PANDEMI COVID-19; SELF CARE BAGI ORANG TUA DARI ANAK AUTISTIC SPECTRUM DISORDER (ASD) KETIKA BELAJAR DARI RUMAH

Merawat, mengasuh dan mendidik anak adalah tugas utama orang tua. Peran ini sangat strategis bagi perkembangan anak dimasa-masa mendatang. Demikian juga merawat, mengasuh dan mendidik anak-anak dengan sindrom autism. Kehadiran orang tua sangat dibutuhkan untuk membantu dan mendukung pada berbagai aspek perkembangan anak ASD yang terhambat. Menjadi orang tua dari anak autis tentu memiliki tantangan yang unik dalam merawat, mengasuh dan mendidik khususnya pada masa Pandemi Covid-19. Stay at home, social distancing, dan work from home memunculkan peran dadakan orang tua menjadi “as teacher” di rumah bagi anak-anaknya, anak ASD. Dibutuhkan pengetahuan, keterampilan, ketangguhan fisik, emosional dan mental yang kuat bagi oaring tua untuk tetap bersama dengan anak ASD selama Pandemi Covid-19. Dengan peran orang tua pada masa Pandemi Covid-19 yang penuh tekanan karena berbagai hal, maka orang tua membutuhkan pertologan orang lain dan butuh waktu luang untuk mengurus dirinya sendiri. Orang tua membutuhkan sedikit banyak waktu yang cukup untuk berpeduli dengan dirinya sendiri, aksi merawat diri (self care).

Memaknai Self Care

Self-care bisa didefinisikan sebagai tindakan merawat diri sendiri secara fisik dan mental. Ini adalah cara untuk memastikan kita mendapatkan waktu yang dibutuhkan untuk merasa nyaman dan tenang, misalnya dengan membaca buku, menonton tv, jalan-jalan di sekitar persawahan meikmati udara sejuk pedesaan di pagi hari,  atau sekedar sendau gurau dengan suami atau kerabat dekat serta sahabat. Atau sekedar hanya menelepon teman. Ada juga yang punya cara berlama-lama dengan Sang Pencipta pada waktu tertentu, berkomunitasi dalam ketenangan dan menguatkan pikiran dan psikologis apa yang kita butuhkan. Self-care adalah kesadaran diri yang kita butuhkan untuk tumbuh atau berkembang dengan cara yang membuat kita merasa santai, tenang dan bahagia. Orang tua butuh waktu untuk menge”charging”, mengisi battery daya kekuatan sehingga dapat bekerja dan berfugsi dengan baik. Melakukan perawatan diri (Self Care) bukanlah egois atau memanjakan. Itu adalah sebuah cara menjaga diri kita dengan baik untuk memastikan kita secara fisik, emosional, dan mental sehingga orang tua mampu berada di tengah-tengah keluarga membantu anak ASD yang sangat membutuhkan banyak pendampingan selama Pandemi Covid-19 ini.

Perawatan Diri adalah Cara Terbaik Membantu Anak ASD

Apakah bapak ibu pernah naik peswat terbang?. Ya, jika bapak ibu pernah naik pesawat terbang maka kita akan mendengar dan menyaksikan bagiamana pramugari menjelaskan dan memperagakan cara penumpang mengenakan masker oksigen sebelum membantu orang lain dalam situasi darurat. Hal yang sama berlaku untuk mengasuh anak ASD (Anak dengan Disabilitas). Kesehatan dan kesejahteraan orang tua itu penting agar orang tua dapat merawat, mengasuh dan mendidik anak  ASD dengan efektif. Perawatan diri bukanlah egois atau memanjakan karena hal itu adalah cara kita menjaga diri kita dengan baik untuk memastikan kita secara fisik, emosional, dan mental mampu berada di sana untuk anak-anak dan anak ASD di tengah-tengah keluarga.

Realitas Pandemi COVID-19 menjadikan perawatan diri bagi orang tua yang memilki anak ASD semakin penting. Dapat dipastikan bahwa mengasuh, merawat dan mendidik anak ASD pada masa Pandemi Covid-19, benteng ketangguhan bendungan akal, mental dan emosional orang tua terancam  jebol juga. Orang tua dihadapkan dengan peran tambahan sebagai pendidik di rumah, selain sebagai bekerja, mengurus rumah dan lingkungannya. Kondisi ini tentu menghadirkan tekanan tersendiri. Belum lagi orang tua menghadapi situasi yang tidak menentu dan penuh kekawatiran serta gelisah atas perkembangan kebijakan sosial, ekonomi, budaya, pendidikan yang berkembang pada masa Pandemi Covid-19 ini. Orang tua tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika dihadapkan dengan periode ketidakpastian yang lama, orang tua sangat memungkinkan menjadi stress. Akibat lainya mungkin akan muncul seperti kekhawatiran tentang hilangnya pendapatan, bagaimana menjaga ketersediaan makanan, dan banyak lagi. Tetapi anak ASD khususnya atau Disabilitas umumnya membutuhkan pendampingan, membutuhkan orang tua yang tenang, stabil, dan perilakunya dapat diprediksi bagi anak ASD. Ini adalah tantangan. Sebagai orang tua, salah satu cara terbaik untuk memastikan diri bahwa orang tua dapat membantu anak ASD secara maksimal adalah dengan menjaga diri sendiri. Self Care!

Perasaan Orang Tua dari Anak ASD

Kecemasan, kekhawatiran, dan kesedihan adalah respons normal selama dan setelah kejadian seperti coronavirus. Sebagai orang tua mungkin merasa kewalahan oleh tugas-tugas biasa atau terganggu dalam situasi dimana biasanya orang tua bersabar, munkin hari-hari di masa Pandemi Covid-19 orang tua menjadi lanbil.

Bebarapa hal yang perlu orang tua perhatikan adalah mengidentifikasi perasaan negative bapak ibu dalam menghadapi anak ASD di rumah. Ketika orang tua mengetahui bahwa kesabaranya berkuarang, bahkan berubah menjadi kemarahan ketika menghadapi anak ASD di rumah, cara yang pertama adalah silahkan ambil nafas atau tinggalkan anak sejenak dan pergi ambil minum, menengguk air secukupnya. Jika bapak ibu sebagai seorang muslim mungkin mengambil air wudlu adalah cara yang baik. Mungkin bisa juga segera berpindah aktifitas atau menghentikan kegiatan bersama anak ASD untuk sekedar keluar dari pergumulan emosional yang kuat.  Namun, dalam situasi yang terkontrol, orang tua dapat bekerjasama dengan anggota keluarga yang ada. Seabagai contoh jika ibu sedang mengajar anak ASD dan terlihat situasi psikologis memburuk, maka suami atau anggota keluarga yang lain harus segera mengingatkan dan menggantikan peranya. Ini dapat memberikan waktu bagi ibu untuk mengalihkan emosinya, menenangkan diri. Demikian kebalikannya bagi anggota keluarga lainya. Kondisi tersebut jika dibiarkan dalam waktu yang lama maka sangat mungkin orang tua akan stress berkepanjangan. Ini sangat tidak baik bagi orang tua dan anak ASD serta anggoata keluarga lainnya. Keluarga menjadi sangat tidak nyaman.

Pahamilah bahwa anak ASD membutuhkan cara yang berbeda-beda. Anak ASD membutuhkan tambahan waktu untuk dapat menyelesaikan tugasnya. Anak ASD membutuhkan kehadiran pendamping yang memahaminya. Anak ASD membutuhkan kehadiran orang tua yang “klik” mengerti atas kekuarangan dan kemampuan serta kebutuhan dalam kegiatan sehari-harinya.

Untuk menguarangi masalah kekawatiran, stress, kebingungan dan kegelisahan orang tua, pertimbangkan untuk membatasi informasi atau berita tentang kondisi Pandemi Covid-19. Sebaiknya orang tua dapat memilih informasi yang tepat dari sumber yang terpercaya misalkan pembaharuan berita dari pejabat kesehatan masyarakat tepercaya. Jangan membiarkan diri anda membabibuta membaca semua informasi yang masuk di dunia maya, mungkin melalui group WhatsApp atau media online lainnya. Ini penting karena banyak informasi yang tidak dapat dipercaya kebenaranya yang dapat mengganggu akal pikiran dan psikologis orang tua.

Kondisi keluarga dari anak ASD berbeda-beda. Indonesia juga belum memiliki system layanan yang baik guna menjamin keberlangsungan penanganan anak ASD pada masa Pandemi Covid-19. Keluarga yang memiliki anak ASD pada masa Pandemi Covid-19 belum memperoleh layanan konseling, psikologis, medis dan informasi yang terbaik dari pemerintah maupun lembaga-lembaga bantuan lainnya. Oleh karena itu, bagi beberapa keluarga atau kondisi di daerah tertentu, pikirkan tentang bagiaman menjangkau seorang profesional kesehatan untuk membantu dengan masalah kesehatan fisik atau mental. Tentu ini bisa dilakukan oleh keluarga yang cukup dengan financial atau mungkin keluarga dapat bekerjasama dengan sekolah, meskipun di sekolah khusus disabilitas (ASD) kecukupan professional untuk berkonsultasi masih terbatas. Bantuan oleh Negara melalui Pemerintah Kabubaten Kota dengan menyediakan layanan professional gratis bagi keluarga dan anak ASD khususnya dan Disabilitas umumnya sangat dibutuhkan.

Pahami Cara Berkomunikasi Anak ASD

Sebagaimana salah satu karakteristik dari perilaku anak ASD adalah Rigid Routine. Perilaku anak ASD yang cenderung melakukan kegiatan yang bersifat rutin, ketat. Sedikit ada perubahan pada aktifitas bagi anak ASD bukanlah sesuatu yang mudah baginya untuk memahami. Ketika anak ASD mengalami perubahan dalam rutinitas mereka, mereka mungkin bingung atau kesal. Anak ASD juga memiliki problem bagaimana menyampaikan keinginannya, kemarahannya. Oleh karena itu banyak anak ASD yang seringkali muncul perilaku tantrum atas tekanan kondisi yang ada di rumah. Apalagi terdapat anak ASD yang memiliki masalah dengan respon sensorik yang dimilikinya. Sangat mungkin anak ASD menjadi sangat sensitive, menghindari aktifitas atau situasi karena overload terhadap sensori. Maka akibatnya anak ASD marah-marah, menyendiri dan berperilaku yang tidak efektif. Seringkali orang di sekitarnya mengatakan anak marah-marah tanpa sebab yang jelas, padahal sebenarnya ada yang menyebabkanya namun orang-orang di sekitarnya TIDAK DAPAT memahami masalah perilaku anak ASD. Anak ASD mungkin ingin “memberi tahu” orang tua dan saudara melalui perilaku mereka dengan caranya.

Dalam kondisi ini, orang tua sangat mudah untuk menjadi frustrasi, karena sebagai orang tua sudah mengelola begitu banyak masalah di rumah pada masa Pandemi Covid-19 ini. Tetapi ketika orang tua menghadapi perilaku anak ASD yang unik, menantang, berhentilah sejenak untuk memikirkan apa yang mungkin ingin dikatakan anak ASD. Pahami perilaku anak ASD dan berikan dengan cara yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Luangkan Waktu untuk Perawatan Diri

Orang tua dan anak ASD mungkin sebelum Pandemi Covid-19 ini terbiasa memiliki waktu terpisah. Orang tua sibuk bekerja di kantor, pabrik, toko, perusahaan, atau di temapt kerja lainnya. Sementara itu anak ASD pergi sekolah, menjalani terapi dan melakukan berbagai aktifitas untuk memenuhi kebutuhan perkembangan anak. Ada juga anak ASD di penitipan anak atau boarding house (sekolah dengan asrama). Pada masa Pandemi Covid-19 ini, orang tua lebih banyak bersama anak ASD di rumah karena tindakan pencegahan penularan Covid-19. Anak ASD tidak bisa pergi sekolah, terapi atau juga kebalikannya tidak dikungjungi oleh terapis di rumah. Di masa Pandemi Covid-19 mungkin orang tua dan anak ASD serta anak-anak yang lainya tinggal bersama 24 jam sehari dan mungkin terasa mustahil untuk mendapatkan istirahat untuk diri sendiri.

Orang tua membutuhkan waktu luang untuk mengurus diri sendiri/self care. Kondisi keluarga yang memilki anak ASD tentu berbeda-beda. Sebagian keluarga ada yang suaminya tetap bekerja, ada juga yang istrinya bekerja, atau kedua-duanya bekerja sehingga anak ASD tingal bersama dengan kakek neneknya. Kondisi lain yang mungkin terjadi adalah orang tua salah satunya bekerja dari rumah dan atau keduanya bekerja dari rumah. Orang tua harus bekerja dan juga mengasuh anak-anak lainya serta bertanggungjawab dengan anak ASD. Kondisi yang menangtang bukaaan?

Sebaiknya orang tua membicarakan bagaimana dapat berbagi waktu pengasuhan sehingga masing-masing memiliki sedikit waktu sendirian. Berkolaborasi untuk membuat jadwal harian yang memungkinkan orang tua masing-masing untuk fokus pada tanggung jawab profesional utama sambil menjaga anak-anak tetap aman dan sibuk. Jadwal harian perlu dibuat dalam hal apa, siapa melakukan apa, kapan serta dimana. Menata ruang rumah agar semua berjalan dengan lancer adalah cara terbaik. Manfaatlan sumber daya yang ada. Mungkin perlu berubah setiap hari. Meluangkan waktu untuk merencanakan sebelum tidur atau selama sarapan dapat membuat  siap untuk meraih hari-hari yang sukses bersama anak ASD pada masa Pandemi Covid-19 ini.

Manfaatkan jadwal waktu untuk merawat diri. Beberapa pertanyaan ini mungkin bisa membantu orang tua untuk melakukan self care; Kegiatan apa yang membuat Anda bahagia? Kurangi tingkat stres Anda? Membuat Anda merasa tenang dan bersemangat lagi? Ini semua tentu berbeda-beda bagi setiap orang tua. Yang penting adalah menemukan strategi perawatan diri yang bisa mambantu orang tua menjadi refresh dan siap menghadapi tantangan pada masa Pandemi Covid-19.

Selamat menikmati Perawatan Diri dengan Caranya Sendiri. Semoga semuanya sukses. Lakukan yang terbaik bagi buah hati kita. Anak ASD membutuhkan pertolongan orang tua yang terbaik.

Jika Orang tua membutuhkan konsultasi tentang Program Penanganan Anak Autis dapat hubungi: Joko Yuwono. ke : 0822 9895 8741. Konsultasi Gratis di Pusat Studi Difabilitas LPPM UNS.  link web http://psd.lppm.uns.ac.id

 

COVID-19: TIPS BAGI ORANG TUA MENGASUH DAN MENDIDIK ANAK AUTIS DI RUMAH

Core hambatan perkembangan pada anak dengan gejala autism/Autistic Spektrum Disorder (ASD) meliputi tiga area perkembangam yakni perilaku repetitif (repetitive behavioral), social interaction dan communication. Ada banyak artikel yang menyebutkan bahwa ada hambatan penyerta pada anak autis yakni mototik, sensorik, emotional maupun akademik problem sebagai dampak dari kondisi anak autis. Manifestasi perilaku anak ASD menjadi sangat rumit pada banyak aktifitas sehari-hari ketika kompleksitas masalah perkembangan belum tertangani dengan baik.

Dengan memperhatikan kompleksitas permasalahan perkembangan anak ASD,  pada masa Pandemi Covid-19 tentu tidak mudah bagi sekolah/guru, lebih tepatnya adalah keluarga/orang tua untuk memberikan perlindungan kesehatan dan pembelajaran yang terbaik di rumah. Orang tua harus memiliki pemahaman yang komprehensip tentang ASD agar dapat membantu anak ASD tetep merasa aman, nyaman dan tidak stress karena perubahan banyak hal sebagai dampak dari Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia, Stay at Home, social distancing dan Belajar Dari Rumah (BDR)

Dalam masa Pandemi Covid-19, Narzisi (2020) memberikan 10 tips untuk membantu orang tua dan pengasuh anak Autistic Spektrum Disorder (ASD). Guru dapat membantu orang tua untuk memperhatikan pelaksanaan pembelajaran di rumah dalam beberapa hal sebagai berikut.

  1. Jelaskan kepada anak Anda apa COVID-19

Anak-anak dengan ASD memiliki gaya kognitif konkret dan beberapa dari mereka dapat memiliki persoalan verbal yang serius, dan menunjukkan kesulitan dalam persepsi fenomenologis. Penting untuk menjelaskan apa itu COVID-19 dan mengapa kita semua harus tinggal di rumah. Penjelasannya harus sederhana dan konkret. Untuk tujuan ini dimungkinkan untuk menggunakan augmentative alternative communication (AAC). Dimungkinkan juga untuk meminta bantuan dari guru atau terapis dalam menyiapkan pamflet singkat berjudul “Apa itu COVID-19?” menggunakan strategi AAC individual. Untuk anak-anak muda yang verbal penjelasannya harus didukung dengan pemetaan konsep untuk membuatnya lebih mudah bagi anak untuk mengerti.

  1. Structure Daily Life Activities

Secara luas dilaporkan bahwa anak-anak dengan ASD memiliki defisit fungsi eksekutif dan mereka dapat menunjukkan masalah dalam merencanakan kegiatan kehidupan sehari-hari mereka, terutama ketika rutinitas mereka kacau. Untuk alasan ini, penting, terutama sekarang, untuk menyusun kegiatan kehidupan sehari-hari. Rumah adalah pengaturan unik di mana kegiatan berlangsung. Akan bermanfaat untuk membagi kegiatan sehari-hari, menugaskan ruang yang berbeda untuk masing-masing kegiatan tersebut. Struktur ini dapat bermanfaat tidak hanya untuk anak-anak dengan ASD yang berfungsi rendah dan/atau menengah tetapi juga bagi mereka yang berfungsi tinggi. Ini bisa menjadi kegiatan untuk berbagi dengan seluruh keluarga sebagai jenis permainan. Dengan menggunakan papan tulis, setiap anggota keluarga dapat memiliki ruang untuk menulis kegiatan yang direncanakan

  1. Semi-Structured Play Activities Children

Anak-anak dengan ASD menikmati bermain, tetapi mereka dapat menemukan beberapa jenis permainan yang sulit karena masalah sensorik atau karena mereka lebih suka kegiatan terstruktur atau semi-terstruktur. Pada siang hari akan penting untuk menangani kegiatan bermain. Ini dapat bersifat individu dan/atau bersama. Pilih kegiatan yang disukai anak Anda. Sebagai contoh bermain LEGO bisa menjadi solusi yang baik untuk anak-anak dengan ASD yang berfungsi rendah atau tinggi. Kegiatan bermain berbasis LEGO adalah program keterampilan sosial yang semakin populer untuk anak-anak dan remaja dengan masalah komunikasi sosial seperti ASD. Ini bisa menjadi aktivitas bermain semi-terstruktur yang dibagikan dengan orang tua atau saudara kandung dalam pengaturan rumah.

  1. Use of Serious Games

Game serius dapat bermanfaat untuk meningkatkan kognisi sosial dan mengenali emosi wajah, gerakan emosi, dan situasi emosional pada anak-anak dengan ASD. Game yang serius dapat menjadi sumber daya mendasar bagi anak-anak ASD. Banyak game serius gratis dan dapat diunduh sebagai Aplikasi untuk tablet dan/atau PC dari situs khusus. Game yang serius bisa menjadi alternatif pendidikan untuk video game.

  1. Shared Video Game and/or Internet Sessions with Parents Video

Berbagi Video Game dan/atau Sesi Internet dengan Orang Tua Video game dan internet sangat menarik bagi anak-anak dengan ASD tetapi mereka bisa menjadi minat penyerap, terutama pada periode ini ketika anak-anak dipanggil untuk tinggal di rumah. Tidak mungkin untuk menghindari anak-anak bermain dengan komputer tetapi pada saat ini, ketika orang tua juga ada di rumah, mungkin ada gunanya menetapkan aturan di mana anak-anak diharapkan untuk berbagi video game/ internet (dengan orang tua, saudara kandung, atau pengasuh lainnya). Ini dapat menghindari risiko potensial isolasi anak dan kecanduan internet.

  1. Implement and Share Special Interests with Parents Special

Melaksanakan dan membagikan minat khusus dengan orang tua dapat menjadi karakteristik orang-orang dengan ASD. Ada peningkatan jumlah bukti yang mengakui potensi manfaat yang dapat membawa minat khusus. Minat khusus harus didukung dari orang tua dan/atau pengasuh. Kereta, peta, hewan, buku komik, geografi, elektronik, dan sejarah dapat menjadi beberapa minat khusus potensial. Dalam periode di mana orang tua dan anak-anak tinggal di rumah, mereka dapat merencanakan beberapa kegiatan dengan minat khusus ini.

  1. Online Therapy for High-Functioning Children

Terapi online untuk anak-anak yang berfungsi tinggi. Disadari bahwa kerentanan psikiatris dan atau komorbiditas tinggi pada anak-anak dengan ASD. Di antara gangguan kecemasan komorbiditas ini adalah salah satu yang paling dilaporkan, High Fungtioning Children. Komorbiditas psikiatris dapat berkontribusi pada gangguan perkembangan terutama pada usia remaja. Status siaga sebenarnya untuk COVID-19 bisa menjadi peristiwa yang sulit untuk dimentalisasi untuk anak-anak dengan ASD. Untuk alasan ini, jika anak-anak terlibat dalam psikoterapi sebelum peringatan COVID-19, sangat penting bagi mereka untuk meneruskannya. Karena banyak terapis telah menghentikan terapi tatap muka mereka, sangat disarankan untuk melanjutkan psikoterapi dalam video online atau modalitas audio dengan janji mingguan yang sama. Ini dapat mengurangi kecemasan, memeriksa suasana hati, dan menawarkan kepada anak-anak ruang pribadi untuk berbicara dengan seorang spesialis.

  1. Weekly Online Consultations for Parents and Caregivers

Konsultasi online mingguan untuk orang tua dan wali orang tua dari anak-anak dengan autis mengalami lebih banyak stres dan lebih rentan daripada orang tua dari anak-anak dengan hambatan lainnya. Saat ini, orang tua sendirian dalam menangani anak-anak mereka dengan ASD. Ini dapat mewakili risiko tinggi lebih lanjut untuk tingkat stres mereka, yang sudah parah. Untuk alasan ini, akan sangat berguna untuk memiliki kesempatan untuk konsultasi online mingguan dengan terapis anak-anak mereka. Ini berlaku untuk orang tua dari anak-anak rendah dan berfungsi tinggi. Dalam kasus fungsi rendah, orang tua dapat berbagi video rumahan singkat dengan terapis tentang perilaku anak-anak selama bermain bebas atau sesi terstruktur di rumah. Dalam kasus anak-anak yang berfungsi tinggi, konsultasi dapat menjadi pertukaran dialogis yang berfokus pada cara-cara yang paling tepat untuk mengelola masa sulit COVID-19 lansiran ini dan untuk memperbarui orang tua tentang tingkat strategi koping anak-anak

  1. Maintain Contact with the School

Pertahankan tetap untuk kontek/berhubungan dengan Sekolah. Penelitian yang berkembang mendukung saran bahwa hubungan yang dibentuk anak-anak dengan guru dan teman sekelas mereka berdampak pada pembelajaran. Sangat penting untuk mendedikasikan slot waktu untuk pekerjaan rumah. Ini adalah rutinitas yang harus dijaga. Untuk menjaga kontak sosial dengan teman sekolah disarankan untuk memiliki setidaknya kontak mingguan dengan salah satu teman kelas. Modalitas kontak ini harus bergantung pada preferensi anak. Itu bisa berupa video daring bagi mereka yang suka. Untuk anak-anak dengan ASD yang tidak suka menggunakan video untuk kontak online mereka dapat didorong untuk menulis surat kepada salah satu teman sekolah mereka atau untuk memanggil mereka melalui telepon. Untuk anak-anak dan orang tua, sangat dianjurkan untuk menjaga kontak dengan guru khusus online atau melalui telepon.

  1. Leave Spare Time.

Anak-anak dengan ASD harus distimulasi, seperti yang ditunjukkan dalam tips 1-9, tetapi juga dimungkinkan untuk meninggalkan mereka semacam kuota waktu luang yang tepat di siang hari misalnya berjalan kaki singkat di dekat rumah. (pastikan terlindungi dari Covid-19). Pada periode ini anak-anak dapat mengalami peningkatan stereotip. Ini tidak perlu menjadi perhatian khusus. Pada saat ini, ketika kebiasaan berubah, tingkat stres dapat meningkat untuk anak-anak dengan ASD (Yuwono, 2019) dan peningkatan stereotip dapat menjadi hasil perilaku stres yang dirasakan. Mereka pasti tidak akan mundur.(Narzisi, 2020)

Referensi

Narzisi, A. (2020). Handle the autism spectrum condition during coronavirus (Covid-19) stay at home period: Ten tips for helping parents and caregivers of young children. Brain Sciences, 10(4). https://doi.org/10.3390/brainsci10040207

Yuwono, Joko. 2019. Memahami Anak Autistik, Kajian Teorik dan Empeirik. Bandung: Alfabeta