diterima atau tidak oleh lingkunganya, demikian pula dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Masih banyak guru yang seringali memisahkan peserta didik berkebutuhan khusus karena dianggap tidak dapat mengikuti kegiatan belajar di kelas atas berbedaan kondisi dan kemampuan yang dimilikinya. 3) Prinsip pembelajaran yang ramah selanjutnya adalah Participation. Guru harus memastikan bahwa semua peserta didik dapat berpartisipasi sesuai kondisi dan kemampuannya. Pembelajaran yang ramah memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta didik untuk berpartisipasi.  4) Achievement, berprestasi. Ya, guru harus memastikan bahwa semua anak dapat memiliki prestasi, mencapai tujuan pembelajaran yang disesuaiakan dengan kemampuanya. Mendorong peserta didik untuk berprestasi, mencapai tujuan belajar yang sesuai dengan kemampuannya adalah cara terbaik dalam menghargai perbedaan dan keberagaman.

Praktik pembelajaran yang kurang ramah atau tidak inklusif seringkali masih terjadi di sekolah-sekolah kita. Anak-anak yang berbeda memang hadir dan diterima di sekolah reguler tetapi kenyataannya masih banyak anak-anak tersebut tidak dapat berpartisipasi dalam kelas yang sama. Guru belum mengenali peserta didik secara mendalam sehingga peserta didik yang berbeda tersebut ditinggalkan atau justru dipisahkan dari komunitasnya.

Praktik pembelajaran yang ramah membutuhkan kecerdasan dan kreatifitas guru untuk mendesain kegiatan belajar sehingga semua peserta didik menjadi bagian dari komunitasnya.

“Joko memiliki kemampuan membaca suku kata; ba…bi…bu…sa…si…su…. Joko memiliki pengetahuan umum yang tidak jauh berbeda dengan teman-teman sekelasnya. Joko seorang periang. Joko berteman akrab dengan banyak teman di kelasnya. Joko kelas 4. Pada waktu tertentu guru memberikan tugas kepada semua peserta didik (indikator) untuk membaca teks cerita, menjawab isi bacaan dan menceriterakan kembali isi dari bacaan”. Jika guru meminta Joko untuk mencapai indikator pembelajaran yang sama dan dengan cara yang sama dengan teman-teman sekelasnya, maka Joko akan tidak bisa berpartisipasi dan mencapai prestasi sesuai tuntutan kelas.

Guru harus menciptakan pembelajaran yang ramah. Guru harus melakukan modifikasi dan adaptasi seperlunya agar Joko dapat berpartisipasi dan berprestasi. Guru mungkin perlu meminta teman sebangkunya membantu membacakannya atau membaca bersama-sama. Dengan cara itu Joko dapat memahami isi bacaan dan mejawab pertanyaan pada tugas tersebut. Joko juga sangat mungkin untuk menceriterakan kembali isi bacaan dengan caranya. Mungkin Joko bersama dengan lainya akan mendapatkan jam tambahan untuk belajar membaca. (Joko jangan dipisahkan sendiri). Dengan cara ini (salah satu cara, banyak cara), guru tidak perlu memisahkan Joko dari teman sekelasnya meski Joko berbeda kemampuan membacanya. Joko juga merasa tidak berbeda karena belajar membacanya dengan teman-teman lainnya. (self esteem).

PAPA adalah prinsip yang harus dipegang oleh guru yang ramah. Jangan karena peserta didik berbeda, kemampuan yang tak sama, kondisi fisik, sesial, emosi, perilaku, kognitif yang berbeda, atau alasan apapun lalu guru memisahkan mereka dari teman-teman seusianya. Sangat dipahami alasan-alasan tindakan pemisahan atas mereka, tetapi semua itu tidak adil. (Merriem Skorjen, 2005). Cara ini memberikan sinyal yang seringkali guru menjadi “latah”, sedikit peserta didik yang dianggap tidak bisa mengikuti kegiatan kelas lalu dipisahkan dari komunitasnya. Saya seringkali berkelakar, “hanya gara-gara anak tidak memiliki jempol, bisa jadi anak dipisahkan belajarnya karena dianggap tidak sama, berbeda (sebut disabilitas)”.

Ingat PAPA maka juga harus ingat “SI MBOK”. Pertama, “S”, Senyum. Guru selalu senyum dalam kondisi apapun dan dengan siapapun. Kedua, “I”, inovativ, mampu merubah keterbatasan menjadi potensi bagi peserta didik. Ketiga, “M”, Menggembirakan. Kehadiran guru selalu dinanti oleh anak-anak. Datang Bu Ade, anak-anak menghampirinya dan memberi jabat tangan, senyum dan senang hatinya. Jangan sampai kehadiran seorang guru menimbulkan rasa “cemas, kawatir dan takut” bagi anak-anak. (“hei, awaaaas…. ada Pak Joko….ada Pak Joko”; anak-anak menghindar, sembunyi tidak senang atas kehadiran Pak Joko). Keempat, “B”, Bermakna. Apapun yang guru berikan kepada anak memiliki makna, selalu mengandung arti yang mendalam. Ucapan guru, sikap, tindakan dan cara mengajar guru dikenang sepanjang hayat oleh anak. Kelima, “O”, Optimis. Guru dalam menghadapi semua anak harus memiliki asa dan keyakinan. Tidak ada produk yang gagal dari ciptaan Tuhan. Menemukenali potensinya dan mengasah keterampilannya adalah wujud keyakinan dan adanya harapan. Terakhir, “K”, Keren. Cara berpikir kemarin kadang tidak bisa kita gunakan untuk hari ini. Guru harus terus “meng-kerenkan” cara berpikir dan keterampilan mengajar bagi peserta didik yang beragam. Saat ini mungkin belum berarti, tetapi suatu saat akan sangat berarti. Hidup “SI MBOK”.   

Salam Hidup Bermanfaat!