SON-RISE PROGRAM UNTUK ANAK DENGAN GANGGUAN AUTIS (Bagian 1)

“Sebagai orang tua atau guru dari anak autis, janganlah kalian “menghakimi” atas semua perilaku anak-anak tersebut. Bukan perilaku mereka yang salah, buruk, tidak mengerti, tetapi kita yang belum tahu bagaimana cara berteman dan membantu (mengajar) mereka. Berteman dan bermainlah dengan mereka! Engkau akan mengetahui dengan gamblang.

Saya sangat mengenalnya dengan detail, maka saya dapat membantu dia keluar dari kesendiriannya.”  

A. PENGANTAR

Sejak tahun 1997, saat itulah saya mulai bekerja membantu anak-anak autis untuk mengenal dunia nyata. Problem perkembangan pada perilaku mereka yang repetitive, kesulitan bagaimana mereka berhubungan dengan orang lain dan, bagaimana mereka memahami dan mengekspresikan bahasanya adalah masalah utama. Dan lagi mereka kebanyakan disertai dengan problem sensorik dan motorik yang berdampak pada perkembangan selanjutnya.

Anak-anak autis bukanlah tidak bisa berteman atau berkomunikasi dengan orang lain. Anak-anak autis hanya meggunakan cara yang berbeda untuk berteman, bermain dan menyampaikan pesannya melalui system komunikasi dan Bahasa yang mereka pahami. Jika kita berteman “akrab” dengan mereka, sangat masuk akal kita akan mengenalinya dengan baik. Selanjutnya kita bisa memahami dan membantunya untuk menjadi lebih baik.

Program Son-Rise adalah salah satu metode yang saya kenal waktu itu selain Applied Behavior Analysis (ABA), . Dengan pengalaman mengajar anak autis dan sharing bersama orang tua serta guru-guru lainya, saya semakin mengenalinya. Program Son-Rise sangat memberi inspirasi bagaimana membantu anak autis “bangun dari tidurnya”. Anak sebagai guru. Saya belajar banyak kepada dia. Berteman dan bermain (joining), mengenal kebiasaannya, kontak mata, perkembangan sosial dan termasuk lainya. Memotivasi, membangun pondasi untuk pendidikan dan menambah keahlian dan belajar melalui permainan interaktif, sosialisasi dan komunikasi yang penuh arti.

B. SON-RISE PROGRAM DI AUTISM TREATMENT CENTER OF AMERICA

Anak-Rise program ini adalah program penanganan yang kuat dan efektif untuk anak dan orang dewasa dengan tantangan autism, autism Spectrum disorders, Pervasive Developmental Disorder (PDD), Sindrom Asperger, dan kesulitan perkembangan lainnya. Sejak 1974, Autism Treatment Center of America telah mengajarkan pendekatan program Son-Rise yang unik dan efektif untuk membantu lebih dari 35.000 keluarga di seluruh dunia. Program Son-Rise berbeda dari-bahkan berlawanan dengan-hampir semua yang telah terapis/guru peroleh untuk membantu anak-anak autis selama ini. Program Son-Rise menunjukkan bagaimana “joining” dengan anak di dunia mereka sendiri yang unik sebelum meminta mereka untuk bergabung dengan kita dimana memungkinkan untuk anak khusus ini untuk mencapai kemampuan baru!

Sejak tahun 1983, Autism Treatment Center of America telah menyediakan The Son-Rise Program untuk orang tua dan profesional yang menangani anak-anak dengan autis, Autism Spectrum Disorders, Pervasive Developmental Disorder (PDD) dan kesulitan perkembangan lainnya. Program Son-Rise mengajarkan sistem penanganan dan pendidikan yang spesifik dan komprehensif yang dirancang untuk membantu keluarga dan pengasuh agar anak-anak mereka dapat meningkat secara dramatis di semua bidang pembelajaran, perkembangan, komunikasi, dan perolehan keterampilan. Hal tersebuut menawarkan teknik, strategi dan prinsip pendidikan yang sangat efektif untuk merancang, menerapkan dan memelihara program yang menstimulasi, berenergi tinggi, one on one (satu guru satu anak), berbasis rumah, dan berpusat pada anak.

C. FOUNDERS & SEJARAH

Program Son-Rise diciptakan oleh penulis/guru; Barry (“Bears”) Neil Kaufman dan Samahria Lyte Kaufman (suami istri) Ketika anak mereka, Raun, didiagnosis sebagai autis yang parah dan incurably autistic. Meskipun disarankan untuk ditangani di lembaga penanganan anak karena “hopeless, lifelong condition,” Kaufmans malah merancang sebuah program berbasis rumah yang inovatif, berpusat pada anak dalam upaya untuk mencapai perkembangan anak mereka. The Kaufmans ‘program yang unik, yang menandai awal dari metode penanganan yang ada, mengubah Raun (anaknya) dari mute, anak yang menarik diri dengan IQ kurang dari 30 menjadi sangat verbal, pemuda interaktif secara sosial dengan IQ mendekati jenius.

D.KURIKULUM SON-RISE

Son-Rise program mengembangkan model membantu orang tua untuk plot anak dan menetapkan tujuan dalam empat fundamental sosialisasi; Interactive Attention Span, Verbal Communication, Eye Contact & Non-Verbal Communication and Flexibility. Dalam setiap bidang ini, bapak ibu akan dapat melacak anak melalui lima tahap perkembangan.

Son-Rise Program memberikan alat untuk menentukan persis di mana anak secara sosial dan membuat kurikulum individual, untuk memungkinkan anak mengambil langkah perkembangan sosial berikutnya. Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam Program Son-Rise meliputi perilaku aktifitas yang repetitive dan eksklusif, merekam kontak mata anak dan komunikasi non-verbal, komunikasi verbal anak, permainan dan kegiatan yang dimainkan serta rentang perhatian angka (kontak mata), kemampuan anak yang fleksibel secara sosial, dan aktivitas anak yang berulang-ulang dan eksklusif (motivasinya).                

Joining dan kebiasaan perilaku adalah aktifitas yang dilakukan dan dibutuhkan untuk membangun kontak mata, perkembangan sosial dan termasuk lainya. Aktifitas diberikan untuk membangun motivasi dan membangun pondasi untuk pendidikan dan menambah keahlian anak. Belajar melalui permainan interaktif, sosialisasi dan komunikasi yang penuh arti adalah poin penting.

E. PERBEDAAN PROGRAM APPLIED BEHAVIOR ANALYSIS (ABA)DAN SON-RISE

Di belahan dunia, termasuk di Indonesia metode Applied Behavior Analysis (ABA) sangat dikenal dan banyak digunakan di lembaga-lembaga penanganan anak autis. Praktik ABA di Indonesia dikenalkan oleh Jura Tender dari Australia pada tahun 1997. Pada tahun itu ada beberapa orang tua dan guru yang “privat” belajar tentang ABA. Beberapa guru yang mengikutinya seperti Mas Sudarno, Mas Marjuki, Mas Jono dan Mas Dr. Joko Yuwono (kebetulan semua dari Pendidikan Khusus/Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Sebelas maret Surakarta (UNS) selama 4 hari, 1 hari 3 jam. Semua dibiayai oleh orang tua dari anak autis karena kami membimbingnya. Setelah tahun 1997 itulah berkembang layanan anak autis menggunakan metode ABA.

Program Son-Rise sempat dikenalkan pada tahun-tahun itu oleh Ibu E.S, salah satu orang tua yang berhasil membantu anaknya berkembang lebih baik. Metode ABA dengan Son-Rise sangatlah berbeda secara mencolok, bahkan berlawanan secara filosofis dan prinsip penangananya. Berikut adalah perbedaan keduanya ditinjau dari beberapa hal.

F. PRINSIP-PRINSIP PENANGANAN ANAK AUTIS MENGGUNAKAN PROGRAM SON-RISE

1. Potensi anak Anda tidak terbatas

Kami tidak percaya pada “false hope” (harapan palsu). Meskipun kita tentu tidak bisa memprediksi apa yang diberikan anak akan tercapai, kita tidak percaya setiap anak atau orang tua memberikan layanan ketika orang lain memutuskan terlebih dahulu apa yang anak tidak akan mencapai.

2. Autism bukanlah gangguan perilaku

Ini adalah relational, interactional disorder. Pada intinya, autis adalah sebuah tantangan neurologis di mana anak memiliki kesulitan yang berhubungan dan menghubungkan kepada orang di sekitar mereka. Sebagian besar dari mereka yang disebut tantangan perilaku berasal dari defisit relasional ini. Itu sebabnya metode dinamis, antusias, berorientasi bermain metode Son-Rise fokus begitu ekstensif pada pengembangan sosialisasi dan hubungan.

3. Motivasi, not repetition, memegang kunci untuk semua pembelajaran

Banyak modalitas tradisional dengan duduk seorang anak dan berikhtiar untuk mengajar melalui pengulangan tak berujung. Sebagai gantinya, kita mengungkap motivasi unik setiap anak dan menggunakannya untuk mengajari anak kita keterampilan yang perlu mereka pelajari. Dengan cara itu, kita memiliki kesediaan partisipasi anak, serta rentang perhatian yang lebih lama dan peningkatan retensi (penyimpanan memori) dan generalisasi keterampilan.

4. Perilaku “Stimming” anak Anda memiliki arti dan nilai penting

Kita memiliki penerimaan dan respek yang mendalam bagi anak kita. Yang memungkinkan kita untuk mencapai melintasi jurang memisahkan dunia mereka dari kita dengan melakukan sesuatu yang berani dan tidak biasa. Kita bermain main bersama (joining), bukan berhenti, anak berulang-ulang, eksklusif dan ritual perilaku. Melakukan hal itu membangun interaksi dan hubungan, platform untuk semua pendidikan dan pengembangan masa depan. Berpartisipasi dengan anak dalam perilaku ini memfasilitasi kontak mata, pengembangan sosial dan masuknya orang lain dalam bermain.

5. Orang tua adalah sumber daya terbaik anak

Meskipun program Son-Rise memiliki kesempatan untuk bekerja dengan banyak sangat mendukung, peduli dan membantu profesional, kita telah melihat apa-apa belum sama dengan kekuatan orangtua. Tidak ada orang lain dapat mencocokkan cinta yang tak tertandingi, dedikasi yang mendalam, komitmen jangka panjang dan dalam keseharian, pengalaman dengan anak mereka bahwa orang tua memilikinya. Oleh karena itu, Son-Rise berusaha memberdayakan orang tua. Bahkan, menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk menyediakan orang tua dengan pelatihan sikap, mendengarkan apa yang mereka katakan, dan menyediakan mereka dengan pelatihan keterampilan yang mereka butuhkan untuk membantu anak mereka seperti tidak ada orang lain bisa. Kami membantu orang tua untuk menjadi direktur, manajer dan guru yang percaya diri untuk program anak mereka sendiri

6. Anak Anda dapat maju dalam lingkungan yang tepat

Kebanyakan anak di Autism Spectrum Disorders sangat dirangsang oleh sejumlah gangguan yang sebagian besar dari kita bahkan tidak menyadarinya. Kami menunjukkan kepada banyak orang bagaimana untuk menciptakan lingkungan belajar yang optimal sehingga gangguan yang dihilangkan dan interaksi difasilitasi. Selain itu, pekerjaan/ruang bermain ini secara drastis mengurangi gangguan dari lingkungan kita yang menghambat kemajuan dan interaksi yang berguna, sehingga paving jalan tidak hanya untuk pembelajaran progresif, tetapi juga untuk manisnya interaksi dengan anak yang orang tua sangat rindukan.

7. Orang tua dan profesional yang paling efektif ketika mereka merasa nyaman dengan anak mereka, optimis tentang kemampuan anak mereka dan berharap tentang masa depan anak mereka.

Seringkali orangtua diberikan prognosis yang menakutkan dan negatif. Mereka diberitahu apa yang anak mereka tidak akan pernah lakukan dan tidak pernah bisa. Sungguh mengerikan! Son-Rise program tidak percaya bahwa setiap orang memiliki hak untuk memberi tahu orangtua apa yang tidak dapat dicapai oleh anak mereka. Son-Rise Program membantu orang tua fokus pada sikap mereka dan merebut kembali optimisme dan harapan mereka. Son-Rise Program membantu mereka untuk melihat potensi anak mereka dan kemudian “pergi untuk mendapatkan emas.” Dari perspektif ini, kita telah melihat, segala sesuatu adalah mungkin. Selain itu, para profesional yang peduli, sering tidak diberi sumber daya, bimbingan, atau dukungan yang mereka perlukan untuk membantu anak yang mereka kerjakan. Kami memahami tekanan yang banyak profesional hadapi dan menawarkan perspektif sikap yang unik yang memungkinkan untuk merasa baik energi kembali dan bersenjata dengan alat yang sangat baik untuk membantu siswa kita.

8. Program Son-Rise Dapat Dikombinasikan Secara Efektif Dengan Terapi Lainnya Seperti Intervensi Biomedis, Sensory Integration Therapy, Diet (Gluten/Casein-Free), Auditory Integration Therapy Dan Lain-Lain.

Program Son-Rise dirancang untuk disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak. Setelah bekerja dengan ribuan anak yang memiliki beragam tantangan, kita telah mengamati bahwa ketika terapi tambahan disertakan, dan diterapkan dengan menggunakan prinsip program Son-Rise, intervensi bahkan lebih efektif daripada bila digunakan secara individual. Beberapa pendekatan, yang berisi prinsip dan teknik yang bertentangan dengan pendekatan Son-Rise, telah ditemukan untuk melemahkan efektivitas program dan membingungkan anak. Staf Son-Rise membantu setiap keluarga menentukan intervensi yang paling efektif untuk anak mereka.

G. Sikap Orang Tua Dan Guru Yang Harus Dimiliki

a. Pentingnya sikap mencintai dan menerima

  • Anak sebagai anugerah
  • Orang tua sebagai sumber terbaik
  • Harapan-harapan yang salah
  • Anak sebagai guru

b. Sikap yang Perlu diperhatikan

  • Mencintai dan menerima
  • Tidak menghakimi. Jangan menghakimi perilaku anak karena semua perilaku pada anak autis pada prinsipnya adalah baik, tidak salah, sebuah cara dia untuk belajar berperilaku, berteman dan berkomunikasi dengan caranya yang unik. Orang tua dan guru harus memahami ini.
  • Gunakan 3E: Energy, Excitement dan Enthusiasm. Orang tua atau guru harus bernergi, jangan lemah. Gunakan pakaian yang menudukung aktifitas gerakmu yang energik sabagai orangtua atau guru saat belajar (bermain) bersama anak autis. Hindari pakai sepatu “jinjit” (high heels) Excitement; orang tua atau guru harus bergairah, jangan tidak bersemangat saat akan “mengunjungi atau didatangi anak” di kelas maupun di rumah. Jika anda sebagai orang tua atau guru mudah “menyerah” maka yakinlah anak tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Enthusiasme; guru harus bersemangat, antusias Ketika dating ke sekolah untuk membantu anak.
  • Jadilah “Happy Detective”. Jadilah orangtua atau guru detektif yang selalu bergembira, bersenang hati, jangan mudah “nglokro”. Dibalik ketidakpahaman kita saat ini ketika bersama dengan anak autis, adalah kegembiraan sebagai upaya memahaminya secara bertahap.
  • Berpikir dan bersikaplah untuk saat ini (be present). Jangan berpikir terlalu jauh di masa akan datang.
  • Tunjukkan penghargaan. Sekecil apapun yang ditunjukkan oleh anak autis kepada orang tua atau guru, selayaknya berikan penghargaan yang bermakna baginya.
  • Kegembiraan dan kebahagiaan adalah pilihan utama.

c. Inspirasi untuk tumbuh dan berkembang

  • Percaya pada anak
  • Kemauan yang tulus
  • Usahakan daya tarik
  • Kasih sayang yang persisten (memadai)
  • Sayangi diri sendiri
  • Berikan fleksibilits

Salam Hidup Bermanfaat!

Referensi

Yuwono, Joko. 2000. Pengenalan Metode Son-Rise dan Metode Lovaas (ABA). Hand out

What is The Son‑Rise Program?

 

PANDEMI COVID-19; SELF CARE BAGI ORANG TUA DARI ANAK AUTISTIC SPECTRUM DISORDER (ASD) KETIKA BELAJAR DARI RUMAH

Merawat, mengasuh dan mendidik anak adalah tugas utama orang tua. Peran ini sangat strategis bagi perkembangan anak dimasa-masa mendatang. Demikian juga merawat, mengasuh dan mendidik anak-anak dengan sindrom autism. Kehadiran orang tua sangat dibutuhkan untuk membantu dan mendukung pada berbagai aspek perkembangan anak ASD yang terhambat. Menjadi orang tua dari anak autis tentu memiliki tantangan yang unik dalam merawat, mengasuh dan mendidik khususnya pada masa Pandemi Covid-19. Stay at home, social distancing, dan work from home memunculkan peran dadakan orang tua menjadi “as teacher” di rumah bagi anak-anaknya, anak ASD. Dibutuhkan pengetahuan, keterampilan, ketangguhan fisik, emosional dan mental yang kuat bagi oaring tua untuk tetap bersama dengan anak ASD selama Pandemi Covid-19. Dengan peran orang tua pada masa Pandemi Covid-19 yang penuh tekanan karena berbagai hal, maka orang tua membutuhkan pertologan orang lain dan butuh waktu luang untuk mengurus dirinya sendiri. Orang tua membutuhkan sedikit banyak waktu yang cukup untuk berpeduli dengan dirinya sendiri, aksi merawat diri (self care).

Memaknai Self Care

Self-care bisa didefinisikan sebagai tindakan merawat diri sendiri secara fisik dan mental. Ini adalah cara untuk memastikan kita mendapatkan waktu yang dibutuhkan untuk merasa nyaman dan tenang, misalnya dengan membaca buku, menonton tv, jalan-jalan di sekitar persawahan meikmati udara sejuk pedesaan di pagi hari,  atau sekedar sendau gurau dengan suami atau kerabat dekat serta sahabat. Atau sekedar hanya menelepon teman. Ada juga yang punya cara berlama-lama dengan Sang Pencipta pada waktu tertentu, berkomunitasi dalam ketenangan dan menguatkan pikiran dan psikologis apa yang kita butuhkan. Self-care adalah kesadaran diri yang kita butuhkan untuk tumbuh atau berkembang dengan cara yang membuat kita merasa santai, tenang dan bahagia. Orang tua butuh waktu untuk menge”charging”, mengisi battery daya kekuatan sehingga dapat bekerja dan berfugsi dengan baik. Melakukan perawatan diri (Self Care) bukanlah egois atau memanjakan. Itu adalah sebuah cara menjaga diri kita dengan baik untuk memastikan kita secara fisik, emosional, dan mental sehingga orang tua mampu berada di tengah-tengah keluarga membantu anak ASD yang sangat membutuhkan banyak pendampingan selama Pandemi Covid-19 ini.

Perawatan Diri adalah Cara Terbaik Membantu Anak ASD

Apakah bapak ibu pernah naik peswat terbang?. Ya, jika bapak ibu pernah naik pesawat terbang maka kita akan mendengar dan menyaksikan bagiamana pramugari menjelaskan dan memperagakan cara penumpang mengenakan masker oksigen sebelum membantu orang lain dalam situasi darurat. Hal yang sama berlaku untuk mengasuh anak ASD (Anak dengan Disabilitas). Kesehatan dan kesejahteraan orang tua itu penting agar orang tua dapat merawat, mengasuh dan mendidik anak  ASD dengan efektif. Perawatan diri bukanlah egois atau memanjakan karena hal itu adalah cara kita menjaga diri kita dengan baik untuk memastikan kita secara fisik, emosional, dan mental mampu berada di sana untuk anak-anak dan anak ASD di tengah-tengah keluarga.

Realitas Pandemi COVID-19 menjadikan perawatan diri bagi orang tua yang memilki anak ASD semakin penting. Dapat dipastikan bahwa mengasuh, merawat dan mendidik anak ASD pada masa Pandemi Covid-19, benteng ketangguhan bendungan akal, mental dan emosional orang tua terancam  jebol juga. Orang tua dihadapkan dengan peran tambahan sebagai pendidik di rumah, selain sebagai bekerja, mengurus rumah dan lingkungannya. Kondisi ini tentu menghadirkan tekanan tersendiri. Belum lagi orang tua menghadapi situasi yang tidak menentu dan penuh kekawatiran serta gelisah atas perkembangan kebijakan sosial, ekonomi, budaya, pendidikan yang berkembang pada masa Pandemi Covid-19 ini. Orang tua tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika dihadapkan dengan periode ketidakpastian yang lama, orang tua sangat memungkinkan menjadi stress. Akibat lainya mungkin akan muncul seperti kekhawatiran tentang hilangnya pendapatan, bagaimana menjaga ketersediaan makanan, dan banyak lagi. Tetapi anak ASD khususnya atau Disabilitas umumnya membutuhkan pendampingan, membutuhkan orang tua yang tenang, stabil, dan perilakunya dapat diprediksi bagi anak ASD. Ini adalah tantangan. Sebagai orang tua, salah satu cara terbaik untuk memastikan diri bahwa orang tua dapat membantu anak ASD secara maksimal adalah dengan menjaga diri sendiri. Self Care!

Perasaan Orang Tua dari Anak ASD

Kecemasan, kekhawatiran, dan kesedihan adalah respons normal selama dan setelah kejadian seperti coronavirus. Sebagai orang tua mungkin merasa kewalahan oleh tugas-tugas biasa atau terganggu dalam situasi dimana biasanya orang tua bersabar, munkin hari-hari di masa Pandemi Covid-19 orang tua menjadi lanbil.

Bebarapa hal yang perlu orang tua perhatikan adalah mengidentifikasi perasaan negative bapak ibu dalam menghadapi anak ASD di rumah. Ketika orang tua mengetahui bahwa kesabaranya berkuarang, bahkan berubah menjadi kemarahan ketika menghadapi anak ASD di rumah, cara yang pertama adalah silahkan ambil nafas atau tinggalkan anak sejenak dan pergi ambil minum, menengguk air secukupnya. Jika bapak ibu sebagai seorang muslim mungkin mengambil air wudlu adalah cara yang baik. Mungkin bisa juga segera berpindah aktifitas atau menghentikan kegiatan bersama anak ASD untuk sekedar keluar dari pergumulan emosional yang kuat.  Namun, dalam situasi yang terkontrol, orang tua dapat bekerjasama dengan anggota keluarga yang ada. Seabagai contoh jika ibu sedang mengajar anak ASD dan terlihat situasi psikologis memburuk, maka suami atau anggota keluarga yang lain harus segera mengingatkan dan menggantikan peranya. Ini dapat memberikan waktu bagi ibu untuk mengalihkan emosinya, menenangkan diri. Demikian kebalikannya bagi anggota keluarga lainya. Kondisi tersebut jika dibiarkan dalam waktu yang lama maka sangat mungkin orang tua akan stress berkepanjangan. Ini sangat tidak baik bagi orang tua dan anak ASD serta anggoata keluarga lainnya. Keluarga menjadi sangat tidak nyaman.

Pahamilah bahwa anak ASD membutuhkan cara yang berbeda-beda. Anak ASD membutuhkan tambahan waktu untuk dapat menyelesaikan tugasnya. Anak ASD membutuhkan kehadiran pendamping yang memahaminya. Anak ASD membutuhkan kehadiran orang tua yang “klik” mengerti atas kekuarangan dan kemampuan serta kebutuhan dalam kegiatan sehari-harinya.

Untuk menguarangi masalah kekawatiran, stress, kebingungan dan kegelisahan orang tua, pertimbangkan untuk membatasi informasi atau berita tentang kondisi Pandemi Covid-19. Sebaiknya orang tua dapat memilih informasi yang tepat dari sumber yang terpercaya misalkan pembaharuan berita dari pejabat kesehatan masyarakat tepercaya. Jangan membiarkan diri anda membabibuta membaca semua informasi yang masuk di dunia maya, mungkin melalui group WhatsApp atau media online lainnya. Ini penting karena banyak informasi yang tidak dapat dipercaya kebenaranya yang dapat mengganggu akal pikiran dan psikologis orang tua.

Kondisi keluarga dari anak ASD berbeda-beda. Indonesia juga belum memiliki system layanan yang baik guna menjamin keberlangsungan penanganan anak ASD pada masa Pandemi Covid-19. Keluarga yang memiliki anak ASD pada masa Pandemi Covid-19 belum memperoleh layanan konseling, psikologis, medis dan informasi yang terbaik dari pemerintah maupun lembaga-lembaga bantuan lainnya. Oleh karena itu, bagi beberapa keluarga atau kondisi di daerah tertentu, pikirkan tentang bagiaman menjangkau seorang profesional kesehatan untuk membantu dengan masalah kesehatan fisik atau mental. Tentu ini bisa dilakukan oleh keluarga yang cukup dengan financial atau mungkin keluarga dapat bekerjasama dengan sekolah, meskipun di sekolah khusus disabilitas (ASD) kecukupan professional untuk berkonsultasi masih terbatas. Bantuan oleh Negara melalui Pemerintah Kabubaten Kota dengan menyediakan layanan professional gratis bagi keluarga dan anak ASD khususnya dan Disabilitas umumnya sangat dibutuhkan.

Pahami Cara Berkomunikasi Anak ASD

Sebagaimana salah satu karakteristik dari perilaku anak ASD adalah Rigid Routine. Perilaku anak ASD yang cenderung melakukan kegiatan yang bersifat rutin, ketat. Sedikit ada perubahan pada aktifitas bagi anak ASD bukanlah sesuatu yang mudah baginya untuk memahami. Ketika anak ASD mengalami perubahan dalam rutinitas mereka, mereka mungkin bingung atau kesal. Anak ASD juga memiliki problem bagaimana menyampaikan keinginannya, kemarahannya. Oleh karena itu banyak anak ASD yang seringkali muncul perilaku tantrum atas tekanan kondisi yang ada di rumah. Apalagi terdapat anak ASD yang memiliki masalah dengan respon sensorik yang dimilikinya. Sangat mungkin anak ASD menjadi sangat sensitive, menghindari aktifitas atau situasi karena overload terhadap sensori. Maka akibatnya anak ASD marah-marah, menyendiri dan berperilaku yang tidak efektif. Seringkali orang di sekitarnya mengatakan anak marah-marah tanpa sebab yang jelas, padahal sebenarnya ada yang menyebabkanya namun orang-orang di sekitarnya TIDAK DAPAT memahami masalah perilaku anak ASD. Anak ASD mungkin ingin “memberi tahu” orang tua dan saudara melalui perilaku mereka dengan caranya.

Dalam kondisi ini, orang tua sangat mudah untuk menjadi frustrasi, karena sebagai orang tua sudah mengelola begitu banyak masalah di rumah pada masa Pandemi Covid-19 ini. Tetapi ketika orang tua menghadapi perilaku anak ASD yang unik, menantang, berhentilah sejenak untuk memikirkan apa yang mungkin ingin dikatakan anak ASD. Pahami perilaku anak ASD dan berikan dengan cara yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Luangkan Waktu untuk Perawatan Diri

Orang tua dan anak ASD mungkin sebelum Pandemi Covid-19 ini terbiasa memiliki waktu terpisah. Orang tua sibuk bekerja di kantor, pabrik, toko, perusahaan, atau di temapt kerja lainnya. Sementara itu anak ASD pergi sekolah, menjalani terapi dan melakukan berbagai aktifitas untuk memenuhi kebutuhan perkembangan anak. Ada juga anak ASD di penitipan anak atau boarding house (sekolah dengan asrama). Pada masa Pandemi Covid-19 ini, orang tua lebih banyak bersama anak ASD di rumah karena tindakan pencegahan penularan Covid-19. Anak ASD tidak bisa pergi sekolah, terapi atau juga kebalikannya tidak dikungjungi oleh terapis di rumah. Di masa Pandemi Covid-19 mungkin orang tua dan anak ASD serta anak-anak yang lainya tinggal bersama 24 jam sehari dan mungkin terasa mustahil untuk mendapatkan istirahat untuk diri sendiri.

Orang tua membutuhkan waktu luang untuk mengurus diri sendiri/self care. Kondisi keluarga yang memilki anak ASD tentu berbeda-beda. Sebagian keluarga ada yang suaminya tetap bekerja, ada juga yang istrinya bekerja, atau kedua-duanya bekerja sehingga anak ASD tingal bersama dengan kakek neneknya. Kondisi lain yang mungkin terjadi adalah orang tua salah satunya bekerja dari rumah dan atau keduanya bekerja dari rumah. Orang tua harus bekerja dan juga mengasuh anak-anak lainya serta bertanggungjawab dengan anak ASD. Kondisi yang menangtang bukaaan?

Sebaiknya orang tua membicarakan bagaimana dapat berbagi waktu pengasuhan sehingga masing-masing memiliki sedikit waktu sendirian. Berkolaborasi untuk membuat jadwal harian yang memungkinkan orang tua masing-masing untuk fokus pada tanggung jawab profesional utama sambil menjaga anak-anak tetap aman dan sibuk. Jadwal harian perlu dibuat dalam hal apa, siapa melakukan apa, kapan serta dimana. Menata ruang rumah agar semua berjalan dengan lancer adalah cara terbaik. Manfaatlan sumber daya yang ada. Mungkin perlu berubah setiap hari. Meluangkan waktu untuk merencanakan sebelum tidur atau selama sarapan dapat membuat  siap untuk meraih hari-hari yang sukses bersama anak ASD pada masa Pandemi Covid-19 ini.

Manfaatkan jadwal waktu untuk merawat diri. Beberapa pertanyaan ini mungkin bisa membantu orang tua untuk melakukan self care; Kegiatan apa yang membuat Anda bahagia? Kurangi tingkat stres Anda? Membuat Anda merasa tenang dan bersemangat lagi? Ini semua tentu berbeda-beda bagi setiap orang tua. Yang penting adalah menemukan strategi perawatan diri yang bisa mambantu orang tua menjadi refresh dan siap menghadapi tantangan pada masa Pandemi Covid-19.

Selamat menikmati Perawatan Diri dengan Caranya Sendiri. Semoga semuanya sukses. Lakukan yang terbaik bagi buah hati kita. Anak ASD membutuhkan pertolongan orang tua yang terbaik.

Jika Orang tua membutuhkan konsultasi tentang Program Penanganan Anak Autis dapat hubungi: Joko Yuwono. ke : 0822 9895 8741. Konsultasi Gratis di Pusat Studi Difabilitas LPPM UNS.  link web http://psd.lppm.uns.ac.id

 

COVID-19: TIPS BAGI ORANG TUA MENGASUH DAN MENDIDIK ANAK AUTIS DI RUMAH

Core hambatan perkembangan pada anak dengan gejala autism/Autistic Spektrum Disorder (ASD) meliputi tiga area perkembangam yakni perilaku repetitif (repetitive behavioral), social interaction dan communication. Ada banyak artikel yang menyebutkan bahwa ada hambatan penyerta pada anak autis yakni mototik, sensorik, emotional maupun akademik problem sebagai dampak dari kondisi anak autis. Manifestasi perilaku anak ASD menjadi sangat rumit pada banyak aktifitas sehari-hari ketika kompleksitas masalah perkembangan belum tertangani dengan baik.

Dengan memperhatikan kompleksitas permasalahan perkembangan anak ASD,  pada masa Pandemi Covid-19 tentu tidak mudah bagi sekolah/guru, lebih tepatnya adalah keluarga/orang tua untuk memberikan perlindungan kesehatan dan pembelajaran yang terbaik di rumah. Orang tua harus memiliki pemahaman yang komprehensip tentang ASD agar dapat membantu anak ASD tetep merasa aman, nyaman dan tidak stress karena perubahan banyak hal sebagai dampak dari Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia, Stay at Home, social distancing dan Belajar Dari Rumah (BDR)

Dalam masa Pandemi Covid-19, Narzisi (2020) memberikan 10 tips untuk membantu orang tua dan pengasuh anak Autistic Spektrum Disorder (ASD). Guru dapat membantu orang tua untuk memperhatikan pelaksanaan pembelajaran di rumah dalam beberapa hal sebagai berikut.

  1. Jelaskan kepada anak Anda apa COVID-19

Anak-anak dengan ASD memiliki gaya kognitif konkret dan beberapa dari mereka dapat memiliki persoalan verbal yang serius, dan menunjukkan kesulitan dalam persepsi fenomenologis. Penting untuk menjelaskan apa itu COVID-19 dan mengapa kita semua harus tinggal di rumah. Penjelasannya harus sederhana dan konkret. Untuk tujuan ini dimungkinkan untuk menggunakan augmentative alternative communication (AAC). Dimungkinkan juga untuk meminta bantuan dari guru atau terapis dalam menyiapkan pamflet singkat berjudul “Apa itu COVID-19?” menggunakan strategi AAC individual. Untuk anak-anak muda yang verbal penjelasannya harus didukung dengan pemetaan konsep untuk membuatnya lebih mudah bagi anak untuk mengerti.

  1. Structure Daily Life Activities

Secara luas dilaporkan bahwa anak-anak dengan ASD memiliki defisit fungsi eksekutif dan mereka dapat menunjukkan masalah dalam merencanakan kegiatan kehidupan sehari-hari mereka, terutama ketika rutinitas mereka kacau. Untuk alasan ini, penting, terutama sekarang, untuk menyusun kegiatan kehidupan sehari-hari. Rumah adalah pengaturan unik di mana kegiatan berlangsung. Akan bermanfaat untuk membagi kegiatan sehari-hari, menugaskan ruang yang berbeda untuk masing-masing kegiatan tersebut. Struktur ini dapat bermanfaat tidak hanya untuk anak-anak dengan ASD yang berfungsi rendah dan/atau menengah tetapi juga bagi mereka yang berfungsi tinggi. Ini bisa menjadi kegiatan untuk berbagi dengan seluruh keluarga sebagai jenis permainan. Dengan menggunakan papan tulis, setiap anggota keluarga dapat memiliki ruang untuk menulis kegiatan yang direncanakan

  1. Semi-Structured Play Activities Children

Anak-anak dengan ASD menikmati bermain, tetapi mereka dapat menemukan beberapa jenis permainan yang sulit karena masalah sensorik atau karena mereka lebih suka kegiatan terstruktur atau semi-terstruktur. Pada siang hari akan penting untuk menangani kegiatan bermain. Ini dapat bersifat individu dan/atau bersama. Pilih kegiatan yang disukai anak Anda. Sebagai contoh bermain LEGO bisa menjadi solusi yang baik untuk anak-anak dengan ASD yang berfungsi rendah atau tinggi. Kegiatan bermain berbasis LEGO adalah program keterampilan sosial yang semakin populer untuk anak-anak dan remaja dengan masalah komunikasi sosial seperti ASD. Ini bisa menjadi aktivitas bermain semi-terstruktur yang dibagikan dengan orang tua atau saudara kandung dalam pengaturan rumah.

  1. Use of Serious Games

Game serius dapat bermanfaat untuk meningkatkan kognisi sosial dan mengenali emosi wajah, gerakan emosi, dan situasi emosional pada anak-anak dengan ASD. Game yang serius dapat menjadi sumber daya mendasar bagi anak-anak ASD. Banyak game serius gratis dan dapat diunduh sebagai Aplikasi untuk tablet dan/atau PC dari situs khusus. Game yang serius bisa menjadi alternatif pendidikan untuk video game.

  1. Shared Video Game and/or Internet Sessions with Parents Video

Berbagi Video Game dan/atau Sesi Internet dengan Orang Tua Video game dan internet sangat menarik bagi anak-anak dengan ASD tetapi mereka bisa menjadi minat penyerap, terutama pada periode ini ketika anak-anak dipanggil untuk tinggal di rumah. Tidak mungkin untuk menghindari anak-anak bermain dengan komputer tetapi pada saat ini, ketika orang tua juga ada di rumah, mungkin ada gunanya menetapkan aturan di mana anak-anak diharapkan untuk berbagi video game/ internet (dengan orang tua, saudara kandung, atau pengasuh lainnya). Ini dapat menghindari risiko potensial isolasi anak dan kecanduan internet.

  1. Implement and Share Special Interests with Parents Special

Melaksanakan dan membagikan minat khusus dengan orang tua dapat menjadi karakteristik orang-orang dengan ASD. Ada peningkatan jumlah bukti yang mengakui potensi manfaat yang dapat membawa minat khusus. Minat khusus harus didukung dari orang tua dan/atau pengasuh. Kereta, peta, hewan, buku komik, geografi, elektronik, dan sejarah dapat menjadi beberapa minat khusus potensial. Dalam periode di mana orang tua dan anak-anak tinggal di rumah, mereka dapat merencanakan beberapa kegiatan dengan minat khusus ini.

  1. Online Therapy for High-Functioning Children

Terapi online untuk anak-anak yang berfungsi tinggi. Disadari bahwa kerentanan psikiatris dan atau komorbiditas tinggi pada anak-anak dengan ASD. Di antara gangguan kecemasan komorbiditas ini adalah salah satu yang paling dilaporkan, High Fungtioning Children. Komorbiditas psikiatris dapat berkontribusi pada gangguan perkembangan terutama pada usia remaja. Status siaga sebenarnya untuk COVID-19 bisa menjadi peristiwa yang sulit untuk dimentalisasi untuk anak-anak dengan ASD. Untuk alasan ini, jika anak-anak terlibat dalam psikoterapi sebelum peringatan COVID-19, sangat penting bagi mereka untuk meneruskannya. Karena banyak terapis telah menghentikan terapi tatap muka mereka, sangat disarankan untuk melanjutkan psikoterapi dalam video online atau modalitas audio dengan janji mingguan yang sama. Ini dapat mengurangi kecemasan, memeriksa suasana hati, dan menawarkan kepada anak-anak ruang pribadi untuk berbicara dengan seorang spesialis.

  1. Weekly Online Consultations for Parents and Caregivers

Konsultasi online mingguan untuk orang tua dan wali orang tua dari anak-anak dengan autis mengalami lebih banyak stres dan lebih rentan daripada orang tua dari anak-anak dengan hambatan lainnya. Saat ini, orang tua sendirian dalam menangani anak-anak mereka dengan ASD. Ini dapat mewakili risiko tinggi lebih lanjut untuk tingkat stres mereka, yang sudah parah. Untuk alasan ini, akan sangat berguna untuk memiliki kesempatan untuk konsultasi online mingguan dengan terapis anak-anak mereka. Ini berlaku untuk orang tua dari anak-anak rendah dan berfungsi tinggi. Dalam kasus fungsi rendah, orang tua dapat berbagi video rumahan singkat dengan terapis tentang perilaku anak-anak selama bermain bebas atau sesi terstruktur di rumah. Dalam kasus anak-anak yang berfungsi tinggi, konsultasi dapat menjadi pertukaran dialogis yang berfokus pada cara-cara yang paling tepat untuk mengelola masa sulit COVID-19 lansiran ini dan untuk memperbarui orang tua tentang tingkat strategi koping anak-anak

  1. Maintain Contact with the School

Pertahankan tetap untuk kontek/berhubungan dengan Sekolah. Penelitian yang berkembang mendukung saran bahwa hubungan yang dibentuk anak-anak dengan guru dan teman sekelas mereka berdampak pada pembelajaran. Sangat penting untuk mendedikasikan slot waktu untuk pekerjaan rumah. Ini adalah rutinitas yang harus dijaga. Untuk menjaga kontak sosial dengan teman sekolah disarankan untuk memiliki setidaknya kontak mingguan dengan salah satu teman kelas. Modalitas kontak ini harus bergantung pada preferensi anak. Itu bisa berupa video daring bagi mereka yang suka. Untuk anak-anak dengan ASD yang tidak suka menggunakan video untuk kontak online mereka dapat didorong untuk menulis surat kepada salah satu teman sekolah mereka atau untuk memanggil mereka melalui telepon. Untuk anak-anak dan orang tua, sangat dianjurkan untuk menjaga kontak dengan guru khusus online atau melalui telepon.

  1. Leave Spare Time.

Anak-anak dengan ASD harus distimulasi, seperti yang ditunjukkan dalam tips 1-9, tetapi juga dimungkinkan untuk meninggalkan mereka semacam kuota waktu luang yang tepat di siang hari misalnya berjalan kaki singkat di dekat rumah. (pastikan terlindungi dari Covid-19). Pada periode ini anak-anak dapat mengalami peningkatan stereotip. Ini tidak perlu menjadi perhatian khusus. Pada saat ini, ketika kebiasaan berubah, tingkat stres dapat meningkat untuk anak-anak dengan ASD (Yuwono, 2019) dan peningkatan stereotip dapat menjadi hasil perilaku stres yang dirasakan. Mereka pasti tidak akan mundur.(Narzisi, 2020)

Referensi

Narzisi, A. (2020). Handle the autism spectrum condition during coronavirus (Covid-19) stay at home period: Ten tips for helping parents and caregivers of young children. Brain Sciences, 10(4). https://doi.org/10.3390/brainsci10040207

Yuwono, Joko. 2019. Memahami Anak Autistik, Kajian Teorik dan Empeirik. Bandung: Alfabeta

 

KEHADIRAN ANAK AUTIS DALAM KELUARGA

Kehadiran anak autis di tengah-tengah keluarga akan mempengaruhi pada kehidupan keluarga, khususnya pada aspek psikologis orang tua yang selanjutnya mempengaruhi hubungan suami istri dan anggota keluarga lainnya, termasuk di dalamnya adalah saudara kandung. Berdasarkan pengalaman penulis selama 20 tahun lebih sebagai praktisi dalam memberikan layanan konsultasi dan membimbing orang tua serta intervensi dini anak autis, kehadiran anak autis menunjukkan dampak yang bervariasi bagi keluarga. Dampak yang ditimbulkan seperti adanya sikap yang saling menyalahkan atas kondisi anaknya yang autis, menyalahkan masa lalu, suami menyalahkan istri atas ketidakmampuan dalam mengasuh anaknya dan sebagainya. Hubungan suami istri menjadi masalah awal mulanya.
Masa-masa sulit yang dihadapi oleh orang tua adalah menanti diagnosis dan setelah hasil diagnosis dari psikolog atau dokter yang menyatakan anaknya autis. Orang tua bingung dan cemas atas situasi dan kondisi perkembangan anaknya yang autistik pada saat ini dan di masa datang. Hardman, Drew, Egan dan Wolf (1993) yang dikutip oleh Handerson (2004)  menyatakan bahwa dengan mengetahui anaknya didiagnosis sebagai autis, orang tua mengalami shock (terkejut, tidak percaya). Sikap ini biasanya diikuti dengan berbagai sikap seperti cemas, merasa bersalah, menjadi persoalan, bingung, tidak punya harapan, marah, tidak berdaya, atau menolak, limbung, tidak tahu harus berbuat apa, merasa tak berdaya, menyalahkan diri sendiri, marah kepada diri sendiri, pasangan bahkan kepada anaknya yang autis tersebut dan bertanya-tanya kepada Tuhan kenapa terjadi seperti ini. Mereka sedih sekali dan muncul sikap putus asa yang dapat berkembang menjadi depresi dan stres berkepanjangan, merasa tidak diperlakukan dengan adil, tidak percaya pada fakta dan berpindah dari satu dokter ke dokter lain untuk menegaskan bahwa dokter tersebut salah; tawar menawar diagnosa dan menolak kenyataan/fakta lalu bersikukuh bahwa anak tidak bermasalah.
Hal senada juga ditunjukkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Widodo (2008), bahwa ibu yang memiliki sikap/penyesuaian diri negatif terhadap kehadiran anak autistik memiliki ciri-ciri seperti tidak dapat menerima kenyataan memiliki anak autistik, tidak dapat menerima keberadaan anak autis secara apa adanya, tidak melakukan penanganan terhadap anak autistik dan merasa rendah diri serta bersikap tertutup terhadap orang lain dengan keberadaan anaknya.
Fakta-fakta tersebut di atas pada umumnya dialami oleh semua orang tua yang anaknya didiagnosis sebagai anak autistik. Tidak ditemukan orang tua yang menunjukkan sikap ”biasa-biasa” saja ketika anaknya didiagnosis sebagai anak autistik. Yang membedakan sikap orang tua terhadap kehadiran anak autistik adalah berapa lama orang tua ”bangkit” dari keadaan yang dirasa kurang ”srek” (baca : jawa)/kurang nyaman menjadi sikap yang optimis, peduli dan menerima anak sebagai mana adanya hingga pada level sikap tertinggi yang ditunjukkan orang tua dengan tetap mengatasi masalah selayaknya keluarga yang memiliki anak-anak pada umumnya. Meraka adalah yang sudah berprinsip bahwa masalah selalu hadir dan harus diatasi. Pada level ini, orang tua dan keluarga memandang bahwa kehidupan harus tetap berjalan, tanpa mengeluh dan tetap menatap masa depan keluarga dan anaknya yang selalu menunggu dan membutuhkan pertolongan orang tua dan keluarga.

 

 

APA ITU AUTIS?

Kita seringkali mendengar kata autis tetapi kita sebenarnya masih bertanya-tanya apa sebenarnya yang dimaksud dengan kata autis. Masyarakat gampang sekali mengkaitkan kata autis pada anak-anak ketika ada anak yang memiliki perilaku aktif, suka marah dan ngamuk, tidak bisa bicara dan berperilaku aneh. “Dia autis pak, anaknya tidak bisa bicara dan diam saja kalau di tanya, di kelas anak suka jalan-jalan! kata sorang Guru”. Bukti tersebut terlalu sederhana untuk menyimpulkan bahwa seorang anak dikatakan sebagai anak autis.

Autis adalah gangguan perkembangan neurobiologis yang sangat komplek/berat dalam kehidupan yang panjang, yang meliputi gangguan pada aspek perilaku, interaksi sosial, komunikasi dan bahasa, serta gangguan emosi dan persepsi sensorik bahkan pada aspek motoriknya. (Yuwono, 2019).  Gangguan/hambatan pada aspek perkembang perilaku anak autis  seperti perilaku stereotype, perilaku mengulang-ulang gerakan, aktivitas yang sangat rigid routine, menyukai benda berputar, menderet-nderet benda, dan memiliki kelekatan terhadap benda tertentu tetapi tidak fungsional.

Keterlambatan pada aspek perkembangan komunikasi dan bahasa anak autis adalah adanya kesulitan berkomunikasi dan atau  keterlambatan bicara. Anak autis terkadang sangat kesulitan untuk berkomunikasi  sekalipun menggunakan bahasa isyarat gerak dan mimik. Ekspresi gerak dan mimik tidak mudah untuk dipahami. Pada aspek perkembangan bahasa anak autis kesulitan untuk mengerti perintah dan berbicara. Banyak ditemukan bahwa anak autis terkadang dapat berbicara tetapi kemampuan bicaranya tidak dapat digunakan untuk kepentingan sehari-hari. Kadang anak autis hanya menggunakan kemampuan bicaranya secara berulang-ulang dan tidak situasional. Sekalipun anak autis dapat berbicara tetapi ketika diberikan pertanyaan anak menjawab pertanyaan dengan mengulang pertanyaan. (membeo). “Siapa namamu?”, anak menjawab “namamu.” “Adik sudah makan?”. adik menjawab “sudah makan”.

Selanjutnya, anak autis memiliki kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain. Anak autis kesulitan memahami bagaimana berhubungan, bertemen atau bermain dengan orang lain. Sebagai ilustrasi dapat dilihat bagiamana anak autis saat mengikuti kegiatan ulang tahun. Ia tetap dalam dunianya sendiri. Ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama anak duduk bersama-sama dengan anak-anak yang lain tetapi anak autis tidak terlibat dalam kegiatan ulang tahun. Anak-anak yang lain asyik bertepuk tangan, memperhatikan hiburan badut, bergembira tetapi anak autis cenderung asyik dengan dirinya sendiri. Bisa jadi anak malah bermain pita, asyik memperhatikan pita rambut temanya, atau justru membuka-buka kado teman yang ulang tahun. Kedua, anak autis memisahkan diri dan memilih menyendiri bermain di pojok ruangan atau sekedar memperhatikan pantulan cahaya dari kaca jendela, memainkan jari-jari tanganya atau sekedar bermain kertas memisahkan dari kelompok teman-temannya yang merayakan ulang tahun.

Selain gangguan/hambatan pada tiga area perkembangan tersebut di atas, ada beberapa area perkembangan lain yang juga nampak memiliki masalah seperti gangguan sensorik, emosi, maupun koordinasi motorik. Manifestasi gangguan sensorik dapat berupa perilaku takut bermain ayunan, suka main pasir, tidak nyaman kalau dipeluk, tidak mudah menunjukkan rasa senang, sedih (secara situasional), koordinasi lempar tangkap bola, pukul bola, tendang bola dan sebagaianya. (over responsive/hipersensitif). Kondisi gangguan sensorik bahkan bisa kebalikanya yakni anak autis justru tidak merasa takut terhadap aktifitas tertentu misalnya anak justru suka memanjat pada ketinggian, bermain air berlama-lama, bergerak seperti tak kenal lelah, dan lainsebagainya. (under responsive/hiposensitif)

Gejala-gejala perilaku autis tersebut di atas dapat dilihat pada usia sebelum usia 3 tahun. Jika seorang anak pada usia 2-3 tahun diketahui memiliki gejala-gejala tersebut di atas maka orang tua segera berkonsultasi kepada profesional seperti Dokter, psikolog, terapis atau guru pendidikan khusus untuk mendapatkan informasi yang tepat tentang perkembangan anak anda dan apa yang perlu dilakukan oleh orang tua untuk membantu perkembangan anak menjadi lebih baik.

Salam Hidup Bermanfaat!

 

Memahami dan Mengatasi Tantrum dan Meltdown Anak Autis

Orang tua, pengasuh dan GURU pernah menyaksikan kemarahan dan emosi dari anak autisme yang meledak-ledak. Perilaku mereka dari luar terlihat persis seperti amarah anak-anak kecil. Ada 2 hal perilaku terkait dengan anak autis yakni dengan istilah Tantrum dan Meltdown. Keduanya terlihat sama tetapi berbeda.

Tantrum (mengamuk) pada anak kecil biasanya berasal dari frustrasi karena tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan pada saat itu dan atau tertekan: apakah itu ingin mainan, makanan, melakukan aktifitas sederhana yang diinginkan, atau tidak ingin pergi tidur. Tantrum pada anak kecil bisa lebih sering terjadi ketika mereka lelah, lapar atau tidak enak badan, mereka selalu berorientasi pada tujuan. Entah frustrasi karena tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, tidak mampu melakukan apa yang mereka inginkan, atau bahkan tidak mampu mengomunikasikan apa yang mereka inginkan dengan benar.  Sementara itu, Meltdown pada anak autis pada sisi lain itu adalah tentang kewalahan (over stimulation). Anak autisme, ketika mereka mencapai titik sensorik, emosional, dan informasi yang berlebihan, atau bahkan terlalu banyak ketidakpastian, itu dapat memicu berbagai perilaku eksternal yang mirip dengan tantrum (seperti menangis, berteriak, atau menjilat) ), atau dapat memicu shutdown dan withdrawal (menarik diri secara total).

Perilaku Tantrum pada anak autis itu karena keinginan anak tidak dapat dipenuhi oleh lingkungan (guru, teman, situasi dll) maka anak akan tantrum. Nah, ada istilah tentangMeltdown, yakni perilaku yang terjadi jika anak sudah over stimulation dan anak autis tidak dapat merespon dengan baik. Anak marah karena situasi tak dapat dipahami akibat over stimulation (Baca: Jean Ayres dan Miller tentang: Sensory Processing Disorders (SPD). Perilaku Tantrum dan Meltdown jika dibiarkan dalam waktu yang panjang maka akan mengganggu perkembangan anak autis.

Salah beberapa cara mengatasi perilaku tantrum adalah tenangkan anak, jangan menekan anak atau memaksa tugas sementera anak tidak bersedia mengerjakan tugaa. Guru harus sedikit mengubah cara. Identifikasilah apa yang membuat anak tantrum. Sedang untuk meltdown adalah kenali anak, hal-hal apa yang membuat kemarahan anak muncul dengan mengidentifikasi apa yang membuat anak Meltdown, buat pengelolaan kelas dengan tujuan mengurangi sebanyak mungkin situasi membuat anak autis kebingungan. Jika perilaku meltdown terjadi berikan waktu anak untuk sendiri (tetap terawasi) untuk menenangkan diri. Ingat dengan over stimulation.

PERHATIAN:

  1. Jangan anggap sepele biasanya guru mengatakan: “biasa dia….susah,….saya tidak tahu, atau guru mengatakan lagi EROR atau Kumat! Sangat tidak dinginkan kata2 itu!.
  2. Jangan Dimarahi! Karena itu menambah masalah perkembangan anak.
  3. Kurangi hal-hal yang menyebabkan terjadinya Tantrum dan Meltdown dengan ilustrasi seperti “ada sebuah ember dipenuhi dengan air ingga terlalu banyak maka tumpah semua. Solusinya adalah lubangi ember sedikit (kecil-kecil) sehingga dapat mengalir keluar untuk mengeurangi beban tekanan air” (tekanan dan beban sensorik yang membuat bingung anak)
  4. Jangan mengacuhkan. Tetap terawasi dan berikan ketenangan, rasa nyaman.