MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PEMBELAJARAN YANG RAMAH (Mengintip Praktik Pembelajaran di Sekolah Ramah Anak; Inklusif)

Terima kasih: Mas Pardi atas diskusinya.

Malam itu saya berbagi tentang konsep pendidikan inklusif kepada temen-temen lama dalam sesi cengkrama melalui media online, “zoom meeting”. Saya mengemas pembahasan tentang pendidikan inklusif dalam judul “menciptakan pembelajaran yang ramah”. Judul itu saya pilih karena ketika saya berbicara pendidikan inklusif seringkali temen-teman saya; guru, masyarakat umum; berpikir bahwa kita akan banyak berbicara tentang peserta didik berkebutuhan khusus yang belajar di sekolah reguler. Apakah salah? Tentu tidak, namun hal itu hanyalah bagian, kepingan puzzle dari puzzle konsep dan implementasi pendidikan inklusif secara luas di Indonesia.

Pendidikan inklusif merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan atau akses yang seluas-luasnya kepada SEMUA ANAK untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa diskriminasi. Pendidikan inklusif memberikan peluang bagi sekolah untuk menjangkau semua anak agar dapat bersekolah. Pendidikan inklusif menjamin tidak terjadi lagi anak-anak usia sekolah tidak pergi ke sekolah di jam sekolah.

Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang memahami dan menghargai keberagaman. Pendidikan inklusif memberi kesempatan anak-anak untuk bersekolah bersama-sama, belajar dalam kelas yang sama, bermain bersama, berbagi, dan saling belajar menghargai perbedaan (toleransi). Sekolah inklusi menuntut pembelajaran yang ramah pada semua peserta didik; non-diskriminasi dan kurikulum yang fleksibel. Pada proses pembelajaran dalam setting kelas inklusif, guru harus menciptakan bembelajaran yang memberikan peluang kepada semua anak menjadi lebih baik. Desain pembelajaran harus ramah. Praktik pembelajaran yang ramah harus bersandar pada nilai-nilai inklusifitas; non-diskriminasi, berbagi, menghargai perbedaan, fleksibel, adanya guru yang ramah, sekolah yang ramah, aksisibel, dan kolaboratif/kemiteraan.

Terdapat beberapa prinsip pembelajaran dalam setting kelas yang peserta didiknya beragam. Pada bagian ini, sekolah yang ramah pada praktik pembelajaranya harus memegang beberapa prinsip dalam kerangka pendidikan inklusif yakni Present, Acceptance, Perticipation dan Achievment (PAPA). Sekolah yang ramah harus menghargai keberagaman dan perbedaan, salah satunya adalah hadirnya peserta didik berkebutuhan khusus di kelas reguler, sekali lagi salah satunya. 1) Present dimaknai bahwa peserta didik berkebutuhan khusus harus hadir di dalam sekolah reguler, tinggal di kelas bersama anak-anak pada umumnya. 2) Hadir saja tidak cukup, maka peserta didik ini juga harus diterima, Acceptance. Pastikan bahwa semua anak diterima apapun itu latar belakang dan kondisinya. Ada keramahan yang ditunjukkan secara emotional oleh warga sekolah atas hadirnya keberagaman di dalam kelas. Guru, peserta didik pada umumnya, orang tua, dan anggota masyarakat sekolah lainnya menunjukkan rasa penerimaan yang terbuka sehingga peserta didik yang berbeda dari kebanyakan anak-anak di kelas dapat merasakan kenyamanan atas sambutan dan penerimaan yang tulus. Pada umumnya, orang dapat merasakan bahwa dirinya diterima atau tidak oleh lingkunganya, demikian pula dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Masih banyak guru yang seringali memisahkan peserta didik berkebutuhan khusus karena dianggap tidak dapat mengikuti kegiatan belajar di kelas atas berbedaan kondisi dan kemampuan yang dimilikinya. 3) Prinsip pembelajaran yang ramah selanjutnya adalah Participation. Guru harus memastikan bahwa semua peserta didik dapat berpartisipasi sesuai kondisi dan kemampuannya. Pembelajaran yang ramah memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta didik untuk berpartisipasi.  4) Achievement, berprestasi. Ya, guru harus memastikan bahwa semua anak dapat memiliki prestasi, mencapai tujuan pembelajaran yang disesuaiakan dengan kemampuanya. Mendorong peserta didik untuk berprestasi, mencapai tujuan belajar yang sesuai dengan kemampuannya adalah cara terbaik dalam menghargai perbedaan dan keberagaman.

Praktik pembelajaran yang kurang ramah atau tidak inklusif seringkali masih terjadi di sekolah-sekolah kita. Anak-anak yang berbeda memang hadir dan diterima di sekolah reguler tetapi kenyataannya masih banyak anak-anak tersebut tidak dapat berpartisipasi dalam kelas yang sama. Guru belum mengenali peserta didik secara mendalam sehingga peserta didik yang berbeda tersebut ditinggalkan atau justru dipisahkan dari komunitasnya.

Praktik pembelajaran yang ramah membutuhkan kecerdasan dan kreatifitas guru untuk mendesain kegiatan belajar sehingga semua peserta didik menjadi bagian dari komunitasnya.

“Joko memiliki kemampuan membaca suku kata; ba…bi…bu…sa…si…su…. Joko memiliki pengetahuan umum yang tidak jauh berbeda dengan teman-teman sekelasnya. Joko seorang periang. Joko berteman akrab dengan banyak teman di kelasnya. Joko kelas 4. Pada waktu tertentu guru memberikan tugas kepada semua peserta didik (indikator) untuk membaca teks cerita, menjawab isi bacaan dan menceriterakan kembali isi dari bacaan”. Jika guru meminta Joko untuk mencapai indikator pembelajaran yang sama dan dengan cara yang sama dengan teman-teman sekelasnya, maka Joko akan tidak bisa berpartisipasi dan mencapai prestasi sesuai tuntutan kelas.

Guru harus menciptakan pembelajaran yang ramah. Guru harus melakukan modifikasi dan adaptasi seperlunya agar Joko dapat berpartisipasi dan berprestasi. Guru mungkin perlu meminta teman sebangkunya membantu membacakannya atau membaca bersama-sama. Dengan cara itu Joko dapat memahami isi bacaan dan mejawab pertanyaan pada tugas tersebut. Joko juga sangat mungkin untuk menceriterakan kembali isi bacaan dengan caranya. Mungkin Joko bersama dengan lainya akan mendapatkan jam tambahan untuk belajar membaca. (Joko jangan dipisahkan sendiri). Dengan cara ini (salah satu cara, banyak cara), guru tidak perlu memisahkan Joko dari teman sekelasnya meski Joko berbeda kemampuan membacanya. Joko juga merasa tidak berbeda karena belajar membacanya dengan teman-teman lainnya. (self esteem).

PAPA adalah prinsip yang harus dipegang oleh guru yang ramah. Jangan karena peserta didik berbeda, kemampuan yang tak sama, kondisi fisik, sesial, emosi, perilaku, kognitif yang berbeda, atau alasan apapun lalu guru memisahkan mereka dari teman-teman seusianya. Sangat dipahami alasan-alasan tindakan pemisahan atas mereka, tetapi semua itu tidak adil. (Merriem Skorjen, 2005). Cara ini memberikan sinyal yang seringkali guru menjadi “latah”, sedikit peserta didik yang dianggap tidak bisa mengikuti kegiatan kelas lalu dipisahkan dari komunitasnya. Saya seringkali berkelakar, “hanya gara-gara anak tidak memiliki jempol, bisa jadi anak dipisahkan belajarnya karena dianggap tidak sama, berbeda (sebut disabilitas)”.

Ingat PAPA maka juga harus ingat “SI MBOK”. Pertama, “S”, Senyum. Guru selalu senyum dalam kondisi apapun dan dengan siapapun. Kedua, “I”, inovativ, mampu merubah keterbatasan menjadi potensi bagi peserta didik. Ketiga, “M”, Menggembirakan. Kehadiran guru selalu dinanti oleh anak-anak. Datang Bu Ade, anak-anak menghampirinya dan memberi jabat tangan, senyum dan senang hatinya. Jangan sampai kehadiran seorang guru menimbulkan rasa “cemas, kawatir dan takut” bagi anak-anak. (“hei, awaaaas…. ada Pak Joko….ada Pak Joko”; anak-anak menghindar, sembunyi tidak senang atas kehadiran Pak Joko). Keempat, “B”, Bermakna. Apapun yang guru berikan kepada anak memiliki makna, selalu mengandung arti yang mendalam. Ucapan guru, sikap, tindakan dan cara mengajar guru dikenang sepanjang hayat oleh anak. Kelima, “O”, Optimis. Guru dalam menghadapi semua anak harus memiliki asa dan keyakinan. Tidak ada produk yang gagal dari ciptaan Tuhan. Menemukenali potensinya dan mengasah keterampilannya adalah wujud keyakinan dan adanya harapan. Terakhir, “K”, Keren. Cara berpikir kemarin kadang tidak bisa kita gunakan untuk hari ini. Guru harus terus “meng-kerenkan” cara berpikir dan keterampilan mengajar bagi peserta didik yang beragam. Saat ini mungkin belum berarti, tetapi suatu saat akan sangat berarti. Hidup “SI MBOK”.   

Salam Hidup Bermanfaat!  

 

Dr. Joko Yuwono/Dosen PKh & PSD LPPM UNS

JOKO YUWONO, Lahir di Solo, 19 Juni 1973. PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN Bersekolah di Solo dari SD, SMP, SMA hingga jenjang Perguruan Tinggi. Lulus dari Prodi. Pendidikan Khusus (PKh) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 1997, saya hijrah ke Jakarta untuk mengaplikasikan keilmuannya bekerja di sebuah pusat layanan anak berkebutuhan khusus (Autis dan Cerebral Palscy). Selama 3 tahun bekerja menjadi terapis, guru hingga kepala SLB telah dilakoninya. Kemudian, pada tahun 2000, saya memulai mendirikan lembaga penanganan anak autis secara mandiri. Akhirnya saya memiliki 3 lembaga, 2 lembaga penanganan anak autis di Jakarta dan 1 lembaga pendidikan anak usia dini Tangerang. Pada tahun 2005, saya mengikuti seleksi masuk Program Master/S2, Jurusan Pendidikan Khusus (fokus: Pendidikan Inklusif). Kebetulan Program Master ini adalah Program Beasiswa kerjasama Direktorat Pendidikan Khusus Kemdikbud RI dan Braillo Norwey melalui Universitas Pendidikan Indonesia dan Oslo University di Bandung. Saya adalah angkatan ke 2. Selama dua tahun saya lulus dan langsung melanjutkan Program Doktor pada Jurusan Psikologi dan Konseling. Selama 5 tahun, saya menempuh Program Doktor. Tahun 2012/2013 saya menyelesaikan sekolahnya. Jadi, 7 tahun saya bersekolah, menuntut ilmu, mondar-mandir Jakarta-Bandung. Saya menjadi guru/terapis di lembaga saya sendiri dan home visit (sejak 1997) di Jakarta sekitarnya. Saya juga pernah menjadi konsultan di Medan selama 2 tahun, 1-2 bulan sekali pergi ke Medan. Demikin pula di Jambi, Bandung dan Solo. Selain menjadi guru atau terapis, saya juga menjadi Dosen di beberapa Universitas seperti Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Prog. PGSD dan Bimbingan Konseling sekitar 7 tahun, Universitas Islam Nusantara/Uninus Jur. Pendidikan Luar Biasa, Bandung selama 7 tahun dan MENDIRIKAN dan mengajar di Prodi Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayas Serang Banten selama 5 tahun. Dan tak disangka, akhirya saya kembali ke kampung halaman, Solo. Saat ini, Saya mengabdikan dirinya di Prodi. Pendidikan Khusus FKIP UNS/Universitas Sebelas Maret Surakarta. Terima Kasih Prof. Dr. Ravik Karsidi, Prof. Dr. Sunardi, Prof. Gunarhadi, Prof. Munawir Yusuf dan juga Dr. Subagya yang memotivasi saya untuk terus berkarya. KELUARGA Saya adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara. Bapak saya adalah seorang sopir dan si Mbok adalah penjual gorengan dan nasi kucing di Solo. Penghasilan orang tua jauh dari pas-pasan. Sekolah terbata-bata. Saya harus bersekolah sambil bekerja waktu S1-S3, semuanya MANDIRI. Alhamdulilah. Berbagai pekerjaan pernah saya lakoni, jual jagung bakar, jual nasi, jualan es dawet, kuli bangunan, jualan alat kesehatan, jaga counter di Pasar Pagi Mangga Dua, jualan tas keliling hingga ke Pacitan dan Ponorogo, membuat tas dari sak semen, hingga mengamen adalah cara untuk mempertahankan hidup dan bersekolah. Selalu cemas setelah ujian akhir semester, dimana sementara mahasiswa yang lain kebanyakan sibuk memikirkan kemana mereka akan rekreasi/refreshing, saya sibuk berpikir keras kemana mencari uang SPP yang pada waktu itu cuma Rp. 90.000-150.000. Alhamdulillah, tak menyangka kini saya bisa bersekolah terus hingga tuntas. Terima kasih Allah SWT. Apa yang saya tulis di atas bukan saya ingin menyombongkan diri, tetapi hanya berbagi pengalaman. Karena sejatinya, sekolah hanyalah tanda bahwa kita pernah belajar dan berpikir. Sekolah setinggi-tingginya adalah penring, lebih penting lagi apa yang bisa kita lakukan setelah sekolah, apa yang bisa kita perbuat setelah sekolah! Terus Belajar dan Hidup Bermanfaat!!

 

24 thoughts on “MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PEMBELAJARAN YANG RAMAH (Mengintip Praktik Pembelajaran di Sekolah Ramah Anak; Inklusif)

  1. Luar biasa sangat menginpirasi pengalaman hidup yg bapak Joko Alami…
    Semoga ilmu yg bapak bagikan menjadi ilmu yg bermanfaat, tentunya bapak akan menjadi salah satu anak yg Sholeh pahalanya akan terus mengalir sampai akhir jaman…. Aamiin

  2. Hello it’s me, I am also visiting this web page on a regular
    basis, this web page is actually good and the people are really sharing fastidious thoughts.

  3. Mantap, bangga bisa mengenal bapak, saya termotivasi akan apa yang bapak sampaikan. Luar biasa, bapak memang menginspirasi, ilmu yang bermanfaat untuk pendidikan PDBK.

  4. sangat menginspirasi saya pak joko, perkenalkan saya juga alumni UNS progdi bimbingan konseling. kita satu jurusan pak. saat ini saya peserta bimtek GPK angkatan 2. kisah hidup pak joko juga sangat menginspirasi. sukses selalu untuk pak joko

  5. My partner and I absolutely love your blog and find nearly all of your post’s to be just what I’m looking for.
    Does one offer guest writers to write content for you?
    I wouldn’t mind writing a post or elaborating on most
    of the subjects you write about here. Again, awesome
    site!

  6. Great website you have here but I was wondering if
    you knew of any community forums that cover the same topics talked about in this article?
    I’d really love to be a part of online community where I can get suggestions from other experienced people that share the same interest.
    If you have any suggestions, please let me know. Appreciate it!

  7. Having read this I thought it was extremely enlightening.
    I appreciate you spending some time and energy to put this short article
    together. I once again find myself spending a lot of time both reading and commenting.
    But so what, it was still worthwhile!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *